Pertanyaan itu tidak pergi ketika aku tidur. Sebenarnya aku tidak benar-benar tidur, aku hanya memejamkan mata dan membiarkan gelap memelukku tanpa janji apa pun.
Apa sebenarnya yang disembunyikan semua orang dariku? Kata “semua” membuatku takut. Karena itu berarti bukan hanya Sisca. Bukan hanya Rian. Bukan hanya Ayah.
Tapi dunia kecilku, keluarga, cinta, masa lalu, seperti rumah yang kusangka utuh, ternyata memiliki ruangan-ruangan yang selama ini tidak pernah kubuka. Pagi menyelinap lewat sela gorden. Debu menari pelan dalam cahaya. Aku duduk.
Aku sudah berhenti bertanya “kenapa semua ini terjadi?” Sekarang aku hanya ingin tahu “apa sebenarnya yang terjadi?” Itu dua hal yang berbeda, dan aku baru sadar bedanya hari ini. Aku kembali ke kamar kerja Ayah.
Bukan karena suka menyiksa diri, tapi karena ada perasaan seperti sesuatu di sini memang menungguku dari lama. Kotak besi itu masih tertutup. Aku mengusap ukiran di atasnya dengan ujung jari: A & S. Ananto & Sisca. Kakak & adik. Dua orang yang saling mencintai dengan cara yang tidak selalu bisa dipahami orang lain. Aku tidak bisa membuka kotak itu sekarang. Bukan hanya karena kuncinya belum kupunya, tapi karena aku tiba-tiba tahu aku butuh keberanian yang berbeda untuk membukanya. Aku membuka laci lain. Di laci bawah, tersusun map-map plastik bening, rapi seperti kebiasaan Ayah. Label-label kecil ditempel rapi, tagihan listrik, perpajakan, korespondensi kantor, asuransi, medis Tanganku berhenti di satu label, medis. Pisces dalam diriku berbisik, “Lihat.”
Aku menarik map itu. Di dalamnya ada hasil lab lama, rekam medis Ibu, rekam medis Ayah, nota rumah sakit. Tidak ada yang mencurigakan… sampai aku melihat satu berkas cokelat tanpa nama di depan. Bukan namaku. Bukan nama Ibu. Bukan nama Ayah. Kosong.
Aku membuka. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas rumah sakit tua, warnanya sudah sedikit pucat, aroma obat tipis masih tertinggal seolah kertas mampu menyimpan kenangan. Ada logo rumah sakit di pojok kanan atas. Tanggalnya… dua puluh tahun lalu. Tahun ketika Sisca menghilang.
Aku mulai membaca, kalimat demi kalimat: “Surat persetujuan tindakan…” Mataku turun ke bagian “penanggung jawab keluarga”. Namanya: Ananto (nama Ayahku). Jantungku berdetak lebih kencang. Aku membaca paragraf berikutnya. Bukan penyakit biasa. Bukan operasi yang sering kudengar.
Kata itu muncul pelan di hadapanku: “riwayat pasien perempuan dewasa… kondisi akibat tindakan kekerasan…”
Aku berhenti sebentar. Tenggorokanku mengering. Aku melanjutkan. Kalimat dokter terasa dingin, terlalu teknis untuk sesuatu yang sesungguhnya sangat manusiawi.
“…tindakan medis dilakukan untuk memastikan keselamatan fisik pasien serta pengamanan konsekuensi dari kehamilan tidak diinginkan.”
Aku berhenti sepenuhnya. Kehamilan. Kata itu menembak ke arahku, lalu membelok ke segala sisi. Aku menelan ludah. Tanganku bergetar. Pasien perempuan. Dua puluh tahun lalu. Ayah sebagai penanggung jawab.
Nama pasien… dikosongkan. Bukan anonim acak. Sengaja tidak ditulis. Aku membalik halaman. Ada satu catatan dokter di bagian bawah: “Atas permintaan keluarga, identitas pasien disamarkan. Hanya dua orang mengetahui detail penuh kasus ini.”
