Bab 14 : Saat Hati Mulai Bergejolak

08 January 2026

Hari itu, kantor tidak ramah pada Rara.

Sejak pagi, email datang bertubi-tubi. Telepon berdering tanpa ampun. Atasan bolak-balik memanggil namanya seperti panggilan darurat yang harus langsung ditangani. Spreadsheet yang seharusnya hanya lima tab mendadak berubah jadi dua puluh tab entah sejak kapan dan Rara yang biasanya lincah menghindari tekanan, kali ini tidak bisa menghindar.

Di tengah semua kesibukan itu, ada satu hal yang jauh lebih mengganggunya daripada revisi presentasi atau permintaan mendadak klien. 

Ia tidak bisa melakukan pencarian tumbler bersama Dio hari ini dan itu membuatnya gelisah.

Sangat gelisah.


Pukul 10.15 pagi. Rara baru selesai mengetik 700 kata laporan. Punggungnya pegal, matanya lelah dan otaknya seperti mau ngehang, tapi bukan itu masalah utamanya. Masalahnya cuma satu. Dio tidak terlihat sejak pagi.

“Dio belum lewat depan meja, biasanya lewat jam segini,” gumam Rara sambil mencondongkan tubuh ke pinggir kubikelnya.

Mira, yang duduk di seberang, melirik. “Kamu kok mondar-mandir gitu? Lagi gelisah dikasih kerjaan banyak ya?”

“Ah, iya, itu.” Rara mengalihkan pandang. Namun, pikirannya jelas bukan tentang pekerjaan.

Mira menyipitkan mata curiga. “Rara, kamu jangan bilang.”

“Aku mau ke pantry!” Rara langsung memotong, berdiri dan melarikan diri dari meja seperti maling tertangkap basah.

Mira hanya menghela napas panjang. “Ya Tuhan, ini anak! Random banget.”


Rara melangkah lirih-lirih, mencoba memasuki pantry seolah menyamar. Ia menjenguk dulu dari pintu, hanya menunjukkan mata dan sedikit rambut.

Tidak ada Dio. Hanya ada Kak Tuti yang sedang bikin kopi hitam pekat.

“Pagi, Ra.”

“Pagi!” Rara mengedarkan pandangan. “Lagi sepi ya, Kak?”

“Kamu nyari siapa?”

Rara berjengit. “Nggak! Nggak! Hahaha! Aku cuma nyari eh, inspirasi iya, inspirasi buat kerja.”

Kak Tuti menatapnya seperti menatap anak ayam kehilangan induk.

“Oke, semoga kamu dan inspirasi itu bahagia ya,” katanya sambil pergi.

Rara menghela napas, kemudian menatap meja pantry.

Tidak ada Dio.

Ia kembali ke kubikel.


Tiga puluh menit kemudia, Rara pura-pura mengambil air.

Lalu lima belas menit setelah itu, Rara pura-pura mau buang sampah.

Lalu dua puluh menit kemudian. Rara kembali pura-pura cari sendok.

Pantry menjadi tempat yang ia datangi berkali-kali hari itu, setiap kali berharap satu hal yang sama. Semoga Dio ada di sana. Namun, selalu nihil. Di tiap percobaan, Rara hanya pulang dengan wajah kecewa.

Pada percobaan keempat, Mira sampai menahan badan Rara memakai kursi beroda.

“Kamu ngapain sih, ke pantry mulu? Mau bikin rumah kos di situ?”

“Aku cuma, haus." Rara mengelak.

“Kamu minum nggak?”

“Enggak.”

“Kamu buang sampah nggak?”

“Enggak juga.”

“Jadi kamu ke pantry ngapain?!”

Rara menggigit bibirnya. Kalau ia mengaku bahwa ia hanya ingin lihat Dio sebentar saja aduh, bayangin Mira bakal mengejek sebulan penuh.

“Aku ke pantry nyari…keberadaan tumblerku!” katanya dramatis.

Mira memutar bola mata. “Yaelah! Ra, udah berapa hari? Jangan lebay deh!”

“Ini bukan lebay! Ini cinta.” Rara terdiam. Mulutnya mengeluarkan kata yang salah.

Mira membeku. Rara membeku lebih keras.

Mereka saling menatap seperti adegan slow motion. Lalu Mira mengangkat kedua alisnya.

“Cinta?”

“Cinta terhadap tumblerku! Iya! Maksudku tumbler! Yang hilang itu!” Rara mencoba memutar balik keadaan.

Mira menggeleng dan kembali bekerja. “Astaga aku capek lihat kamu.”

Rara menepuk dadanya. Nyaris saja ia terpeleset mengaku hal lain.


Sementara itu di ruang IT. 

Dio sedang mengacak-acak berkas inventory kabel LAN untuk proyek malam nanti. Namun, pikirannya tidak ada di file itu.

Semalam, saat ia mencoba tidur, tawa Rara kembali terngiang-ngiang. Tawa absurd itu. Yang muncul tiap kali Rara panik, salah ngomong, entah itu kepelese atau terlalu bersemangat.

Dio mendesah tipis. Sesuatu di dadanya terasa hangat setiap kali mengingat itu.

“Ada apa bro?” tanya Dimas yang tiba-tiba nongol dari belakang.

“Nggak apa-apa,” jawab Dio singkat.

