Hari Jumat pagi itu sebenarnya berjalan cukup normal atau setidaknya, Rara berusaha keras membuatnya normal. Ia memasuki kantor dengan langkah mantap, membawa tumbler bau pandan yang kini sudah diberi gantungan kecil bertuliskan namanya, hadiah dari Dio. Setiap kali ia melihat gantungan itu, hatinya panas dingin, seperti habis makan seblak level lima tanpa minum.
Namun walaupun memulai hari dengan mood cerah, kejadian tidak enak datang lebih cepat daripada antrean printer rusak.
Di divisi Rara, sedang ada rapat kecil mengenai laporan mingguan. Semua orang duduk menghadap proyektor, termasuk Rara yang membawa catatan kecil berisi poin-poin penting. Ia sudah siap menjelaskan bagian tugasnya, sampai tiba-tiba.
“Maaf, Bu,” seseorang bersuara dari belakang.
Semua kepala menoleh. Itu suara rekan kerja dari tim lain, seorang pria bernama Fadil, yang terkenal suka cari aman, tapi sering menyalahkan orang lain untuk menutupi kelalaiannya.
“Saya cuma mau mengklarifikasi,” ucap Fadil dengan nada sok serius, “kalau data inventaris di laporan minggu lalu itu tidak lengkap karena ya, ada kesalahan input dari Rara.”
Rara langsung terpaku.
“Hah?” Ia memandang sekitar, memastikan ia tidak salah dengar.
Rekan satu divisi saling menatap. Beberapa mengernyit. Bos divisi, Bu Indah, memandang Fadil dengan alis terangkat.
Fadil lanjut bicara dengan tenang, terlalu tenang. “Soalnya waktu saya cek sistem, beberapa data CCTV yang Rara kirim tidak sinkron. Makanya laporan saya jadi telat.”
Rara ingin bicara, ingin menjelaskan, tapi mulutnya sempat terkunci karena kaget.
Padahal, minggu lalu ia justru sudah mengirim data lebih cepat dari deadline. Ia bahkan double cek tiga kali.
Fadil tersenyum diplomatis, seolah dia sedang membantu. "Bukan mau menyalahkan, cuma biar jelas saja.”
Rara menelan ludah. Ia tidak suka konflik, tapi dituduh tanpa alasan itu rasanya seperti dituduh mencuri gorengan padahal baru lewat warungnya saja.
“Maaf,” Rara akhirnya bersuara, “data yang saya kirim semuanya lengkap. Bahkan saya lampirkan cadangan file. Bisa dicek lagi.”
Fadil langsung mengangkat bahu, “Yah, saya cuma menyampaikan apa adanya.”
Nada itu membuat Rara ingin melemparkan tumblernya, tapi ia ingat tumbler itu berharga. Tidak boleh. Haram.
Situasi makin canggung. Rapat berhenti sejenak. Rara mulai panas dingin, telapak tangannya berkeringat.
Lalu pintu ruang rapat diketuk pelan.
Dio muncul.
“Maaf terlambat, tadi ada kendala jaringan,” ucap Dio sambil duduk. Ia belum tahu apa yang sedang terjadi.
Bos divisi menjelaskan singkat. Dio mengangguk, lalu mengambil iPadnya.
“Kalau masalah data,” katanya tenang, “kebetulan saya punya backup log dari sistem.”
Fadil menelan ludah.
Rara memandang Dio yang tidak melihat ke arahnya, fokus pada layar.
Beberapa detik hening, lalu Dio bersuara lagi.
“Di log sistem,” ucapnya sambil mentap layar, “data yang Rara kirim lengkap. Tanggalnya juga sesuai. Tidak ada kesalahan input.”
Rara membeku.
“Dan,” lanjut Dio sambil menatap Fadil, “justru data yang kamu upload, Fadil, terlambat dua jam. Ada file yang kamu masukkan ulang. Itu penyebab laporanmu telat.”
Ruang rapat langsung sunyi.
Fadil berdeham, jelas panik. “O-oh, mungkin saya salah lihat.”
Dio menambahkan dengan nada tetap sopan, tapi tegas, “Kalau kamu punya kendala input, harusnya bilang dari awal. Jangan langsung menyalahkan orang lain.”
Rara terpaku.
Bukan hanya karena Dio membelanya, tapi karena Dio mengatakannya dengan sangat elegan. Bukan marah, bukan emosional, tapi tetap tegas dan adil.
Bos divisi akhirnya mengakhiri diskusi. “Baik. Terima kasih, Dio. Rara, datamu aman ya. Kita lanjut rapat.”
Rara hanya bisa mengangguk, jantungnya berdebar.
Sementara Fadil menunduk malu sepanjang sisa rapat.
Setelah rapat usai, Rara keluar ruangan. Ia belum sempat bicara dengan Dio, karena Dio tetap tinggal sebentar dengan Bu Indah untuk membahas hal teknis.
Rara menunggu di luar, sedikit gelisah. Ia berjalan kecil-kecil di koridor, seperti ayam kedinginan.
Tak lama, Dio keluar.
“Ra.” Suaranya tenang seperti biasa.
Rara reflek berdiri lebih tegap, padahal tetap terlihat kikuk.
