Hari itu, Rara melangkah ke lantai HRD dengan langkah penuh semangat seperti baru disuntik adrenalin. Dio berjalan di belakangnya dengan gaya yang lebih normal, tapi dalam hati sudah siap mental menghadapi segala kemungkinan keabsurdan yang akan terjadi.
“Aku punya firasat, Di. Firasat,” ucap Rara sambil mengetuk-ngetuk pelipisnya dramatis. “Tumbler punyaku pasti ada di sini. Aku bisa ngerasain aura mint pastelnya menghampiri itu lagi nyamperin aku.”
Dio menatapnya dengan ekspresi ‘aku cinta kamu Ra, tapi tolong dikit aja akalnya’. “Oke. Kita cek pelan-pelan dulu ya, jangan langsung.”
Belum sempat Dio menyelesaikan kalimatnya, Rara sudah terperangah.
Detik itu juga, waktu seperti berhenti.
Di sudut ruangan HRD, tepat di samping tanaman lidah mertua yang ukurannya dua kali tinggi sepatu hak Rara, berdiri sebuah benda mint pastel yang sangat familiar.
Rara mendekat perlahan. Napasnya tercekat. Bibirnya terbuka.
“Dio…” Rara berbisik lirih. “A-aku. Aku gak salah lihat kan?”
Dio menyipitkan mata. “Hmm… bentuknya sama banget, Ra.”
“Warnanya sama.”
“Ada stiker kucingnya.”
“Ada bekas goresan huruf S-nya!”
Mata Rara berkaca-kaca. “Itu tumblerku, Dio!!!”
Dio refleks menutup mulut Rara dengan kedua tangan karena suara itu hampir merobek gendang telinga seluruh HRD.
“Rara please, tolong jangan berteriak kayak lagi nyanyi dangdut koplo di konser umum,” bisik Dio putus asa.
Mata Rara menyala seperti lampu LED. Dia menendang-nendang kecil tanpa suara karena terlalu bersemangat.
Dio menyeretnya perlahan menjauh dari tumbler itu agar mereka tidak mencurigakan. Rara masih mencoba maju, tapi Dio seperti sudah hafal, dia tahan bahu Rara dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar di pinggang, menghela napas panjang.
“Dio… itu tumbler aku. Tumbler aku ih! Aku mau ambil!” Rara setengah tantrum tapi tetap berbisik.
“Gak bisa asal ambil. Kita tanya dulu pemilik mejanya,” kata Dio.
“Kenapa gak bisa?! Itu jelas milik aku!”
“Tapi kita belum tahu siapa yang naruh. Apa alasannya. Kalau ternyata dia cuma nemu dan belum sempat balikin? Kita harus baik-baik.” Dio menatap Rara seperti menenangkan anak kecil yang ingin makan es krim sebelum makan siang.
Rara meringis kesal. “Aku udah baik… Ini aku paling baik yang aku bisa lakukan.”
Dio tertawa kecil. “Aku tahu Ra, tapi tahan dikit, ya.”
Belum sempat Rara menjawab, pintu ruangan terbuka.
Masuklah seorang pria berumur empat puluhan, berkemeja rapi, rambut klimis, wajah tegas, tapi dengan senyum ramah. Badgenya bertuliskan, BUDI HRD Manager.
Rara dan Dio serempak mundur dan berdiri tegak seperti murid ketahuan nyontek.
Pak Budi melirik mereka berdua. “Ada perlu, ya?” tanyanya ramah.
Rara sempat membuka mulut, tapi kata-katanya langsung tercekat di tenggorokan.
Dio mengambil alih. “Kami eh, sebenarnya melihat tumbler itu, Pak.”
Pak Budi menoleh pada tumbler mint pastel di samping tanaman. “Oh, ini?”
Rara hampir pingsan.
Pak Budi mengangguk santai. “Iya. Barang gratisan itu, ya? Saya kira tumbler free gift dari vendor. Lumayan buat nyiram tanaman.”
Rara dan Dio tidak bisa berkata apa-apa. Keduanya seperti tersengat aliran listrik tinggi atau mungkin membeku di gurun es sampai tidak bisa berkutit sama sekali setelah mendengar ucapan Pak Budi tadi.
Pak Budi tampak bangga. “Airnya awet banget. Gak perlu bolak-balik ambil gayung. Tinggal semprotin dari sini.” Ia meniru gerakan menyiram tanaman.
Rara menggigit bibir keras-keras agar tidak menjerit. Dio memegangi bahu Rara, merasakan tubuh perempuan itu mulai bergetar hebat.
“Pak, boleh saya lihat?” tanya Dio cepat, sebelum Rara meledak seperti bom.
“Oh, tentu. Ambil saja.” Pak Budi menyerahkannya.
Rara mengambil tumblernya, tidak, diamerebutnya dengan kecepatan yang membuat gerakan ninja terlihat lambat.
