Bab 13: Kebenaran Tentang Bagas
Suara napas Rani tercekat begitu relawan senior itu selesai berbicara. Mereka duduk di bangku kayu dekat area istana anak-anak, tempat yang biasanya ramai oleh tawa, tapi sore itu justru terasa hening menyakitkan.
“Jadi, Bagas pulang karena ayahnya?” Rani mengulang, seolah berharap ada bagian cerita yang salah dengar.
Relawan senior bernama Pak Darto mengangguk pelan. “Iya. Dia dapat telepon dari ibunya pagi itu. Katanya kondisi ayahnya drop tiba-tiba. Bagas langsung pamit tanpa sempat pamit ke banyak orang.”
Pernyataan itu menghantam dada Rani seperti pukulan yang tepat mengenai tulang rusuk. Selama ini ia mengira Bagas pergi karena masalah produksi atau sesuatu yang ia lakukan. Ia merasa bodoh, egois dan terlalu tenggelam dalam kecemasan yang ia ciptakan sendiri.
Pak Darto menghela napas panjang. “Bagas itu anak baik, Mbak. Dia selalu mikirin orang lain dulu sebelum mikirin dirinya. Kadang sampai bikin orang lain salah paham.” Ia menatap Rani sejenak, seolah membaca kerutan-kerutan kecil yang menahan emosi di wajah Rani. “Jadi jangan dipikir aneh-aneh dulu, ya.”
“Dia nggak marah sama saya?” pertanyaan itu meluncur begitu saja. Suaranya kecil, takut dan terdengar seperti seseorang yang baru saja kehilangan pegangan.
Pak Darto tersenyum samar. “Bagas? Marah? Anak itu kalau kesel pun biasanya cuma diem lima menit, terus balik lagi kayak nggak terjadi apa-apa. Nggak ada kok, yang bilang dia marah.”
Rani menunduk. Matanya memanas. Ada rasa lega, tapi ada juga rasa perih yang merayap perlahan, perih karena menyadari betapa ia sudah salah menilai keadaan.
“Masalahnya,” lanjut Pak Darto, “kami juga nggak tahu dia tinggal di mana. Dia jarang cerita soal rumahnya. Cuma bilang rumahnya agak jauh di pinggiran kota.”
“Jadi, tidak ada satu pun yang tahu alamat Bagas?” Rani memastikan.
“Tidak ada,” jawab Pak Darto sambil menggeleng. “Anak itu memang begitu. Suka merahasiakan urusan pribadi. Katanya biar orang nggak repot mikir dirinya.”
Dengan informasi itu, dunia Rani terasa mengerut. Seolah semua jalur menuju Bagas tertutup kabut. Ia tidak bisa menghubunginya. Tidak bisa menemuinya. Tidak bisa memastikan apakah ia baik-baik saja. Tidak bisa,padahal ia ingin memastikan lebih dari apa pun.
Malam itu, Rani duduk di meja kerjanya yang berantakan. Laptop terbuka dengan layar penuh coretan revisi yang tidak ada habisnya. Sticky notes berserakan. Kamera DSLR, baterai dan kabel HDMI bercampur tak karuan seperti isi kepalanya.
Ia menatap draf revisian klien yang menyuruhnya membuat konsep receh, lucu, cepat dan viral able. Ia menatapnya lama, begitu lama hingga huruf-huruf itu terasa mengambang.
Namun, pikiran Rani tidak tersangkut pada kerjaan. Ia terus memikirkan Bagas.
Bagaimana wajahnya saat mendengar ayahnya sakit. Bagaimana paniknya. Bagaimana dia harus mengambil keputusan cepat dan bagaimana ia pergi tanpa sempat memberi kabar apa pun padanya.
Rani memijat pelipis. “Kenapa rasanya berat banget?”
Pertanyaan itu meluncur lirih, tapi jujur. Bagas bukan siapa-siapa baginya secara formal. Ia hanya relawan TMII yang membantu proyeknya. Ia hanya teman baru yang ia kenal lewat pekerjaan, tapi mengapa kehilangan kabarnya menguras hati sedalam ini?
Ia mencoba mencari fokus pada layar laptop, revisi, konsep, deadline 24 jam, tekanan kantor. Semua itu dulu terasa seperti masalah terbesar dalam hidupnya. Namun, hari ini, semuanya seolah terdorong ke sudut lain oleh rasa khawatir yang tidak ia pahami.
“Bagas, kamu sebenarnya kenapa harus pergi diam-diam begitu,” gumamnya.
Ia menutup laptop dengan gerakan lemah. Tidak ada satu pun revisi yang berubah. Tidak ada satu kalimat pun yang berhasil ia selesaikan.
Kerjaannya terhimpit. Perasaannya tersesat dan ia berada di tengah persimpangan yang membuatnya sulit bernapas.
