Aku pikir tubuh manusia akan terbiasa dengan keterkejutan jika diberikan berulang-ulang. Ternyata tidak. Tubuhku tetap bereaksi sama: tangan dingin, dada sesak, napas tidak pernah terasa cukup.
Semua ini tidak terasa seperti satu rahasia besar yang jelas dan utuh. Tidak. Ini lebih seperti serpihan kaca kecil yang tersebar dan aku harus memungutnya satu per satu, sambil terus terluka di jalan.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memegang map cokelat itu. Map medis. Map tanpa nama. Map yang seharusnya menjadi milik seseorang tetapi memilih menjadi milik keheningan.
Aku membukanya lagi. Bukan karena aku senang menyiksa diri, tetapi karena aku tahu aku tidak akan bisa berhenti memikirkan isinya jika tidak membacanya sampai akhir. Kertasnya kasar di ujungnya. Ada bagian-bagian yang tampak seperti bekas sobekan, entah disengaja atau tidak. Aku membaca dari awal lagi, perlahan, menyusun ulang setelah semalam semuanya hanya berupa ledakan.
Surat persetujuan tindakan medis… penanggung jawab: kakak pasien… identitas pasien dirahasiakan atas permintaan keluarga…
Di halaman kedua, aku berhenti. Bukan karena aku menemukan sesuatu yang baru, melainkan karena aku melihat sesuatu yang tadi malam kulewati begitu saja karena terlalu panik. Tepat di pojok bawah, di sebelah stempel rumah sakit, ada tanda tangan dokter. Di atas tanda tangan itu, dua huruf inisial tidak sengaja terpotong oleh garis stempel. R… A… Aku menelan ludah. Inisial itu kecil. Kecil sekali. Tapi kehadirannya seperti jarum kecil yang menusuk tepat di tengah kesadaranku. R. A. Aku memejamkan mata. Nama itu langsung muncul tanpa diundang: Rian. Aku tertawa pelan. Lelah.
“Aneh sekali hidup ini,” gumamku. Tidak cukup hanya nama Rian tersangkut di Sisca, tersangkut di Ayah, tersangkut di hari Ayah meninggal, sekarang bahkan inisial di dokumen dua puluh tahun lalu pun terasa mengejarku.
Aku memaksa diriku membuka mata lagi. “Tenang,” kataku pada diri sendiri. “Tidak semua R adalah dia. Tidak semua A adalah kamu.”
Aku menarik napas panjang. Aku membaca catatan kecil di bawah inisial itu. Tulisan tangan kecil dokter, dingin, runtut.
Kalimatnya “laki-laki terkait usia ± 35 tahun pada waktu kejadian.”
Aku berhenti. Aku membacanya lagi. Usia 35 tahun.
Dua puluh tahun lalu. Rian sekarang 28. Dua puluh tahun lalu, ia masih anak kecil. Inisial sama.
Orangnya tidak mungkin sama. Aku menutup map pelan, meremas sisi map itu sambil menunduk.
“Baik,” kataku dalam hati.
Jadi inisial itu bukan dia. Rian bukan laki-laki itu.
Aku merasa lega. Ya. Tapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar, lalu bergeser menjadi sesuatu yang berbeda kekosongan yang menuntut diisi. Kalau bukan Rian… lalu siapa? Siang menjelang tanpa aku sadari. Ibu memanggil dari luar. Aku keluar kamar.
“Makannya nanti saja,” katanya lembut. “Jangan terlalu lama di dalam.” Aku mengangguk.
Aku duduk sebentar di meja makan, tetapi sendok terasa berat. Makanan hanya lewat di mulut tanpa rasa. Ibu tidak memaksa. Ia hanya duduk di seberangku, menemaniku dalam diam. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan seorang ibu: menjadi kehadiran, tanpa bertanya, tanpa menyentuh rahasia yang belum siap keluar.
“Ani,” katanya setelah beberapa saat.
“Ya?”
“Kalau kamu merasa semuanya terlalu berat… kamu boleh marah,” katanya.
“Ke siapa saja. Termasuk ke Ayahmu. Termasuk ke Ibu. Termasuk ke diri sendiri. Tidak apa-apa.”
Aku menggigit bibir. “Aku tidak tahu aku marah pada siapa,” kataku pelan.
Ibu tersenyum kecil. “Itu tanda kamu belum berhenti berpikir,” katanya. “Kalau berhenti, biasanya kita buru-buru menunjuk satu orang sebagai penjahatnya.”
Aku menatapnya lama.
Ibu tidak tahu semua detail, tapi ia mengerti satu hal penting tidak semua kisah punya satu orang yang sepenuhnya bersalah. Kadang-kadang, semua orang terluka, lalu saling melukai tanpa niat.
Setelah makan, aku kembali ke kamar kerja Ayah. Bukan untuk mencari-cari lagi. Aku hanya ingin duduk di sana. Ruang itu membawa aroma hal-hal yang belum selesai, kopi dingin, lembaran kertas, tetes hujan yang kadang menempel di jendela.
Aku menyentuh meja. Mengusapnya pelan.
“Ayah,” bisikku, “aku semakin mengerti kenapa kamu lelah.”
Aku memandang map itu dari jauh. Aku tidak membuka lagi. Cukup. Untuk hari ini. Aku memutar kursi menghadap jendela.
Di luar, matahari condong sedikit. Burung-burung kecil terbang lalu hilang di balik atap rumah tetangga. Teleponku bergetar. Rian. Aku menatap namanya lama. Aku tidak takut. Aku hanya… butuh jeda sebelum kembali berjalan. Aku angkat.
“Halo,” kataku pelan.
“Halo,” jawabnya. Suara itu agak berat, seperti habis berpikir terlalu banyak.
