Drama

Bayangan Gradasi - Ayah Yang Melindungi Anaknya - Bab 17

Penulis Ichan
12 September 2025

Beberapa orang saling pandang, pura-pura tak mengerti. Ada yang hanya menghisap rokok, ada pula yang tersenyum tipis, seperti sedang menonton sandiwara.

“Firdaus, jangan menuduh sembarangan,” salah satu pejabat senior mencoba menenangkan. “Musuh lama, dendam pribadi atau persaingan bisnis, itu semua bisa jadi kemungkinannya.”

Firdaus menepuk meja keras. “Jangan mainkan aku! Aku tahu kelompok yang menyerang Hanum bukan sekadar kriminal jalanan. Mereka punya dukungan politik dan aku ingin tahu siapa yang membiayai mereka.”

Keheningan menelan ruangan. Lalu, seorang pengusaha tua bersuara lirih, tapi menusuk.

“Kalau kau ingin anakmu kembali, Firdaus, mungkin sudah waktunya kau melepas kursi itu.”

Semua mata menoleh. Firdaus menegang, rahangnya mengeras. Kursi yang dimaksud jelas, posisinya sebagai salah satu pengendali aliran dana politik di pusat kota. Posisi strategis yang membuatnya tak tersentuh.

“Jadi ini permainan kalian?” Firdaus mendesis. “Menculik anakku hanya untuk memaksa aku turun?”

Senyum dingin menyebar di wajah-wajah sekeliling meja. Tak ada jawaban, dan itu sudah lebih dari cukup untuk Firdaus.

Ia berdiri perlahan, menatap mereka satu per satu. “Baiklah. Kalau kalian pikir aku akan menyerah hanya karena Hanum, kalian salah besar. Aku akan balas, bukan hanya secara politik, tapi juga dengan darah.”

Firdaus keluar, meninggalkan ruangan yang tiba-tiba terasa mencekam.


Strategi Al.

Sementara itu, di sisi lain kota, Al duduk di meja kecil di rumah aman lain yang lebih tersembunyi. Saputangan Hanum masih di genggamannya. Matanya sembab karena kurang tidur. Namun, tatapannya tajam, penuh akan tekad.

Di hadapannya, tiga orang anak buah kepercayaan duduk, menunggu instruksi.

“Kita tidak bisa menyerang secara membabi buta,” ucap Al pelan, suaranya datar, tapi penuh wibawa. “Mereka menahannya di dermaga tua. Itu jebakan. Mereka ingin aku datang sendirian.”

“Lalu, apa rencana kita, Bang?” salah satu bertanya.

Al meletakkan ponselnya di meja, menampilkan pesan ancaman terakhir. “Aku memang akan datang sendirian, tapi bukan berarti tanpa persiapan.”

Ia mulai menggambar denah dermaga di kertas, menandai beberapa titik strategis. “Kalian akan mengintai dari jauh. Jangan lakukan apa pun sampai aku beri sinyal. Fokus kalian hanya satu, pastikan Hanum keluar hidup-hidup.”

Salah satu anak buahnya terlihat ragu, “tapi Bang, kalau itu jebakan, mereka bisa saja membunuh Hanum di depan mata kita sebelum sempat bertindak.”

Al menatapnya dengan tatapan tajam. “Mereka tidak akan membunuh Hanum begitu saja. Dia kartu as mereka. Mereka ingin menyiksa aku lewat dia. Itu kelemahan mereka dan kesempatan kita.”

Keheningan singkat menyelimuti ruangan. Lalu, Al berdiri, mengokang pistol, memasukkannya ke balik jaket. “Ingat, target utama kita bukan hanya menyelamatkan Hanum, tapi juga mengirim pesan. Siapa pun yang menyentuhnya, dia akan menyesal.”


Sore harinya, Al menerima telepon. Nomor tak dikenal, tapi begitu suara itu terdengar, ia langsung mengenalinya.

“Al-Faidzin.”

Al terdiam sebentar. “Pak Firdaus.”

“Aku tahu kau sudah menyiapkan sesuatu. Dermaga tua, kan?” Suara Firdaus dalam, dingin, tapi juga penuh kegelisahan. “Mereka kira bisa tekan aku dengan Hanum, tapi aku juga tahu, tanpa kau, anakku takkan bertahan.”

Al mengepalkan tangan. “Aku akan bawa Hanum pulang. Apa pun risikonya.”

Keheningan sebentar. Lalu Firdaus berkata, “Kalau begitu, dengarkan aku. Aku akan mainkan politik di atas meja. Sementara kau, mainkan darah di lapangan, tapi ingat, kita punya musuh bersama dan aku tidak suka berhutang.”

