Bab 16 : Kebersamaan Tanpa Disadari

08 January 2026

Hari itu dimulai seperti biasa. Rara tengah sibuk, Siska ngelirik-ngelirik dan Dio baru datang jam setengah sembilan dengan kemeja rapi dan rambut yang selalu jatuh sempurna di keningnya, tapi kali ini ada satu hal yang berbeda. Di mana Rara dan Dio tidak lagi canggung seperti sebelumnya.

Semua bermula di pukul 12.05 siang.

Rara baru saja hendak bangkit dari kursi sambil menghela napas sambil berkata, “Aku mau makan siang dulu deh, kayaknya kalau perut kosong otak makin bengkok.”

Belum sampai ia berdiri sepenuhnya, Dio muncul di samping meja sambil membawa catatan kecil. “Aku juga mau makan. Bareng aja?”

Rara kaget sampai kursinya geser bunyi 'krek' keras, membuat dua orang yang lewat memandang.

“Ha-hah? Ba-bareng?”

Dio mengangguk tenang. “Iya. Biar efisien waktu pencarian tumblernya.”

Rara membeku sejenak. Efisiensi, katanya. Ia menelan ludah. Dio benar-benar mencari alasan dengan logika dingin, tapi bagi Rara itu terdengar seperti ajakan lunch date terselubung. Bahkan walau alasannya sedikit absurd, jantung Rara tetap mencelos.

“Oh! Ya! Efisiensi! Setuju banget!” Rara berdiri terlalu cepat, kepalanya hampir membentur laci atas meja.

Siska di meja depan hanya menatap mereka sambil menyeringai seperti kucing yang baru menang undian.


Di waktu makan siang. 

Mereka akhirnya duduk di kantin lantai dua. Rara membawa nasi ayam sambal matah, yang sambalnya super pedas, sedangkan Dio memesan menu paling aman dan paling plain dalam sejarah perkantoran, sop bening dan ayam kukus.

Rara melirik makanan Dio. “Dio kok, makanan kamu kayak makanan orang sakit.”

Dio mengusap leher belakangnya. “Aku memang lebih suka yang sederhana.”

Rara mengerutkan hidung. “Kamu nggak suka bakmi pedas, ramen level 3, sate taichan, kebab atau burger double keju?”

Dio menggeleng. “Aku rebusan.”

Rara menatapnya lama. “Aku kayak ngobrol sama karakter NPC game.”

Dio hanya tersenyum tipis, “tapi kan aku bisa hidup lebih lama kalau makannya begini.”

Rara menunjuk sambal matahnya. “Dengan begini aku bisa hidup lebih heboh.”

Dio akhirnya tertawa kecil. “Aku sudah bisa lihat.”

Rara tersenyum diam-diam. Mendengar tawa Dio membuat dadanya terasa hangat, hangat level yang membuat ia jadi salah ambil sendok dan malah mengambil sendok Dio lalu mengaduk sop miliknya.

Baru setelah mengaduk, ia sadar. “Eh, ini sendok kamu ya.”

Dio menatap sendok itu sebentar. “Nggak apa. Aku ambil yang baru.”

Rara menutup wajah sambil mendesah dramatis. “Maaf! Tangan aku auto ngegas.”

Dio berdiri hendak mengambil sendok baru.

Saat melangkah pergi, Rara memperhatikan punggung Dio. Ia menatap baju kerja pria itu, potongan rambutnya yang rapi, cara jalannya yang tenang tidak tergesa-gesa, tapi juga tidak lambat.

Ada sesuatu yang menenangkan dari sosok itu. Antara kenapa dia terlihat menyenangkan dan menenangkan. 

Rara menggeleng cepat. Fokus Rara. Ini lunch efisiensi. Bukan lunch jatuh hati.


Rara mulai memperhatikan hal-hal kecil yang ada pada diri Dio. 

Hal itu bermula saat makan, tanpa sadar Rara memperhatikan Dio lebih teliti.

Cara Dio meniup kuah sop, pelan dan hati-hati. Cara ia memindah kacamata sedikit ke atas setiap kali uap sop menempel di lensanya. Cara Dio selalu memotong ayamnya ukuran kecil-kecil, seperti ada standar SOP-nya sendiri.

Cara dia mendengarkan Rara, ia terlihat benar-benar mendengarkan dengan mata fokus dan kepala sedikit miring dan cara senyumnya muncul secara spontan setiap kali Rara mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

Awalnya Rara menganggap Dio pendiam dan dingin. Sekarang ia mulai melihat sisi lain, sabar, teliti dan tampak sangat hangat.

