Drama

Jejak Bagas

08 January 2026

bold text

Rani kembali ke TMII di pagi yang lembap, di mana embun masih menggantung di atas rumput dan udara terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Ia datang sendirian dengan langkah cepat, tapi hati yang gemetar. Matanya sembab karena semalaman tidak tidur, pikirannya berkecamuk dan dadanya terasa seperti disesaki sesuatu yang tak mau ia akui.

Hari ini, ia memutuskan satu hal, ia harus menemukan Bagas.

Tidak peduli seberapa konyol kedengarannya. Tidak peduli kalau ia sendiri tidak yakin alasan sebenarnya apa.

Ia butuh jawaban. Ia butuh kejelasan. Ia butuh memastikan bahwa ia bukan penyebab Bagas menghilang.

Langkah pertama Rani adalah kembali ke Anjungan Jawa Tengah, tempat mereka pertama kali berbicara agak lama. Tempat di mana Bagas menjelaskan tentang filosofi pintu ukiran, tentang rumah yang tidak sekadar bangunan tetapi juga penjaga nilai leluhur.

Rani berdiri di depan bangunan berukir megah itu. Hening. Hanya ada petugas yang sedang menyapu.

“Mas Bagas ada keliatan?” tanyanya dengan suara yang ia paksa agar terdengar stabil.

Petugas itu menatapnya sebentar, lalu menggeleng. “Dari kemarin nggak muncul-muncul dia, Mbak.”

Rani mengangguk lemah. “Makasih ya, Mas.”

Ia berjalan lagi, kali ini ke Anjungan Sumatra Barat, tempat mereka pernah tertawa karena Bagas iseng menyuruhnya pose 'pengunjung nyasar' demi menguji kamera. Lalu ke Anjungan Bali, tempat mereka sempat berdiri lama melihat matahari turun. Semua tempat itu jadi begitu familiar, padahal beberapa bulan lalu Rani bahkan tidak pernah memperhatikan detailnya.

Di setiap anjungan, ia bertanya. Di setiap anjungan, jawabannya sama. Bagas tidak terlihat.

Rani menahan napas setiap kali mendengar itu, seolah setiap jawaban negatif menambah satu lapis gelap dalam hatinya.

Setelah itu, ia menuju spot favorit mereka jalan-jalan, jalur setapak yang menghubungkan anjungan ke danau buatan. Jalur itu sering mereka lewati sambil ngobrol santai.

“Aku suka bagian ini,” kata Bagas pernah berkata. “Nggak banyak yang lewat. Rasanya kayak mundur ke masa kecil.”

Waktu itu Rani hanya mengangguk. Sekarang, kata-kata itu terasa bergema di tengah keheningan.

Ia menyusuri jalan itu, perlahan, berharap menemukan jejak apa pun.

Topi Bagas? Tas kainnya? Botol minumnya? Alat musik kecilnya? Apapun, tapi jalan itu terlalu bersih. Tidak ada tanda kehidupan selain rusaknya beberapa daun jatuh yang diinjak oleh angin. Tidak ada yang menandakan seseorang yang ia cari pernah lewat hari ini.

Rani berhenti sejenak, meraba lengan sendiri untuk menahan gemetar.

“Kenapa jadi sesulit ini?”

Suara itu keluar pelan, lebih seperti napas yang bergetar.

Ia melanjutkan langkah, kali ini menuju arah Danau Arsipel, tempat di mana Bagas pernah mengajaknya duduk di tepi air sambil menceritakan kenangan masa kecilnya.

Dari jauh ia melihat permukaan air tenang, memantulkan bayangan langit yang biru keabu-abuan. Anak-anak bermain sepeda sewaan, beberapa orang tua duduk sambil mengawasi cucu. Suara gelak tawa terdengar jelas, tapi bagi Rani, semuanya terasa samar seperti suara yang berasal dari tempat jauh.

Ia berjalan ke dermaga kayu, tempat ia dan Bagas pernah berdiri bersebelahan tanpa bicara lama, hanya menikmati suasana, tapi hari ini, dermaga itu kosong.

Hanya ada burung-burung kecil bertengger di pagar kayu, memiringkan kepala seolah bertanya siapa yang ia cari.

“Bagas,” Rani memanggil lirih. Sungguh lirih. Hampir seperti doa.

Tidak ada jawaban. Tidak ada kehadiran. Tidak ada tanda-tanda.

Hatinya turun perlahan ke perut.

Rani duduk di tepi dermaga, membuka ponselnya. Ia mencari kontak Bagas yang sudah tersimpan sejak pertama bertemu, ketika itu Bagas sendiri mengetikkan nomornya di Hapenya sambil bercanda,

“Nanti kalau aku hilang, kamu bisa nyari aku.”

