Sudah beberapa hari berlalu sejak makan siang efisiensi ala duo agen rahasia versi amatir itu dan walau tumbler Rara masih misterius entah di mana rimbanya, semangat Rara mulai naik turun seperti grafik saham yang tidak stabil.
Namun, hari ini ada sebuah kabar yang membuat grafik itu langsung naik drastis.
Pukul 09.20 pagi, Rara sedang mengetik laporan dengan wajah sayu. Siska di sampingnya sudah berkali-kali melirik dengan waspada.
“Kamu kenapa, Ra? Mukanya kayak habis ditinggal kapal berlayar.”
“Aku sedih. Tumblerku belum ketemu.” Rara menunduk, menatap keyboard seperti keyboard itu yang salah.
“Ya, ampun itu tumbler, bukan paspor NASA.”
“Buat aku, sama pentingnya!” Rara memelototkan mata dramatis.
Belum sempat Siska membalas, seorang OB, Pak Darto, lewat sambil membawa trolley pel bersuara ‘krek-krek’.
Saat lewat di dekat meja Rara, ia berhenti tiba-tiba.
“Neng Rara, tumbler warna hijau muda ya?”
Rara langsung berdiri reflek sampai kursinya berputar satu kali. “Iya, Pak! Mint pastel! Motif daun tipis! Ada sedikit lecet kecil, di tengah badannya!”
Pak Darto kaget sampai mundur setengah langkah Siska langsung menepuk jidatnya. Dua karyawan lain mengintip dari balik monitor.
“E-eh, iya, iya, saya pernah lihat kayaknya kemarin sore di lantai HRD, dekat rak arsip,” kata Pak Darto.
Detik itu juga, mata Rara membesar seperti lampu stadion.
“Lantai HRD??!”
“I-iya, kayaknya.” Pak Darto hampir terpeleset mundur karena kehebohan Rara.
Rara menepuk meja keras. “Ini petunjuk! Ini cluenya! Ini hint!”
“Jangan teriak, Ra,” tapi sudah terlambat.
Rara sudah grab tas kecilnya, merapikan rambut seadanya, dan siap sprint, tapi ia terhenti. Karena dari arah pantry muncullah Dio. Dengan kopi hitam di tangan. Dengan kemeja rapi. Dengan gaya berjalan tenang khas Dio.
Rara langsung lari ke arahnya seperti film aksi tapi dengan suara sepatu sandal 'plak plak plak' yang merusak estetika dramatis.
“Dio, ada pentunjuk!!” Rara mengguncang lengan Dio sampai kopi di tangannya hampir tumpah.
“Pe-petunjuk?” Dio memegang cupnya erat agar tidak tumpah.
“Pak Darto bilang, tumbler warna mint ada di lantai HRD!”
Dio berkedip. “Serius?”
“Seriously?!”
Wajah Dio berubah fokus. “Kalau begitu, kita cek.”
Rara terharu. “Meskipun kamu sibuk?”
“Jadwalku padat, tapi sebentar bisa. Kamu terlalu gelisah untuk dibiarkan sendiri.”
Rara menutup dada. “Aduh, kalimat kamu kaya romansa Jepang gitu.”
“Hah?”
“Enggak, enggak! Ayo!”
Misi pencarian tumbler di lantai HRD pun dimulai.
Duo agen rahasia versi karyawan kantor pun mulai bergerak.
Lift menuju lantai HRD berjalan lambat seperti sengaja ingin membuat mereka stress. Rara memukul tombol lantai 9 berkali-kali. “Yang cepat dong! Nasib tumblerku dipertaruhkan!”
“Dipencet berkali-kali nggak akan bikin lift tambah cepat,” kata Dio tenang.
“Tapi bikin emosiku tersalurkan.”
Dio tersenyum samar. Lift akhirnya sampai.
Begitu membuka pintu, Rara langsung berlari kecil seperti karakter anime. Dio mengikuti dengan langkah panjang dan santai, tapi selalu berada setengah langkah di belakang Rara seolah mengawasi agar Rara tidak tersandung arsip atau printer.
Sesampainya di HRD, mereka berjalan ke area rak arsip. Rara membuka semua rak samping, kosong. Di atas rak hanya map dan binder. Di rak bawah pun tidak ada.
“Pak Darto bilang di sini,” gumam Rara sambil merangkak ke bawah rak.
Dio jongkok di sampingnya. “Jangan masuk terlalu bawah, nanti kepalamu kebentur.”
Belum lima detik, duk!
“Aaawww!”
Dio refleks menahan tawa. “Sudah aku bilang.”
Rara keluar sambil mengusap dahinya dramatis. “Rak ini membenciku.”
“Bukan. Kamu saja yang heboh dan tidak hati-hati.”
Rara dan Dio pun melakukan penyisiran ruang HRD yang penuh kekacauan yang tidak jauh dari tingkah absurdnya Rara.