Rara jadi salah ambil garpu dua kali karena terlalu sibuk memperhatikan Dio.

Dio yang menyadari hal itu hanya tersenyum. 

Dio sendiri tidak lebih tenang dari luar yang terlihat. Ia makan sambil sesekali mencuri pandang ke arah Rara. Ia menyadari hal-hal kecil tentang Rara yang sebelumnya tidak terpikirkan. 

Cara Rara menjepit rambut, tapi dua menit kemudian rambutnya jatuh lagi karena jepitan kebalik. Cara Rara mengeluh pedas tapi tetap makan sambal seolah sedang adu nyali. Cara Rara memutar matanya setiap kali menceritakan rekan kerja yang membuatnya stress. Cara Rara menggoyang kaki tanpa sadar kalau ia gugup dan yang paling membuat Dio heran, ia menyukai itu semua.

Ketika Rara hampir tersedak sambal karena bicara terlalu cepat, Dio otomatis memajukan tubuh, siap memberikan air.

Ketika Rara marah-marah ke sambal yang jelas-jelas pedas dari namanya, Dio tersenyum kecil dan setiap kali Rara tertawa keras, Dio merasa bagian dadanya ikut bergetar, bukan karena kaget, tapi karena hangat.

Rara itu unik, pikir Dio. Unik banget. Beda dari siapa pun. Baginya percakapan absurd adalah hal yang unik yang membuat Rara berbeda dari wanita yang lain. 

“Aku tuh, kalau makan sambal matah suka tiba-tiba nangis,” kata Rara sambil menyeruput es teh.

“Terlalu pedas?” tanya Dio.

“Bukan. Aku sensitif sama bawang merahnya yang kayak membisikkan masa depan.”

Dio berhenti minum sejenak. “Bawang membisikkan masa depan?”

“Iya. Kayak nyentil mata batin aku gitu. Terus aku nangis, tapi bukan karena sedih. Karena ya, bawang merah.”

Dio memejam sejenak sambil menahan tawa. “Kamu memang beda.”

“Beda bagus atau beda ‘tolong jauh-jauh dari saya’?” tanya Rara sambil menyipitkan mata.

“Beda untuk istimewa.” Ucapan itu keluar begitu saja.

Rara tersentak. Pipinya merona.

Bahkan Dio sendiri kaget, sampai memalingkan wajah, pura-pura sibuk mengatur posisinya di kursi.

Hal itu menjadi momen hangat yang menyengat. 

Saat hendak kembali ke kantor, Rara berjalan sedikit di depan. Mungkin karena lantai licin, mungkin karena sandal Rara sudah agak haus, tiba-tiba ia terpeleset.

“Wah!” Dio refleks menangkap lengan Rara.

Rara berhenti, terlalu dekat dengan wajah Dio. Dio juga terdiam.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Jantung Rara berdetak heboh. Jantung Dio berdebar rapi tapi kuat.

Rara mencoba bercanda untuk menutupi rasa malunya. “Kalau aku jatuh, tumbler aku makin susah ketemu, Dio.”

“Kalau kamu jatuh, aku yang keberatan,” jawab Dio tanpa berpikir panjang.

Rara menatapnya. Dio memalingkan muka, salah tingkah.

Rara cepat-cepat berdiri tegak. “Baik. Efisiensi waktu. Kita kembali bekerja!”

Hal itu menjadi sebuah kebersamaan tanpa mereka berdua sadari. 


Sepanjang perjalanan balik ke kantor, mereka berjalan berdampingan. Tidak ada yang bilang mereka harus bareng. Tidak ada kesepakatan. Tidak ada alasan pencarian tumbler yang benar-benar kuat siang itu, tapi mereka tetap bareng dan tanpa disadari, kantor pun memperhatikan.

Di lift, rekan kerja berbisik-bisik. Di lorong, beberapa orang senyum-senyum. Di pantry, dua staf admin saling sikut sambil melihat Rara dan Dio lewat.

Rara tidak sadar sama sekali, sedangkan Dio pura-pura tidak sadar.

Yang mereka tahu hanyalah mereka suka berjalan berdua. Diam, tapi nyaman dan absurd, tapi hangat.

Mereka belum sadar, tapi semua orang bisa melihatnya.

Kebersamaan kecil itu perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang pelan-pelan tumbuh tanpa permisi.