Sabtu sore tiba seperti kilatan cepat yang membuat dada Rara terasa campur aduk gugup, senang dan sedikit ingin pingsan. Ia berdiri di depan cermin sejak dua jam lalu, mencoba menenangkan rambutnya yang entah kenapa hari ini memutuskan untuk memberontak ke segala arah.
“Aku bukan mau kencan, bukan,” gumamnya sambil merapikan poni. “Ini cuma evaluasi pencarian tumbler. Iya. Evaluasi.”
Namun, setiap kali ia mengucapkan kalimat itu, dirinya sendiri tertawa kecil, menyadari betapa absurdnya alasan yang Dio gunakan dan betapa ia sendiri menyetujuinya tanpa banyak protes.
Ia memilih baju yang sederhana, tapi cantik. Blouse putih lembut, celana jeans rapi dan jaket tipis warna pastel. Tidak terlalu niat, tapi tetap manis.
“Rara, kamu ini kenapa sih,” ia menepuk pipinya sendiri. “Santai. Ini Dio, bukan presiden,” tapi justru itulah masalahnya. Karena ini Dio.
Kafe yang dituju Dio berada di sudut kota, jauh dari keramaian. Tempatnya tidak besar, justru kecil dan hangat. Lampu-lampu kuning temaram, aroma kopi bercampur caramel dan musik akustik pelan yang mengalun dari speaker.
Rara sampai lebih dulu.
Ia masuk dan langsung terpukau oleh suasana cozy yang membuatnya ingin berguling di sofa kafe seperti kucing.
“Aduh, jangan-jangan Dio memang sengaja cari tempat sunyi,” gumamnya sambil menahan degup jantung.
Ia memilih meja di pojok, dekat jendela. Tempat yang sunyi dan tidak dekat dengan keramaian. Tempat yang romantis tanpa niat, tapi jelas terasa.
Rara memeluk tumbler pandan yang ia bawa, karena alasan siapa tahu perlu evaluasi strategi pencarian, padahal sebenarnya ia cuma gugup dan butuh sesuatu untuk dipeluk.
Tak lama, pintu kafe berbunyi cling.
Dio masuk dengan kemeja biru muda, jaket hitam kasual dan rambut sedikit lebih rapi dari biasanya. Rara langsung menegakkan tubuhnya terlalu cepat, seperti robot yang kehabisan baterai, tapi tiba-tiba di-charge.
Mata mereka bertemu.
Dio tersenyum kecil yang membuat Rara merasa jantungnya jatuh ke lantai lalu memantul lagi.
“Maaf, nunggu lama ya?” tanya Dio sambil duduk.
“Nggak, nggak! Baru juga tiga detik!” Rara menjawab terlalu cepat, padahal ia sudah duduk di sana hampir sepuluh menit.
Dio menatap tumbler pandan yang dipeluk Rara.
“Kamu bawa tumblernya?”
Rara memeluknya lebih erat. “Iya dong. Namanya juga evaluasi strategi pencarian tumbler.”
Dio mengangguk, mencoba menahan tawa. “Benar juga.”
Ada jeda canggung, tapi bukan canggung yang buruk, hanya canggung seperti dua orang yang belum terbiasa dengan kedekatan baru.
Mereka memesan minuman. Rara dengan latte caramel panas, ditambah gula ekstra karena hidup itu pahit, katanya, sementara Dio dengan cold brew kesukaannya.
Setelah minuman datang, percakapan mereka mulai mengalir.
Tidak ada topik berat dulu. Mereka membicarakan kerjaan, hal-hal remeh, kelakuan printer kantor yang suka mogok, OB yang ramah, tapi suka ngasih gosip gratis, sampai cerita kemarin saat Rara hampir tersangkut di kursi ruang rapat.
Dio tertawa beberapa kali, tawa yang jarang muncul ketika di kantor. Tawa yang membuatnya terlihat lebih muda, lebih rileks, lebih hangat.
Lalu, setelah beberapa menit, pembicaraan mulai menukik ke arah lebih dalam.
Rara menatap keluar jendela, jari-jarinya memainkan cap tumblernya. “Dio, aku mau tanya, kamu kenapa milih tempat ini?”
Dio mengangkat alis. “Kenapa?”
“Soalnya lumayan sepi. Tenang. Hangat.” Ia tersenyum kikuk. “Kayaknya tipe tempat yang kamu suka.”
Dio terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Tempat ramai bikin aku cepat lelah,” ucapnya. “Aku suka suasana yang tidak memaksa aku jadi terlalu banyak.”
Rara menatapnya. “Terlalu banyak?”
“Terlalu banyak energi. Terlalu banyak bicara. Terlalu banyak berinteraksi.” Dio tersenyum kecil. “Aku lebih nyaman di tempat sunyi. Bisa dengar pikiran sendiri.”
Rara mengangguk pelan. “Kalau aku kebalikannya. Tempat terlalu sunyi bikin aku gelisah. Kayak malah jadi overthinking.”
Dio menatapnya lembut. “Aku tahu.”
“Hah? Kamu tahu?”
