Bab 15 : Tumbler Belum Ketemu dan Mood Rara Drop

08 January 2026

Sudah hampir seminggu Rara dan Dio menjalankan misi pencarian tumbler. Namun, hasilnya tetap nihil. Bukan nihil biasa, tapi nihil tingkat menyebalkan, tidak ada jejak, tidak ada saksi, bahkan CCTV pun seperti menolak memberikan harapan. Tumbler itu seperti menguap ke dimensi lain.

Pagi ini, Rara duduk di depan komputernya dengan wajah kusut seperti baju yang belum sempat disetrika sebulan penuh. Tatapannya hampa, memandangi monitor tanpa fokus. Excel terbuka, tapi isinya tidak bergerak sejak lima belas menit lalu.

“Ra, lo kenapa sih?” tanya Siska, rekan kerja yang mejanya tepat di depannya.

Rara tidak menjawab. Ia hanya menggeleng lemah sambil menopang dagu. “Sis, tumblerku kayaknya udah menyerah sama aku. Dia nggak mau ketemu,” suaranya lirih seperti suara tokoh drama yang habis kena plot twist menyakitkan.

“Ya ampun, Rara, itu cuma tumbler. Bukan pacar.”

“Justru!” Rara tiba-tiba bangkit dengan dramatis. “Kalau pacar hilang, bisa dicari di Instagram! Kalau tumbler? Nggak ada jejak digitalnya! Dia sudah pergi meninggalkan aku tanpa petunjuk.” Lalu ia kembali duduk seolah energinya tersedot.

Siska memutar kursinya. “Lo udah cari di meja gudang ATK lagi? Kadang cleaning service suka mindahin barang.”

“Udah. Sama Dio.” Rara memotong cepat.

Siska menaikkan alis. “Ooooo… sama Dio yaaa?”

Rara langsung panik, gelagapan. “Lah, bukan gitu maksudnya. Maksudnya ya, emang kebetulan dia ikut bantu. Dia kan baik dan yaaa, ya udah pokoknya dia ikut aja.”

Siska tertawa kecil sambil menggeleng. “Terserah deh. Yang penting lo jangan drop gitu dong.”

Rara menghembuskan napas panjang, menelungkupkan kepalanya di meja. “Aku capek, Sis. Tumbler itu, bukan sekadar tumbler.”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Siska tahu. Semua kantor tahu. Tumbler itu hadiah dari Nara, sahabat dekat Rara yang kini tinggal di luar negeri. Ada kenangan panjang di baliknya, dan kehilangan tumbler itu seperti kehilangan sepotong masa lalu.


Dari sudut pantry, Dio memperhatikan Rara lewat kaca jendela ruangan. Ia baru saja mengambil kopi dan tanpa sengaja melihat Rara yang duduk terkulai lemas seperti tanaman kekurangan air.

Sejak beberapa hari ini, Rara memang terlihat makin murung. Kalau biasanya ia muncul di pantry dengan gaya heboh, nyaris menjatuhkan sesuatu atau salah menyapa orang, kini ia cuma muncul sebentar untuk mengambil air dan kembali pergi dengan wajah mendung.

Dio menghela napas kecil.

Ia bukan tipe yang ahli menghadapi kekacauan emosi orang lain. Ia cenderung menghindari drama, apalagi setelah hubungan buruknya dua tahun lalu, tapi melihat Rara seperti itu membuat hatinya tergerak.

Entah kenapa.

Ia menyesap kopinya. Rasanya pahit, tapi lebih pahit melihat Rara terlihat patah semangat.

“Apa gue harus nyamperin dia?” gumam Dio pada dirinya sendiri.

Jawaban logisnya, tidak.

Jawaban hatinya, mungkin iya.

Dio menatap gelas kopi sesaat, kemudian memutuskan langkah kecil. Ia kembali ke meja kerjanya, mengambil sesuatu dari laci, lalu berjalan menuju meja Rara.


“Ka-kamu kelihatan nggak semangat hari ini,” ucap Dio pelan ketika sampai di depan meja Rara.

Rara mengangkat kepala perlahan. Ia seperti baru sadar bahwa pria itu berdiri di sana. “Eh? Dio hai! iya, aku ya, gitu deh.”

Dio menggeser kacamatanya. “Masih mikirin tumbler itu?”

Rara mengangguk lemah. “Makna tumbler itu gede buat aku, Dio. Aku takut kalau hilang selamanya dan aku nyari ke mana-mana, tapi nggak ada juga. Padahal kan aku udah berusaha.” Suaranya melemah di akhir.

Dio menatap Rara beberapa detik sebelum akhirnya mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Sesosok kecil berwarna hijau pastel.

Rara tersentak. “Eh, jangan bilang kamu.”

