Seharusnya hari itu menjadi hari yang ringan. Tumbler sudah kembali, drama hilangnya sudah berakhir dan semua orang di kantor sudah berhenti menginterogasi dirinya layaknya kasus kriminal besar, tapi justru setelah semua urusan selesai, hati Rara terasa menjadi berat.
Aneh.
Harusnya tenang. Harusnya lega. Harusnya bahagia, tapi yang muncul justru rasa yang menusuk pelan, seperti ada duri kecil yang menempel di dada.
Rara duduk di meja kerjanya, memandangi tumbler kesayangannya yang kini sudah kembali ke pelukan dengan gantungan bertuliskan namanya. Ia memutar-mutar gantungan kecil itu sambil menopang dagu.
“Kenapa ya,” gumamnya pelan.
Dari meja sebelah, Siska melirik. “Kenapa apanya?”
Rara kaget sendiri. “Hah? Enggak apa-apa! Aku cuma memikirkan cuaca.”
“Cuaca apa yang bikin kamu melet-melet gitu?” Siska menatapnya dengan sorot ‘ngerti banget’.
Rara buru-buru memalingkan wajah sambil merapikan dokumen padahal tidak ada yang perlu dirapikan. “Enggak, beneran. Aku cuma mikir aja. Mikir kecil. Mikiran receh.”
Siska menyandarkan siku di meja. “Mikir apa? Tentang Dio?”
Rara langsung tersedak air minumnya padahal belum minum. “Aku eng, enggak! Beneran bukan tentang itu!”
Siska hanya menghela napas. “Rara. Ekspresi kamu tuh, kayak anak SMP yang lagi naksir kakak kelas, tapi pura-pura sok cool. Padahal jelas wajahnya merah.”
“Wajah aku nggak merah,” protes Rara sambil menutup pipi.
“Oh iya? Nih liat kaca.”
Rara mengambil cermin kecil dari laci. Pipinya merah padam. Bahkan bukan cuma merah, lebih ke pink keunguan seperti cotton candy kepanasan.
Rara buru-buru menutup cermin dan memasukkan kembali dengan panik.
“Tuh kan!” Siska menoyor pelan. “Kamu kenapa sih? Kelihatan banget ada yang kamu pikirkan.”
Rara menunduk. Sebenarnya banyak. Banyak isinya tentang Dio. Sampai-sampai otaknya terasa penuh seperti closet mampet.
Ia tetap menunduk, berbicara lirih. “Aku cuma, takut.”
Siska langsung menegakkan badan. “Takut apa?”
Rara memeluk tumblernya erat, seolah itu adalah bantal guling. “Takut kalau semua kedekatan kemarin itu cuma karena tumbler.”
Siska terdiam.
Rara melanjutkan, suaranya lirih tapi jelas penuh beban. “Waktu tumblerku hilang, Dio ngejar-ngejar aku buat bantu. Kita sering ketemu. Sering jalan bareng. Banyak momen yang aku suka, tapi sekarang tumblernya sudah ketemu. Kasusnya selesai.”
Ia menelan ludah.
“Kalau Dio ternyata cuma peduli karena kasusnya. Kalau sekarang dia balik normal lagi. Kalau dia menjauh. Kalau semuanya cuma momen singkat dan aku yang terlalu baper.”
Siska menghela napas panjang. “Ra… ya, ampun.”
“Aku takut.” Rara menunduk makin dalam. “Takut banget.”
Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda bagi Rara. Biasanya, begitu melihat Dio lewat lorong, jantungnya langsung berdansa salsa, tapi kali ini, rasa deg-degan itu berubah jadi khawatir.
Ia mengintip sedikit dari balik monitor.
Dio ada di mejanya, mengetik seperti biasa. Kalem. Tenang. Fokus. Tidak memandangi Rara sama sekali.
Rara langsung bersandar pelan ke kursi. “Nah, kan, bener dia nggak inget aku lagi.”
Padahal Dio baru duduk dua menit.
Rara berusaha kembali bekerja, tapi pikirannya terus melayang. Setiap suara langkah kaki lewat, ia mengangkat kepala cepat berharap itu Dio, tapi tiap kali bukan Dio, ia kembali menunduk dengan wajah kecewa.
‘Halah. Ternyata aku lebay sendiri.’
Di jam makan siang, biasanya Dio muncul di depan meja Rara dengan kalimat sederhana. “Rara, makan bareng,” tapi hari ini, sampai menit ke-43 jam istirahat, Dio tidak muncul.
Rara gelisah. Tangannya memegang sendok, tapi tidak memasukkan apapun ke mulut. Matanya berkali-kali melirik pintu pantry.
“Ra!” Siska memberi isyarat. “Kamu nungguin Dio?”
“Enggak! Enggak lah! Aku cuma, ngecek ventilasi ruangan.”
“Ventilasi apa pake ekspresi patah hati begitu?”
Rara cemberut.
Lima menit kemudian, yang masuk ke pantry adalah teman Dio dari IT. Bukan Dio.
Rara langsung melempar sendok ke piring dengan dramatis, seperti aktris sinetron yang baru mengetahui suaminya menikah siri.
“Udah bener,” keluhnya muram. “Dia menjauh.”
Sorenya, ketika Rara berjalan ke arah lift untuk pulang, ia mencoba menenangkan pikiran.
‘Sudah ah, Ra. Jangan baper. Jangan berasumsi. Jangan bikin drama sendiri. Mungkin Dio sibuk beneran. Udah, fokus pulang aja.’
Namun, saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan menahan pintu.
Dio.
