Bab 27 : Pengakuan Lembut

08 January 2026

Senin pagi datang dengan suasana yang terasa berbeda bagi Rara. Bukan karena cuaca, bukan pula karena pekerjaan yang menumpuk, melainkan karena satu hal sederhana. Dio.

Sejak pertemuan di kafe akhir pekan kemarin, Rara merasa ada sesuatu yang bergeser pelan di dalam dirinya. Tidak dramatis, tidak meledak-ledak, tapi cukup untuk membuat langkahnya sedikit lebih hati-hati dan detak jantungnya sedikit lebih sering tidak beraturan.

Ia masuk ke kantor dengan membawa tumbler pandan kesayangannya. Kini sudah resmi aman dengan gantungan nama dan pikiran yang terus berputar.

“Tenang, Rara. Ini hari kerja biasa,” gumamnya sambil menekan tombol lift. “Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang aneh.”

Sayangnya, otaknya tidak sepakat.

Setiap sudut kantor yang dilewatinya terasa menyimpan kemungkinan, kemungkinan bertemu Dio, kemungkinan tatapan singkat, kemungkinan senyum kecil yang membuatnya ingin pura-pura membenarkan rambut padahal rambutnya sudah rapi.

Ketika ia sampai di mejanya, Siska langsung menoleh.

“Kamu kenapa?” tanya Siska, menatap Rara dengan mata menyipit. “Wajah kamu kayak orang habis mimpi ketemu idola.”

“Tidak,” jawab Rara cepat. Terlalu cepat. “Aku cuma, kurang tidur.”

“Kurang tidur atau kurang Dio?” Siska menyeringai.

Rara tersedak udara. “Siska.”

Siska tertawa kecil, lalu kembali ke monitornya. “Santai. Aku cuma bercanda, tapi serius, kamu kelihatan beda.”

Rara memutar kursinya perlahan. “Beda gimana?”

“Lebih, lembut.” Siska mengangguk yakin. “Biasanya kamu datang-datang langsung ribut soal printer, kopi atau gosip random. Ini kamu malah melamun.”

Rara menutup wajahnya dengan map. “Tolong jangan analisis aku seperti laporan keuangan.”

Siska terkekeh. “Baiklah, tapi kalau nanti kamu tiba-tiba senyum sendiri, aku akan menilai itu sebagai bukti.”

Rara tidak menjawab. Ia hanya menatap layar komputernya, mencoba fokus. Namun, beberapa menit kemudian, notifikasi chat internal muncul.

Isi pesan itu dari Dio. "Ra, nanti siang bisa ke pantry sebentar? Ada yang mau aku bicarakan."

Rara membaca pesan itu tiga kali.

Jantungnya langsung berdebar seperti sedang lomba lari estafet sendirian.

“Ya ampun,” bisiknya. “Kenapa harus pantry? Kenapa tidak ruang meeting? Kenapa tidak lewat email seperti manusia normal?”

Ia membalas dengan jari gemetar. "Bisa."

Satu kata. Singkat. Aman. Tidak mencurigakan.

Padahal dalam kepalanya, Rara sudah membayangkan tiga puluh tujuh kemungkinan, termasuk kemungkinan dirinya pingsan karena terlalu gugup.


Pantry siang itu tidak terlalu ramai. Beberapa orang lalu-lalang mengambil minum atau memanaskan makanan. Namun, suasananya cukup tenang.

Rara datang lebih dulu seperti biasa dan berdiri di dekat dispenser, pura-pura memperhatikan air yang mengalir ke dalam tumblernya, padahal airnya sudah penuh sejak lima detik lalu.

“Rara.”

Ia hampir menjatuhkan tumblernya saat mendengar suara Dio dari belakang.

“Dio,” jawabnya, terlalu cepat. Ia langsung memutar badan dan tersenyum yang terlalu lebar.

“Kamu mau minum?” tanyanya bodoh.

Dio menahan senyum. “Aku sudah minum.”

“Oh. Ya. Benar. Kamu pasti sudah minum. Aku juga sudah minum. Ini cuma ya."

Rara berhenti bicara dan menutup mulutnya sendiri.

“Maaf. Aku gugup,” katanya jujur.

Dio tertawa kecil. “Kelihatan.”

Mereka berdiri berhadapan, hanya dipisahkan meja pantry. Jarak yang tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Cukup untuk membuat udara terasa lebih hangat dari biasanya.

Dio menarik napas pelan. Ekspresinya tenang, tapi Rara bisa melihat ada keseriusan di matanya.

“Ra,” ucap Dio, suaranya lembut, tapi mantap. “Aku tidak ingin hubungan kita berhenti hanya karena pencarian tumbler sudah selesai.”

Kalimat itu membuat Rara membeku.

Ia menggenggam tumblernya erat-erat, seolah benda itu bisa menahannya tetap berdiri.

“Aku, maksudku,” lanjut Dio, sedikit ragu, “selama ini aku nyaman sama kamu dan bukan karena tumbler. Bukan karena kebetulan.”

