Kalimat itu tidak langsung menyentuhku. Ia mengapung sebentar di udara, seperti bulu yang jatuh terlalu ringan untuk langsung tiba di tanah.
“Kalau kamu benar-benar sayang Anita… jangan lepaskan aku.”
Aku mendengarnya ulang dalam kepala. Perkataan yang sama, tapi rasanya berbeda ketika keluar dari mulut Sisca sendiri. Aku menatap Sisca. Ia tidak menghindar. Tidak berusaha mempermanis. Tidak menjadikan dirinya korban atau pahlawan. Ia hanya mengatakan sesuatu yang kemungkinan besar akan membuatku membencinya.
“Kenapa?” tanyaku pelan. Pertanyaanku sederhana. Jawabannya… tidak mungkin sederhana.
Sisca berdiam sesaat, seolah mengukur cuaca dalam diriku dulu sebelum melanjutkan. “Karena,” katanya pelan, “aku tahu satu hal tentangmu.”
Aku mengerutkan dahi sedikit. “Tentang aku?”
“Iya.”
Tatapannya lembut, tapi tajam. Seperti seseorang yang tahu benar arah jarum kompas dan tidak butuh peta.
“Kamu,” katanya, “punya kecenderungan menghilang demi orang lain.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu. Karena kalimat itu tepat mengenai sasaran.
Ia melanjutkan, "Kalau aku pergi, kamu akan merasa harus menggantikan ruangku di hidup orang-orang yang ditinggalkan. Kamu akan lupa menanyakan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Kamu akan hidup untuk yang lain lagi.”
Aku membuka mulut, siap membantah, tapi tidak ada satu kalimat pun yang berhasil keluar. Karena ada sebagian dari diriku yang merasa ketahuan sedang menyembunyikan sesuatu bahkan dari diri sendiri.
“Kamu bilang ke Rian jangan melepaskanmu… demi aku?” tanyaku akhirnya.
“Iya.”
“Padahal Ayah…” aku berhenti sejenak, “…memintanya melepaskanmu demi aku juga.”
Ia mengangguk pelan. Dua kalimat dua arah dua cinta dua niat “demi kamu” yang saling bertabrakan tepat di atas kepalaku. Aku menatap langit malam.
“Rasanya seperti hidupku papan catur,” gumamku, “dan semua orang menggerakkan bidaknya atas nama melindungiku.”
“Karena kamu memang pantas dilindungi,” katanya pelan.
Aku tertawa kecil. Ada getir yang bahkan tidak berusaha kusembunyikan.
“Masalahnya,” kataku, “tidak ada yang bertanya padaku… apa yang ingin kulindungi dari diriku sendiri.”
Kami terdiam.
Krik jangkrik, suara daun bergesekan, dan napas kami masing-masing mengisi jarak di antara kalimat-kalimat yang belum selesai.
“Aku mau jujur,” kataku.
Aku tidak tahu kalimat itu untuk siapa, untuk Sisca, untuk diriku sendiri, atau untuk seseorang yang sudah tiada.
“Silakan,” jawabnya lembut.
“Aku sayang Rian,” kataku.
Tidak ada drama. Tidak ada pengakuan yang berlebihan. Hanya fakta yang selama ini tinggal di tubuhku.
“Aku tahu,” katanya pelan.
“Aku juga…” suaraku pecah sedikit, “…takut padamu.”
Matanya berkedip pelan. “Takut?”
Aku mengangguk.
“Bukan takut kamu akan menyakitiku secara sengaja,” kataku.
“Aku takut kamu benar bahwa kamu bisa membuatku memilih kehidupan yang bukan milikku.”
Sisca tidak tersinggung. Ia tidak defensif. Ia hanya menarik napas dan berkata:
“Takut itu sehat.”
Aku menghadapnya.
“Tapi,” lanjutku, “Aku juga sayang kamu.”
Kali ini, ia terdiam.
Beberapa detik yang tenang.
“Aku tidak pernah berharap kamu memilih satu di antara kami,” katanya sangat pelan. “Yang kupinta cuma satu, jangan menutup mata kalau hatimu ke mana-mana.”
Aku terdiam lama. Itu kalimat yang tidak romantis. Tidak heroik. Tidak rapi. Tapi jujur. Pisces dalam diriku bisa merasakan itu. Aku menatapnya.
“Rian bilang,” kataku, “Ayah meneleponnya untuk bilang: ‘lepaskan Sisca demi aku’.”
Sisca tersenyum kecil.
“Tentu,” katanya. “Itu gaya kakakmu. Dia pikir semua masalah bisa diselesaikan dengan logika ‘A tidak baik untuk B, maka A harus pergi’.”
“Dan kamu bilang sebaliknya,” sahutku.
“Iya.”
“Kenapa?” pertanyaanku kembali ke titik awal, tapi sekarang lebih tenang.
Ia memandang ke depan, tidak menatapku, seolah kalimat berikutnya terlalu berat untuk diucapkan sambil menatap mata siapa pun.