Keesokan paginya, Rani kembali ke kantor dengan mata sembab yang ia tutupi dengan concealer. Namun, rasa lelah tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Bahkan langkahnya menuju lift terasa lebih berat dari biasanya.
“Pagi, Mbak Rani,” sapa Tania, rekan sekantor yang duduk di meja depan.
“Pagi,” jawab Rani datar.
Tania mengamatinya sejenak lalu berbisik, “Beban revisi makin kacau ya?”
Rani hanya mengangguk.
“Andai bisa resign dan buka kedai kopi aja, ya, Mbak?” Tania bercanda sambil menyodorkan cangkir kopi instan.
Biasanya Rani akan tertawa, tapi hari itu, ia justru menjawab jujur.
“Aku kepikiran resign, Tan.”
Tania terbelalak. “Hah? Serius?”
Rani mengangguk pelan. “Serius. Rasanya semua ini nggak ada arah.”
Tania menatapnya iba, tapi tidak berani bertanya lebih jauh.
Saat Rani duduk di kursinya, ia membuka email klien. Ada revisi tambahan. Judulnya 'Revisi yang Lebih Sesuai Tren Saat Ini'. Bahkan sebelum membacanya, kepala Rani sudah pening. Ia ingin melempar laptop. Ia ingin memejamkan mata dan menghilang, tapi yang lebih menusuk bukan revisi itu, melainkan fakta bahwa Bagas masih tidak bisa dihubungi.
Ia membuka ponselnya, menatap panggilan terakhir. "Call Failed" "Number Not Reachable" "Cannot Connect"
Ia menghela napas. Suara helaan itu terdengar seperti keluhan terakhir seseorang sebelum menyerah.
Di tengah hari, Rani memutuskan mencari udara segar. Ia turun ke taman kecil di belakang kantor. Ia duduk di bangku dan membiarkan angin menerpa wajahnya.
Namun, pikirannya tetap kembali pada Bagas.
Bagaimana senyumnya yang selalu muncul ketika ia menyemangati orang. Bagaimana tawa ringan yang selalu berhasil menenangkan. Bagaimana ia bermain melodi pendek dengan alat musik tradisional. Bagaimana ia bilang, "kalau kamu nggak perjuangin budaya, siapa lagi?”
Rani memeluk dirinya sendiri. Bagas bukan hanya relawan TMII. Ia bagian penting dari kenangan dalam beberapa minggu terakhir. Ia bagian dari proses yang membuat proyek ini hidup. Ia bagian dari semangat yang mendorong Rani untuk tidak menyerah, baik pada pekerjaannya maupun pada dirinya sendiri dan kini bagian itu hilang, tersapu begitu saja oleh keadaan. Tanpa jejak. Tanpa pesan. Tanpa akhir.
Sore harinya, Rani kembali ke ruang produksi. Ia mencoba memaksa dirinya bekerja. Ia membuka timeline video, menata footage, memainkan ulang adegan-adegan TMII.
Lalu sesuatu membuat napasnya tertahan.
Di folder rekaman, ada satu file yang belum pernah ia lihat. Timestampnya menunjuk hari terakhir ia bertemu Bagas dengan jari gemetar, Rani membuka file itu.
Di layar, muncul wajah Bagas. Ia merekam dirinya sendiri, mungkin tanpa sadar atau saat sedang mencoba kamera. Ia tersenyum ke arah lensa, lalu berkata, " tes, tes, eh, ini ngerekam beneran ya?”
Rani menahan tawa kecil. Suaranya menggetarkan dada Rani.
Kemudian Bagas menatap lensa lebih serius. “Kalau Rani yang lihat ini, berarti kamu lagi edit video ya, atau lagi mumet.” Ia tersenyum lembut. “Semangat ya. Kamu lebih hebat daripada yang kamu pikir.”
Rani menutup mulutnya, terisak. Suara Bagas terasa seperti seseorang yang memeluknya dari jauh.
Video itu hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat Rani menunduk dan menangis. Tidak seperti sebelumnya, bukan tangis putus asa, melainkan tangis lega bercampur rindu.
Ia menyeka air mata dengan punggung tangan. Sambil menarik napas panjang, ia berbisik, “Bagas, kamu harus balik. Aku, aku masih butuh kamu. Bahkan lebih dari yang kupikir.”
Di saat itulah, untuk pertama kalinya, Rani menyadari. Bukan hanya kreativitasnya yang bergantung pada Bagas. Bukan hanya proyek yang hidup karena kehadirannya.Hatinya pun mulai bergerak ke arah yang ia sendiri belum berani definisikan.
Bagas bukan sekadar relawan. Bukan sekadar teman. Bukan sekadar inspirasi.
Bagas adalah seseorang yang membuat TMII terasa seperti rumah dan kini Rani hanya bisa menunggu sambil berharap keajaiban kecil akan mempertemukan mereka lagi.