bold text
Rani menatap layar laptopnya yang penuh marker revisi berwarna merah. Tangannya dingin, tapi bukan karena ruangan kantor yang terlalu ber-AC. Ada tekanan tak terlihat yang menghimpitnya dari segala sisi, tekanan dari kantor, dari deadline, dari klien dan dari dirinya sendiri. Ditambah dari kehilangannya terhadap Bagas.
Ia menunduk, hati seolah ditarik ke dua arah yang mustahil. Di satu sisi, ia harus menyelesaikan proyek ini. Di sisi lain, ia masih tidak tahu apa kabar Bagas, di mana dia berada, atau bagaimana kondisi ayahnya. Panggilan telepon tetap tidak bisa tersambung. Pesan hanya centang satu. Semuanya seolah menjadi tembok tinggi yang tidak bisa ia panjat.
Namun, belum sempat ia menenangkan diri, pintu ruang meeting dibuka dengan suara terlalu keras.
“Rani, meeting sekarang,” suara produser, Bu Mira, memanggilnya tanpa senyum.
Rani mengangguk pelan dan membawa laptopnya masuk. Meja meeting sudah penuh dengan para tim kreatif lain. Beberapa menoleh padanya dengan ekspresi simpati tipis, sebagian lagi sibuk menatap tablet masing-masing. Atasannya di PT Aruna Creativa, Pak Dimas, duduk di ujung meja sambil mengetuk-ngetuk meja memakai pulpen.
Rani mengambil tempat duduk.
“Baik,” kata Pak Dimas akhirnya, “kita bahas revisi besar untuk proyek TMII. Klien sudah setuju dengan konsep yang lebih fun.”
Rani mengangkat wajah.
Bu Mira menyodorkan kertas print-out ke arah Rani. “Ini konten yang mereka inginkan. Konten lucu seperti ini.”
Rani membaca cepat. Alisnya naik setengah.
“Konten lucu? Komedi situasi? Ada adegan host dikejar angsa di Danau Arsipel?” Rani membaca dengan suara pelan, tapi jelas.
Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil beberapa tim yang lebih karena canggung daripada benar-benar lucu.
Bu Mira, tanpa rasa canggung, menambahkan dengan santai, “Tolong kamu siapkan lagi dengan betul-betul, juga adegan kamu pura-pura terjerat layangan di anjungan Betawi. Biar natural, syutingnya live aja nanti.”
Rani menatapnya tak percaya. “Bu, Pak, ini proyek edukasi budaya. Kita sudah mulai dengan konsep sejarah, narasi puitis dan visual heritage. Mengubah semuanya jadi komedi receh itu.”
"Bukankah kita sudah sepakat untuk menambahkan edukasi di dalamnya?" Tambah Rani.
Pak Dimas mengangkat tangan, memotong. “Rani. Yang kita kejar itu viralitas. Awareness. Kamu tahu itu.”
“Tapi caranya.”
“Rani.” Nada suaranya lebih tajam kali ini. “Kamu kreatif, kami tahu, tapi kamu juga harus fleksibel.”
Kata fleksibel terasa seperti pisau kecil. Rani mengepalkan tangannya di pangkuan.
“Dengan hormat,” Rani berusaha menjaga suaranya tetap stabil, “saya menolak mengubah seluruh footage budaya menjadi komedi. Apa gunanya kita ambil footage rumah adat, penari daerah, alat musik tradisional, kalau akhirnya saya malah harus, maaf berlari dikejar angsa?”
Bu Mira mengangkat bahu. “Itu lucu, Rani dan lucu itu laku. Kamu harus lihat tren.”
“Ini bukan sekadar tren,” Rani membalas dengan napas yang mulai terburu. “Ini sejarah. Ini budaya. TMII mempercayai kita bukan untuk merusaknya.”
Ruangan mendadak hening tegang.
Tania yang duduk di seberang meja, menatap Rani dengan mata khawatir, seolah berkata hati-hati, Ran.
Rani tahu ia harus meredam emosinya, tapi ia sudah terlalu lelah untuk menahan semuanya sendirian. Terlalu lelah melawan keinginan kantor. Terlalu lelah menanggung revisi tanpa henti dan terlalu lelah menahan kekhawatiran tentang Bagas.
Pak Dimas akhirnya berbicara lagi. “Begini. Kalau kamu nggak bisa fleksibel, mungkin ada kreatif lain yang bisa ambil alih.”
Ucapan itu menghantam dada Rani lebih kuat daripada yang ia duga. Ancaman halus atau bahkan mungkin bukan halus lagi.
Bu Mira menambahkan, “Tidak ada yang tidak tergantikan, Ran. Kamu memang memulai proyek ini, tapi kalau kamu keras kepala, saya minta Dion ambil alih.”
Dion, yang duduk di ujung meja, terlonjak kaget. “Bu, saya nggak, saya kira saya cuma bantu editing.”
“Kalau dibutuhkan, kamu bisa kan?” tanya Bu Mira sambil meliriknya tajam.
Rani merasakan jantungnya jatuh.
Dia tahu kantor tidak main-main. Ia tahu mereka bisa menggantinya kapan pun. Ia tahu posisinya sedang digoyang dan bukan hanya karena revisian, tapi karena sikapnya sendiri yang dianggap terlalu kaku, tapi ia tidak bisa menyerah begitu saja.
