Harlia sedang menatap layar komputernya tanpa benar-benar melihat apa pun ketika kursi di sebelahnya ditarik kasar.
“Har.”
Suaranya datar. Terlalu datar. Harlia tersentak.
“Rin? Kamu nggak jadi meeting?”
Rina menyilangkan tangan, menatap wajah Harlia dari atas ke bawah seperti dokter IGD.
“Pertanyaanku satu,” kata Rina. “Kamu masih hidup atau udah jadi arwah gentayangan?”
Harlia terkekeh hambar.
“Lucu.”
“Enggak,” sahut Rina cepat. “Kamu kelihatan kayak habis ditinggal nikah.”
Harlia menunduk. Saat menunduk, pikiran Harlia langsung berubah jadi ruang rapat penuh suara berisik. Ada versi dirinya yang ingin nangis, ada yang ingin ketawa, dan ada satu yang pengin resign dari kehidupan romantis. Ia menatap ujung sepatu sambil berpikir betapa anehnya hidup, belum ditinggal nikah, tapi rasanya sudah kebagian paket lengkap. Kecewa, cemburu, dan harga diri diskon besar-besaran. Dalam kepalanya, ia menyusun jawaban pintar, lalu lupa semuanya, karena yang tersisa cuma capek. Capek pura-pura kuat. Capek menjelaskan kenapa hati bisa lebam tanpa jatuh lagi.
Rina menghela napas panjang, lalu duduk.
“Oke. Kita ke pantry.”
“Aku masih kerja—”
“Kerjanya dari tadi bengong,” potong Rina. “Ayo.”
Tanpa menunggu jawaban, Rina menarik tangan Harlia.
Di pantry yang sepi, Rina menyodorkan segelas air.
“Minum.”
Harlia menuruti.
“Sekarang,” kata Rina sambil bersandar ke meja, “cerita.”
Harlia menggigit bibirnya pelan, seperti sedang menimbang apakah kebenaran lebih menyakitkan daripada sariawan. Di kepalanya, kata-kata berlarian saling tabrak. Topan, Arin, tiga miliar, jatuh di parkiran, tangan Jordi, harga diri, dan satu kalimat legendaris, “aku fine”, yang jelas-jelas bohong.
Ia menelan ludah. Bibirnya masih tergigit, kali ini bukan karena gugup, tapi karena takut kalau ia bicara, yang keluar bukan cerita, melainkan curhat satu musim sinetron. Tangannya memutar-mutar gelas air seperti berharap isinya berubah jadi keberanian instan.
“Rin,” katanya akhirnya, suaranya kecil, “kalau aku ngomong… kamu janji nggak bilang ‘aku kan udah bilang’?”
Rina menyipit.
“Aku nggak janji.”
Harlia mendesah.
“Yaudah. Aku ngomong setengah aja.”
Dalam hatinya, ia tertawa pahit. Setengah cerita pun cukup untuk membuka pintu emosi yang sudah lama ia ganjel pakai bercanda.
“Har,” Rina melunak, “aku kenal kamu dari zaman kamu nangis gara-gara cilok dikira Topan. Jangan sok kuat.”
Harlia tertawa kecil.
“Kok kamu inget, sih?”
“Karena itu titik awal semua kekacauan,” jawab Rina.
Harlia menarik napas panjang.
“Aku capek, Rin.”
Rina mengangguk.
“Aku tau.”
“Capek berharap.”
“Masuk akal.”
“Capek jadi orang yang selalu nunggu.”
Rina diam bukan karena kehabisan kata. Justru karena di kepalanya sedang terjadi rapat darurat. Semua versi kalimat yang lembut, yang nyentil, yang pengen nabok halus antri minta keluar. Tapi tak satu pun langsung lolos sensor empati.Ia menatap Harlia lama, sampai gelas plastik di tangan Harlia berkeringat lebih dulu.
Diam Rina itu berat. Bukan sunyi kosong, tapi sunyi penuh makna. Sunyi yang biasanya muncul sebelum Rina mengeluarkan kalimat pamungkas yang bisa bikin orang ketawa sekaligus nangis lima menit kemudian.
Akhirnya Rina menghela napas. Panjang. Seperti orang mau nyemplung ke kolam tanpa tahu dinginnya sedingin apa.
“Har,” katanya pelan, “kamu tau capek nunggu itu kenapa capek?”
Harlia menggeleng lemah.
“Karena kamu berdiri di satu titik, berharap orang lain jalan ke kamu. Padahal kaki kamu juga bisa melangkah.”
Harlia mendengus kecil.
“Ini ceramah atau TED Talk?”
Rina tersenyum tipis.
“Ini versi murahnya. Gratis. Bonus air putih pantry.”
Harlia tertawa kecil, tapi matanya masih berat. Rina melanjutkan, suaranya lebih lembut.
“Kamu bukan kurang. Kamu cuma terlalu lama nunggu orang yang sibuk lari muter.”
Harlia menunduk lagi. Rina menepuk punggung tangannya pelan.
“Dan capek itu bukan tanda kalah, Har. Itu tanda kamu manusia. Bukan wallpaper yang dipasang buat nunggu dilirik.”
Harlia tertawa lirih.
“Aku ngerasa kayak bangku tunggu.”
“Bangku tunggu aja bisa dipindahin,” sahut Rina cepat. “Masa kamu nggak?”