Aku membaca kalimat berikutnya: “Kakak pasien menandatangani untuk merahasiakan seluruh tindakan demi masa depan pasien.” Kakak pasien.
Sisca… adalah adik Ayah. Pisces dalam diriku merangkai pelan: perempuan, dua puluh tahun lalu, kehamilan tidak diinginkan, kekerasan, identitas disembunyikan, kakak menandatangani. Aku memejamkan mata.
“Ayah…” bisikku. Apakah ini yang selama ini ditentengnya sendirian?
Apakah ini alasan ia menjadi terlalu protektif pada Sisca? Menghilangkan jejak? Memutus hubungan? Menyembunyikan sesuatu bahkan dari Ibu? Air mata menghangat di bawah kelopak mata, tapi tidak jatuh. Karena di tengah rasa perih itu, ada kesadaran lain yang muncul seperti bayangan di dinding: kalau ada kehamilan… ada ayah dari kehamilan itu.
Dan nama itu tidak tertulis di mana pun. Tidak satu pun.
Bahkan di catatan dokter. Hanya satu kalimat: “pasien menolak menyebut nama pihak laki-laki.” Dan tepat di bawahnya: “hanya akan diberitahu pada satu orang: kakak kandung.”
Ayah. Ayah tahu. Aku tidak. Ibu tidak. Tidak ada orang lain. Aku duduk lama sekali. Kertas di tanganku terasa dingin, seperti menyentuh permukaan bulan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak hanya merasa jadi korban atau saksi dari cerita orang lain. Aku merasa berada di titik tengah pusaran yang tidak kumengerti bentuknya. Aku tahu dua hal sekaligus. Aku marah. Dan aku mengerti. Aku marah karena rahasia sebesar ini ditutup untukku. Aku mengerti bahwa tidak semua luka pantas dipertontonkan ke dunia, bahkan ke keluarga sendiri.
Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Ayah,” kataku pelan, “apa yang sebenarnya kamu lindungi dariku? Dari siapa?”
Lalu seperti adegan kecil yang muncul di tengah pikiranku, aku teringat kalimat di foto semalam: “Kalau aku tetap tinggal, Anita akan kehilangan lebih banyak dari yang bisa ia pahami.” Kehilangan apa? Apa yang bisa direbut dariku, bahkan sebelum aku cukup besar untuk menyadari aku memilikinya?
Aku menghela napas panjang. Aku belum siap bicara pada Sisca tentang ini. Belum. Bukan karena aku takut pada jawabannya, tapi karena aku takut pada diriku sendiri ketika mendengarnya. Pisces dalam diriku tahu: aku bisa ikut tenggelam ke dalam luka orang lain, sampai lupa apakah luka itu milikku atau bukan.
Siang itu Rian mengirim pesan. “Boleh ketemu?”
Aku menatap teks itu cukup lama untuk membuat layar ponsel meredup sendiri. Aku tidak membencinya. Aku tidak bisa. Tapi aku juga belum siap duduk di depannya tanpa menanyakan hal-hal yang mungkin akan menyakiti kami berdua.
Aku membalas, “Nanti.”
Ia menjawab singkat, “Aku tunggu.”
Tidak ada tanya jam. Tidak ada desakan. Hanya kalimat yang cukup sederhana untuk membuatku kembali ingin menangis.
Ibu mengetuk pintu kamar. “Ani?”
“Ya?”
“Kalau lelah, tidur. Jangan dipaksa kuat.” Aku menoleh.
Ibu berdiri di ambang pintu, tubuhnya kecil dalam baju rumahan yang longgar. Matanya lembut, tapi aku tahu benar ada dunia penuh kecemasan di belakangnya.
Aku tersenyum tipis. “Bu,” kataku pelan, “dua puluh tahun lalu… ada sesuatu terjadi dengan Tante Sisca?”
Ibu terdiam. Ia tidak berpura-pura tidak mengerti pertanyaanku. Ia juga tidak pura-pura sibuk mengambil alasan.
Ia hanya masuk, menutup pintu, dan duduk di tepi ranjang. “Ya,” katanya akhirnya.
