Bab 23 : Sudut Pandang Dio

08 January 2026

Dio sudah tiba di kantor lima belas menit lebih awal, seperti kebiasaannya. Ia menyalakan komputer, membuka dokumen kerja, lalu duduk tegak sambil menarik napas panjang.

Namun, yang terjadi lima menit berikutnya bukan bekerja.

Dio malah memandangi layar kosong Microsoft Word sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen.

Di layar, tertulis. “Rara, kamu mau makan malam bareng?”

Dio menatap kalimat itu lama. Terlalu lama. Seperti sedang merenungi kehidupan, padahal cuma ajakan makan malam.

Kemudian ia menghapusnya. Kursor kembali berkedip seolah mengejeknya.

Dio mengetik lagi. “Rara, kalau kamu belum ada acara, aku pengen ajak.”

Hapus lagi.

Dio menutup wajah dengan tangannya. 'Ya Tuhan. Kenapa dunia serasa susah sekali?'

Ia bukan tipe orang yang pandai bergerak agresif. Bukan tipe yang spontan mengajak seseorang hangout seperti orang-orang extrovert di divisi Marketing. Ia bukan orang yang bisa dengan enteng berkata, 'ayo nonton,' tanpa memikirkan 23 kemungkinan skenario canggung yang bisa terjadi setelahnya dan sekarang, setelah semua kejadian absurd yang dialaminya bersama Rara, ia justru semakin mati langkah.

Dio mengetik lagi. “Rara, kamu suka ramen?”

Hapus. Dio mengetik lagi, "Aku tahu tempat makan enak.”

Hapus. Dio kembali mengetik. "Makan bareng? Kalau kamu mau? Kalau nggak mau juga nggak apa-apa. Maksudku.“

Hapus langsung.

Dio menutup laptopnya sebentar, merasa kepalanya penuh kapas.

Selama beberapa hari terakhir, ada hal-hal kecil yang ia sadari tentang dirinya sendiri.

Misalnya, dulu semua suara di kantor terasa seperti kebisingan biasa. Papan ketik, printer, orang tertawa, dering telepon, tapi sekarang ia bisa mendengar satu suara yang lebih jelas dari semuanya.

Tawa Rara.

Suara itu seperti punya frekuensi khusus yang menembus keramaian. Kadang terdengar saat ia ada di pantry. Kadang dari ujung lorong. Kadang dari dekat meja marketing dan setiap kali terdengar, tanpa ia sadari, kepala Dio selalu menoleh.

Tanpa gagal.

Hal kecil lain yang ia sadari. Ia mengingat cara Rara berjalan.

Agak terburu-buru, seperti kaki lebih cepat dari pikiran. Kadang hampir tersandung sendiri. Kadang lupa membawa sesuatu lalu balik lagi. Kadang terlalu heboh sampai membuat semua orang di pantry berhenti bicara untuk sebentar.

Awalnya Dio pikir semua itu hanya bagian dari pencarian tumbler, tapi setelah tumbler ditemukan, kebiasaan itu tetap ada dan Rara tetap Rara. Tetap unik. Tetap absurd. Tetap hangat dan tanpa Dio sadari, ia mulai menyukai kehadiran itu.

Terlalu menyukai, mungkin.

Dio membuka laptop lagi dan mengetik pesan pendek di notepad, lebih aman daripada langsung menulis chat WhatsApp. “Rara, malam ini kamu sibuk?”

Ia menatapnya.

Kelihatannya sederhana. Normal. Tidak menakutkan.

Lalu ia menghapusnya.

Dio mengusap rambutnya frustasi. “Ini kenapa sih?”

Harusnya mudah. Ia bukan remaja SMA. Ia sudah bekerja, sudah dewasa, sudah pernah menjalin hubungan sebelumnya, walaupun akhirnya toxic dan berakhir buruk. Harusnya ajakan makan malam tidak membuat tangannya berkeringat begini, tapi nyatanya tangan Dio berkeringat.

Parah.


Jam sembilan lewat sedikit, Andra dari tim IT datang ke meja Dio sambil menyeruput kopi.

“Broooo!” Andra menyenggol bahu Dio. “Lagi ngapain? Dari tadi bengong mulu.”

“Kerja,” jawab Dio datar.

“Kebohongan paling tidak sukses tahun ini,” komentar Andra tanpa rasa bersalah. “Lu bengong kayak mantan ngajak balikan, tapi pakai kalimat pasif-agresif.”

Dio menghela napas. “Aku lagi mikir sesuatu.”

“Gue tahu. Rara.”

Dio langsung menegang. “Nggak.”

“Ya, elahh!” Andra menepuk mejanya. “Seisi kantor tahu kok. Lo tuh, salting tiap liat dia lewat. Mukanya langsung kaya touchscreen error. Mati, hidup, mati terus hidup.”

Dio memejamkan mata sejenak. Seharusnya ia tidak sedemikian mudah terbaca.

Andra duduk di pinggiran meja. “Lu mau ajak dia makan malam, kan?”

“Hah?! Aku belum tahu.”