“Te-terima kasih ya, sudah bantu aku buat jelasin.” Rara mengusap belakang lehernya canggung. “Aku tadi sempat mikir aneh-aneh dan ya, hampir teriak.”
Dio tersenyum kecil. “Aku tahu kamu hampir teriak. Aku lihat ekspresi kamu dari balik kaca ruang rapat tadi.”
“Hah? A-aku terlihat sampai sana?”
“Sangat terlihat.”
Rara menutupi wajahnya dengan map. “Ya Allah, tolong angkat aku dari bumi.”
Dio tertawa pelan, suara yang membuat Rara ingin meleleh jadi air es cendol.
“Sudah, nggak apa-apa,” ucap Dio. “Yang penting kamu nggak salah.”
Rara mengangguk pelan, matanya lembut. “Terima kasih, Dio.”
Ada jeda hangat. Satu, dua, tiga detik. Canggung, tapi manis. Lalu Dio tampak seperti sedang menimbang sesuatu.
“Ra,” katanya akhirnya, “akhir pekan kamu sibuk?”
Rara mematung.
Ia langsung menelan ludah dan tiba-tiba tangannya gemetar memegang tumbler pandan. “Eh, akhir pekan? A, a-ada apa ya?”
Dio menggaruk tengkuknya, tanda ia benar-benar gugup.
“Aku mikir,” ucapnya pelan tapi jelas, “mungkin kita bisa ketemu. Di luar jam kantor. A-aku mau nebus yang hari itu kita gagalan makan malam.”
Rara menatapnya, mata membesar seperti anak kucing menemukan snack baru.
“O-oh, ketemu? Di luar kantor berarti ya?”
“Iya.” Ada jeda canggung lagi.
“Dimana?” tanya Rara lirih.
Dio menarik napas, lalu mengeluarkan alasan paling aman di seluruh galaksi.
“Kita bisa evaluasi,” katanya. “Evaluasi strategi pencarian tumbler.”
Rara langsung menatap Dio dengan ekspresi, seriously?
“Evaluasi strategi pencarian tumbler?” Rara mengulang perlahan, seperti memastikan otaknya tidak salah dengar.
Dio mengangguk dengan wajah setenang Wi-Fi stabil.
Rara menutup mulutnya untuk menahan tawa, tapi gagal.
Ia langsung terkikik. Lalu tertawa lagi dan semakin keras.
“Dioooo,” Rara menahan perutnya. “Evaluasi apa? Tumblernya kan sudah ketemu!”
Dio yang tadinya tenang langsung memerah pipinya. “I-itu, iya sih,tapi.”
“Tapi apa?” Rara mendekat sedikit, senyumnya jahil.
Dio menatap ke samping, tidak berani balas tatapan. “Itu alasan paling masuk akal yang bisa aku keluarkan sekarang.”
Rara menolehnya, wajahnya lembut dan hangat, senyum kecil menghiasi bibirnya.
“Jadi ini ajakan?” bisik Rara. Nada suaranya gemas, tapi juga penuh rasa berdebar.
Dio akhirnya mengangguk kecil.
“Iya, Ra. Ajakan.”
Rara langsung merasa dunia jadi lebih terang lima watt.
“Kalau begitu,” katanya sambil memeluk tumbler pandan seperti boneka. “Aku setuju.”
Dio mendongak, sedikit terkejut. “Serius?”
“Iya, serius.” Rara mengangguk mantap. “Evaluasi strategi pencarian tumbler pasti penting sekali.”
Dio menahan tawa, kali ini ia yang merasa geli.
“Sabtu sore?” tanya Dio.
“Boleh,” jawab Rara cepat, mungkin terlalu cepat.
Dio tersenyum kecil. “Oke. Nanti aku kirim alamatnya. Kali ini aku pasti tepat janji!"
Rara mengangguk sambil mencoba terlihat cool, padahal pipinya merah seperti sambal terasi.
Saat Dio pergi, Rara menghentakkan kaki kecil-kecil dalam senang. Ia tidak bisa menahan diri.
“Aaaaaaaaahhhhhh!!” Ia ingin teriak tapi hanya bisa menjerit tanpa suara.
Seorang rekan kerja lewat dan melihatnya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak, tidak apa-apa! Saya sedang stretching!” Rara mengangkat tangan seperti pose yoga absurd. “Ini untuk kelenturan emosi!”
Temannya hanya mengangguk bingung. “Oh… ya, semangat.”
Rara tersenyum sendiri, memegang tumbler pandan di dadanya.
“Dio ngajak aku,” gumamnya, pipinya memanas. “Meskipun alasannya ya ampun, tumbler.”
Ia menutup wajah dengan kedua tangan, "tapi aku bahagia!”
Hari itu menjadi hari di mana Rara berjalan lebih ringan, tersenyum lebih sering, dan merasa seperti karakter utama drama romansa komedi dengan sedikit bumbu absurd dan untuk pertama kalinya.
Akhir pekan tidak terasa menakutkan, tapi justru sangat dinantikan.
Dadanya berdebar memikirkan satu hal. Kencan pertama yang disamarkan oleh alasan tumbler.