Bab 21 : Intensitas Baru

08 January 2026

Sejak kejadian gantungan tumbler bertuliskan namanya yang sampai hari ini masih membuat pipi Rara otomatis panas seperti wajan goreng cireng, interaksi antara dirinya dan Dio berubah. Bukan berubah drastis seperti tiba-tiba bergandengan tangan sambil makan mie ayam berdua di mangkok yang sama, tentu tidak. Mereka hanya lebih sering bersama, tapi keduanya kompak satu hal. 

Pura-pura tidak sadar. Pura-pura tidak peka. Padahal jelas-jelas keduanya sudah deg-degan setengah hidup.

Pagi itu, Rara datang ke kantor sambil memegang tumblernya sangat hati-hati, seolah isinya bukan air putih, tapi surat warisan satu triliun. Gantungan kecil bertuliskan namanya bergoyang-goyang, memantulkan cahaya fluorescent kantor, seakan ikut menyapa semua orang yang lewat dan tentu saja. 

“Ehem. Raraaa.” Siska, teman divisinya, langsung mendekat dengan senyum yang otomatis membuat Rara ingin kabur ke toilet lantai empat. “Gantungan baru tuh. Unik ya. Ada nama kamu. Ada bentuk hatinya juga ya itu? Atau aku salah lihat?”

“A-apa? Ha-hati? Hati siapa? Hati mana? Nggak ada, nggak ada!” Rara langsung menutupi gantungan itu dengan folder biru. “Ini cuma aksesoris. Aksesoris penanda. Iya, maksudnya penanda biar tumbler aku gak hilang.”

“Penanda?” “Ya pokoknya itu!”

Siska hanya mengangguk sambil tersenyum jenaka seperti penonton sinetron yang sudah tahu rahasia besar tokoh utama.

“Tapi yang ngasih siapa tuh? Eeeh?”

Rara refleks menarik napas sedalam-dalamnya, lalu menjawab dengan ekspresi sok santai, meski bibirnya bergetar seperti spanduk kena angin kencang.

“Teman. Biasa. Kan, banyak orang yang perhatian sama aku.”

Siska menaikkan satu alis. “Banyak orang? Atau cuma satu orang spesifik yang bernama Dio?”

Rara langsung batuk. Batuk yang tidak wajar. Seolah ada sebutir batu bata nyangkut di tenggorokannya.

“Si-siapa bilang?” “Semua orang bilang.”

Rara ingin protes, tapi sebelum sempat, dari ujung lorong muncul sosok yang membuat seluruh ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin, tapi hangat pada waktu yang bersamaan dengan Dio.

Pria itu berjalan santai sambil membawa laptop dan mug kopi. Sementara itu, Rara langsung membetulkan rambut, duduk tegak, menormalkan napas, dan berusaha tidak terlihat seperti fans garis keras yang baru bertemu idolanya.

“Pagi,” kata Dio dengan suara kalemnya.

“Pa-pagiiiii," jawab Rara terlalu kencang, membuat tiga orang menoleh.

Dio sedikit memiringkan kepala. “Kamu kenapa teriak?”

“Enggak, aku cumaaaa, cuma memastikan pita suara berfungsi.”

“Begitu ya,” Dio menahan senyum. “Baguslah.”

Siska yang lewat hanya menepuk bahu Rara sambil berbisik, “Kalian tuh ya, definisi sinyal 4G tapi pura-pura hape jadul.”


Di jam istirahat, tanpa janjian, entah kenapa keduanya selalu berakhir di pantry pada waktu yang sama. Rara menyeduh teh. Dio membuat kopi dan keduanya sibuk, berpura-pura tidak saling menunggu.

“Eh, kamu di sini juga ya?” kata Rara pura-pura kaget, padahal tadi dia sudah mengintip lima kali dari pojok lorong memastikan Dio ada di pantry sebelum masuk.

“Iya.” Dio mengangguk pelan. “Kebetulan.”

Padahal dia juga dari tadi menunda seduh kopi karena berharap ketemu Rara.

Keduanya berdiri bersebelahan. Canggung. Manis. Awkward. Imut. Absurd. Komplit.

Dio melirik tumbler Rara. “Gantungannya cocok ya.”

Rara mengangkat tumblenya seperti memperlihatkan piala kejuaraan dunia. “Iyaaaa. Bagus ya. Unik, lucu dan harganya pasti mahal ya?”

“Cuma dua belas ribu aja kok.”

“Oh.”

Hening.

Setelah lima detik, Rara berkata, “Mahalll juga ya.”

Dio tertawa kecil. Bukan tertawa keras, tapi tawa kecil yang membuat Rara langsung meleleh seperti es krim dibiarkan di dashboard mobil.

“Yang penting kamu suka,” katanya.

Rara langsung memalingkan wajah sambil menggigit bibir, mencoba menahan senyum yang ingin melompat keluar.


Sementara itu, gosip kantor semakin menjadi-jadi.

Di divisi IT, teman-teman Dio sudah hampir membuat timeline investigasi, sungguh ironi, tentang hubungan Dio dan Rara. Bahkan ada diagram flowchart yang ditempel di whiteboard kecil. “Kapan mereka jadian? A, minggu ini. B, minggu depan. C, sudah, tapi sembunyi.”

“Dioooo,” panggil Aldo, salah satu rekannya. “Katanya kemarin kamu nganter Rara pulang?”

Dio yang sedang mengetik langsung berhenti. Pipinya tidak memerah, tapi telinganya iya.

“Hanya kebetulan arah pulangnya sejalan.”

“Oh ya? Sejalan ke rumah Rara yang dua kilometer melenceng dari arah rumah kamu?”

