Bab 28 : Hati Yang Menerima

08 January 2026

Pantry sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam kerja hampir usai. Sebagian besar karyawan sudah pulang, sebagian lagi masih bertahan di meja masing-masing dengan wajah lelah dan harapan tipis pada akhir pekan. Lampu pantry menyala setengah, tidak terlalu terang, tidak terlalu redup seperti suasana hati Rara yang sejak pagi rasanya naik turun tanpa permisi.

Ia berdiri di depan dispenser, menuang air ke dalam tumbler mint miliknya. Tumbler dengan gantungan nama 'Rara' yang kini selalu ia bawa ke mana-mana, seolah benda itu bisa kabur kalau ditinggal dua menit saja.

Padahal yang gelisah bukan tumblernya, tapi hatinya.

Kata-kata Dio kemarin terus berputar di kepala Rara, seperti lagu yang diputar ulang tanpa tombol pause.

“Aku tidak ingin hubungan kita berhenti, meski pencarian tumbler sudah selesai.”

Kalimat itu terdengar lembut, tapi dampaknya menjadi luar biasa. Rara sampai sempat memegang meja karena lututnya mendadak lemas dan sekarang, ia ada di pantry. Sendirian. Berusaha bernapas normal.

“Oke, Rara,” gumamnya pelan sambil menepuk pipi sendiri. “Tenang. Ini pantry, bukan altar pernikahan.”

Pintu pantry terbuka pelan. Rara refleks menoleh.

Dio berdiri di sana.

Seperti biasa, rapi. Tenang, tapi hari ini ada sesuatu di wajahnya, sebuah keraguan kecil yang berusaha ia sembunyikan dengan ekspresi datar khasnya.

“Oh,” Rara refleks bicara terlalu cepat. “Kamu mau minum?”

Dio tersenyum kecil. “Iya, tapi sepertinya aku mengganggu.”

“Enggak! Sama sekali enggak!” Rara langsung mengibaskan tangan seperti orang mengusir nyamuk tak kasat mata. “Aku cuma lagi ngobrol sama dispenser.”

Dio mengangguk pelan. “Pembicaraan yang berat, sepertinya.”

Rara terkekeh gugup.

Dio masuk dan menutup pintu pantry. Suara klik kecil itu terdengar lebih keras dari seharusnya. Mereka kini berdua saja.

Sunyi.

Hening.

Rara mendadak merasa jantungnya berisik sekali.

Dio mengambil gelas kertas, menuang air. Gerakannya tenang, seperti biasa, tapi Rara bisa melihat jelas, tangannya sedikit kaku. Tanda kecil bahwa Dio juga tidak sepenuhnya tenang.

Beberapa detik berlalu tanpa kata.

Akhirnya Dio bicara duluan.

“Ra,” katanya pelan. “Aku tidak ingin kamu merasa tertekan dengan apa yang aku sampaikan kemarin.”

Rara menelan ludah. Ia memeluk tumblernya seperti pelampung.

“Aku cuma ingin jujur,” lanjut Dio. “Dan aku ingin tahu apa kamu baik-baik saja?”

Rara tertawa kecil. Tawa yang terdengar… aneh. Setengah gugup, setengah bingung.

“Baik-baik aja sih,” katanya. “Cuma otak aku aja lagi rame. Kayak pasar malam, tapi versi pikiran.”

Dio tersenyum tipis. “Aku bisa membayangkan.”

Rara menghela napas panjang, lalu berkata tanpa menatap Dio, “Aku sebenarnya mau jawab, tapi aku takut jawabanku bikin suasana jadi aneh.”

Dio menoleh padanya. “Lebih aneh dari kamu ngobrol sama dispenser?”

Rara mendengus. “Oke, to the poin.”

Ia akhirnya menatap Dio. Tatapan mereka bertemu dan entah kenapa, di momen itu, Rara merasa aman.

“Dio,” katanya pelan. “Aku mau jawab, tapi aku bakal jujur dan jujur versi aku itu mungkin berisik.”

Dio mengangguk. “Aku siap.”

Rara menarik napas.

“Aku takut,” katanya langsung, tanpa basa-basi.

Dio tidak menyela.

“Aku takut kedekatan kita cuma karena tumbler. Karena drama. Karena kebetulan kita bareng terus.” Rara menggigit bibir. “Aku takut nanti, setelah semua selesai, kamu sadar, kalau aku cuma orang ribet yang kebetulan lewat di hidup kamu.”

Dio membuka mulut, tapi Rara cepat-cepat mengangkat tangan.

“Tunggu. Aku belum selesai,” katanya cepat. “Aku juga takut kalau aku jawab iya, terus aku nggak bisa jadi versi tenang yang kamu butuhin. Karena kamu tahu sendiri, aku ini…”

“Absurd,” sela Dio lembut.

Rara mengangguk mantap. “Iya. Absurd. Ribet. Berisik. Drama.”

Dio tersenyum. “Aku tahu.”

Rara mendengus. “Dan yang paling aku takutkan aku beneran suka sama kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa peringatan.

