Bab 29 : Hubungan Baru

08 January 2026

Hari Senin pagi kali ini terasa sangat berbeda.

Bukan karena langit lebih cerah atau kopi kantor mendadak enak. Bukan juga karena printer mendadak nurut, tetapi karena satu fakta sederhana yang membuat Rara hampir tersandung keset kantor sejak melangkah masuk pintu utama. 

Ia dan Dio resmi berpacaran.

Kalimat itu masih terdengar seperti dialog sinetron di kepalanya. Resmi. Berpacaran dengan Dio. Dio yang kalem. Dio yang pendiam. Dio yang sekarang adalah pacarnya.

Rara berhenti sejenak di depan pintu kaca kantor, menarik napas panjang.

“Tenang, Rara,” gumamnya. “Kamu bukan maling. Kamu bukan buronan. Kamu cuma punya pacar.”

Tangannya refleks meraih tumbler pandan yang kini tidak hanya punya gantungan nama, tapi juga stiker kecil berbentuk bintang yang entah kapan ditempel Dio tanpa sepengetahuannya.

Rara baru menyadari stiker itu pagi ini. Ia menatapnya lama, lalu tersenyum sendiri seperti orang kurang tidur.

“Ya ampun,” bisiknya. “Aku punya pacar yang nempelin stiker di tumbler aku.”

Ia masuk dan semesta langsung berkonspirasi.

Belum sepuluh langkah, suara bisik-bisik sudah menyambut.

“Itu dia.”

“Rara. Hey!”

“Pacarnya Dio.”

“Yang tumbler itu kan.”

Rara langsung menegakkan tubuh terlalu kaku. Senyumnya muncul tapi tidak tahu harus menghadap ke mana.

“Pagi!” sapanya ke udara, ke lantai, ke pot bunga, ke siapa pun yang ada.

Siska muncul entah dari mana, wajahnya penuh ekspresi puas seperti orang yang akhirnya menang taruhan.

“Pagi juga orang yang lagi jatuh cinta!” bisiknya nyaring.

Rara hampir menjatuhkan tumblernya. “Siska! Pelan! Ini kantor, bukan konser!”

“Lah justru ini konser cinta kalian,” balas Siska sambil mengedipkan mata. “Satu kantor sudah tahu, Ra.”

“Astaga!” Rara menutup wajah. “Aku belum siap menghadapi umat manusia.”

“Kamu pikir kamu bisa pacaran sama Dio dan dunia bakal diam?” Siska terkekeh. “Ini kantor. Gosip menyebar lebih cepat dari Wi-Fi pantry.”

Rara menghela napas, lalu berjalan ke mejanya dengan langkah kecil. Ia merasa seperti sedang berjalan di atas karpet merah imajiner, bedanya karpet ini penuh tatapan penasaran.

Setiap ia duduk, ada yang pura-pura lewat. Ada yang sengaja menjatuhkan pulpen. Ada yang jelas-jelas menoleh tanpa malu.

Rara menyalakan komputer dengan tangan gemetar.

“Ini mimpi,” gumamnya. “Ini pasti mimpi.”

Belum lima menit bekerja, chat masuk. Mulai dari Fajar dari divisi lain, "jadi beneran ya?"

Siska yang sudah jelas tahu, dia sengaja mengirimi Rara pesan. "Panitia bahagia hadir."

Tak kalah dengan OB kantor, Mang Ujang pun ikut berbahagia dengan mengiriminya pesan. "Mbak Rara, selamat ya!"

Rara membalas OB Pak Ujang dengan stiker terima kasih, lalu mematikan notifikasi.

“Tolong dong,” bisiknya. “Aku mau kerja.”


Sementara itu, di lantai lain, Dio juga tidak luput dari kehebohan.

Tim IT yang biasanya tenang mendadak jadi seperti pasar pagi.

“Bro, akhirnya!” “Dari awal kelihatan!” “Yang tumbler itu ya?” “Pacaran di kantor, mantap!”

Dio hanya tersenyum kecil, pipinya memerah.

“Iya,” katanya singkat. “Kami sedang mencoba.”

Kalimat itu saja sudah cukup membuat satu ruangan bersorak kecil.

Dio menunduk sebentar, menarik napas. Ia tidak terganggu. Justru ada rasa hangat. Namun, satu hal membuatnya sedikit gugup, bertemu Rara di pantry nanti.

Biasanya, pantry adalah zona netral. Tempat aman. Tempat kopi. Tempat tumbler.

Sekarang? Pantry adalah zona rawan.


Jam sepuluh pagi, Rara berdiri dari kursinya.

Ia menatap tumblernya.

Airnya tinggal sedikit.

“Jangan panik,” katanya pada diri sendiri. “Kamu cuma mau ambil air panas.”

Ia berdiri, berjalan ke pantry dengan langkah ragu-ragu.

Begitu pintu pantry terbuka semesta kembali tertawa.

Di dalam ada Dio dan dua orang rekan kerja lain.

