Bab 24 : Kesalahpahaman Kecil

08 January 2026

Rara tidak pernah menyangka hari itu akan menjadi hari yang penuh drama, drama yang sebenarnya bisa dihindari kalau saja dirinya tidak ya, terlalu absurd, tetapi menghindari keabsurdannya sama saja seperti menyuruh kucing jangan suka tidur di kardus. Tidak mungkin.

Namun, mungkin saja itu semua terjadi karena janji makan malamnya dengan Dio batal begitu saja karena tiba-tiba mendapatkan deadline kerjaan untuk hari ini. 

Tentu saja mood Rara hari ini sedang tidak baik. Ditambah dengan sifat absurdnya. Memusingkan dirinya dan orang lain. 

Siang itu, Rara hendak menuju ruang printing untuk mengambil dokumen. Jalanan koridor sedang ramai, banyak orang lalu-lalang, tapi fokus Rara tertuju pada satu sosok di kejauhan.

Dio.

Dio sedang berdiri di dekat dispenser lantai marketing, berbicara dengan seorang perempuan. Perempuan itu cantik, rapi, rambut lurus, wajah lembut dan mengenakan blazer biru. Bukan Dina HRD, bukan Mbak Yani Finance ini orang lain, orang yang jarang muncul di lantai itu.

Rara langsung berhenti mendadak seperti karakter kartun yang diinjak tombol pause.

"Siapa itu?" bisiknya pada dirinya sendiri sambil menyipitkan mata dramatis.

Dalam jarak jauh itu, tangan perempuan tersebut sesekali menyentuh lengan Dio, tidak lama, hanya sekilas, mungkin karena ia excited menjelaskan sesuatu, tapi bagi Rara?

Itu sudah seperti slow motion sinetron.

Tangan perempuan itu yang bergerak ke lengan Dio membuat Rara membeku seperti es batu.

“Ha ha…” Rara menelan ludah. “Tenang. Mungkin itu rekan kerja. Mungkin, mungkin iya, mungkin,” tapi hatinya menolak untuk sepenuhnya percaya.

Lalu yang membuat Rara hampir pingsan adalah ketika perempuan itu tertawa kecil, lalu Dio juga tersenyum.

Senyum.

Senyum yang biasanya cuma diberikan ke ya, dirinya.

Rara langsung memeluk map berisi kertas ke dadanya seolah sedang melindungi jantungnya dari kehancuran.

“Ya Allah…” gumamnya putus asa. “Aku baru dua hari bahagia dua hari! Itu juga bahagia tertunda karena drama tumbler pandan.”

"Apa harus hancur karena batalnya hanji kemarin sama karena hari ini?? Ahhhh. Neyebelin!"

Ia berdiri di sana, di balik belokan, menonton seperti seorang mata-mata amatir yang penuh rasa sakit hati. Setiap detik terasa seperti episode final drama Korea yang tragis.

Ketika perempuan itu menyentuh lengan Dio lagi sambil memegang tablet, Rara tidak sanggup.

Ia berbalik dan langsung lari.

Ya. Lari dengan kecepatan level lomba maraton 17 Agustus.

Rara tiba di ruangannya dengan napas terengah-engah, pipi memanas, kepala penuh pikiran kacau. Rekan kerja menatap heran.

“Neng, habis sprint, ya?” tanya rekan satu divisi.

“Engg? enggak!” Rara menepuk dada. “Saya cuma baru kepikiran kalau printer itu jahat. Iya. Printer kadang bikin emosi. He he.”

Temannya mengerutkan kening. “Hah?”

“Sudah-sudah. Jangan tanya!” Rara menutup wajahnya dengan map.

Ia duduk, mencoba bernapas dengan baik, tapi otaknya langsung memutar ulang kejadian tadi seperti video TikTok autoplay.

Dio sama perempuan? Terus, perempuan itu senyum dan Dio dengan mudahnya balas senyuman itu? 

Rara memeluk tumbler pandan kesayangannya yang bahkan kini menjadi aromaterapi yang menenangkan hanya karena baunya seperti es cendol.

