Drama

Telepon Tak Terangkat

08 January 2026

bold text

Malam itu, langit Jakarta mendung, seakan ikut menahan air mata yang ingin jatuh. Di kamar apartemennya yang sunyi, Rani duduk sendirian di tepi tempat tidur, ponsel menggantung di tangan. Lampu meja kecil menyala lembut, menciptakan bayangan samar di dinding. Keheningan terasa terlalu tebal, terlalu pekat untuk ditembus.

Rani membuka kontak Bagas lagi, untuk kesekian kalinya. Ibu jarinya ragu sejenak di atas ikon telepon, tetapi akhirnya ia tekan juga.

Nada sambung terdengar. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Rani memejamkan mata, menggenggam ponselnya lebih erat.

“Angkat tolong, Bagas angkat.”

Namun, nada sambung itu akhirnya terputus dengan suara sistem yang sama dan menusuk.

“Nomor yang Anda hubungi sedang tidak dapat dihubungi.”

Rani terdiam. Ponsel masih menempel di telinganya, meski suara mekanis itu sudah tak lagi berbunyi. Ia menurunkan tangannya perlahan, lalu menghela napas panjang yang bergetar.

Kosong. Itu yang ia rasakan.

Kosong seperti ruangan di sekitarnya, kosong seperti kursi di sampingnya yang beberapa minggu lalu terasa seperti tempat yang seharusnya diisi kehadiran Bagas.

“Sampai kapan,” Rani berbisik nyaris tanpa suara, “sampai kapan aku harus nggak tahu apa-apa tentang kamu?”

Ia memejamkan mata, wajahnya tertunduk. Ada nyeri halus yang merayap dari dada ke tenggorokan, lalu ke mata. Namun Rani menahannya. Ia sudah terlalu sering menangis belakangan ini. Terlalu lelah untuk kembali larut dalam perasaan yang ia sendiri masih bingung memahaminya.

Ia ingin sekadar bilang pada Bagas: “Aku di sini. Aku bisa dengar ceritamu. Aku bisa dukung kamu,” tapi telepon tak pernah terangkat.


Keesokan paginya, di kantor, suasananya tidak lebih baik. Deadline semakin menumpuk seperti tumpukan batu di atas bahu. Revisi konsep mengalir tiada henti. Rani baru tiba, dan bahkan sebelum ia sempat menyalakan komputer, Pak Dimas sudah berdiri di samping mejanya.

“Rani.” Suaranya tajam. “Revisi yang saya kirim semalam sudah kamu kerjakan, kan?”

Rani menelan ludah. “Saya, saya baru mulai, Pak, tapi.”

“Tapi apa?” Pak Dimas menyela. “Kamu tahu project manager sudah minta versi final besok kan? Kamu jangan lamban.”

Rani merasakan tengkuknya panas. “Saya nggak lamban, Pak. Hanya revisinya berubah terus, jadi saya harus menyesuaikan dari awal.”

“Kamu kreatif,” kata Pak Dimas sambil mengangkat alis. “Harusnya cepat adaptasi.”

Adaptasi. Fleksibel. Viral. Lucu-lucuan.

Kata-kata itu memukul Rani lebih keras dari yang terlihat.

“Baik, Pak,” jawab Rani akhirnya, suaranya pelan, tapi jelas kelelahan.

Pak Dimas pergi tanpa bicara lagi.

Rani turun duduk, menatap layar komputer yang kini telah menyala. Ia membuka folder revisi dan kepalanya langsung berdenyut. Semua konsep puitis yang ia tulis tentang sejarah, tentang bagaimana budaya bertahan di tengah arus zaman telah diganti menjadi poin-poin receh yang bahkan tidak bisa ia pahami tujuannya.

Ia menarik napas panjang dan memegang kepalanya.

Tania datang membawa dua gelas kopi. “Ran, ini buat kamu.”

Rani tersenyum lemah. “Makasih, Tan.”

Tania duduk di tepi mejanya sambil menatap layar Rani. “Ini revisi terbaru? Gila sih, ini bener-bener ngerusak konsep awal.”

“Iya,” suara Rani berat. “Dan aku harus beresin sebelum malam.”

Tania mengusap punggung Rani. “Kamu kuat, Ran. Serius.”

“Kuat-kuatnya orang tetap bisa capek juga, Tan,” Rani berbisik.

Tania tidak membantah.

“Kamu mau aku bantu cari humor yang lebih halus?” tawar Tania.

Rani menggeleng. “Nggak usah. Kamu juga banyak kerjaan.”

Tania mendecak. “Kerjaan memang banyak, tapi itu bukan alasan buat ninggalin teman yang hampir roboh.”

Rani menatapnya. Kelembutan dalam suara Tania membuat hatinya sedikit lebih hangat. Setidaknya masih ada yang peduli.