Satu suku kata itu saja sudah cukup untuk membuatku ingin kembali ke masa kecil, ke masa ketika semua “ya” hanya berarti es krim atau jalan-jalan sore.
“Ayah tidak bilang?” tanyaku.
Ibu menggeleng pelan.
“Dia bilang,” katanya, “tidak semua kebenaran harus jadi beban bersama.”
Aku menunduk. “Sekarang bebannya terasa seperti ini,” gumamku.
Ibu mengelus rambutku. “Kalau saat itu kamu tahu,” katanya lembut, “hidup masa kecilmu tidak akan seperti yang kamu punya sekarang. Kamu akan tumbuh terlalu cepat. Kamu akan belajar curiga sebelum belajar percaya.”
Aku terdiam. Aku ingin menyangkal. Tapi aku tahu Ibu benar.
“Aku hanya ingin tahu,” bisikku, “apa yang sebenarnya terjadi.” Ibu memejamkan mata sejenak.
“Aku tidak akan menceritakan detail yang bukan hakku,” katanya lirih.
“Yang bisa Ibu bilang hanya satu Ayahmu mengambil semua tanggung jawab itu ke dirinya… dan dia tidak pernah benar-benar pulih.”
Aku menggenggam tangan Ibu. Sedikit gemetar. Bukan hanya aku yang menjadi korban rahasia. Ayah pun begitu. Sisca pun begitu. Dan mungkin… Rian pun terseret bukan sebagai pelaku utama, tapi orang yang lewat di persimpangan yang salah.
Setelah Ibu keluar, aku kembali ke map medis tadi. Satu lembar terakhir terselip di bagian belakang. Kertas itu lebih tebal. Surat bermeterai. Aku menariknya. Surat pernyataan kerahasiaan medis. Ada tanda tangan Ayah. Ada paraf dokter.
Dan di bagian bawah, tulisan tangan Ayah sendiri: “Saya memilih menanggung apa pun konsekuensi masa depan, agar adik saya dapat hidup tanpa bayang-bayang ini.”
Di bawah kalimat itu, ada satu kalimat kecil yang disobek setengah. Separo hilang.
Tinggal setengah kalimat: “…dan demi Anita.”
Aku menyentuh sobekan kasar itu dengan ibu jari. Ada sesuatu yang pernah tertulis di sana.
Sesuatu yang sengaja dihilangkan atau hancur oleh waktu. Aku merasakan sesuatu yang lain, lebih pelan, tapi seperti arus bawah laut yang tidak terlihat: Aku mulai paham kenapa Ayah memintaku dijauhkan dari Sisca. Bukan karena Sisca racun. Bukan karena ia jahat.
Tapi karena ada bagian hidupnya yang begitu berat, begitu gelap, begitu penuh luka, hingga Ayah tidak ingin beban itu menjadi salah satu bentuk masa depanku.
Aku menarik napas panjang. Namun yang ironis, aku justru berdiri di sini, lebih dekat pada luka itu daripada siapa pun.
Aku menutup map. Aku memeluknya sebentar.
Bukan seperti orang yang memeluk kertas, tapi seperti orang yang memeluk fragmen hidup yang tidak pernah dimintanya. Lalu sebuah pikiran baru muncul, tajam, jernih, tak bisa ditolak, kalau identitas pasien disembunyikan, kalau Ayah menandatangani, kalau kehamilan itu terjadi… siapa laki-laki yang ada di tengah semua ini?
Nama itu tidak ada di dokumen. Tidak di catatan. Tidak disebut Ibu. Tidak pernah keluar dari mulut Sisca. Dan mungkin… hanya ada dua orang yang pernah benar-benar tahu, Sisca dan Ayah Satu sudah kembali. Satu sudah pergi.
Aku menutup mata. Hanya satu kalimat yang tersisa di kepalaku, “Tidak semua cinta membawa orang ke tempat yang tepat.” Kalimat Ayah. Kalimat yang, tiba-tiba saja, terasa bukan lagi teori… melainkan pengakuan.