“Kalau boleh saya bicara sekali lagi,” Rani berkata perlahan, “proyek ini sudah punya ruh. TMII itu bukan sekadar tempat wisata. Visualnya bukan sekadar ornamen. Mereka punya cerita. Mereka punya jiwa dan footage yang kita ambil, semua itu tidak bisa diganti hanya demi lucu-lucuan.”
Pak Dimas menatapnya lama. “Rani, kamu bicara seolah kamu saja yang peduli budaya.”
“Saya bicara karena saya peduli,” Rani membalas tegas dan itu adalah kalimat pertama yang keluar tanpa ia saring. Kalimat yang lahir dari frustasi, cinta dan mungkin, sesuatu yang lebih dalam, yang beberapa minggu terakhir ia rasakan sejak mengenal Bagas.
“Kamu pikir klien peduli?” Bu Mira menambahkan. “Yang mereka mau itu angka. Angka engagement, angka view.”
“Apa budaya bisa bertahan kalau kita terus mengorbankannya demi angka?” Rani menantang balik.
Ruangan membeku dan kali ini diamnya bukan tanda semua sepakat dengan Rani, tapi tanda bahwa ia sudah melangkah terlalu jauh.
Meeting berakhir dengan ketegangan pekat. Rani berjalan keluar ruangan dengan napas guncang. Ia kembali ke meja kerjanya, tapi tidak bisa duduk. Ia takut kalau ia duduk, ia akan menangis di depan semua orang.
Ia lalu menuju pantry, mencoba menenangkan diri.
Tania menyusul beberapa menit kemudian. “Ran,” katanya pelan.
Rani menutup wajahnya. “Aku capek, Tan, capek banget.”
Tania menepuk bahunya pelan. “Aku tahu. Kamu sudah kerja paling keras, tapi mereka ya, kamu tahu sendiri. Mereka cuma lihat angka.”
“Aku cuma, aku cuma nggak mau ngerusak konsepnya. Aku udah janji sama diri sendiri sama Bagas kalau proyek ini harus punya makna.”
Tania mengernyit. “Bagas? Relawan itu?”
Rani tersentak kecil. “Eh, iya. Maksudku ya, dia juga bantu banyak.”
Tania mendesah berat, “tapi dia nggak bisa kamu hubungi, kan?”
Rani menggeleng. “Nggak. Masih off. Semua off.”
“Ran!” Tania menatapnya penuh rasa iba. “Kalau kamu stres begini terus, kamu yang jatuh.”
Rani menunduk. Andai Tania tahu bahwa stresnya bukan hanya soal pekerjaan. Ada kekhawatiran lain yang menggerogoti dadanya. Kekhawatiran tentang seseorang yang bahkan bukan bagian resmi dari hidupnya, tapi kehilangannya terasa seperti kehilangan warna.
Sore menjelang malam, Rani memutuskan pergi lebih awal dari kantor. Ia bahkan tidak sanggup melihat layar laptopnya. Di halte depan kantor, ia berdiri sambil menatap langit yang memerah.
Angin sore menerpa rambutnya, tapi tidak menenangkan. Yang ada justru semakin kuat rasa ingin menemukan Bagas.
Ia membuka ponsel lagiuntuk kesekian kalinya. Memanggil nomor Bagas. Menunggu nada sambung.
Tidak ada.
Hening. Hanya suara telepon yang tidak bisa tersambung.
Rani menutup mata. Tubuhnya gemetar antara marah, sedih dan frustrasi pada keadaan.
“Bagas, kamu ada di mana. Aku harus gimana kalau kamu tiba-tiba hilang begini.”
Namun, angin sore tidak memberi jawaban.
Malam itu, di kamar apartemennya yang remang-remang, Rani duduk di lantai dengan laptop terbuka. Ia menatap file revisi dengan enggan. Semua instruksi lucu-lucuan itu terasa seperti penghinaan pada kerja kerasnya dan penghinaan pada budaya itu sendiri.
Ia harus membuat keputusan besar. Mengikuti perintah kantor dan mengorbankan integritas atau mempertahankan konsepnya dengan risiko kehilangan pekerjaan dan di tengah dilema itu, satu perasaan muncul begitu kuat, ia ingin Bagas ada di sini. Setidaknya untuk bicara. Untuk sekadar menenangkan. Untuk mengucapkan satu kalimat yang sebelumnya membuat Rani bertahan.
“Kalau kamu nggak perjuangin budaya, siapa lagi?”
Kini kalimat itu menempel di dinding hatinya. Menguatkan namun sekaligus menambah rindu dan kehilangan.
Rani meremas rambutnya sendiri. “Bagas, aku butuh kamu sekarang, bahkan mungkin lebih dari yang aku harusnya rasakan," tapi Bagas tetap tidak ada. Tidak ada kabar. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda kapan ia akan kembali dan Rani harus bertahan sendirian.
Menghadapi kantor yang makin menekan. Menghadapi revisi yang mengikatnya. Menghadapi perasaannya sendiri yang mulai tumbuh, liar dan tak terduga.
Di malam yang sunyi itu, Rani berjanji pada dirinya. Jika suatu hari Bagas kembali, kapan pun itu, ia ingin mengatakan semuanya. Semua kekhawatiran. Semua rindu. Semua perasaan yang perlahan tumbuh tanpa ia sadari.
Namun, untuk sekarang ia hanya bisa berjuang sendiri dan semoga, di tempat entah di mana Bagas berada, lelaki itu tahu bahwa ada seseorang yang menunggunya diam-diam, tapi sungguh-sungguh.