Drama

Bayangan Gradasi - Bayangan Hitam Yang Terus Mengancam - Bab 16

Penulis Ichan
12 September 2025

Pintu rumah aman itu bergetar, seakan sebentar lagi akan runtuh bersama rahasia yang disembunyikan oleh Al. Dalam gelap, Hanum masih terlelap, sementara Al sadar malam ini, tak ada ruang untuk gentar.

Suara hantaman kembali terdengar. Brak! Suara kayu berderit, pintu hampir tak kuat menahan dorongan dari luar.

Al berdiri tegak, pistolnya terkokang, matanya menyipit. Nafasnya pendek-pendek, bukan karena takut, tapi karena setiap detik bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati.

“Cepat bangun, Hanum,” bisiknya sambil melirik sekilas ke arah sofa.

Hanum menggeliat pelan, kelopak matanya setengah terbuka. “Al? Ada apa?” tanyanya bingung.

Suaranya serak, masih dibalut kantuk dan lelah. Namun, begitu mendengar pintu digedor lagi, matanya langsung melebar. Ia bangun dengan terburu-buru, tubuhnya gemetar.

“Tidak mungkin, mereka lagi?” suaranya tercekat.

Al menunduk, menatapnya dengan tatapan keras penuh ketegasan. “Dengarkan aku baik-baik, Hanum. Jangan keluar dari sini kecuali aku yang bilang. Apa pun yang terjadi, tetap bersembunyi.”

Hanum menggigit bibirnya, “tapi.”

“Tidak ada tapi!” Al memotong cepat. “Aku tidak bisa bertarung sambil khawatirkan dirimu,. Tolong, Hanum.”

Hanum menunduk, air mata menggenang, tapi ia mengangguk dengan berat hati.

Brak!

Pintu akhirnya jebol.

Asap dan bayangan hitam menyeruak masuk ke dalam. Tiga pria bertubuh besar muncul, wajah mereka tertutup masker hitam, senjata tajam berkilat di tangan mereka.

Al langsung mengangkat pistol, tanpa basa-basi menembaknya. Dor! Dor! Dua peluru melesat, satu mengenai bahu musuh, satunya menghantam dinding.

Musuh yang tertembak itu, ia menggeram, darah mengalir, tapi ia tetap maju, seakan peluru hanya jadi cambuk kemarahan untuknya.

“Bunuh dia, tapi gadis itu tetap hidup! Dia yang terpenting sekarang ini,” teriak salah satu dengan suara berat.

Ucapan itu membuat Al semakin murka dan marah. Mereka benar-benar datang demi Hanum.

“Kalau kalian ingin menyentuhnya.” Al mendesis, menekan pelatuk lagi. Dor! “Lewati mayat aku dulu!”

Pertempuran jarak dekat pun tak terhindarkan.

Hanum menutup mulutnya rapat-rapat, menahan teriakan. Ia bersembunyi di balik meja, tubuhnya kaku. Suara tembakan, hantaman, dan jeritan pria dewasa memenuhi telinganya.

Ia menoleh sekilas. Matanya membelalak saat melihat Al menendang salah satu musuh hingga terhempas ke dinding, lalu berkelit cepat dari sabetan pisau pria lain. Gerakannya lincah, penuh amarah, tapi juga penuh akan risiko.

“Al,” bisiknya lirih, seolah takut suaranya bisa mengganggu fokus Al pada saat itu.

Al sempat terdesak. Pisau berayun nyaris mengenai wajahnya. Namun, ia berhasil menangkis dengan pistolnya lalu menghantam dada lawan keras-keras.

Dor!

Ia menembak dari jarak dekat. Musuh itu roboh seketika. Namun, yang terakhir, pria paling tinggi dengan mata tajam penuh kebencian, masih berdiri. Tangannya memegang kapak kecil yang terlihat kotor, mungkin pernah berlumur darah.

“Beraninya kau melawan kami sendirian,” desisnya dingin. “Malam ini, kau yang akan mati di depannya. Al-Faidzin anak pejabat kotor"

Al menggeram. Ia telah dibuat benar-benar marah oleh ucapan tadi. Al pun mengangkat pistol lagi. Namun, sebelum ia sempat menembak, pria itu melempar sesuatu.

Bom asap!

Ruangan mendadak penuh kabut tebal. Pandangamenjadija kabur, nafas pun jadi sesak.