“Aku nggak boleh cemburu, aku nggak boleh cemburu,” gumam Rara sambil mengetuk-ngetuk pipi sendiri. “Kan aku bukan siapa-siapa kan, dia cuma temen kan,” tapi dada tetap terasa sesak seperti diikat karet gelang terlalu banyak.

Ia bahkan mengambil cermin kecil di meja, memeriksa ekspresi dirinya.

“Kok aku begini sih,” ucapnya malu-malu pada bayangannya sendiri. “Aku tuh apa? Cringe? Absurd? Overthinking akut?”

Jawaban hatinya. Semua di atas benar.


Beberapa jam kemudian, Dio muncul di depan meja Rara sambil membawa laporan yang perlu ditandatangani.

Biasanya, begitu melihat Dio, Rara langsung otomatis tersenyum kayak lampu LED menyala, tapi hari itu, ia refleks memasukkan dirinya ke bawah meja.

Secara literal.

Dio mematung. “Ra, kok, Rara ngumpet?”

Dari bawah meja terdengar suara kecil. “Sedang mengecek keselarasan kaki meja.”

“Kaki meja?”

“Iya, takut goyang.” Padahal kaki Rara sendiri yang goyang.

Dio berjongkok, menunduk untuk melihat Rara yang sedang meringkuk dengan wajah panik.

“Kenapa kamu sembunyi?" Suara Dio lembut. Namun, terdengar penuh kebingungan.

Rara menggeleng cepat seperti kipas angin rusak. “Tidak apa-apa. Hanya sebuah riset. Iya. Eksperimen interior.”

“Hah?!”

“Sudah, sudah, saya keluar.” Ia buru-buru merangkak keluar dan duduk tegak, wajah merah.

Dio memperhatikan Rara lama, alisnya terangkat sedikit. “Kamu beneran baik-baik saja kan?”

“Tentu! Saya sehat! Sangat sehat! Saking sehatnya bisa push-up tiga puluh kali!”

Padahal push-up satu kali saja membuatnya megap-megap.

“Kalau sehat,” Dio menaruh berkas di meja, “tolong dicek laporan ini. Setelah itu kalau sempat, aku ingin bicara.”

“Bi-bicara?” Rara menahan napas. “Bicara apa?”

“Nanti saja.”

Dio pun pergi.

Rara langsung menubruk meja dengan keningnya.

“Yaaaa, kenapa dia bilang nanti saja, aku makin deg-degan kan jadinya, aku mau pingsan aja!”


Sore hari, kantor sudah lebih sepi dan Dio akhirnya menghampiri Rara yang sedang bersiap pulang.

“Ra, selesai?” tanya Dio.

“Eh? iya! Sudah! Semuanya selesai! Semua laporan! Semua! Bahkan mungkin laporan yang bukan bagian saya juga hampir saya kerjakan saking gugupnya!”

Dio menahan tawa kecil. “Kamu kelihatan gelisah hari ini.”

“Siapa? Say, maksudnya aku? Tidak!” Keringat Rara mengucur seperti habis olahraga.

Dio menghela napas seperti seseorang yang mencoba memahami misteri dunia. “Kalau kamu marah sama aku atau tersinggung atau mungkin salah paham, tolong bilang ya.”

Rara langsung kaku.

“Maksudnya? Salah paham apa?” Nada suaranya melengking canggung.

“Tadi siang,” jelas Dio, “kamu melihat aku bicara dengan Mbak Fani dari tim luar. Kamu langsung pergi terburu-buru.”

Rara hampir meloncat dari kursinya. “Hahaha? Engg, enggak tahu! Saya, eh, aku eh, buru-buru karena printer itu meledak!”

“Printer meledak?”

“Dalam hati aku," ucapnya dengan pelan, tapi masih terdengar jelas di telinga Dio. 

Dio menatap Rara dengan tatapan yang sangat lembut. Namun, penuh kecemasan yang jelas. “Rara itu cuma urusan kerja. Mbak Fani butuh tanda tangan saya untuk approval vendor. Dia memang orangnya ekspresif kalau bicara. Tidak ada apa-apa.”