Tanpa filter.

Pantry seakan berhenti bernapas.

Dio membeku sejenak. Matanya melembut.

Rara langsung panik. “Eh, jangan salah paham! Maksud aku, aku suka itu masih level ya, suka! Belum level bikin scrapbook atau ngerencanain masa depan lima tahun.”

Dio tertawa pelan.

Bukan tawa mengejek, tapi tawa hangat yang membuat Rara ingin berhenti bicara dan mendengarnya saja.

“Ra,” kata Dio sambil menatapnya dalam. “Aku tidak jatuh hati karena tumbler.”

Rara terdiam.

“Aku jatuh hati karena kamu,” lanjut Dio. “Karena kebisinganmu. Tawamu. Cara kamu membuat hal kecil terasa penting. Cara kamu panik tapi tetap peduli.”

Rara merasa dadanya menghangat.

“Aku tidak mencari ketenangan yang sunyi,” ujar Dio. “Aku menemukan ketenangan justru di tengah kekonyolanmu.”

Rara mengusap mata. “Kok kamu ngomong gitu di pantry sih, tempat aku biasa nangis gara-gara kopi habis.”

Dio mendekat sedikit. Tidak menyentuh, hanya mengurangi jarak.

“Aku tidak ingin hubungan kita berhenti di ‘rekan kantor’ atau ‘teman pencarian tumbler’,” katanya lembut. “Aku ingin kita melangkah. Pelan-pelan. Melangkah dengan kamu.”

Rara menatap Dio lama.

Lalu dengan gaya khasnya, ia mengangkat tumbler.

“Kalau aku terima,” katanya serius, “apa kamu siap ikut misi pencarian tumbler di masa depan?”

Dio berkedip. “Misi apa lagi?”

“Misalnya,” Rara mulai menghitung dengan jari, “tumbler hilang lagi atau aku panik gara-gara benda kenangan lain. Atau aku drama tanpa alasan jelas.”

Dio tersenyum. “Kalau itu bagian dari hidup kamu.”

Ia mendekat sedikit lagi.

“Aku siap.”

Rara tertawa kecil, matanya berkaca-kaca.

“Berarti,” katanya pelan. “Aku jawab iya.”

Dio membeku.

“Iya?” tanyanya pelan, hampir tidak percaya.

“Iya,” ulang Rara, mengangguk cepat. “Dengan catatan aku tetap absurd.”

Dio tertawa kecil, kali ini lebih lega.

“Aku tidak menginginkan versi kamu yang lain,” katanya. “Aku ingin Rara yang itu.”

Rara merasa lututnya benar-benar lemas sekarang.

Ia menepuk pahanya sendiri. “Oke, lutut, jangan drama.”

Mereka berdiri berhadapan, tidak bersentuhan, tapi rasanya lebih dekat dari sebelumnya.

Tiba-tiba, pintu pantry terbuka sedikit.

“Euh?!” Siska langsung menutup mulutnya sendiri.

“Ya ampun,” bisiknya keras. “Ketangkep lagi.”

Rara langsung memekik kecil. “Siska?!”

Dio refleks mundur setengah langkah, wajahnya memerah.

Siska masuk sambil menahan senyum lebarnya. “Maaf, maaf. Aku cuma mau ambil kopi, tapi ternyata dapat tontonan gratis.”

Rara menutup wajahnya. “Aku pindah divisi besok.”

“Tidak boleh,” sahut Siska cepat. “Ini sejarah kantor.”

Tak lama, dua rekan lain muncul. Lalu satu lagi. Entah dari mana, kabar menyebar cepat.

“Eh, jadi beneran?” “Rara sama Dio?” “Akhirnya!”

Rara menatap Dio panik. “Ini kenapa orang-orang tiba-tiba muncul?”

Dio berdeham. “Mungkin observasi lapangan.”

Siska tertawa. “Kalian ini dari awal sudah kelihatan, tahu!”

Rara mendengus. “Kelihatan dari mana? Aku kan profesional.”

“Profesional, tapi bolak-balik pantry sepuluh kali sehari,” sahut seseorang.

Dio tersenyum kecil, menatap Rara. “Maaf sepertinya aku tidak bisa menjaga ini tetap rahasia.”

Rara menghela napas, lalu tertawa. “Ya sudah. Sekalian saja.”

Ia mengangkat tumblernya sedikit.

“Teman-teman,” katanya. “Misi pencarian tumbler resmi selesai.”

Sorak kecil terdengar.

“Dan,” lanjut Rara, menoleh ke Dio dengan senyum malu-malu, “misi baru, baru dimulai.”

Dio menatapnya, matanya hangat.

“Bersama,” katanya.

Pantry sore itu tetap sunyi, tapi di antara tawa kecil, godaan teman-teman kantor dan dua hati yang akhirnya saling menerima. Kesunyian itu terasa hangat dan Rara tahu satu hal pasti. Kali ini, ia tidak kehilangan apa pun. Ia justru menemukan.