Rara menelan ludah. “Dio.”

Dio menghela napas, lalu melanjutkan, seperti seseorang yang sudah lama menyusun kalimat ini dalam hati.

“Aku suka kamu, Rara.” Ia mengatakannya pelan, tanpa dramatis, tanpa suara bergetar berlebihan. “Aku suka kebisinganmu. Tawamu. Cara kamu bisa membuat hal sepele jadi terasa penting. Kekonyolanmu yang jujur.”

Rara merasa pipinya panas. Sangat panas. Seperti baru saja didekatkan ke wajan panas.

“Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat,” Dio melanjutkan, “tapi aku tahu satu hal. Aku tidak ingin berhenti dekat dengan kamu. Aku ingin tetap ada. Lebih dari sekadar rekan kantor.”

Hening.

Bagi Rara, detik itu terasa seperti satu menit penuh.

Ia ingin menjawab. Ia ingin berkata sesuatu. Apa saja. Namun, mulutnya terkunci. Bukan karena tidak ada rasa, justru karena terlalu banyak rasa.

Ia membuka mulut lalu menutupnya lagi. Mengusap rambut. Menggenggam tumbler. Membetulkan posisi berdiri yang sebenarnya sudah baik-baik saja.

“Aku...” Rara mengeluarkan suara. “Aku.”

Lalu terdiam lagi.

Dio tidak memaksanya. Ia hanya menunggu dengan sabar yang sama seperti saat ia mendengarkan cerita Rara tentang hal-hal absurd di kantor.

Di balik lemari pantry, Siska berdiri setengah jongkok, mengintip dengan mata membulat.

“Ya ampun,” bisiknya pelan. “Ini seriusan.”

Ia menutup mulutnya sendiri agar tidak tertawa atau berteriak.

Di depan, Rara akhirnya tertawa kecil, tawa gugup yang hampir menangis.

“Maaf,” katanya sambil menutup wajahnya sebentar. “Aku bukan, bukan nggak mau jawab. Aku cuma butuh waktu buat ngerti perasaan aku sendiri.”

Dio mengangguk. “Aku tidak keberatan.”

Rara menatapnya, mata sedikit berkaca-kaca, tapi senyumnya tulus.

“Boleh aku jujur?” tanya Rara.

“Tentu.”

“Aku senang kamu ngomong seperti ini.” Ia menarik napas dalam, "tapi aku juga takut. Takut kalau aku menjawab terlalu cepat, aku malah merusak sesuatu yang sedang hangat.”

Dio tersenyum lembut. “Aku mengerti.”

Rara mengangguk cepat. “Jadi, kalau kamu tanya aku sekarang, aku belum bisa kasih jawaban.”

Dio tidak terlihat kecewa. Justru ada kelegaan di wajahnya.

“Tidak apa-apa,” katanya. “Aku tidak minta jawaban hari ini. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku nyata.”

Rara menunduk, lalu mengangguk pelan. “Terima kasih ya, sudah jujur.”

Mereka tersenyum satu sama lain. Canggung. Manis. Penuh makna.

Tiba-tiba, Siska terpeleset sedikit dan hampir menjatuhkan botol minum.

“Duh!”

Rara dan Dio menoleh bersamaan.

“Siska?” Rara menyipitkan mata. “Kamu ngapain di situ?”

Siska berdiri tegak, pura-pura santai. “Aku? Euh! Nyari gula.”

“Gula di balik lemari?” Rara mengangkat alis.

Siska tersenyum kaku. “Gula kenangan.”

Rara menghela napas panjang. “Kamu ngintip, ya?”

Siska tidak menyangkal. “Sedikit. Oke, banyak, tapi serius, Rara.” Ia menepuk bahu Rara. “Akhirnya.”

Rara menutup wajahnya. “Tolong jangan bikin ini lebih memalukan.”

Dio tersenyum kecil melihat interaksi mereka.

“Aku ke meja dulu,” kata Dio pelan pada Rara. “Terima kasih sudah mau mendengarkan.”

Rara mengangguk. “Terima kasih juga, sudah berani.”

Dio berjalan pergi, meninggalkan Rara dengan jantung yang masih berdebar.

Siska langsung mendekat. “Ra, dia baru aja ngakuin perasaannya.”

“Aku tahu,” jawab Rara lemah.

“Dan kamu belum jawab?”

Rara mengangguk. “Aku belum bisa.”

Siska menatapnya serius, "tapi kamu suka dia, kan?”

Rara diam sejenak. Lalu mengangguk pelan.

“Ya,” katanya jujur. “Aku suka.”

Siska tersenyum lebar. “Itu sudah cukup untuk hari ini.”

Rara memeluk tumblernya lagi, seperti kebiasaannya. Ia belum memberi jawaban. Belum berani melangkah lebih jauh. Namun, satu hal pasti hatinya sudah bergerak dan kali ini, bukan karena tumbler.