“Karena aku sudah terlalu sering ditinggalkan demi orang lain,” katanya pelan.
Aku menelan ludah. Itu tidak kubayangkan.
“Orang pertama yang kuminta ‘jangan lepaskan aku’,” lanjutnya, “bukan Rian.”
Jantungku berdetak lebih cepat. Siapa? Aku merasakan tubuhku menegang bahkan sebelum namanya diucapkan. Sisca melanjutkan, suaranya pelan tapi jelas, “Orang pertama yang kuminta tetap bertahan… adalah kakakku.”
Aku menutup mata. Ayah. Ayah yang memintaku menjauh dari Sisca pernah diminta oleh Sisca untuk tidak melepaskannya. Bukan dalam arti romantis sekarang, bukan itu yang menohokku. Yang menohokku adalah kenyataan bahwa Sisca selalu berada dalam lingkar orang-orang yang kutinggalkan atau kehilangan.
“Aku bilang ke kakakku,” kata Sisca, “‘kalau kamu benar-benar sayang aku… jangan lepaskan aku.’”
Air mataku jatuh, bukan karena cemburu, bukan karena cemas, tapi karena tiba-tiba aku bisa melihat mereka, dua saudara, sama-sama keras kepala, sama-sama menyimpan cinta dengan caranya masing-masing.
“Dan dia?” tanyaku pelan.
“Dia melepas,” jawab Sisca.
Tidak ada kemarahan di sana. Hanya penerimaan yang pahit.
“Dia bilang,” Sisca melanjutkan, “‘Kalau aku bertahan di sisimu, aku akan kehilangan bagian-bagian lain dari hidupku yang lebih luas dari kita berdua.’”
Aku bisa mendengar Ayah mengucapakannya. Dengan nada datar yang selalu ia punya ketika kalimatnya sebenarnya sangat berat.
Aku mengusap wajahku.
“Jadi,” kataku pelan, “semua orang yang kamu minta bertahan… akhirnya pergi.”
Sisca tersenyum samar.
“Tidak,” katanya lembut. “Beberapa pergi. Beberapa tetap. Beberapa… masih bingung berdiri di pintu.”
Ia tidak menyebut nama. Tidak perlu. Aku tahu siapa saja yang sedang ia maksud. Rian. Aku. Dirinya sendiri. Kami bertiga berdiri di pintu berbeda dengan kunci yang saling tertukar.
Malam makin larut. Kami masih duduk berdampingan tanpa banyak bergerak. Ada sesuatu yang berubah di dalamku. Bukan kebenaran besar dramatis, bukan keputusan besar untuk esok hari. Hanya ini untuk pertama kalinya, aku tidak hanya melihat Sisca sebagai seseorang yang “mengambil sesuatu dariku”, tapi juga seseorang yang berkali-kali meminta orang untuk tinggal… dan ditinggalkan. Itu tidak membenarkan semua pilihannya. Tapi itu membuatku berhenti melihatnya sebagai sosok satu dimensi.
Aku berdiri. Sisca ikut berdiri.
“Aku lelah,” kataku pelan.
“Aku juga,” katanya.
Aku melangkah beberapa langkah, lalu berhenti.
“Tante,” kataku tanpa menoleh.
“Hm?”
“Mulai hari ini… aku tidak janji akan memihak siapa pun,” kataku.
“Aku cuma janji akan jujur pada diriku sendiri.”
Sunyi sebentar.
Lalu aku mendengar suaranya, “Itu satu-satunya hal yang tidak pernah kuminta darimu… tapi selalu kuharapkan.”
Aku tersenyum kecil. Tanpa menoleh, aku masuk rumah. Menutup pintu.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku merasa tidak sepenuhnya korban, tidak sepenuhnya penonton, tapi seseorang yang benar-benar berada di tubuhnya sendiri. Namun malam tidak selesai di sana. Di kamar, aku menyalakan lampu meja. Surat Ayah masih terbuka. Kotak besi belum tersentuh. Mataku menangkap selembar foto lama lain terselip di bawah tumpukan kertas tipis.
Aku menariknya keluar. Foto itu buram sedikit, tapi cukup jelas terlihat. Ayah. Sisca yang lebih muda. Dan seseorang yang tidak berada di dalam bingkai tapi memotret mereka.
Di belakang foto itu, ada tulisan tangan Ayah. Aku membacanya pelan, “Aku memilih pergi agar kamu tidak mengikutiku. Maaf, S.”
Aku menutup mata. Lalu aku menyadari sesuatu yang membuat bulu kudukku meremang tulisan berikutnya, kecil, hampir tak terbaca.
“Kalau aku tetap tinggal, Anita akan kehilangan lebih banyak dari yang bisa ia pahami.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku bertanya bukan pada Sisca, bukan pada Rian, bukan pada Ibu, tetapi pada diriku sendiri, “Apa sebenarnya yang disembunyikan semua orang dariku?”