bold text
Sejak hari ketika Bagas tiba-tiba menghilang dari TMII, Rani tidak bisa menghentikan pikirannya bekerja berlebihan. Ia pulang dengan kepala penuh tanda tanya, tidur dengan kecemasan dan bangun dengan perasaan yang sama sekali tidak nyaman. Seakan ada beban tersangkut di dadanya, bukan beban pekerjaan, tapi beban rasa kehilangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Keesokan paginya, sebelum matahari naik sempurna, Rani kembali ke TMII dengan langkah tergesa. Ia tahu ini impulsif, bahkan mungkin tidak masuk akal, tapi diam di rumah hanya membuat hatinya makin sesak. Ia butuh jawaban atau setidaknya, ia butuh memastikan bahwa Bagas baik-baik saja.
Saat ia sampai di area pintu masuk Keong Mas, beberapa relawan baru tampak berkumpul. Ada yang memakai seragam biru muda, ada yang memakai rompi khusus staf event. Mereka terlihat sedang briefing kecil, lengkap dengan beberapa papan informasi yang diletakkan di atas bangku panjang.
Rani menarik napas. "Baik. Aku tanya satu-satu. Yang penting sopan. Yang penting nggak keliatan putus asa."
Ia berjalan mendekat, senyum kecil terpaksa muncul di wajahnya. “Maaf, Kak. Mau tanya, Bagas hari ini masuk nggak?”
Salah satu relawan perempuan, berambut sebahu, wajah ramah, menoleh. “Bagas? Bagas yang suka bawa alat musik itu?”
“Iya!” Rani langsung menjawab terlalu cepat. Terlalu antusias. Terlalu jelas.
Relawan itu mengerutkan dahi. “Kayaknya dia lagi, apa ya?” Ia menoleh pada relawan lain, seorang laki-laki berkacamata yang tampak lebih senior. “Mas, Bagas kenapa ya? Kemarin ada yang ngomong sesuatu, tapi aku nggak terlalu jelas.”
Relawan berkacamata itu menatap Rani. “Kamu temannya Bagas?”
Rani membuka bibir, lalu menutupnya lagi, lalu membuka lagi. “Teman, teman kerja maksudnya, aku lagi bikin proyek video. Dia bantu aku beberapa kali.”
Pria itu mengangguk pelan, seolah mencoba memasangkan potongan cerita yang ia tahu. “Oh, iya. Aku sempat dengar sesuatu.”
Rani menahan napas. “Dengar apa?”
“Katanya Bagas lagi sakit.”
Sakit. Kata itu menghantam jantung Rani lebih kuat dari yang ia kira.
“Sakit apa?” tanyanya cepat.
“Kurang tahu. Ada yang bilang demam tinggi, ada yang bilang kecapekan karena beberapa minggu terakhir jadwalnya padat banget.”
Rani memikirkan Bagas yang selalu tersenyum, selalu enerjik, selalu punya waktu membantu pengunjung dan relawan lain. Sama sekali tidak terbayang sosok seperti itu bisa tumbang hanya karena kelelahan, tapi tubuh manusia selalu punya batas.
Rani percaya itu. Ia merasakannya sendiri beberapa hari terakhir.
Relawan perempuan tadi menimpali, “tapi ada juga yang bilang dia resign.”
Deg.
“Resign?” Rani mengulang dengan suara lebih kecil dari yang ia rencanakan.
Relawan itu mengangguk. “Iya. Katanya ada masalah sama tim produksi acara minggu depan. Bagas marah karena rencana perubahan jadwal mendadak. Dia kan perfeksionis soal budaya. Katanya nggak mau ada yang asal-asalan.”
Rani merasakan kulit tengkuknya meremang.
Masalah dengan tim produksi? Apakah itu terkait dirinya? Atau video yang ia buat? Atau cara ia melibatkan Bagas?
Dari kejauhan terdengar suara burung, tapi Rani seolah tidak mendengarnya. Tubuhnya terasa ringan tapi kepala berat.
Relawan lelaki berkacamata terlihat ragu sejenak sebelum menambahkan, “tapi ada juga yang bilang dia bukan marah sama tim produksi, tapi sama seseorang.”
“Seseorang?” Rani bertanya pelan.
Relawan itu mengangkat bahu. “Ya, gosip. Aku tidak tahu benar atau tidak. Ada yang bilang dia tersinggung, ada yang bilang dia kecewa, ada yang bilang dia lagi butuh waktu sendiri.”
Rani memegang tali tas, jarinya gemetar.
“Ada yang tahu dia di mana sekarang?” suaranya hampir berbisik.
Kedua relawan saling berpandangan, lalu sama-sama menggeleng.
“Sayangnya nggak ada yang tahu,” jawab si relawan perempuan. “Dia nggak ngasih kabar. Biasanya dia rajin kirim pesan ke grup relawan, tapi sejak dua hari lalu, hilang.”
Rani terasa semakin mengkerut di dalam dirinya sendiri.
Hilang. Tanpa kabar. Setelah beberapa minggu begitu dekat. Secara emosional, secara frekuensi pertemuan, bahkan secara perhatian.
“Kalau aku dengar sesuatu, aku kabari grup relawan. Kamu ikut di grup?” tanya relawan itu sambil memiringkan kepala.
Rani hanya bisa tersenyum kecut. “Enggak, aku bukan relawan.”
“Oh! Kupikir kamu relawan baru,” jawabnya sambil tertawa kecil.
Rani juga ikut tersenyum, tapi tidak sungguh-sungguh.
Setelah berpamitan, Rani berjalan tanpa tujuan ke arah danau mini. Ia duduk di bangku beton yang menghadap air, membiarkan angin berembus menggerakkan rambutnya.