Rara langsung panik. Saking paniknya, ia harus menahan diri supaya tidak memeluk dinding lift.
“Oh, kamu.” Rara berusaha terlihat santai padahal kakinya goyang.
Dio masuk dengan napas sedikit terburu, seakan mengejar lift dari ujung lorong.
“Maaf aku telat,” katanya pelan.
“Hah? Telat apa?” Rara bingung.
“Ng, aku biasanya ajak kamu makan siang kan? Hari ini aku nggak sempat.”
Rara membeku.
Dio menatapnya. “Aku sibuk banget, tapi aku kepikiran juga. Takut kamu merasa aku menjauh.”
Lift seketika terasa hangat.
Rara ingin teriak, 'heh, kenapa dia bisa baca oikiranku', tapi tentu saja tidak.
Ia hanya berkata lirih, “Kamu mikir gitu?”
“Ya.” Dio tersenyum kecil. “Karena kamu terlihat menghindar.”
“Aku gak menghindar!” “Suara kamu naik.”
“Maaf.”
Dio menahan tawa.
Mereka saling diam sejenak. Lift bergerak pelan. Namun, jarak tubuh keduanya terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Setelah beberapa detik, Dio berbicara lagi. “Rara.”
“Hmmm?”
“Kita masih partner kok. Meskipun tumbler sudah ketemu.”
Rara berkedip. “Masa sih?”
Dio mengangguk. “Iya dan kalau kamu mau kita bisa tetap bareng. Tidak harus ada tumbler hilang dulu.”
Deg.
Lift berbunyi ting.
Pintu terbuka, tapi Rara tidak bergerak. Dio pun sama. Mereka hanya menatap satu sama lain beberapa detik, lama, tapi tidak canggung.
Anehnya justru nyaman. Akhirnya Dio sedikit bergeser ke samping, memberi ruang. “Ayo.”
Rara melangkah keluar dengan hati yang mulai hangat, tapi begitu Dio tidak melihat, ia menggigit bibir sambil menekan dadanya yang berdebar.
Di luar gedung, angin sore kembali menyapa. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran.
“Kamu pulang naik apa?” tanya Dio.
“Motor. Kamu?”
“Motor juga. Arah kamu lewat timur ya?”
“Hmm, iya.”
“Kalau begitu aku.” Dio ragu sejenak. “Aku ikut sampai perempatan depan. Soalnya jalan sana lebih terang. Aku cuma mau pastikan kamu aman.”
Rara berhenti melangkah.
“Dio.”
“Ya?”
“Kamu ikut cuma sampai perempatan karena cuma lewat situ atau kamu sengaja?”
Dio menatapnya.
Lama.
Sangat lama.
Lalu jawabnya pelan, jujur, tidak terburu-buru.
“Aku sengaja.”
Jika jantung Rara sebelumnya berdetak cepat, sekarang sudah seperti marching band sedang latihan akhir tahun.
Mereka kembali berjalan.
Rara mencuri pandang. Dio melihat ke depan, tapi senyum kecilnya tidak bisa disembunyikan.
Sesampainya di perempatan tempat mereka berpisah arah, suasana jadi hening.
Lampu jalan berkedip. Angin malam lewat. Motor-motor berseliweran.
Dio mematikan mesin motornya lebih dulu.
“Sudah sampai,” katanya.
“Iya!”
“Kamu hati-hati ya.”
“Kamu juga.”
Hening lagi.
Rara mengutak-atik helmnya tanpa alasan. Dio memainkan kunci motornya tanpa tujuan. Keduanya sama-sama ingin bicara, tapi tidak ada yang berani memulai. Akhirnya Rara memberanikan diri, suaranya lirih, tapi mantap. “Dio…”
“Ya?”
“Kamu jangan sampe menjauh ya.”
Dio mendongak sedikit. “Aku nggak ada rencana menjauh.”
Rara menggigit bibir. “Serius?”
“Serius.”
Rara meremas tali helmnya. “Soalnya aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kedekatan kita cuma sekedar efek samping tumbler.”
Dio langsung menatapnya dengan sorot yang lembut, tapi menyimpan ketegasan.
“Rara.”
“Hmmm?”
“Kedekatan kita bukan cuma soal tumbler.”
Rara berhenti bernapas sesaat.
Dio melanjutkan, pelan namun jelas, “Kalau aku mau menjauh, aku sudah melakukannya dari dulu, tapi kenyataannya aku malah makin dekat.”
Rara menunduk, pipinya panas.
“Tapi kalau kamu nggak nyaman atau kamu cuma nganggep aku tem.“
“Aku nyaman,” potong Dio cepat.
Rara mendongak.
Dio menatapnya tanpa ragu. “Sangat.”
Rara berusaha tidak tersenyum terlalu lebar, tapi gagal.
Senyumnya merekah sampai ke telinga. Sampai membuat pipinya pegal.
Dio menunduk sedikit sambil tersenyum juga. “Sudah. Pulang sana. Nanti aku nunggu kamu kirim pesan sudah sampai.”
Rara mengangguk. “Iya.”
Setelah menghidupkan motor, Rara melaju pelan, tapi beberapa meter kemudian, ia menoleh.
Dio masih ada di sana, berdiri di bawah lampu jalan, memperhatikan Rara pergi dengan senyum tipis.
Melihat itu, hati Rara yang tadinya penuh ketakutan perlahan terasa hangat.
Tidak hilang. Tidak lenyap, tapi berubah. Bukan takut kehilangan lagi, tapi takut semakin jatuh dan untuk pertama kalinya, Rara membiarkan dirinya merasakan itu tanpa mencoba menyangkal.