Pagi itu, Rara berdiri di depan wastafel pantry dengan ekspresi yang sangat serius. Terlalu serius untuk ukuran seseorang yang hanya sedang mencuci tumbler.
Tumbler warna mint pastel itu kini berkilau bersih. Gantungan kecil bertuliskan 'Rara' bergoyang pelan saat ia memutar-mutar botol itu di bawah air. Rara menyabuninya dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang merawat artefak bersejarah.
“Pelan-pelan ya,” gumamnya pada diri sendiri. “Kamu ini saksi hidup perjalanan emosional aku.”
Ia mengangkat tumbler itu ke arah lampu, memeriksa apakah masih ada noda. Tidak ada. Bersih. Wangi pandan samar masih tersisa, walau sudah beberapa kali dicuci.
Rara menghela napas lega.
“Alhamdulillah, kamu selamat dan aku juga.”
“Ngomong sama tumbler lagi?”
Suara itu membuat Rara hampir menjatuhkan botolnya.
Ia menoleh cepat. Dio berdiri di pintu pantry, membawa mug hitam polos dan senyum kecil yang sudah sangat ia kenal, senyum yang selalu muncul sebelum Dio mengatakan sesuatu yang manis, tapi membuat jantung Rara berisik.
“Ini bukan ngobrol,” Rara membela diri. “Ini itu namanya bonding.”
Dio tertawa pelan. “Tumbler itu pasti merasa sangat dihargai.”
“Jelas. Dia sudah melewati trauma besar.”
Dio mendekat, berdiri di samping Rara. Tanpa sadar, jarak mereka kini jauh lebih dekat dibanding beberapa bulan lalu. Tidak ada lagi rasa kikuk yang berlebihan, meski tetap ada detak kecil yang selalu muncul setiap kali mereka berdampingan.
“Ngomong-ngomong,” kata Dio sambil menyesap kopinya, “kamu sudah minum air hari ini?”
Rara mengerjap. “Hah?”
“Air putih,” lanjut Dio, datar tapi fokus. “Jam sembilan lewat lima belas. Jadwalmu seharusnya minum.”
Rara menatapnya lama.
“Kamu bikin jadwal?”
Dio mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi catatan, memperlihatkan sesuatu yang membuat Rara tercengang.
Ada tulisan yang berjudul 'Jadwal Minum Rara'. Setiap waktunya Dio tulis debgan tangannya sendiri. Mulai dari Rara masuk kantor dan sampai Rara pulang kerja.
Bahkan Dio menuliskan lengkap dengan waktu yang lengkap dengan menitnya. Seperti, '08.30 waktunya Rara minum air putih'.
Lalu tak lupa dia menambahkan sebuah catatan. 'Kalau lupa, ingatkan dengan cara halus. Jangan mengomel.'
Rara menutup mulutnya.
“Dio.”
“Iya?”
“Kamu kenapa bikin ini?”
Dio menurunkan ponselnya, terlihat sedikit malu. “Kamu sering lupa minum. Terus kamu suka pusing. Aku cuma mau kamu sehat.”
Rara menelan ludah. Dadanya menghangat dengan cara yang aneh dan menyenangkan.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “cara kamu peduli itu bikin aku pengen drama.”
Dio tersenyum kecil. “Kamu selalu drama, bahkan tanpa alasan.”
“Benar juga.”
Rara mengisi tumblernya dengan air hangat, lalu meneguknya patuh.
“Nah,” kata Dio. “Satu centang.”
Rara mengangkat alis. “Kamu serius mau ngecek?”
“Iya.”
Rara mendecak. “Wah. Aku resmi punya pacar sekaligus reminder berjalan.”
Dio tertawa pelan. “Multifungsi.”
Hubungan mereka kini bukan lagi rahasia. Bahkan bisa dibilang satu kantor tahu dan satu kantor juga merasa ikut memiliki hubungan itu.
“Rara!” teriak Siska dari kejauhan, dari balik meja divisi mereka. “Udah minum air belum?!”
Rara terkejut. “Siska ?!”
“Dio bilang kamu sering lupa!” sahut Siska sambil tertawa.
Dio mengangkat bahu polos. “Aku cuma minta tolong.”
“Kenapa semua orang ikut mengawasi hidrasi aku sih, ih?” Rara mengeluh sambil memeluk tumblernya.
Fajar lewat sambil membawa kopi. “Soalnya drama tumbler kamu sudah jadi legenda kantor, Ra. Kami nggak mau sequelnya.”
“Sequel apaan?”
“‘Tumbler Hilang Season2 Revenge of the Pandan’.”
Rara menutup wajahnya. “Aku pindah lantai aja.”