Rara berhenti mendadak, seperti patung. Dio menoleh. Mata mereka bertemu. Untuk sepersekian detik, waktu berhenti.

Dio tersenyum. Bukan senyum kantor. Bukan senyum sopan, tapi senyum kecil yang hanya Rara kenal dan Rara?

Rara langsung menunduk, pura-pura fokus ke tumbler.

“Pagi,” katanya terlalu pelan.

“Pagi,” jawab Dio lembut.

Rekan kerja yang lain saling pandang. Senyum-senyum. Ada yang batuk pura-pura.

Rara melangkah ke dispenser. Tangannya gemetar saat menekan tombol air panas.

Kenapa tombol ini lama banget sih panasnya?!

“Rara,” salah satu rekan bersuara usil, “tumblermu sekarang aman ya?”

Rara terkekeh kaku. “Iya, dijaga sistem keamanan nasional.”

Dio menahan tawa.

Air akhirnya keluar. Rara menuang dengan gerakan hati-hati berlebihan, sampai hampir meluap.

“Eh!” Dio refleks mendekat. “Hati-hati.”

Tangannya hampir menyentuh tangan Rara. Hampir.

Rara langsung membeku.

“Ak-aku aman kok!” serunya panik. “Tidak ada yang tumpah! Semuanya aman terkendali!”

Semua orang tertawa.

Dio hanya menggeleng pelan, senyumnya lembut. “Pelan-pelan.”

Rara selesai, menutup tumbler dan langsung ingin kabur.

“Permisi,” katanya cepat.

Begitu keluar pantry, ia bersandar ke dinding.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ini lebih menegangkan dari sidang skripsi.”


Hari itu berjalan dengan ritme baru.

Rara dan Dio tidak duduk bersebelahan. Tidak saling mengobrol berlebihan. Tidak melakukan hal mencolok. Namun, setiap kali mata mereka bertemu di koridor, di lift, di pantry, selalu ada senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan dan semua orang melihatnya.

Saat makan siang, Rara duduk dengan Siska dan beberapa rekan.

“Jadi,” Siska memulai, “pacaran rasanya gimana?”

Rara langsung tersedak.

“Aduh, minum dulu, minum dulu!” katanya panik.

“Jawab,” kejar Siska.

Rara berpikir sejenak. “Aneh.”

“Aneh?” tanya yang lain.

“Iya,” Rara mengangguk. “Kayak aku masih aku. Dio masih Dio, rapi sekarang ada rasa pengen cerita ke dia. Pengen tahu kabarnya. Pengen pastiin dia makan.”

Semua tersenyum.

Siska menyeringai. “Itu namanya cinta, Ra.”

Rara menutup wajah. “Tolong jangan pakai kata itu keras-keras dong, Siska.”


Sore hari, pekerjaan mulai melambat. Rara berdiri di dekat printer saat Dio lewat.

“Rara,” panggilnya pelan.

Rara menoleh. “Iya?”

“Kamu nggak apa-apa hari ini?” tanya Dio. “Keliatan tegang.”

Rara mengangguk cepat. “Aku baik! Sangat baik! Sedikit gugup, tapi cukup bahagia!”

Dio tersenyum. “Kalau kamu merasa tidak nyaman kita bisa atur jarak di kantor.”

Rara berpikir. Lalu menggeleng. “Bukan tidak nyaman. Cuma adaptasi.”

Dio mengangguk. “Aku juga.”

Mereka berdiri sejenak dalam hening.

Lalu Rara berkata, “Kita beda ya.”

Dio tersenyum. “Jelas.”

“Kamu tenang. Aku ribut.”

“Kamu ekspresif. Aku pendam.”

“Kamu mikir dulu. Aku ngomong dulu baru mikir.”

Dio terkekeh kecil, "tapi entah kenapa pas.”

Rara menatapnya. “Iya.”

Mereka tersenyum, canggung tapi tulus.


Di jam pulang kerja, saat Rara bersiap pulang, ia melihat Dio berdiri di dekat lift.

“Pulang bareng?” tanya Dio.

Rara mengangguk, lalu refleks berkata, " tapi jangan terlalu kelihatan.”

Dio tersenyum. “Oke. Jarak aman.”

Mereka berdiri berdampingan, memberi jarak satu orang. Seperti dua agen rahasia yang gagal menyamar karena senyum mereka terlalu kentara.

Saat lift turun, Rara melirik Dio.

“Dio?”

“Iya?”

“Terima kasih ya, sudah sabar sama aku.”

Dio menatapnya lembut. “Terima kasih, sudah jadi kamu.”

Rara tersenyum lebar.

Hubungan ini baru. Masih belajar. Masih kikuk. Masih penuh adaptasi antara introvert yang tenang dan perempuan absurd yang tidak bisa diam.

Namun, satu hal pasti, mereka memilih saling berjalan.

Dengan tumbler pandan sebagai saksi, dengan pantry sebagai tempat awal dan dengan kantor yang kini menjadi saksi hubungan yang baru, meski harus heboh dan terasa hangat dan nyata.