“Kamu paling tidak bisa diam lima menit tanpa ngomong sesuatu,” Dio menjawab dengan tenang.
Rara memegangi wajah. “Astaga, aku terlalu ribut ya?”
“Bukan ribut.” Dio menggeleng. “Aku suka kamu yang begitu.”
Rara membeku. Kalimat itu sederhana, tapi masuk ke dada dengan efek seperti secangkir coklat panas di malam hujan.
Dio menyadari ia baru saja berkata jujur terlalu blak-blakan dan pipinya sedikit memerah, tapi ia tidak menarik ucapannya.
Rara mengalihkan pandang, berusaha menahan senyum konyol.
Untuk beberapa menit, mereka hanya menikmati minuman masing-masing, membiarkan suasana nyaman itu menyelimuti.
Lalu, Dio berkata pelan.
“Ra, aku akhir-akhir ini banyak mikir. Tentang kita.”
Rara tercekat. “Ki-kita? Kita bagaimana?”
Dio mengangguk, tapi matanya menatap ke meja, bukan ke wajah Rara.
“Aku suka ngobrol sama kamu,” katanya. “Suka lihat kamu heboh. Suka lihat kamu ketawa. Suka cara kamu ceritakan hal kecil dengan semangat seperti itu hal paling penting di dunia.”
Rara hampir tersedak udara.
Dio melanjutkan, suaranya tenang tapi jelas ada kegugupan di baliknya.
“Aku sadar, aku nyaman kalau kamu ada. Bahkan kalau cuma lewat pantry.”
Rara menatap Dio tanpa lupa berkedip, tangan memeluk tumbler seperti memeluk bantal, "tapi,” lanjut Dio pelan.
Rara menahan napas.
“Aku juga takut mendekat terlalu cepat.”
“Kenapa?” bisik Rara.
Dio memutar gelas kopi dinginnya. “Karena aku bukan tipe yang pandai masuk ke hidup orang lain. Aku selalu takut membuat orang tidak nyaman atau mengecewakan.”
Rara menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdesir mendengar kejujuran itu.
“Dio…” Ia memanggil namanya dengan lembut. “Kamu nggak bikin aku nggak nyaman. Sama sekali nggak.”
Dio akhirnya mendongak menatapnya.
Rara menambahkan, “Justru kalau kamu nggak ada, aku yang jadi nggak nyaman.”
Dio tertegun dan untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah, bukan datar, bukan canggung, tapi hangat dan terluka sekaligus, seperti seseorang yang sudah lama menahan diri agar tidak berharap tapi tiba-tiba diberi cahaya.
Namun, meski hatinya mulai yakin, mulutnya belum mau mengambil risiko.
“Aku senang dengarnya,” ucap Dio, " tapi memberi label pada sesuatu aku ingin pastikan dulu.”
Rara mengangguk mengerti. Ia tidak tersinggung, justru lega karena Dio jujur.
“Aku juga belum siap ngambil langkah besar,” kata Rara lirih. “Aku cuma ya, suka momen kayak gini.”
Dio tersenyum.
“Begitu juga aku.”
Mereka saling menatap beberapa detik. Sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung. Sunyi yang hangat.
Sehangat aroma kopi caramel yang memenuhi ruangan.
Rara kemudian tertawa kecil, memecah suasana.
“Terus, evaluasi strategi pencarian tumblernya apa?”
Dio menutup wajahnya sebentar sambil terkekeh malu. “Kamu masih mau bahas itu?”
“Harus dong.” Rara mengangguk serius. “Tumbler itu saksi sejarah kita.”
Dio mengangguk. “Benar. Tanpa tumbler itu, mungkin kita nggak akan sejauh ini.”
Rara tersenyum. “Dan jauhnya, masih mau kamu lanjutin?”
Dio menatapnya, kali ini tanpa ragu.
“Iya, Ra. Aku mau.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada pengakuan cinta. Tidak ada janji-janji besar.
Hanya sebuah kejujuran yang terasa jauh lebih berharga.
Mereka menghabiskan waktu lebih lama daripada dugaan. Mengobrol santai tentang mimpi, masa lalu, ketakutan, kebiasaan kecil, sampai topik-topik konyol seperti, 'kenapa printer selalu rusak pas dibutuhkan'.
Di akhir pertemuan, sebelum mereka keluar dari kafe, Dio berkata pelan.
“Ra, makasih sudah datang.”
Rara tersenyum lebar. “Makasih juga sudah ngajak.”
Mereka berjalan berdampingan ke luar kafe.
Bukan menggandeng, bukan bersentuhan. Namun, jarak di antara mereka kini lebih dekat dari sebelumnya dan untuk pertama kalinya Dio pulang dengan keyakinan baru. Bahwa Rara bukan sekadar rekan kantor yang absurd.
Rara adalah seseorang yang membuat sunyinya terasa hangat. Seseorang yang membuatnya ingin berani, meski perlahan dan Rara pulang dengan hati yang berdebar.
Karena momen sederhana di kafe itu terasa seperti awal dari sesuatu.
Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang pelan. Sesuatu yang hanya milik mereka berdua.