Pesan itu akhirnya dibuka Harlia dengan jari gemetar, seperti sedang membuka hasil tes yang menentukan masa depan. Bedanya, ini lebih bikin mual. Layarnya menyala terlalu terang, seolah ponselnya ikut penasaran dan tidak punya empati.
Satu notifikasi. Satu nama. Topan.
“Tarik napas,” bisiknya pada diri sendiri, padahal napasnya sudah kabur entah ke mana.
Ia sempat menutup layar lagi. Membukanya. Menutup lagi. Membuka lagi. Ritual dramatis yang biasanya cuma ia lakukan saat mau transfer uang tapi takut saldo tidak cukup.
“Aku perempuan dewasa,” katanya tegas. “Aku kuat.”
Jarinya tetap gemetar. Konsistensi emosi itu mitos. Akhirnya, ia membuka pesan itu.
Pendek. Rapi. Dingin.
Seperti memo kantor. Tidak ada emoji yang biasanya menenangkan. Tidak ada “dek” yang sering bikin ia senyum sendiri. Tidak ada basa-basi manis yang biasanya jadi pemanasan sebelum Topan masuk ke topik berat. Harlia menatap layar lama.
“Besok kita ngomong langsung, ya.”
Nada kalimat itu seperti pintu lift yang menutup perlahan, tidak membanting, tapi cukup jelas memberi jarak.
“Pas makan siang.”
Makan siang. Bukan malam romantis. Bukan kopi sore. Makan siang di jam kerja. Jam logika. Jam keputusan.
Harlia terkekeh kecil. Tertawa yang keluar bukan karena lucu, tapi karena otaknya butuh distraksi agar tidak panik.
“Wah,” gumamnya. “Serius amat sampai nggak pake emoji.”
Ia menunggu. Siapa tahu ada pesan lanjutan. Titik-titik mengetik. Atau minimal stiker absurd yang biasa Topan kirim kalau suasana tegang.Tidak ada.
Hening.
Ponsel itu terasa lebih berat dari biasanya. Seolah ikut menimbang masa depan.
“Baik,” kata Harlia sambil meletakkan ponsel di dada.
“Besok.”
Ia menatap langit-langit kamar, tertawa kecil lagi.
“Lucu ya,” katanya pelan. “Tiga kata bisa bikin jantung kerja lembur.”
Dan malam itu, Harlia berbaring dengan satu kaki diperban, satu hati waspada, dan satu pertanyaan besar yang tidak mau ikut istirahat.Setelah itu, ia tidak tidur. Bukan karena kopi. Bukan karena suara. Tapi karena pikirannya ribut sendiri. Ia bolak-balik di kasur. Menatap jam. Menatap plafon. Menatap ponsel yang tidak lagi berbunyi.
“Kalau besok dia nolak?” gumamnya.“Kalau dia bilang belum siap?”
“Kalau dia bilang… selesai?”
Jam tiga pagi, Harlia duduk sambil memeluk bantal.
“Kenapa aku yang selalu nunggu?” bisiknya.
Jam lima pagi, alarm berbunyi. Harlia bangun dengan kepala berat dan mata panas. Ia bercermin. Dan mendesah panjang. Lingkaran hitam itu nyata. Bukan hitam tipis. Bukan samar. Tapi hitam tebal seperti panda.
“Bagus,” gumamnya. “Lengkap.”
Di kantor, Harlia masuk dengan senyum yang dipaksakan. Rina langsung menatap wajahnya.
“Har…” Rina menahan tawa, “kamu begadang?”
Harlia mengangguk.
“Mikir negara.”
Teman satu divisi menoleh.
“Eh, mata kamu…”
“Panda edition,” sahut Harlia cepat sambil tertawa.
Yang lain ikut tertawa.
“Lucu banget,” kata seseorang.
“Gemuk-gemuk panda,” celetuk yang lain.
Harlia ikut tertawa.
“Hahaha,” katanya keras. “Iya ya.”
Padahal dadanya seperti ditekan. Setiap tawa terasa palsu. Setiap candaan seperti cubitan kecil.
“Kurang tidur ya, Har?” tanya HRD.
“Enggak,” jawab Harlia cepat. “Aku cuma… natural.”
Rina menatapnya prihatin.
“Lo yakin baik-baik aja?” bisik Rina.
Harlia mengangguk.
“oke, kok.”
Padahal kakinya masih nyeri. Hati nya lebih nyeri.
Menjelang jam sepuluh, Harlia ke toilet. Begitu pintu terkunci, senyumnya runtuh. Ia menatap cermin. Panda. Muka bengkak. Mata merah.
“Ngapain sih aku begini?” bisiknya.
Air mata jatuh.
Satu.
Dua.
Lalu pecah.
Tangisnya tidak keras, tapi rapuh. Ia menutup mulut dengan tangan.
“Kenapa selalu aku yang ngerasa nggak cukup?” gumamnya di sela isak.
Pintu toilet dibuka. Harlia buru-buru menghapus air mata.
Terlambat.
