Begitu Rara dan Dio kembali ke lantai mereka, berita itu menyebar secepat gosip artis di infotainment.
“Tumbler Rara ketemu!”
“Serius? Yang warna mint itu??”
“Yang dia cari sampai nanya satpam tiga kali dan bikin pantry chaos?”
“Yang sampai bikin kita mikir mau resign sementara?”
“Alhamdulillah!”
Teriakan lega bergema seperti kantor baru saja mengumumkan bonus tahunan dobel.
Rara masuk ruang divisi dengan wajah berbinar-binar memeluk tumblernya seperti memeluk bayinya yang telah kembali.
“Guys! aku udah ketemu sama tumbler aku!" Dia mengangkat tumbler seperti Simba di film The Lion King.
Seketika satu divisi tepuk tangan.
Siska sampai berdiri dan bersorak. “Yes!! Akhirnya! Drama mint pastel berakhir!”
Mbak Dini menatap ke langit. “Ya Tuhan, doa kami terjawab.”
Mas Andro pura-pura sujud syukur. “Akhirnya kantor aman nggak ada interogasi random lagi.”
Sementara itu Arman, si receh sejati, berteriak, “cepat, kita bikin pengumuman di grup WA kantor! ‘Tumbler Rara telah kembali ke pangkuan ibu kandungnya’!”
Rara mendelik. “Heh! Jangan lebay! Oke, sedikit boleh.”
Semua tertawa.
Lalu masuklah Dio ke ruangan, tanpa niat apa pun selain lewat, tapi begitu rekan-rekan divisi Rara melihatnya.
“Dioo!!”
Mereka menganggap Dio adalah pahlawan dibalik ketemunya tumbler Rara yang selama ini jadi biang kesuraman suasana kantor.
Dio, yang introvertnya level tinggi, langsung freeze. Seperti kucing yang disenter malam hari.
“E-eh, iya?”
Mereka langsung mengerubungi Dio seperti fans club dadakan.
“Terima kasih udah bantu Rara nyari tumbler!”
“Serius ya Di, kalau bukan kamu, dia mungkin masih muter di basement sekarang ini.”
“Thanks bangett, bro! Lo penyelamat mental kami!”
“Lo pahlawan tak terduga!”
Dio hanya bisa mengangkat tangan kecil, bingung harus menjawab apa. “Ehm, cuma ikut bantu sedikit.”
“Sedikit apanya?!” Siska menunjuk Rara. “Dio itu ikut nyari ke gudang ATK, basement, pantry, server, genset. Pokoknya semuanya!”
Rara mengangguk bangga sambil memegang tumbler di dada. “Betul! Dio itu partner investigasi aku!”
Dio mengalihkan pandangan. “Aku cuma nemenin doang.”
Mas Andro menepuk bahunya. “Bro, kalau ada penghargaan karyawan paling sabar, itu harus buat lo.”
Dio menunduk malu.
Sementara Rara berdiri di samping, bangga setengah mati, seperti memamerkan cowoknya, padahal bukan, tapi vibenya ya, gitu.
Mbak Dini mendekat, "tapi Ra. Kok, itu kenapa wangi pandan?”
Rara langsung mengangkat tangan dramatik. “Jangan tanyalah.”
Dio ngakak pelan di belakang.
Mas Andro mencium tumbler itu pelan. “Ih, iya loh. Ini kaya bau kue lapis?”
“Ini karena dijadiin buat siram tanaman. Okey, jelas ya?!” Rara menjawab cepat.
Semua terdiam satu detik.
Lalu.
“HAHAHAHAHAHAHA!”
“Tanaman aroma pandan!”
“Pak Budi luar biasa konsep hidupnya!”
Rara menunduk, tutup muka. “Ah, aku mau pulang. Pokonya aku malu.”
Dio menyenggol bahunya. “Masih jam kerja.”
“Aku tetep malu, Dio!”
Arman memandangi tumbler itu. “Ra, lo yakin mau pakai lagi?”
“Iyalah! Tentu! Ini tumbler kenangan! Walaupun ada sensasi pandan, tapi a ku bangga!” Rara memeluknya erat.
Dio menahan tawa sambil memandang Rara penuh kesabaran. “Nanti sore kita cuci bareng.”
Rara membeku.
“Bareng?”
Dio mengangguk. “Biar aromanya hilang.”
Seluruh ruangan serempak mengatakan, " ciyehhh!”
Wajah Rara langsung merah seperti lampu rem motor.
“Ih, apa sih?! Kenapa ciyeh-ciyeh, coba?! Itu cuma cuci tumbler bareng doang!”
Siska mendekat dan berbisik, “Ra, kalau cowok ngajak cuci tumbler bareng tuh vibesnya intimate banget tau.”
“Dari mana itu?!”
“Dari pengamatanku," jawab Siska mantap.
“Pengamatan dari novel Wattpad mana?!”