Dio buru-buru menggeleng keras. “Bukan! Bukan tumbler kamu! Tenang dulu. Ini cuma permen mint.”

Ia membuka genggamannya. Benar, hanya permen mint.

Rara mematung. “Oh…”

Dio jadi kikuk. “Aku, aku cuma mikir, kamu suka warna mint pastel, kan? Jadi, aku kasih permen mint aja. Biar mood kamu naik sedikit. Nggak banyak sih, cuma yah, permen.”

Rara memandangi permen itu. Kemudian memandangi wajah Dio.

Lalu. 

“Gogom, gom. Maksudnya terima kasih banyak, Dio!”

Rara reflek berdiri terlalu cepat. Kepalanya hampir membentur meja atas. Dio kaget, tapi menahan tawa kecil yang luput dari kontrol wajahnya.

“Sorry aku emang agak dramatis,” kata Rara sambil duduk lagi.

“Aku sudah menyadari itu sejak hari pertama kamu interogasi seluruh pantry,” jawab Dio tenang.

Rara menutup wajahnya. “Tuh kan, memalukan banget.”

Dio menepuk ujung meja Rara pelan. “Aku bantu cari lagi hari ini, ya?”

Rara mengangkat kepalanya. “Hah?! Kamu mau? Padahal pencarian kemarin-kemarin nggak berhasil. Kamu pasti capek.”

Dio menggeleng. “Aku nggak keberatan. Selama kamu nggak menyerah.”

Rara menelan ludah. Ada sesuatu di tenggorokan yang terasa hangat.

“Aku nggak akan menyerah,” ujarnya dengan suara pelan. “Terima kasih, Dio.”

Dio tersenyum sangat tipis, tapi jelas. “Sama-sama.”

Siang harinya, walaupun moodnya sedikit naik berkat permen mint pemberian Dio tadi, Rara masih terlihat murung. Namun, kali ini dengan cara absurd khas dirinya.

Rara, meski moodnya drop, tapi tingkahnya tetap absurd. 

Contohnya, ketika ia ingin mengisi botol air sementara. Ia membuka galon, memasukkan gelas, tapi lupa mengangkat tuasnya. Air mengucur tak terkendali. Rara panik, memencet semuanya sekaligus, termasuk tombol panas dan dingin dalam waktu bersamaan.

Air muncrat ke segala arah.

“Aaaaaaaa... ini air apa keringet aku sendiri sih!” teriak Rara sambil memutar-mutar gelasnya yang sudah keburu basah.

Karyawan sekitar hanya menatap dengan ekspresi “biasanya juga begitu”.

Dari kejauhan, Dio menghela napas sambil menahan senyum. Ia ingin membantu, tetapi Rara keburu menyalakan tisu seperti topeng super hero dan berkata, “Tenang semua! Aku akan bersihkan ini!”

Tisu itu jatuh lima detik kemudian.


Sore hari, saat Rara terlihat kembali muram dan menatap layar komputer tanpa ekspresi, Dio berdiri di sampingnya.

“Rara.”

Rara menoleh. “Hmm?”

“Aku tahu kamu sedih, tapi kamu nggak sendirian. Kita cari bareng. Sampai ketemu.”

Rara mengedip beberapa kali dengN perlahan. “Kok kamu baik banget sih?”

Dio tersentak sedikit. Ia bukan tipe yang suka pujian.

“Aku cuma ya, aku cuma nggak mau kamu jadi sedih,” jawabnya canggung.

Rara mendesah kecil. “Aku takut tumbler itu hilang. Takut kenangan sama Nara ikut hilang juga.”

“Kenangan itu ada di kamu,” kata Dio lembut. “Bukan cuma di tumblernya.”

Rara terdiam, pipinya memanas.

Dio ikut diam, lalu buru-buru menggeser kacamata karena tiba-tiba grogi sendiri.

“A-aku cuma ngomong jujur,” katanya cepat.

Rara tersenyum kecil. “Makasih ya, Dio.”

“Kapanpun,” jawab Dio singkat.


Saat pulang kerja, Rara berjalan ke lobi sambil membawa tas.

Dio ternyata ikut turun bersamaan. Mereka tidak saling bicara banyak, hanya berjalan berdampingan, tapi suasana itu justru membuat jantung keduanya terasa hangat.

Rara melirik Dio diam-diam.

Dio juga sempat melirik Rara sebentar sebelum cepat-cepat memalingkan wajah.

Walaupun tumblernya belum ditemukan, Rara merasa sedikit lebih baik dan Dio diam-diam merasakan sesuatu bergeser dalam dirinya.

Tumblernya memang hilang, tapi mungkin Rara sedang menemukan sesuatu yang lain atau seseorang dan Dio dengan segala kikuk dan ketenangannya, ternyata cukup hangat untuk membuat hati Rara perlahan naik mood kembali.