“Hanum!” Al menjerit, mencoba meraba-raba arah.

Hanum tersedak batuk-batuk, tubuhnya panik. Dari balik asap, ia merasakan tangan kasar tengah menarik lengannya.

“Al!” jeritnya putus asa.

Al berlari menembus asap, menebak arah suara. Jantungnya hampir pecah mendengar teriakan Hanum. Ia menembak ke segala arah, berusaha memisahkan mereka.

Dor! Dor! Suara tubuh jatuh terdengar samar. Namun, ketika asap mulai menipis, Al melihat pemandangan yang membuatnya hampir gila.

Hanum tidak ada di tempat.

Pintu belakang sudah terbuka, berderit pelan, tanda ada yang keluar.

“Tidak!” Al meraung, darahnya mendidih. Ia berlari ke luar, hanya menemukan halaman yang kosong.

Yang tersisa hanyalah saputangan Hanum yang terjatuh di tanah, basah oleh keringat dingin dan debu.


Sementara itu, di tempat lain. Firdaus, ayahnya Hanum. Ia menerima telepon dengan napas terengah. “Apa katamu?! Mereka berhasil menculik anakku, Hanum?!”

“Ya, Pak. Anak buah yang kami kirimkan tidak menemukan siapa pun di rumah itu, yang ada hanya bercak darah dan bekas tembakan.”

Firdaus menumbuk meja keras hingga retak. “Kurang ajar! Siapa pun mereka, aku tidak akan biarkan Hanum tersentuh seujung rambut pun.”

Namun, jauh di relung hatinya, ia sadar. Musuh-musuh lamanya bukan lagi sekadar mengancam. Mereka benar-benar siap untuk menghancurkan segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri.


Al kembali ke dalam rumah aman, tubuhnya penuh luka dan keringat. Matanya kosong, tangannya masih menggenggam saputangan Hanum dengan erat.

“Aku gagal,” gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Namun, dalam keheningan itu, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal kembali mengirim pesan.

“Permainan baru dimulai. Jika ingin melihat gadis itu hidup, datang sendirian ke dermaga tua besok malam. Jangan bawa siapa pun, atau dia mati.”

Al menatap layar ponsel dengan tatapan membara. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah dan tekad yang membakar habis.

“Kalau begitu,” ucapnya dingin, “besok malam, akan jadi neraka bagi kalian.”

Namun, jauh di lubuk hati Al, ia tahu taruhannya terlalu besar sekali. Satu langkah saja ia berbuat kesalahan, maka Hanum bisa lenyap untuk selamanya.


Malam semakin larut. Al duduk sendirian di ruangan yang remuk, hanya diterangi oleh cahaya ponsel yang menampilkan pesan ancaman itu. Saputangan milik Hanum masih ia genggam erat, seakan jadi satu-satunya pengikat harapan.

Namun, dari kejauhan, mata-mata musuh sudah mengawasi, mengabarkan setiap gerakannya. Mereka tahu, Al akan datang.

Dan di sebuah ruangan gelap yang penuh bau besi karat, Hanum terikat di kursi, mulutnya disumpal, matanya penuh air mata. Di hadapannya, pria bermata tajam itu tersenyum dingin.

“Besok malam, kekasihmu akan datang,” bisiknya ke telinga Hanum. “Dan salah satu dari kalian, tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup-hidup.”


Politik adalah permainan penuh darah dingin, tapi bagi Firdaus malam itu, politik bercampur dengan darah dagingnya sendiri. Di balik meja rapat yang penuh dokumen dan wajah-wajah pejabat licik, hanya satu hal yang memenuhi pikirannya, yaitu Hanum.


Di sebuah ruang pertemuan di salah satu hotel mewah di pusat kota dipenuhi asap rokok dan suara gelas beradu. Firdaus duduk di kursi utama, wajahnya tegang, meski penampilannya tetap rapi dengan setelan jas mahal. Di hadapannya, beberapa pejabat senior dan pengusaha besar bersandar santai, seolah-olah malam itu hanyalah sekadar pertemuan bisnis biasa.

Namun, Firdaus tahu, tidak ada yang biasa di sini.

“Rumah saya diserang. Anak saya nyaris terbunuh,” suara Firdaus terdengar berat, penuh tekanan. “Dan saya yakin sebagian dari kalian tahu siapa dalangnya.”