Pagi itu kantor masih sepi, lampu-lampu baru saja dinyalakan, dan aroma kopi sachet dari pantry perlahan menyebar. Rara memasuki lantai kantornya dengan langkah mengayun, bukan karena semangat bekerja, tapi karena tumblernya yang sudah kembali utuh, walaupun kini beraroma pandan, tapi tunggu, hey, yang penting kembali!
Namun, begitu sampai di meja kerjanya, ia menemukan sesuatu yang membuat kedua bola matanya membesar seperti dicubit realita.
Sebuah gantungan kecil berbentuk akrilik warna mint pastel dengan nama besar-besar Rara, tergeletak tepat di samping tumblernya.
Rara langsung panik.
“Lho ini apaan?” Ia memungut gantungan itu, menggenggamnya seperti baru menemukan benda sakral.
Belum sempat ia menebak-nebak, sosok yang baru saja meletakkan tas di meja seberang memaksanya membeku.
Dio.
Pria itu sedang membuka laptop, wajahnya tenang, tapi telinganya merah, sangat merah seperti kena sunburn lima jam padahal dia cuma duduk di ruangan ber-AC.
Rara menelan ludah. “Jangan-jangan, ini dari dia ya?”
Waktu seakan mempercepat langkahnya. Dio mengangkat wajah dan mata mereka bertemu. Rara reflek memutar badan, lalu bersandar ke kursi dengan posisi seperti orang yang berpura-pura tidak melihat kejahatan. Saking paniknya, kursi itu ikut berputar. Dua kali. Tiga kali. Sampai akhirnya dia berhenti sendiri karena pusing.
Dio berdiri perlahan dan menghampiri. “Kam udah lihat gantungannya?”
Rara langsung tersedak udara. “Li-lihat! Ini, ini, ini lucu banget! Aneh banget! Maksudku bukan aneh eh, aneh itu lucu kan? Atau lucu itu aneh? Eh, tapi iya! Terima kasih?”
Dio mengangkat tangan sedikit, seolah menenangkan orang yang sedang hyperventilating. “Aku cuma mikir, tumbler kamu supaya nggak hilang lagi.”
Hati Rara bergetar level 9.8 skala richter.
“Jadi kamu bikin ini?” tanya Rara sambil menunjuk gantungan akrilik itu.
Dio menggaruk tengkuk, ekspresi gugupnya muncul jelas. “Hmm… iya. Aku pesen semalam Yang simple aja biar nggak terlalu norak.”
Rara memutar gantungan itu. Tulisan 'RARA' dibuat dalam font tebal melengkung, dihias hati kecil dan bintang-bintang mungil. Bukan norak. Lebih tepatnya, itu menggemaskan sampai menusuk jantung.
“Tapi kok, warnanya sama persis sama warna tumblerku?” tanya Rara lirih.
Dio menahan senyum. “Aku lihat tumblermu itu warna mint pastel, kan? Jadi aku bilang ke sellernya, ‘tolong cari warna yang paling mirip tumbler kecil, warna mint pastel yang lembut.’”
Rara mati gaya. Di tempat. Secara emosional.
Bibirnya bergetar menahan deg-degan. “Kamu perhatian juga, ya.”
“Aku cuma nggak mau kamu sedih lagi kalau tumblernya hilang.” Dio mengalihkan pandangannya, jelas dia malu. “Kemarin kamu sampai moodnya turun banget.”
Rara merasa seluruh tubuhnya memanas. Dia menyeka pipinya pelan, padahal tidak ada air mata, hanya formalitas biar kelihatan dramatis. “Aku jadi terharu dan pusing sedikit, tapi lebih banyak terharunya.”
Dio terkekeh kecil, suara lembut yang tidak sering keluar. “Kalau pusing jangan muter kursi lagi.”
Rara langsung menunduk, malu setengah mati. “Reflek itu!”
“Ya, aku tahu,” balas Dio kalem.
Rara memasangkan gantungan itu di tumblernya.
Rara memegang gantungan itu seperti memegang cincin lamaran. “Cara pasangnya gimana ya? Aku takut salah.”
Padahal tinggal jepit saja.
Dio mendekat, lalu mengambil tumblernya Rara yang berada di meja. Rara refleks ikut mendekat. Jarak di antara mereka hanya beberapa jengkal. Rara bisa mencium aroma sabun Dio, cukup wangi yang bersih dan lembut, cocok dengan kepribadiannya yang kalem.
“Boleh aku bantu?” tanya Dio pelan.
Rara mengangguk terlalu cepat. “Boleh. Iya bole banget ! Tentu saja boleh! Siapa aku menolak pertolongan kebaikan umat manusia!”
Dio tersenyum samar, lalu memasang gantungan itu perlahan di pegangan kecil dekat tutup tumbler. Gerakannya hati-hati, seolah memasang aksesori di barang yang sangat berharga.
Sementara Rara hanya bisa memandangi.
Mata Dio.
Tangan Dio.
Profil wajahnya.
Jarak mereka.
Akhirnya, gantungan itu terpasang. “Sudah,” ucap Dio.
“Oh!” Rara memeluk tumblernya. “Bagus banget. Sekarang tumblermu eh, maksudnya tumblerku. Kupastikan tidak akan hilang lagi!”
Dio mengangguk. “Iya. Kalau hilang juga ya, tinggal aku cariin.”
Kata itu keluar begitu saja, tapi Rara seperti ditembak laser cupid. “Ka-kamu serius?”
Dio menoleh, wajahnya agak merah. “Iya, karena kamu bakal sedih kalau hilang lagi.”