Rara menelan ludah. Ingin sekali berkata jujur. 'Aku cemburu, Dio. Aku suka kamu. Aku takut kehilangan kamu'. 

Namun, mulutnya seperti terkunci rapat.

“Ten-tentu, tentu tidak ada apa-apa,” jawab Rara akhirnya, berusaha terlihat tenang padahal jantungnya seperti drum band. “Aku cuma salah lihat aja.”

Dio bersandar sedikit pada meja. “Kalau memang ada yang mengganggu kamu, kamu boleh bilang. Aku nggak mau kamu merasa buruk karena aku.”

Rara menggigit bibir, bingung harus berkata apa.

Ia ingin jujur. Ia ingin menunjukkan isi hatinya, tapi bibirnya selalu menolak bekerja sama.

Akhirnya ia menunduk. “Maaf ya, aku hari ini memang aneh. Mungkin karena kurang tidur.”

Dio menggeleng lembut. “Nggak apa-apa. Kamu nggak salah apa-apa.”

Ada jeda kecil yang membuat suasana jadi sangat lembut.

“Yang penting,” lanjut Dio, “kita baik-baik saja, ya?”

Rara mengangkat kepala pelan, tatapannya bertemu dengan mata Dio. Matanya hangat. Tenang. Kalem. Seolah menenangkan badai di dalam hati Rara tanpa banyak kata.

Rara akhirnya mengangguk. “Iya, baik-baik saja.”

Hening sejenak.

Lalu, tanpa sadar, tanpa rencana. Rara menghela napas lega begitu dalam hingga suaranya seperti balon yang mengempis.

Dio menahan tawa. “Itu tanda kamu lega, ya?”

“Ah? Tidak! Itu, itu, itu cuma teknik pernapasan dari YouTube!”

“Hmm.”

Rara hampir menutupi wajahnya dengan tas.

“Pulang bareng?” tanya Dio tiba-tiba dengan nada suaranya pelan tapi mantap.

Rara tertegun.

“Eh, emang boleh ya?” Suaranya kecil, hampir seperti bisikan.

Mereka pun berjalan menuju lift. Momen awkward muncul di tiap langkah. Rara tidak sengaja berjalan terlalu cepat, lalu berhenti mendadak sehingga Dio hampir menabraknya. Rara mencoba kelihatan cool, tapi justru menjatuhkan kartu akses. Rara mencoba berdiri biasa di dalam lift, tapi tangannya tidak tahu harus ditaruh di mana, hingga akhirnya ia memeluk tumbler yang bau pandan seperti pelukan darurat.

Dio hanya melihatnya dengan senyuman kecil, senyum hangat dan penuh rasa sayang yang mulai sulit ia sembunyikan.

Sesampainya di lobby, mereka berjalan ke arah parkiran. Angin sore lembut, cahaya matahari sudah redup, menyisakan cahaya jingga yang memantul di kaca gedung.

“Ra,” panggil Dio pelan.

Rara menoleh. “Ya?”

“Kalau ada apa-apa, tanya saya, ya. Jangan mikir sendiri, jangan kabur sendiri, jangan meringkuk di bawah meja lagi.”

Rara menutup wajahnya dengan tangan. “Itu, aku tahu, sangat memalukan.”

“Tapi lucu.”

“Dioooo!” Rara merintih malu.

Dio menatapnya lama. “Kamu itu unik dan saya senang sama cara kamu yang unik.”

Rara membeku.

Walaupun Dio tidak mengatakan apa-apa secara jelas. Kalimat itu cukup membuat jantung Rara menari jaipong.

“Ayo pulang,” kata Dio sambil tersenyum tipis. “Sudah sore.”

Rara mengangguk pelan, wajah merah, langkahnya pelan tapi ringan.

Mereka berjalan berdampingan sampai mobil Dio, canggung tapi hangat, malu-malu, tapi manis dengan hati yang sama-sama berdebar. Namun, belum ada yang berani mengaku.

Namun, satu hal pasti. Kesalahpahaman kecil itu justru membuat mereka makin dekat.