Sunyi kembali turun, tapi kali ini lebih ringan. Seperti jeda napas, bukan beban. Rina tersenyum kecil.
“Dan buat catatan, orang yang pantas sama kamu nggak bakal bikin kamu ngerasa sendirian… apalagi nunggu sendirian.”
Harlia mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya hari itu, diamnya tidak terasa menyesakkan.
“Rin, kayaknya aku nggak pantas untuk dia. Aku ngerasa aku yang sekarang ini masih belum layak buat dicintai.”
Rina menegakkan badan.
“Topan?” tanyanya.
Harlia mengangguk pelan.
“Maharnya,” kata Harlia akhirnya. “Tiga miliar.”
Hening dua detik.
“Hah?!!!”
Rina berkedip.
“Sebentar.”
Ia mencondongkan badan.
“Tiga?”
“Iya.”
“Miliar?”
“Iya.”
Rina menatap Harlia dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Lalu....
“HHAHAHAHAHA!”
Tawanya meledak.
“Rin,” Harlia memejamkan mata. “hentikan!”
“MAAF!”
Rina tertawa sambil memegangi perut.
“Aku beneran nggak siap.”
“Rina—”
“Sebentar,” Rina mengibaskan tangan. “Sebentar.”Ia menarik napas, lalu....
“HHAHAHAHAHA!”
Harlia berdiri.
“Aku mau balik ke meja.”
“Har!” Rina menarik tangannya.
“Aku ketawa bukan karena kamu.”
“Terus kenapa?” suara Harlia bergetar.
“Untuk seonggok Harlia kayak aku, 3 miliar lucu, ya?”
Rina berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius.
“Aku ketawa,” katanya pelan, “karena ini absurd.”
Harlia menggeleng.
“Kamu sama aja.”
“Enggak,” Rina menatapnya lurus. “Aku ketawa karena dunia kebangetan.”
Harlia menutup wajahnya. Dadanya sesak.
“Kenapa aku sih, Rin?” katanya cepat, hampir seperti tantrum anak kecil. “Kenapa selalu aku yang harus ngebuktiin sesuatu? Kenapa nggak bisa sekali aja ada orang yang bilang, ‘udah, kamu cukup’?”
Rina mendekat.
“Kenapa tiap bahas nikah, angka duluan yang muncul? Kenapa bukan aku orangnya?”
Rina memeluk Harlia. Pelukannya kuat.
“Berhenti,” kata Rina tegas tapi lembut. “Tarik napas.”Harlia terisak.“Dengerin aku,” lanjut Rina. “Kamu bukan barang lelang.”
Harlia tertawa sambil nangis.
“Rasanya kayak gitu.”
“Karena kamu terlalu pengen dipilih,” jawab Rina jujur.
Harlia terdiam.
“Kamu tau nggak kenapa aku ketawa tadi?” lanjut Rina. “Karena kalau Topan beneran laki-laki yang mau nikahin kamu, dia nggak akan bikin kamu ngerasa kayak ini.”
Harlia menyeka air mata.
“Tapi dia bilang lagi diusahakan.”
Rina mendesah.
“Semua cowok bisa bilang ‘diusahakan’.”
“Rin…”
“Aku bukan nyuruh kamu putus,” potong Rina cepat. “Aku nyuruh kamu siap.”
“Siap apa?”
“Siap kalau dia kabur.”
Kalimat itu jatuh pelan tapi berat.Harlia menelan ludah.
“Aku takut sendirian.”
Rina tersenyum kecil.
“Kamu nggak sendirian.”
“Aku takut nggak ada lagi yang mau sama aku.” Rina mencubit pipi Harlia.
“Hei. Dunia nggak sekecil cowok satu itu.”
Harlia menggeleng.
“Buat aku, iya.”
Rina memandangnya lama.
“Kalau nanti Topan beneran pergi,” kata Rina, “kamu boleh nangis.”
“Boleh tantrum.”
“Boleh drama.”
“Boleh lebay.”
Harlia tertawa kecil.
“Tapi,” lanjut Rina sambil menepuk dada Harlia, “jangan pernah mikir kamu nggak pantas dicintai.”
Harlia terdiam.
“Dan satu lagi,” Rina mengangkat alis. “Kalau ada orang yang harus bayar 3 miliar buat nikahin kamu, itu bukan karena kamu mahal.”
“Terus?”
“Karena egonya yang murahan.”
Harlia tertawa.
“Jahat,” katanya.
“Realistis,” jawab Rina.
Mereka duduk berdampingan. Sunyi sejenak.
“Rin,” Harlia berkata lirih, “kalau nanti dia beneran kabur…”
Rina langsung merangkulnya.
“Aku ada.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Meski aku lebay?”
“Apalagi kalau kamu lebay.”
Harlia tersenyum.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Rina berdiri.
“Sekarang ayo balik. Jangan sampai Topan lihat kamu hancur sebelum jam makan siang.”
Harlia berdiri pelan.
“Rin?”
“Hm?”
“Kalau nanti aku jatuh lagi…”
Rina menoleh.
“Aku angkat.”
Harlia mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia menarik napas tanpa terasa sesak. Di balik canda, di balik tawa yang sempat menyakitkan, Harlia akhirnya sadar. Kadang, yang paling jujur bukan orang yang menjanjikan masa depan, tapi sahabat yang berani bilang, "bersiaplah kalau kenyataan tidak seindah harapan, aku tetap di sini."