Rara memeluk tumbler itu seperti bayi. “Dio kok, kamu baik banget. Aku jadi pengen ya, pokoknya pengen nangis, tapi bukan karena sedih. Karena kamu lucu.”
Dio: “Hah?”
“Lucunius!” Rara spontan menciptakan kata baru.
"Itu kata apa?”
“Lucu dan genius kalau digabung!”
Dio memandangnya. “Oh. Oke.”
Beberapa jam kemudian, heboh lah satu lantai.
Mbak Sari dari Finance: “Raraaa itu gantungan siapa yang pasangin? Hmmm?”
Mas Gito dari Purchasing. “Waduh, ada tanda kepemilikan tuh. Kamu diclaim ya?”
Mbak Nining dari Admin. “Uhuk uhuk, ada sesuatu sepertinyaaaa.”
Rara langsung kipas-kipas wajah pakai map. “Nggak-nggak-nggak, ini cuma, cuma penanda tumbler. Biar nggak hilang lagi. Demi keamanan kantor. Demi keselamatan tumbler nasional!”
Teman-temannya akhirnya beralih menatap Dio, yang kebetulan lewat sambil membawa berkas.
Mereka mengangguk dalam sinkronisasi yang menyeramkan. “Aaaaa, pantesan.”
Dio berhenti. “Hmm?”
Mas Gito menepuk bahunya. “Good job, bro.”
“Untuk apa?” tanya Dio yang bingung.
Mbak Sari cuma tersenyum lebar. “Sudah, sudah. Kita dukung saja hubungan pergantungan kalian.”
Dio bingung, tidak mengerti konteks. Rara memutar badan ke tembok dengan wajah menyala seperti lampu rem mobil.
Saat jam makan siang, Rara berusaha lari dari segala bentuk teasing, tapi Dio tiba-tiba menghampiri dengan pembawaan kalem seperti biasa.
“Kamu sudah makan?” tanyanya.
Rara menggeleng. “Belum. Mau makan bareng?”
Dio mengangguk. “Boleh.”
Mereka duduk di pojok kantin, tempat paling aman dari pengawas gosip, tapi tetap saja, beberapa pasang mata memperhatikan.
Rara memegang tumblernya yang sekarang tergantung label namanya tanpa henti. “Aku takut hilang lagi.”
Dio tersenyum kecil. “Nggak bakal. Ada namamu dan ada aku juga.”
Rara refleks tersedak air minum.
“Mak-maksudku!” Dio panik. “Kalau hilang, aku bantu cariin lagi! Aku bukan bilang, aku ini bagian dari tumblermu.”
Rara menatapnya lama.
“Tapi kalau kamu mau jadi bagian dari hidupku sih.”
“Rara.” Dio langsung menunduk, telinganya merah lagi. “Jangan bercanda gitu.”
“Aku bercanda kok!” Rara terkekeh, walaupun pipinya juga merah. “Aduh, kenapa suasana jadi kayak di drama Korea sih.”
Dio menunduk. “Karena kamu.”
“Karena apa?” tanya Rara, seperti reporter gosip.
“Unik,” jawab Dio akhirnya. “Dan bikin aku jadi kepikiran.”
Rara hampir menggulingkan kursinya sendiri.
“Kamu juga!” Rara merespons tanpa kontrol. “Maksudku y, kamu itu tenang banget dan aku ya, gitu. Kayak kunang-kunang. Kedip-kedip nggak jelas.”
Dio tiba-tiba tertawa pelan, dan itu membuat Rara terdiam. Dia suka mendengar tawa itu. Jarang, tapi hangat.
Hari itu, Rara pulang sedikit lebih cepat, tapi sebelum ia sempat menekan tombol lift, Dio muncul di belakangnya.
“Rara,” panggilnya.
Rara menoleh. “Hmm?”
“Aku boleh antar kamu pulang lagi? Hari ini?”
Rara tersenyum lebar seperti matahari yang baru dicetak ulang. “Boleh banget, tapi jangan liat isi tasku ya. Berantakan.”
“Aku nggak bakal lihat,” jawab Dio lembut.
Mereka berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Angin sore mengusap lembut wajah mereka.
Dio mencuri pandang.
Gantungan 'RARA' itu kini bergoyang di tangan Rara. Ia memainkannya setiap beberapa menit.
Dio merasa sesuatu menghangat di dadanya. Bukan karena tumbler, tapi karena pemiliknya.
Di perjalanan pulang, Dio memecah keheningan.
“Rara aku senang tumbler kamu ketemu.”
“Aku juga,” jawab Rara. “Kalau nggak ketemu, aku mungkin masih gigit kerah meja tiap hari.”
“Kamu pernah gigit kerah meja?”
“Nggak lah, tapi kepikiran. Hehe...”
Dio geleng-geleng sambil tersenyum. “Aku makin lama makin bingung, tapi tetap pengen tahu lebih banyak tentang kamu.”
Rara mengedipkan mata cepat. “Kamu serius?”
Dio mengangguk. “Iya. Kamu beda.”
“Beda, yang bikin pusing atau bikin senang?” tanya Rara.
“Dua-duanya,” jawab Dio jujur.
Rara terdiam. Kemudian wajahnya memanas.
Kemudian otaknya berkata, 'kalau gitu Rara pun nggak biasa saja sama kamu, Dio', tapi suaranya cuma bisa bilang. “O-oh, begitu ya.”
Rara memeluk tumblernya. Gantungan itu bergoyang pelan dan di dalam hati mereka, sesuatu mulai bergoyang juga, lebih pelan, tapi jauh lebih serius.