Dio bingung melihat mereka. “Kenapa kalian heboh?”
“Gak apa-apa!” teriak Rara sambil mengibaskan tangan.
Dio hanya mengangguk pelan. “Oke!”
Dalam hati Rara, "okey, tenang. Aku harus tetap cool. Aku harus tetap tenang," tapi wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Setelah hari kerja berakhir, Rara mengemasi barang-barangnya sambil terus mengendus tumblenya. Setiap kali wangi pandan lewat, dia cringed sendiri.
“Huh, kenapa pandan sih,” gumamnya.
Dio muncul di samping meja. “Sudah siap?”
“Eh? Siap apa?”
“Pulang.”
Rara berkedip. “Loh? Dio mau pulang bareng aku?”
“Daripada kamu jalan sendirian sambil nyium tumbler pandan itu?” Dio tersenyum kecil. “Sebaiknya ditemani.”
Rara langsung blank sebentar. "Oh.”
Siska dari kejauhan memegang pipi sambil berbisik, “Ya, Tuhan, mereka lucu banget sih!”
Arman berbisik ke Mbak Dini, “Harus gue rekam gak sih?”
“Jangan,” kata Mbak Dini, " tapi nanti cerita ke grup ya.”
Rara merasa seluruh kantor menatapnya, jadi dia buru-buru berdiri. “Ya-ya udah! Yuk!”
Dio tertawa kecil melihat kekagetan Rara.
Begitu sampai di lobi, satpam yang pernah diinterogasi Rara tersenyum lega.
“Bu Raraaa, selamat ya tumblenya sudah ketemu!”
Rara menunduk malu. “Iya, Pak, maaf ya dulu saya.”
“Gak apa, Bu. Yang penting sekarang udah beres.” Satpam kedua yang dulu dituduh sambil makan gorengan juga melambaikan tangan. “Selamat ya Bu! Jangan cari-cari lagi yaaa!”
Dio menahan tawa.
Rara menepuk dahinya. “Dio ih, aku malu, sumpah.”
“Tapi mereka sayang kamu kok,” jawab Dio lembut.
“Sayang karena aku berhenti interogasi mereka.”
“Ya itu termasuk.”
Rara menghela napas. “Dio… aku nih… abs?”
“Absurd? Iya, aku tahu.”
“Heh?!”
Dio tersenyum, "tapi itu bikin kamu unik.”
Rara menatapnya.
Diam. Sejenak. Hangat.
Lalu tmbler pandan itu meneteskan sedikit sisa air siraman ke sepatu Rara.
“Argh!” Rara langsung melompat mundur.
Dio terkekeh. “Yuk pulang, kamu perlu terapi air panas buat sepatu.”
Saat perjalanan pulang mereka berjalan ke arah parkiran. Sore itu indah, langit jingga, angin sepoi-sepoi.
Rara menggenggam tumblenya di satu tangan, satunya lagi memegang tas.
Dio berjalan di sampingnya tanpa banyak bicara, tapi justru terasa nyaman.
“Dio,” kata Rara pelan.
“Hmm?”
“Thanks ya, buat semuanya hari ini. Yang tadi di HRD dan udah terus bantuin aku dan tahan diri biar gak nyolong tumbler dan ya, semuanya.”
Dio menatapnya sambil tersenyum kecil. “Sama-sama. Aku juga senang kok.”
Rara memandang lurus ke depan. “Aku tahu dan sadar kok, kalau pencarian tumbler ini absurd banget.”
“Lumayan,” jawab Dio jujur.
“Hey!”
Dio tertawa pelan, " tapi itu bikin hari aku jadi lebih berwarna.”
Rara berhenti. " Hah? Kamu ngomong apa tadi?”
“Ehm ya. Kamu bikin hari aku jadi beda.”
Rara membeku sebentar, bibirnya bergerak-gerak tetapi tidak ada suara keluar.
Akhirnya dia hanya bisa berkata:
“Dio.”
“Ya?”
“Aku boleh nangis ga sekarang? Aku pengen nangis loh, ini.”
“Kenapa?”
“Karena aku merasa tersentuh, tapi tumbler aku bau pandan!”
Dio menunduk, menahan tawa sampai bahunya naik turun.
Rara cemberut. “Kamu kok, ketawa sih?!”
Dio menggeleng cepat. “Enggak-enggak, aku cuma. Cuma...”
“Ih, ketawa juga! Aku lihat kok!”
Oke, Dio akhirnya benar-benar tertawa dan Rara setelah dua detik marah ikut tertawa juga. Mereka berjalan lagi, tertawa sepanjang jalan.
Masih absurd, masih kocak, tapi entah kenapa hari itu serasa hari spesial dan begitulah tumbler mint pastel telah kembali.
Kantor kembali damai. Rara tenang.
Dio, seseorang yang semakin penting dan perjalanan mereka baru saja dimulai dengan wangi pandan yang tak sengaja menjadi saksi.