“Kamu sibuk?” tanyanya.
“Tidak.”
“Aku boleh bilang sesuatu?” suaranya ragu.
“Kamu jarang minta izin untuk bilang sesuatu,” kataku. “Biasanya kamu langsung saja.”
“Aku takut,” katanya jujur.
Aku tersenyum tipis.
“Aku juga.”
Kami diam beberapa detik.
“Baik,” katanya akhirnya. “Aku akan bicara pelan, supaya aku tidak melukai kamu lebih cepat daripada yang seharusnya.”
Aku tertawa kecil. Kalimatnya bodoh. Tapi aku tahu ia sungguh-sungguh.
“Ani,” katanya pelan, “apa pun yang kamu temukan tentang dua puluh tahun lalu… jangan buru-buru menghubungkannya ke dirimu.”
Aku memejamkan mata.
“Terlambat,” kataku jujur.
Ia terdiam.
Aku melanjutkan, “Aku merasa sejak awal aku memang ada di tengah cerita itu. Aku hanya belum diberi halaman-halamannya.”
Aku mendengar napasnya di seberang sana.
“Hari itu,” katanya, “ketika Ayahmu menelponku… aku mendengar sesuatu di suaranya yang tidak pernah kudengar sebelumnya.”
“Apa?”
“Lelah,” katanya.
“Tapi bukan lelah karena hidup. Lelah karena menahan rahasia sendirian.”
Aku meremas ujung bajuku. Kami berdua tahu kami sedang berada di tepi sesuatu yang jika diterobos tidak bisa lagi tidak terlihat.
“Rian,” kataku.
“Ya?”
“Kalau aku tanya sesuatu, kamu jawab jujur?”
“Aku janji berusaha,” jawabnya. “Aku tidak janji tidak menyakitimu.”
Aku mengangguk kecil. “Baik,” kataku.
Aku menarik napas. “Apakah… kehadiran kamu dalam hidupku… ada hubungannya dengan masa lalu itu?”
Di seberang sana, hening. Hening yang berbeda. Hening yang terasa seperti seseorang sedang menutup mata, meraih kata-kata dengan tangan gemetar.
“Aku tidak mencarimu karena masa lalu itu,” katanya akhirnya.
“Tapi aku… ditemukan olehmu di jalur yang sudah dibuat lama sebelum kita sadar.”
Aku menunduk. “Jadi jawabannya ya,” kataku pelan.
“Jawabannya…” katanya lirih, “…tidak sesederhana ya atau tidak.”
Aku tersenyum kecil. “Kamu sadar,” kataku, “orang-orang sekelilingku sangat pandai membuat kalimat yang tidak bisa kusimpan baik-baik di kepala?”
Dia ikut tertawa kecil. Tipis.
“Aku sadar,” katanya. Kami sama-sama diam lagi.
“Rian,” kataku akhirnya.
“Ya?”
“Aku menemukan inisial di dokumen,” kataku pelan.
Aku bisa merasakan tubuhnya menegang bahkan hanya lewat suara.
“Inisial?” ulangnya.
“R… A…” kataku.
Sunyi. Sangat lama. Sampai aku bertanya-tanya apakah sambungan telepon terputus.
Rian akhirnya berkata pelan sekali, “Aku tahu inisial itu.”
Aku berhenti bernapas. Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku… tidak bisa menyebut namanya tanpa izin orang yang terlibat,” lanjutnya.
“Tapi yang bisa kukatakan, dia bukan aku.”
Aku menutup mata.
“Aku tahu,” kataku.
“Usianya saja sudah tidak mungkin.”
Ia menghela napas kecil. Mungkin lega. Mungkin justru makin cemas.
“Tapi,” kataku pelan, “orang itu… punya hubungan denganmu?”
Sunyi lagi.
“Kupikir begitu,” katanya akhirnya.
“Bukan hubungan dekat. Tapi cukup untuk membuat semua ini terasa… bukan kebetulan.”
Aku membuka mata. Aku melihat bayanganku sendiri di kaca jendela. Aku tidak menangis. Aku tidak gemetar. Aku hanya merasa seperti seseorang yang sedang berdiri di depan pintu besar, tangannya sudah menyentuh gagang, tapi belum memutarnya.
“Ani,” kata Rian pelan, “kalau kamu benar-benar ingin tahu siapa dia… tanyakan pada Sisca. Atau pada dokumen yang belum kamu buka.”
Aku menunduk.
“Aku takut,” kataku. “Takut apa?” tanyanya lembut. “Takut namanya bukan orang yang kukira,” jawabku.
Aku memutus telepon pelan. Aku tidak marah. Aku hanya tahu aku butuh menghadapi ini sendiri dulu. Aku membuka kembali map itu. Aku mengeluarkan satu lembar terakhir yang tadi kutinggalkan. Lembar paling belakang.
Separuhnya buram, tapi masih bisa dibaca. Di sudut kanan bawah, di bawah kolom, “catatan tambahan internal (tidak dibagikan ke pihak umum)” ada satu kalimat pendek: “inisial pihak laki-laki: R.A.” Aku memandang dua huruf itu lama sekali. R.A.
Aku menyentuhnya dengan ujung jariku, seolah huruf-huruf itu hidup, seolah mereka bisa menjawab jika kusentuh dengan cukup halus. Pisces dalam diriku berbisik, bisakah sesuatu terasa akrab, bahkan sebelum kamu tahu bentuknya? Aku menutup map itu. Aku menyandarkan kepala ke kursi.
Aku tahu dua hal sekaligus hari ini, Rian bukan laki-laki itu. Tapi laki-laki itu…punya inisial yang sama. Dan entah kenapa, di dasar hatiku yang paling sunyi, aku tahu, aku sudah pernah mendengar nama itu.