Dio terkekeh, lalu menepuk bahu Rara pelan. “Santai. Mereka sayang sama kamu.”
Rara mendongak menatapnya. “Kamu juga?”
Dio terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk. “Iya.”
Jawaban singkat itu tetap membuat lutut Rara terasa lemas.
Beberapa minggu berlalu sejak mereka resmi berpacaran. Hubungan mereka tidak dramatis seperti sinetron, tidak penuh adegan besar. Justru dipenuhi hal-hal kecil yang hangat.
Dio yang selalu mengingatkan Rara makan. Rara yang selalu mengingatkan Dio untuk istirahat dan tidak terlalu tenggelam dalam pekerjaan. Dio yang terbiasa dengan sunyi, perlahan belajar menerima kebisingan Rara. Rara yang terbiasa heboh, perlahan belajar menikmati diam bersama Dio.
Mereka saling menyesuaikan.
Suatu hari, Rara masuk pantry membawa tumblernya. Dio sedang di sana, bersama dua rekan IT lainnya. Rara langsung kaku.
Biasanya, ia akan masuk sambil bicara sendiri, tapi sekarang ia jadi sadar diri. Ia berjalan pelan, menuang air panas tanpa suara berlebihan.
Dio melirik, lalu tersenyum kecil.
“Kok diam?”
Rara berbisik, “Aku takut mengganggu suasana.”
Salah satu rekan IT menoleh. “Ra? Kalau kamu diam, itu justru akan mengganggu.”
Rara refleks, “Oh ya? Ma-maaf!” Ia berhenti. Menutup mulut. Menarik napas.
Dio tertawa kecil. “Kamu nggak perlu berubah.”
Rara menatapnya, "tapi aku juga nggak mau bikin kamu capek.”
Dio mendekat sedikit. “Kamu enggak bikin aku capek. Kamu bikin hidup aku lebih, hidup.”
Rara langsung memalingkan wajah. “Jangan ngomong gitu di pantry. Aku bisa jatuh nih, karena omongan kamu.”
“Aku siap nangkap.”
“Itu malah makin bahaya.”
Rekan IT mereka hanya saling pandang dan mengangguk. Yup. Mereka resmi.
Suatu sore, setelah jam kerja hampir selesai, Rara dan Dio duduk di bangku dekat jendela kantor. Matahari mulai turun, memantulkan cahaya oranye lembut.
Rara memutar-mutar tumblernya, memainkan gantungan nama.
“Kamu tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “kalau dipikir-pikir, kehilangan tumbler itu ternyata membawa aku ke kamu.”
Dio menoleh. “Kamu nyesel?”
Rara menggeleng cepat. “Nggak. Sama sekali nggak.”
Ia tersenyum, lalu berkata pelan, dengan nada yang jarang ia pakai, jujur, tanpa bercanda berlebihan.
“Aku beruntung,” lanjutnya. “Aku kehilangan sesuatu, tapi justru menemukan seseorang.”
Dio menatapnya lama.
“Dan lucunya,” tambah Rara, “aku akhirnya tetap nggak kehilangan tumblernya.”
Dio tertawa pelan. “Paket lengkap.”
Rara mengangguk. “Iya. Kenangan, tumbler dan kamu.”
Dio mengulurkan tangan, menggenggam tangan Rara dengan hati-hati, seperti takut membuatnya kaget.
“Kalau suatu hari kamu kehilangan sesuatu lagi,” katanya lembut, “aku mau ada di sana. Bukan cuma buat bantu cari, tapi buat nemenin.”
Rara menggenggam balik tangannya.
“Kalau aku drama?”
“Aku temani.”
“Kalau aku heboh?”
“Aku dengarkan.”
“Kalau aku ngobrol sama tumbler?”
Dio tersenyum. “Aku ikut nimbrung.”
Rara tertawa, matanya sedikit berkaca-kaca.
Malam itu, Rara pulang dengan langkah ringan. Di rumah, ia meletakkan tumbler mint itu di meja, tepat di samping tasnya.
Ia menatapnya sebentar, lalu tersenyum sendiri.
“Terima kasih ya,” katanya lirih. “Karena kamu, aku bisa belajar bahwa kehilangan itu nggak selalu akhir.”
Kadang, kehilangan adalah awal. Awal dari pencarian. Awal dari keberanian. Awal dari pertemuan yang tidak direncanakan dan di antara semua itu Rara menemukan Dio. Seseorang yang menerima kebisingannya, tawanya, kekonyolannya tanpa mencoba meredamnya.
Bukan hanya tumbler yang kembali ke hidup Rara, tapi juga perasaan.
Kepercayaan dan cinta yang datang dengan cara paling sederhana.
Hangat. Lucu dan cukup.
Tamat.