“Belum tahu dari Hongkong? Tampang lu udah bilang ‘aku mau ajak tapi takut cinta ditolak’.”

Dio menunduk dalam.

Andra melanjutkan, “Bro. Cewek itu udah jelas suka lu.”

Dio langsung menoleh cepat. “Kamu jangan ngawur.”

“Ngawur apaan? Liat aja caranya dia ngelirik ke arah lo. Kalo lo lagi di pantry, dia pura-pura ngambil gula padahal gulanya gak dipake. Kalo lo lewat lorong, dia tiba-tiba pura-pura nelpon padahal layarnya mati.”

Dio terdiam.

Ia tidak sadar sejauh itu.

“Lagipula,” tambah Andra sambil menyeruput kopi, “waktu dia nangis gara-gara tumbler ilang, siapa yang pertama dicari?”

“Aku,” jawab Dio pelan.

“Naahh. Itu tanda. Buruan.”

Dio masih tidak yakin, "tapi aku takut terlalu cepat. Takut dia cuma nyaman karena kita sering bersama waktu itu atau takut aku salah baca.”

Andra menunjuk wajah Dio. “Lo introvert, bukan buta.”

Dio terdiam lama, lalu akhirnya menghembuskan napas. “Aku cuma nggak mau salah melangkah.”

“Bro, dia itu absurd, bukan kejam. Kalau lo ajak makan malam, paling yang dia lakukan cuma tersedak air karena kaget, tapi dia nggak bakal nolak.”

Dio hampir tersenyum membayangkan itu adalah Rara, ia panik lalu mengibaskan tangan seakan mengusir udara.

“Gue bilang ya,” lanjut Andra, “kalo lo nunggu momen sempurna, momen itu nggak bakal dateng. Lo harus bikin moment.”

Dio memutar kursinya, memandangi layar laptopnya. Pesan-pesan yang ia ketik lalu hapus terasa mengejeknya kembali.

Akhirnya ia berkata pelan, “Oke.”


Jam istirahat siang mendekat. Dio berulang kali melihat jam, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Ia berdiri dari kursi. Jalan ke arah pantry. Berhenti. Balik lagi. Duduk. Berdiri lagi.

Andra, yang sejak tadi memperhatikan, langsung berseru, “Lu kenapa sih!? Kaya pengantin kedapatan kabar gaunnya salah kirim.”

Dio menutup wajah. “Aku gugup.”

“Ya, jalan sana!”

Dio mengumpulkan keberanian. Satu napas dalam. Lalu melangkah ke pantry.

Sampai di pintu pantry, ia melihat Rara di dalam, memegang tumblernya sambil meniup bagian sedotan, entah kenapa, padahal sedotan itu tidak butuh ditiup.

Rara terlihat cantik dengan caranya yang absurd.

Dio ingin tersenyum, tapi menahannya.

Ia mengetuk pintu. “Rara?”

Rara melompat kecil dari kaget. “Ha-hah!? Ya! Eh ya, ampun kamu bikin aku kaget!”

“Maaf,” kata Dio lembut. “Aku mau bicara sebentar.”

Rara memeluk tumblernya seperti memeluk anak kucing. “A, ada apa?”

Dio menelan ludah. Napasnya terasa pendek.

“Aku...” Dio menunduk sejenak, merapikan nada suaranya, “aku sudah lama mau tanya sesuatu.”

Rara membatu. “Tanya apa?”

Dio menarik napas pelan. “Malam ini kamu.”

Belum sempat ia selesaikan, Rara menjatuhkan tutup tumbler karena gugup. Bunyi tek! memecah ketegangan.

Dio otomatis jongkok dan mengambilnya. Saat berdiri, tangan mereka nyaris bersentuhan.

Rara menelan ludah.

Dio meremas tutup tumbler itu sebelum menyerahkan. “Rara…”

Rara menerima tutup itu dengan tangan gemetar. “I-ya?”

“Aku mau ajak kamu makan malam.”

Rara membeku. Membeku total. Seperti patung es.

Dio menahan napas, menunggu jawaban, siap untuk kemungkinan terburuk, tapi Rara mengangguk cepat sekali, seperti kipas angin level tiga. “Ma-makan malam!? Iya! Iya! Eh, maksudnya boleh. Boleh banget. Eh. Maksudku nggak banget. Biasa aja. Eh. Aduh.”

Dio menahan tawa yang hampir keluar.

“Jadi mau?” tanyanya lembut.

Rara mengangguk lagi. “Iya, aku mau.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tapi bagi Dio, rasanya seperti seluruh beban di dadanya terangkat.

Ia tersenyum, senyum kecil yang jarang muncul. Rara memalingkan wajah, pipinya merah.

Dio menatapnya beberapa detik lagi sebelum berkata, “Oke. Nanti aku kabari jamnya.”

Rara mengacungkan jempol tiba-tiba. “Siap!”

Dio membalas dengan senyum kecil sebelum keluar pantry.

Begitu pintu tertutup, Dio bersandar pada dinding koridor. Dadanya terasa lega. Hangat dan penuh harapan.

Ia memejamkan mata sejenak sambil menahan senyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Dio benar-benar menantikan malam.