Desas-desus itu berputar di kepalanya seperti angin puting beliung. Bagas sakit. Bagas resign. Bagas marah pada tim produksi. Bagas kecewa pada seseorang dan setiap kali kata seseorang terbayang, jantung Rani seperti disayat dari dalam.
“Jangan-jangan, aku?” gumamnya.
Ia mencoba mengingat hari terakhir mereka bertemu. Apakah ia mengatakan sesuatu yang menyakitkan? Apakah ia terlalu memaksa? Apakah permintaannya soal narasi suara terlalu merepotkan?
Tidak. Bagas tampak baik-baik saja saat itu. Bahkan sangat bersemangat.
“Atau justru karena aku tidak pernah bilang terima kasih dengan benar?” tanya Rani pada dirinya sendiri.
Ia menunduk.
“Kenapa aku selalu begini, begitu seseorang masuk hidupku lalu pergi sebentar saja, aku langsung merasa itu salahku.”
Ia meremas ujung rok panjangnya, menahan rasa sesak yang menyelinap di antara tulang rusuknya.
Beberapa anak kecil lewat di depan Rani, tertawa sambil membawa balon plastik berbentuk tokoh kartun. Pemandangan itu biasanya membuat hati Rani hangat, tetapi hari ini ia justru merasa semakin kecil, semakin sendirian.
Rani menatap pantulan dirinya di permukaan air. Kantung matanya menghitam, bibirnya pucat dan rambutnya kusut karena angin. Ia tampak seperti seseorang yang kehilangan arah.
“Kalau Bagas benar resign, berarti aku nggak bakal ketemu dia lagi,” gumamnya pelan.
Kalimat itu membuat dadanya perih.
Bagaimana mungkin seseorang yang baru beberapa hari, hadir dalam hidupnya bisa membuat kekosongan sebesar ini saat tidak ada?
“Rani, kamu kok, jadi seperti ini?” ia mencela dirinya sendiri, tapi suaranya lemah.
Namun, ia tahu jawabannya, meskipun sulit mengakuinya karena Bagas membuatnya merasa dilihat. Disimak. Didengar. Dihargai dan yang paling mengerikan bagi seorang perfeksionis, dipahami.
Itu hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat.
“Rani? Kamu kok sendirian?”
Rani menoleh cepat. Itu Kak Nia, salah satu staf admin event TMII yang dulu sempat ia wawancarai untuk liputan sejarah singkat. Wanita itu ramah, berkacamata tipis dan selalu membawa clipboard.
“Oh, kak Nia.” Rani mencoba tersenyum.
“Kamu kelihatan capek banget. Lagi cari siapa?” tanya Nia sambil duduk di sampingnya.
Rani menggigit bibirnya. “Bagas.”
Nia mengangguk pelan, wajahnya langsung berubah mengerti. “Semua orang nanya dia hari ini.”
“Jadi benar ya, dia nggak masuk?” suara Rani pelan.
“Benar dan jujur saja, kami semua juga bingung. Dia bukan tipe orang yang hilang tanpa kabar.”
Rani menelan ludah. “Aku dengar banyak rumor tadi.”
Nia mendesah, menatap danau. “Rumor selalu lebih cepat dari fakta.”
“Jadi yang benar yang mana?”
Nia diam selama beberapa detik sebelum menjawab, suara lembut tapi hati-hati.
“Aku tidak tahu persis, tapi yang jelas, Bagas memang sedang menghadapi sesuatu. Dia terlihat lebih lelah dari biasanya minggu ini dan sempat ada sedikit konflik kecil di internal.”
“Konflik apa?” Rani memusatkan perhatian.
“Perbedaan pandangan,” jawab Nia, “soal cara menjaga otentisitas budaya dalam program baru.”
Rani mencelos.
“Apa hubungan itu semua sama aku?” tanyanya lirih.
Nia menoleh, heran. “Sama kamu? Loh, kok, kamu mikir gitu?”
“Aku cuma merasa mungkin aku bikin dia terbebani.”
Nia tertawa kecil. “Rani, kamu underestimate Bagas. Dia itu relawan yang justru paling senang kalau bicara budaya. Kalau kamu butuh bantuan, dia pasti bantu dengan senang hati.”
Rani meremas tali tasnya, "tapi dia menghilang.”
Nia menepuk bahu Rani lembut. “Menghilang bukan berarti kamu penyebabnya.”
Rani menunduk lagi.
Dalam hati, ia tahu Nia benar, tapi tetap saja perasaan itu seperti bayangan gelap yang menempel di pundaknya, susah dilepas, susah dijelaskan.
Setelah pamit, Rani kembali duduk sendirian selama beberapa menit sebelum akhirnya bangkit.
Ia menatap seluruh kompleks TMII. Tempat yang biasanya memberi jawaban melalui keindahan budayanya, hari ini justru memberi pertanyaan bertumpuk.
Bagas sakit? Bagas resign? Bagas marah? Bagas kecewa? Bagas menghindari seseorang? Seseorang itu, dirinya? Tidak ada jawaban. Yang ada hanya satu kesimpulan kecil yang membuat napasnya tercekat. Ketika seseorang menghilang, rumor akan mengambil alih ruang kosong, tapi rasa takutlah yang paling cepat menempatinya dalam hati.
Rani berjalan pelan menuju pintu keluar.
Hari itu, ia tidak hanya meninggalkan TMII, tapi juga membawa pulang ketidakpastian yang membuatnya semakin sadar.
Bagas bukan lagi sekadar relawan. Ia adalah seseorang yang kehilangan kabarnya saja sudah menggetarkan seluruh keseimbangan hidup Rani dan semakin banyak rumor ia dengar, semakin besar ketakutan itu tumbuh:
Bagaimana kalau Bagas tidak kembali sama sekali?