Arin berdiri di sana.
“Oh,” kata Arin pelan. “Maaf.”
Harlia panik.
“Enggak apa-apa.”
Arin mendekat.
“Kamu nangis?”
Harlia tertawa kecil.
“Enggak. Mata panda emang gitu.”
Arin tersenyum lembut.
“Boleh duduk?”
Harlia mengangguk. Mereka duduk di bangku kecil toilet. Sunyi sejenak.
“Kamu capek, ya?” tanya Arin pelan.
Harlia terdiam bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena semua jawaban di kepalanya sedang rebutan keluar. Mulutnya ingin bilang iya, hatinya ingin bilang banget, egonya ingin bilang aku kuat, dan otaknya sibuk mikir: ini toilet, jangan drama berlebihan.
Ia menatap lantai, ubinnya mengilap, bersih, dan jelas tidak ikut campur urusan perasaannya. Tangannya meremas ujung tisu seperti sedang uji kekuatan mental. Capek itu aneh, pikir Harlia. Tidak terlihat di rontgen, tapi beratnya bisa bikin pundak turun dua senti.
“Iya,” akhirnya ia menghela napas. “Sedikit.”
Sedikit, versi Harlia, berarti lelah lahir batin, harga diri lecet, dan perasaan seperti martabak jatuh ke aspal, masih bisa dimakan, tapi sudah kehilangan bentuk.
“Kalau nggak mau cerita, nggak apa-apa,” lanjut Arin.
Harlia menarik napas.
“Aku cuma… lagi mikir.”
“Cowok?” tanya Arin hati-hati.
Harlia tertawa pahit.
“Begitulah.”
Arin tersenyum kecil.
“Cowok memang hobi bikin mikir.”
Harlia mengangguk.
“Kamu baik-baik aja, kan?" lanjut Arin. “Aku bisa dengerin apapun.”
Harlia menatapnya.
“Kamu nggak akan pengen tau.”
“Aku mau,” jawab Arin.
Harlia mengusap mata.
“Aku lagi di posisi bingung.”
Arin menyandarkan punggung ke tembok.
“Tentang nikah?”
Harlia tersentak.
“Kok tau?”
“Dari wajah kamu,” jawab Arin ringan. “Wajah orang mau nikah atau mau kabur itu beda tipis.”
Harlia tertawa kecil.
“Aku di tengah.”
Arin tersenyum.
“Aku juga dulu gitu.”
“Dulu?” ulang Harlia.
“Iya,” jawab Arin. “Sebelum sadar.”
“Sadar apa?”
“Kalau aku nggak perlu buru-buru,” jawab Arin tenang.
Harlia menunduk. Arin menatapnya lembut.
“Kamu sayang sama dia?”
Harlia terdiam lama.
“Aku… pengen dipilih,” jawabnya jujur.
Arin mengangguk pelan. Lalu, tanpa nada jahat, tanpa senyum sinis, Arin berkata, “Boleh aku tanya satu hal?”
Harlia mengangguk.
“Maharnya,” kata Arin pelan. “Tiga miliar itu…”
Harlia menegang.
“…kamu nggak ngerasa berlebihan?”
Hening.
Pertanyaan itu jatuh seperti batu. Bukan karena keras. Tapi karena tepat sasaran.
“Berlebihan… buat siapa?” tanya Harlia lirih.
Arin ragu sejenak.
“Maksudku… buat kamu.”
Harlia menatapnya.
“Untuk seorang Harlia,” lanjut Arin hati-hati.
Kata itu menusuk. Bukan karena niat jahat. Tapi karena terlalu jujur.
“Toh,” Arin menambahkan cepat, “nilai orang kan bukan uang.”
Harlia tersenyum tipis.
“Iya,” katanya. “Tapi dunia sering lupa itu.”
Arin terdiam.
“Terima kasih, ya,” lanjut Harlia sambil berdiri. “Udah dengerin.”
Arin ikut berdiri.
“Aku nggak bermaksud—”
“Aku tau,” potong Harlia lembut.
Ia melangkah keluar toilet. Di depan cermin, ia berhenti untuk menatap dirinya sendiri. Panda gemuk yang lelah. Dan satu kalimat Arin terus terngiang....
'Untuk seorang Harlia'.
Saat kembali ke meja, ponselnya bergetar.Saat kembali ke meja, ponselnya bergetar. Pesan dari Topan.
Topan: Kita jadi makan siang jam dua. Aku mau jujur.
Harlia menatap layar. Tangannya dingin. Dadanya bergetar. Ia membalas satu kata.
Harlia: Iya.
Dan di dalam hatinya, satu pertanyaan berputar-putar tanpa ampun.
"Kalau bahkan orang asing bisa ragu nilai diriku, apakah aku masih sanggup duduk di meja makan itu dan mendengar kejujuran yang mungkin akan menghancurkan ku?"
Bab ini berakhir di sana. Di antara tawa palsu, air mata di toilet, dan jam makan siang yang terasa seperti ruang sidang hidupnya.