Rara dan Dio menelusuri ruangan HRD seperti polisi mencari barang bukti.
Ada ruangan administrasi. Tidak ada. Ruang pelatihan. Tidak ada. Ruang konsultasi HRD, Rara sampai hampir bertanya ke staf yang sedang konseling.
“Rara, jangan ganggu yang itu,” kata Dio menariknya pelan.
“Oh iya, iya, maaf Bu, semoga masalah Anda segera selesai,” Rara melambaikan tangan ke karyawan yang sedang curhat pada HRD.
Bu HRD melongo.
Dio menepuk kening.
Setelah hampir 40 menit mengobrak-abrik lantai HRD dengan cara yang secara teknis masih berada di batas wajar, mereka kembali ke area rak.
Rara menghela napas panjang. “Kenapa nggak ada, Dio ini sudah hampir seminggu.”
Dio memeriksa sekali lagi. “Mungkin Pak Darto lihat tumbler lain. Banyak warna mint pastel sekarang.”
“Tapi aku udah berharap banget kalau ciri-ciri yang disebut Pak Darto itu tumbkerku,” Rara terduduk di kursi, lunglai seperti balon kempes.
Dio duduk di sampingnya. “Maaf, kalau ternyata bukan ini petunjuknya.”
“Bukan salah kamu kok, petunjuknya aja yang PHP." Rara merengut, menggambar lingkaran-lingkaran di udara pakai jari.
Dio menatapnya lama.
“Aku ikut karena, aku nggak mau kamu nyari sendirian.”
Rara mengangkat wajah, "tapi kamu sibuk kan? Tadi aku lihat kamu bawa setumpuk dokumen.”
“Tidak apa. Aku bisa kerjakan nanti.”
“Dio, sumpah ih, kamu tuh, baik banget. Aku jadi merasa bersalah.”
“Tidak perlu merasa bersalah.”
“Tapi aku nyusahin kamu.”
Dio menggeleng. “Kamu tidak menyusahkan.”
“Tapi aku bikin jadwal kamu kacau.”
“Bukan kacau. Hanya sedikit berubah.”
Rara memelototkan mata. “Itu namanya kacau, Di.”
Dio tertawa kecil. “Kalau kacau karena menemani kamu, aku tidak keberatan.”
Rara membeku. Dio langsung sadar ucapannya terlalu jujur, dan menoleh ke arah lain pura-pura menyisir rak.
Harapan Rara belum padam sepenuhnya. Rara perlahan tersenyum tipis.
“Dio makasih ya. Aku tahu kita belum ketemu tumbler...”
“Belum ketemu. Bukan tidak ada.” Dio memperbaiki kalimat itu dengan tegas. Rara pun menatapnya.
“Maknanya beda?” tanya Rara.
“Beda,” jawab Dio dengan nada yakin. “Aku percaya tumblermu ada. Tinggal belum ditemukan.”
Rara memegang dadanya. “Jangan gitu, aku bisa baper lho.”
Dio tersenyum samar. “Baper karena tumbler, kan?”
“Ehem. I-iya. Tentu saja. Tumbler.”
Pencarian di lantai HRD gagal total, tapi semangat Rara justru kembali berkobar.
Saat berjalan ke lift, ia berkata, “Kita harus bikin strategi baru. Kita belum cek lantai keuangan. Terus pantry lantai 6. Terus ruang meeting 7. Terus.”
“Pelan-pelan saja,” kata Dio sambil menahan senyum. “Kalau semua dicari dalam sehari, kamu pingsan.”
“Semangatku tak terbatas, Dio!”
“Tenagamu terbatas.”
“Tenagaku itu berbasis kopi.”
Dio memandangnya lama. “Justru itu.”
Rara tertawa.
Lift tiba. Mereka masuk. Sunyi sesaat.
Rara memegang tali tas kecilnya. “Dio.”
“Hmm?”
“Beneran, kamu nggak keberatan ya, ikut aku kayak gini?”
Dio menatapnya dengan mata lembut. “Kalau aku keberatan, aku tidak akan ikut.”
“Kenapa kamu mau?”
Dio berpikir sejenak, lalu menjawab jujur, pelan, tapi jelas.
“Karena aku ingin memastikan kamu tidak kehilangan apa pun yang kamu sayangi.”
Rara terdiam. Kata-kata itu masuk perlahan menghangatkan hati perlahan dan tanpa sadar, ia tersenyum. Senyum yang bahkan Dio simpan diam-diam di dalam kepalanya.
Tumbler belum ketemu, tapi sesuatu yang lain mulai terlihat. Mereka kembali ke lantai kantor masing-masing.
Tumbler Rara masih misterius. Petunjuk Pak Darto ternyata jebakan harapan palsu dan pencarian ini masih berlanjut, tapi ada hal yang tidak bisa dibantah. Walaupun tumbler tidak ditemukan, hubungan antara Rara dan Dio perlahan menemukan jalannya sendiri.