Begitu tumbler itu berada di tangannya, Rara langsung menatapnya dengan penuh emosional. Jemarinya menyentuh goresan yang seperti membentuk huruf S. Stiker kucing yang sudah agak mengelupas. Bekas penyok ringan di bagian bawah karena dulu pernah jatuh.
Ini memang punya dia. Tidak salah lagi.
“Ini… tumbler aku. Dio.” Rara berbisik parau.
Pak Budi tertawa santai. “Oh, jadi itu milik kamu? Wah, maaf ya. Saya kira ini hadian dari sponsor acara kemarin. Soalnya warnanya lucu dan enak buat nyiram tanaman, loh!”
Rara mengerjap berkali-kali, antara ingin menangis, tertawa dan berteriak sekaligus.
Dio mendekat. “Pak, boleh tanya? Bapak menemukannya di mana?”
“Oh, di pantry minggu lalu. Ada di meja, gak ada siapa-siapa. Saya pikir barang umum. Ya udah saya bawa, cuci, pakai.”
Rara mencium tumblernya. Langsung menjauh.
“Loh??? Kok, wangi pandan?”
Pak Budi tersenyum bangga. “Iya, saya isi air yang sudah dicampur dengan pengharum pandan biar tanaman wangi segar.”
Dio menatap tumbler itu, lalu menatap Rara, lalu kembali ke tumbler. “Rara jangan bilang kamu mau...”
“Aku mau bawa dia pulang!!” potong Rara dramatis, memeluk tumbler itu seperti bayi.
Dio mengusap wajahnya. “Rara, itu tumbler jamu udah disiram pandan buat tanaman.”
“Aku gak peduli!! Aku bisa cuci!! Aku bisa rebus!! Aku bisa rendam di air suci!!”
Pak Budi tertawa lepas. “Maaf ya, kalau saya pakai tanpa izin, tapi barangnya kembali ke pemiliknya, itu yang penting, kan?”
Rara menatapnya sambil memegang tumbler seperti memeluk arca sakral. “Pak, boleh saya bicara jujur?”
“Tentu.”
“Saya antara mau terima kasih atau mau nangis atau mau ngakak atau mau nyium tumbler aku dan takut kecium pandan lagi.”
Pak Budi mengangguk penuh pengertian. “Emosi campur aduk ya, Nak?”
Rara hanya bisa mengangguk cepat hingga poni depannya ikut bergetar.
Dio berdiri di samping Rara sambil menahan tawa. “Pak, Rara sudah mencari tumbler ini hampir satu minggu. Seisi kantor kena interogasi.”
“Oh ya?” Pak Budi mengangkat alis. “Sampai segitunya?”
“Lebih,” gumam Dio.
“Jauh lebih dari itu,” koreksi Rara.
Pak Budi menepuk bahu Rara pelan. “Syukurlah sudah ketemu. Kalau gitu silakan bawa pulang dan terima kasih ya. Tumbuhan di sini jadi wangi pandan beberapa hari.”
Rara tersenyum canggung. “Hehe… sama-sama, Pak eh, maksudnya maaf, Pak!”
Pak Budi tertawa lagi, lalu pergi. Begitu pintu tertutup, Rara langsung jatuh bersandar ke dinding.
“Dio aku mau ketawa, tapi mau nangis, tapi mau pingsan, tapi mau cuci tumbler ini sekarang juga!!”
Dio jongkok di depannya. “At least, tumblernya kembali.”
Rara mengusap tumbler itu dengan lembut. “Iya, tapi wangi pandan.”
“Ya udah, nanti aku bantu cuci.”
Rara menatap Dio. Tatapan yang berbeda. Bukan hanya tatapan terima kasih karena tumblernya kembali.
Lebih hangat. Lebih lembut. Lebih dalam.
“Makasih ya, Dio!”
Dio tersenyum kecil, malu-malu. “Sama-sama.”
“Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah ngambek sama orang satu kantor.”
“Kamu, sih.”
Rara memukul lengan Dio pelan-pelan. “Hush!”
Dio tertawa.
Untuk sesaat, mereka berdiri saling menatap sambil di antara mereka hanya ada tumbler mint pastel beraroma pandan yang seharusnya tidak romantis sama sekali, tapi entah kenapa momen itu terasa hangat.
Saat mereka berjalan keluar ruangan HRD, Rara mendekap tumblernya. Dio berjalan di samping, menahan senyum.
“Kamu kayaknya senang banget ya?” tanya Dio.
“Banget! Tumblerrrr aku balik! Walaupun sekarang dia kayak bau es cendol.”
Dio tertawa lepas.
Rara pun ikut tertawa dan untuk pertama kalinya ini bukan sekadar pencarian tumbler.
Ini momen yang membuat jarak keduanya terasa semakin dekat.