“Jalan muter.”

“Hmmm,” ujar Aldo sambil mengangguk dramatis, “muter-muter demi Rara.”

Dio menarik napas. “Aldo.”

“Ya?”

“Kerjain tugasmu.”

Aldo mengangkat tangan. “Baik, bos, tapi kalau kalian nikah nanti, jangan lupa undang aku ya.”

Dio tidak menjawab, tapi bibirnya tersenyum kecil, seolah bayangan itu, entah kenapa, tidak membuatnya keberatan.


Di sore hari, ketika keduanya kebetulan bertemu di lorong, keduanya sama-sama berhenti.

“Kamu sudah mau pulang?” tanya Dio.

“Iya.” Rara mengangguk sambil memainkan ujung lengan kemejanya, "tapi masih rapi-rapi meja dulu dikit.”

“Oh!” Dio terlihat ragu sebentar sebelum akhirnya berkata, “Kalo kamu mau aku tunggu.”

Rara membeku. Di telinganya terngiang kata 'tunggu'. 

Apa telinganya salah dengar? Apa ini ilusi? Apa ini adegan drama Korea yang tiba-tiba masuk ke hidupnya?

“Tunggu?” ulang Rara dengan suara setengah oktaf lebih tinggi.

“Iya.” Dio menggaruk tengkuknya, hal yang jarang ia lakukan. “Maksudnya biar kamu nggak pulang sendirian.”

Rara mengangguk terlalu cepat. “Boleh! Boleh banget! Maksudku, boleh. Kalau kamu nggak keberatan. Kalau kamu keberatan ya, boleh juga. Eh, maksudnya.”

Dio tertawa pelan. “Aku ngerti kok.”

Rara langsung menutup wajahnya dengan map.


Sepuluh menit kemudian, mereka keluar gedung bersamaan. Angin sore menerpa perlahan, membuat suasana terasa jauh lebih romantis dari yang seharusnya.

Mereka berjalan berdampingan.

Canggung.

Tangan keduanya hampir bersentuhan.

Rara berusaha fokus pada jalan.

Dio berusaha fokus pada langkah, tapi pikiran keduanya sama. Kenapa rasanya, beda?

Dio sesekali melirik. Rara pun begitu, tapi tiap kali tatapan mereka hampir bertemu, dua-duanya langsung memalingkan kepala ke arah yang sama-sama absurd.

Rara melihat bak sampah. Dio melihat tembok retak. Keduanya pura-pura tertarik pada hal-hal yang jelas tidak menarik.

“Dio…” panggil Rara pelan.

“Hmm?”

“Terima kasih ya, akhir-akhir ini udah banyak bantu aku.”

Dio menoleh. “Aku senang bantu kamu.”

Kalimat itu sederhana, tapi bagi Rara, rasanya seperti kembang api dinyalakan di dalam dadanya. Deg-degan, meletup-letup, panas, tapi menyenangkan.

“Kalau aku merepotkan?”

“Kamu tidak merepotkan,” potong Dio cepat. “Sama sekali tidak.”

Rara tercekat.

Dio kemudian berkata pelan. “Aku suka lihat kamu tersenyum.”

Rara langsung ingin jatuh pingsan. Kalau saja dia tidak menahan diri, mungkin dia sudah jungkir balik di tanah seperti atlet senam ritmik.

“Te-terima kasih,” jawabnya hampir bisik.

Dio mengalihkan pandangan, menatap lampu jalan yang mulai menyala. “Anehnya, aku jadi kepikiran kamu kalau nggak lihat kamu seharian.”

Deg.

Rara berhenti melangkah. Dio pun ikut berhenti.

Angin lewat di antara mereka.

“Eh, maksudku.” Dio buru-buru melanjutkan, “karena kamu partner investigasi tumbler kan. Jadi, kalo kamu nggak ada, rasanya aneh.”

“Oh!” Rara mencoba tersenyum sambil menyembunyikan kekecewaan kecilnya. “Iya. Partner investigasi!”

Padahal hatinya ingin berkata. Sebut aku partner hidup juga nggak apa-apa, tapi tentu tidak keluar.

Belum.


Sesampainya di depan rumah Rara, keduanya kembali terjebak dalam hening canggung yang lagi-lagi manis.

“Sudah sampai,” kata Dio.

“Iya!” Rara memeluk tumblernya. “Terima kasih, sudah nganter.”

“Sama-sama.”

Rara melangkah satu langkah ke gerbang, lalu berbalik lagi.

“Dio…”

Dio menatapnya.

“Kalau aku…makin sering butuh bantuan kamu, itu boleh kan?”

Dio tersenyum kecil, lembut, tulus. Sebuah senyum yang membuat Rara langsung ingin sembunyi di balik pot bunga.

“Tentu boleh.”

Lama sekali mereka saling menatap. Tidak berani mendekat. Tidak berani membahas rasa yang sudah sama-sama mereka sadari. Tidak berani mengambil langkah, tapi tidak ada yang pergi.


Ketika akhirnya Rara masuk ke halaman rumah, Dio menunggu sampai gerbang tertutup. Rara kemudian berjalan pelan ke pintu rumah, lalu begitu pintu menutup. 

“AAAAAAAAAAAA!!!”

Ia teriak sambil berputar-putar seperti baling-baling kipas angin rusak.

Di luar, Dio mendengar samar-samar dan hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.

Keduanya tahu hubungan mereka berubah. Keduanya tahu ada rasa yang mulai muncul, tapi mereka kompak pura-pura tidak tahu dan justru karena itu intensitasnya semakin menjadi-jadi.