Al tersenyum miris. “Selama Hanum selamat, saya tidak peduli siapa yang harus saya hancurkan.”

Telepon terputus, meninggalkan gema janji samar di udara.

.***

Malam di dermaga.

Malam itu, dermaga tua diselimuti kabut laut. Lampu-lampu redup bergoyang diterpa angin, menciptakan bayangan-bayangan menyeramkan. Suara ombak menghantam tiang kayu terdengar seperti detak jantung yang dipercepat.

Al berjalan sendirian, langkahnya mantap, pistol tersembunyi di balik jaket. Di kejauhan, ia melihat gudang tua dengan pintu setengah terbuka.

Di sana Hanum berada.

Ia terikat di kursi, mulut disumpal, wajahnya pucat. Matanya melebar saat melihat Al mendekat, air mata mengalir deras.

“Al!” jeritnya teredam.

Namun, dari balik kegelapan, belasan pria bersenjata bermunculan, mengepung.

Seseorang keluar paling depan, pria bermata tajam yang membawa kapak malam sebelumnya. Senyumnya dingin.

“Kau benar-benar datang sendirian.”

Al menatap tajam. “Lepaskan dia. Permainan ini selesai di sini.”

Pria itu tertawa pelan, lalu semakin keras, menggema di dermaga kosong. “Selesai? Tidak, Al-Faidzin. Justru baru dimulai. Kau akan mati di sini dan Hanum akan jadi pesan untuk ayahnya.”

Dengan isyarat tangan, para pria itu maju, lingkaran semakin rapat.

Al menghela napas panjang. “Kalian pikir aku bodoh datang tanpa rencana?”

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar bunyi peluit burung. Sinyal.

Dor! Dor! Dor!

Peluru melesat dari arah gelap, menumbangkan beberapa pria di sisi luar lingkaran. Anak buah Al menembak dari posisi tersembunyi.

Suasana berubah kacau. Teriakan bercampur suara tembakan.

Al bergerak cepat, menembak dua orang yang mencoba menyerangnya, lalu berlari ke arah Hanum. Ia menendang kursi hingga terjatuh, memotong ikatan dengan pisau kecil yang ia sembunyikan di sepatu.

“Hanum, bangun! Kita harus pergi sekarang!”

Hanum terisak, tubuhnya lemas, tapi ia berusaha berdiri dengan bantuan Al.

Namun, pria bermata tajam menghadang dengan kapaknya. “Kau tidak akan bisa bawa dia pergi!”

Al menodong pistol, tapi pria itu melempar besi panjang, membuat pistol Al terlepas ke lantai.

Pertarungan jarak dekat pun dimulai.

Kapak berayun, hampir mengenai bahu Al. Al menunduk, menghantam perut lawan dengan lutut, lalu meninju rahangnya. Namun, pria itu seakan tak merasakan sakit. Dengan brutal, ia mendorong Al hingga terhempas ke tiang kayu.

“Al!” Hanum menjerit.

Al terbatuk darah, tapi bangkit lagi, matanya membara. “Kalau kau ingin menyentuhnya, bunuh aku dulu.”

Mereka bertarung sengit. Tangan kosong melawan kapak. Tubuh Al penuh luka gores, tapi ia terus maju, tak peduli rasa sakit.

Hingga akhirnya, Al berhasil merebut kapak, memutarnya, dan menghantamkan gagangnya ke kepala lawan. Pria itu terhuyung dan darah pun mengalir.

Namun, sebelum Al bisa menghabisinya, suara keras terdengar dari kejauhan.

“Cukup!”

Semua orang menoleh. Firdaus berdiri di ujung dermaga, dikelilingi pengawal bersenjata lengkap. Matanya tajam, wajahnya penuh amarah.

“Kalau ada yang berani menyentuh putriku lagi,” suaranya menggelegar, “akan aku pastikan seluruh keluargamu hilang dari muka bumi.”

Musuh terdiam. Bahkan pria bermata tajam itu terlihat ragu.

Namun, sebelum situasi bisa reda, tembakan mendadak terdengar dari arah atap gudang. Dor!

Peluru melesat.

Hanum menjerit.

Dan darah berceceran di papan kayu dermaga.

Al menoleh cepat. Seseorang roboh di dekatnya, darah mengalir deras, tapi dalam kekacauan itu, ia tak bisa memastikan siapa yang tertembak.

Apakah dirinya, Firdaus atau Hanum?

Ombak berdebur keras, seakan ikut menelan rahasia malam itu.