Waktu itu Rani cuma tertawa. Tidak pernah terpikir bahwa kalimat itu kini seperti nubuatan sialan yang jadi kenyataan.

Ia menekan tombol panggil.

Tuuut, tuuut. Satu dering. Dua dering. Empat dering. Lalu terdengar auara operator. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi.”

Rani memejamkan mata. Napasnya menegang.

Ia mencoba lagi. Lalu lagi. Lima kali. Enam kali. Tujuh kali. Hasilnya sama.

Tidak aktif.

“Kenapa kamu nggak angkat, Gas,” Suaranya pecah.

Ia menekan nomor itu lagi, kali ini sampai tangannya kram, tapi mesin yang sama menjawabnya dengan dingin.

Rani akhirnya berhenti, memeluk ponselnya. Tangannya dingin, keringat dingin muncul di tengkuk.

Ada kemungkinan Bagas benar-benar sedang sakit. Ada kemungkinan dia memang resign. Ada kemungkinan ia butuh waktu sendiri. Ada kemungkinan ia menghindari seseorang dan kemungkinan itu paling menakutkan bagi Rani.


Matahari mulai naik lebih tinggi. Pengunjung bertambah banyak. Suara riuh mulai memenuhi udara.

Rani menekan langkah menuju Taman Bunga Nusantara Mini, tempat penuh warna yang biasanya membuat hati siapapun cerah. Tempat itu juga salah satu yang pernah mereka lewati bersama, saat Bagas mengomentari warna bunga seperti komentator lomba lukis.

“Taman ini cerah banget, tapi kenapa kamu kelihatan muram?" Rani ingat Bagas pernah menggoda begitu.

Ia menjawab waktu itu, “Aku mikir konten. Bukan mikir hidup.”

Bagas hanya tertawa dan berkata, “Jangan kebalik. Hidup dulu, baru konten.”

Sekarang kalimat itu menikam balik, membuat dadanya perih.

Rani berjalan melewati hamparan bunga warna merah, kuning dan ungu, tapi semua itu hanya menjadi latar yang kabur. Ia melihat bangku panjang di tengah taman, bangku putih dengan sandaran kayu. Di situlah ia memutuskan berhenti. Dirinya tidak lagi mampu melanjutkan pencarian.

Ia duduk. Menghela napas panjang. Lalu menunduk.

Satu detik. Dua detik dan kemudian air matanya jatuh begitu saja. Tidak ada suara isak. Tidak ada teriakan. Hanya tangis diam, tangis yang mengalir dari mata ke pipi dengan perlahan, tapi pasti seperti hujan kecil yang tidak berhenti.

Tangis pertama sejak proyek ini dimulai. Tangis pertama yang keluar bukan karena kantor, melainkan karena seseorang.

Seseorang yang ia tidak sangka akan memenuhi ruang hatinya secepat dan sedalam itu.

“Bagas, kamu ke mana sih!" Suaranya terputus di tengah kalimat karena tenggorokannya mengencang.

Ia mengusap matanya, tetapi air mata terus mengalir.

Untuk pertama kalinya, Rani merasakan sesuatu yang tidak pernah ia akui dengan jujur. Bagas bukan lagi sekadar relawan, ia adalah seseorang yang keberadaannya membuat hidup Rani terasa lengkap dan sekarang ia hilang. Tidak bisa dihubungi. Tidak terlihat. Tidak terdengar kabarnya.

Rasa putus asa itu merayap ke seluruh tubuhnya. Ia meremas ujung rok, berusaha menahan tubuhnya agar tidak bergetar, tapi percuma.

Ia menangis lebih keras, meski tetap menutup wajah dengan kedua tangan.

“Tolong, jangan menghilang seperti ini.”

Tanpa ia sadari, beberapa pengunjung meliriknya dari jauh, tapi tidak ada yang mendekat, mungkin mengira ia hanya sedang lelah.

Padahal hatinya sedang pecah. Perlahan tapi jelas.

Ketika akhirnya ia mulai bisa bernapas lebih teratur, matahari sudah bergeser sedikit. Rani menatap ke arah bunga-bunga, tapi yang ia lihat hanya warna buram.

Bagas masih tidak ada. Nomor teleponnya masih mati. Tidak ada jejak, tidak ada tanda, tidak ada informasi.

Kosong. Semuanya kosong dan di bangku taman itu, Rani sadar. Hilangnya Bagas bukan hanya membuat TMII terasa sepi, tapi juga seluruh hidupnya dan ia belum siap menerima kemungkinan bahwa Bagas mungkin tidak akan kembali.