“Kok mukanya kayak orang jatuh hati?”

Dio hampir tersedak napas.

“Bukan,” katanya cepat, "tapi kamu senyum-senyum tadi.”

“Aku gak senyum.”

“Tuh, senyum lagi.”

“Aku nggak senyum.”

“Dio, kamu itu kalau udah mikirin cewek pasti tiba-tiba mellow.”

“Aku nggak mellow.”

Dimas mendecak. “Bro, kamu ini terlalu kalem buat diselamatkan. Harusnya Rara yang ngejar kamu.”

Dio terdiam sejenak, lalu mencibir kecil. “Dia sibuk dengan tumblernya.”

“Tumbler bisa hilang, tapi cewek lively kayak Rara? Nggak tiap hari ada, bro.”

Dio menatap jauh, bayangan Rara muncul lagi, tersenyum, panik, ribut, absurd, tapi hangat.

“Dia memang berbeda,” akhirnya Dio mengaku lirih.

Dimas langsung bersorak, “Hah! Ketauan!”

“Tolong jangan kencang-kencang.”


Pukul 12 siang. Rara makan siang tanpa fokus. Sambil nyendok nasi, matanya tetap mengarah ke pintu pantry dari kejauhan.

“Rara.” Mira memperingatkan.

“Apa?”

“Kamu menatap pintu pantry kayak nunggu jodoh keluar dari situ.”

“Siapa bilang aku nunggu jodoh?!” Rara langsung tersinggung.

Mira mengangkat alis. “Jadi kamu nunggu siapa?”

“Tumblerku.”

“Tumbler nggak bisa jalan sendiri keluar pantry, Ra.”

“Bisa aja kalau.” Rara terdiam, memikirkan sesuatu, "kalau dia tergelincir.”

Mira menutup muka. “Ya Tuhan, kreativitas absurdnya nggak ada habis.”


Akhirnya pada pukul 15.40 Rara masuk pantry lagi dan Dio ada di sana sedang merapikan sachet kopi yang berantakan di rak.

Dio menoleh. “Oh, Rara.”

Dunia Rara langsung slow motion. Ia lupa napas. Lupa alasan datang ke pantry.

“Oh, eh? Hay, kebetulan ya kamu di sini," kata Rara terbata-bata.

“Kamu nyari apa?”

“Nyari??? Apa ya?” Rara panik. “Aku nyari sendok. Ya, sendok!”

Dio menunjuk ke rak. “Itu di sana.”

“Oh, iya! Sendok. Aku butuh sendok.” Rara mengambil sendok padahal dia tidak punya apapun untuk disendokin.

Dio memperhatikannya. “Kamu baik-baik saja?”

“Aku?” Rara menunjuk dirinya sendiri. “Baik! Sangat baik! Luar biasa baik! Sehat walafiat tanpa beban hidup!”

Dio menahan tawa. “Kamu terlihat gelisah.”

“Gelisah? Aku? Enggak! Aku cuma eh, stress sama kerjaan aja.”

“Kamu banyak kerjaan hari ini,” kata Dio lebih lembut.

Perhatian kecil itu membuat Rara terpaku.

“Iya, hari ini hectic banget dan aku nggak bisa ikut kamu cari tumbler,” kata Rara pelan.

“Aku tahu. Kamu kelihatan sibuk sekali.”

Ada jeda singkat.

“Makanya.” Rara melanjutkan, “aku kangen.”

Dio mengangkat wajah. “Kangen?”

“Kangen investigasinya! Pencariannya! Tumblerku!” Rara memperbaiki cepat-cepat. Wajahnya memanas.

Dio mencoba menyembunyikan senyum kecil yang muncul. “Besok bisa kita lanjut,” katanya lembut.

“O-oke.”

Rara menatap Dio. Dio menatapnya kembali.

Ada sesuatu yang aneh. Tidak biasanya ada keheningan nyaman di antara mereka.

Biasanya kacau. Biasanya tegang. Biasanya absurd, tapi kali ini hening itu hangat.


Sementara itu – di Rara adalah, "hari ini aku stres cuma karena nggak lihat Dio? Serius? Astaga jangan bilang aku, aku, eung? Tidak. Tidak mungkin. Ini cuma karena kebiasaan! Karena investigasi! Karena tumbler! Iya. Tumbler. Tumbler. Fokus Rara fokus!"

Sedangkan sendiri, "tawa dia, ekspresi dia, energi dia. Kenapa hari ini sepi tanpa dia? Kenapa aku menunggu dia muncul ke pantry? Apa aku? Tidak. Mungkin hanya terbiasa atau mungkin… lebih dari itu?"


Saat Rara keluar pantry, ia memegang sendok yang sebenarnya tidak ia butuhkan sambil tersenyum sendiri.

Saat Dio kembali ke ruang IT, ia memegang sachet kopi sambil tersenyum kecil.

Mereka berdua tersenyum. Tanpa sadar bahwa alasannya sama. Satu sama lain.

Hari itu Rara masih tidak menemukan tumblernya. Tidak memulai investigasi. Tidak membuat keributan, tapi justru di hari penuh kesibukan itu, hati mereka berdua mulai bergejolak dengan cara yang pelan. Aneh.  Lucu dan tidak mereka sadari sama sekali.