“Tapi serius, Ran,” lanjut Tania, “kamu kelihatan makin pucat. Kamu tidur semalam?”

Rani menghela napas. “Nggak terlalu.”

“Kamu mikirin Bagas lagi?” Pertanyaan itu menusuk tepat di titik yang ia coba sembunyikan.

Rani menunduk. “Iya. Aku coba telpon, tapi masih nggak aktif.”

Tania menghela napas bersamaan dengan Rani. “Semoga ayahnya baik-baik aja.”

“Aamiin,” bisik Rani.

“Aku tahu kamu khawatir banget sama dia.”

Rani menegakkan tubuhnya, mencoba tersenyum. “Cuma ya, teman sesama pekerja proyek, Tan.”

Tania menaikkan sebelah alis. “Iya, tentu. Teman. Capek deh definisinya.”

Rani memukul lengan Tania pelan, tapi tidak bisa menyembunyikan rona merah muda yang muncul di pipinya.


Sepanjang hari, Rani mencoba fokus bekerja. Namun, pikirannya berulang kali melayang ke Bagas. Setiap kali ia ingin memberi sentuhan budaya pada script baru, ia teringat Bagas berkata. “Kalau kamu nggak perjuangin budaya, siapa lagi?”

Rani mengedipkan mata cepat, menahan emosi.

Semakin ia mencoba menulis sesuatu yang ringan dan receh, semakin kuat kepalanya berdenyut. Konsep lucu itu terasa salah. Terasa asing. Terasa mematahkan bagian dirinya yang mencintai proyek ini sejak awal.

Tanpa Bagas yang biasanya hadir sebagai suara penyeimbang, sebagai tawa yang meredakan, sebagai seseorang yang membuat TMII terasa hidup, semuanya mendadak kacau.

Ia menatap layar yang kosong. Kursor berkedip-kedip seperti mengejeknya.

“Aku nggak bisa!” Rani berbisik pada dirinya sendiri.

Namun, ia harus bisa. Ia harus melawan waktu, melawan tekanan kantor, melawan kecemasan yang semakin menggulung.

Ia kembali mencoba menelepon Bagas.

Nada sambung bahkan tidak muncul kali ini. Hanya langsung pesan. “Nomor tidak dapat dihubungi.”

Rani menutup wajah dengan kedua tangan.

Perasaan kosong itu kembali lebih berat, lebih gelap, lebih menyelimuti.


Sore hari, kantor mulai sepi. Banyak yang pulang, sebagian lembur. Rani masih duduk di mejanya, mengetik dan menghapus berulang-ulang. Tania sudah pamit satu jam lalu, tetapi sempat menitipkan camilan.

Rani memakannya satu pun tidak.

Ia ingin menyerah. Ingin berhenti. Ingin meletakkan semuanya dan pergi, tapi gambaran Bagas saat memainkan melodi kecil dengan alat musik tradisional itu kembali terlintas di benaknya. Melodi yang membuat hatinya bergerak pelan, melodi yang menjadi titik awal 'Melodi Cinta Keong Mas'.

Ia menahan napas. Melodi itu seperti suara lembut dari Bagas yang berkata. “Jangan berhenti, Ran.”

Namun, telepon yang tidak terangkat tetap menjadi luka kecil yang setiap menit bertambah perih.

“Bagas.” Rani berbisik. “Kamu di mana sih, kalau kamu dengar aku, aku cuma mau bilang, aku peduli.”

Namun, tidak ada yang menjawab.


Saat malam tiba dan kantor hampir gelap, Rani akhirnya memaksa dirinya menutup laptop. Ia tidak berhasil menyelesaikan revisi. Tidak berhasil menyentuh konsep baru. Tidak berhasil menenangkan dirinya sendiri.

Yang ia dapat hanya rasa kehilangan yang lebih mengikat.

Malam itu di halte bus menuju rumahnya, Rani duduk sambil memandangi ponsel. Jam sudah hampir pukul sembilan.

Ia mencoba menghubungi Bagas, sekali lagi dan lagi-lagi. Tidak ada nada sambung. Tidak ada jawaban. Tidak ada harapan kecil yang bisa ia genggam.

Rani menunduk. Bulir air mata jatuh perlahan ke punggung tangannya. Ia menyeka cepat, tapi sesengguk kecil terlanjur lolos dari bibirnya.

“Aku capek, aku takut, aku bingung,” ia berkata lirih pada dirinya,dan di bawah lampu halte yang temaram, Rani merasa dirinya benar-benar sendirian.

Namun, satu hal ia tahu, jika Bagas kembali suatu hari nanti, ia ingin menjadi orang pertama yang mendengarkan ceritanya. Untuk saat ini, ia hanya bisa berdoa agar laki-laki itu baik-baik saja dan agar dirinya cukup kuat untuk bertahan sampai tiba waktunya kebenaran kembali menemukan jalan.