Drama

Tekad Baru

08 January 2026

bold text

Rani menatap layar laptopnya yang sudah menyala sejak pagi buta. Matahari belum sepenuhnya terbit, tapi matanya yang sembap sudah lebih dulu membuka hari. Kopi di mugnya yang sudah dingin entah dari kapan, ia biarkan. Aroma pahitnya masih menempel, tapi pikirannya sedang tidak mencari rasa, melainkan keberanian.

Keberanian untuk akhirnya melakukan hal yang selama ini ia tunda.

“Kalau aku terus ikuti maunya kantor, apa aku masih bisa tidur nyenyak?” gumamnya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh dengung AC yang bekerja setengah hati.

Jawabannya jelas, tidak.

Beberapa hari terakhir hidupnya seperti jerat yang makin lama makin dikencangkan. Tumpukan revisi, tekanan kantor, kehilangan kontak dengan Bagas dan ketidakmampuan dirinya sendiri untuk menyuarakan apa yang sebenarnya ia inginkan. Semuanya membuat dadanya serasa berat, seakan membusung tapi kosong pada waktu yang bersamaan.

Namun, pagi ini berbeda. Ada sesuatu yang bangkit, pelan, tapi tegas. Sebuah tekad baru.

Rani menarik napas panjang, membuka folder proyek videonya, dan menghapus seluruh timeline yang kemarin dibuat berdasarkan permintaan kantor. Ia menatap garis-garis kosong itu, merasa seperti melihat lembar putih paling menakutkan sekaligus paling membebaskan di dunia.

“Halo lembar baru,” bisiknya.

Ia merenggangkan jari, memulai dari awal.

Pertama, ia menulis ulang naskah. Tidak lagi mengikuti gaya receh, bukan lagi naskah yang memaksa candaan cringe atau joget sembarangan. Ia menulis dari hati. Dari memori masa kecil, dari jejak-jejak kenangan yang dibangkitkan Bagas, dari suara gamelan yang pernah ia dengar saat menunggu ibunya di sanggar tari.

Naskah itu lahir perlahan, seperti aliran sungai kecil yang menemukan rutenya sendiri di antara bebatuan.

"Indonesia bukan hanya tempat. Ia adalah denyut, napas dan lagu yang tidak pernah padam. Budaya adalah cara kita mengingat siapa diri kita dan setiap generasi punya tanggung jawab menjaga nyala itu."

Rani berhenti sejenak, merasakan napasnya sendiri bergetar. Kata-kata itu sederhana, tapi ia menulisnya dengan penuh perasaan.

Bagas tiba-tiba terlintas.

Cara Bagas bermain melodi pendek itu. Cara ia tersenyum sambil menahan tawa. Cara ia bicara tentang budaya seolah sedang bicara tentang sesuatu yang suci, sesuatu yang tidak boleh dibiarkan punah.

“Bagas, kamu pasti suka yang ini,” gumam Rani sambil mengusap mata yang mendadak panas.

Ia kembali mengetik.

Setelah naskah selesai, ia mulai menyusun footage.

Ia mengambil semua klip budaya yang sebelumnya disisihkan kantor, footage para penari yang berputar perlahan, anak-anak yang mencoba gamelan untuk pertama kalinya, pantulan matahari di permukaan Danau Arsipel, dan tentu saja rekaman Bagas memainkan melodi itu.

Rekaman itu pendek, hanya sekitar sepuluh detik. Bagas tidak sadar sedang direkam. Ia duduk santai di bawah cahaya senja, jari-jarinya menyentuh alat musik tradisional itu dengan penuh kelembutan. Wajahnya memancarkan ketenangan dan harapan.

Rekaman itu kini jadi jantung dari narasi baru.

Rani menarik klip itu ke timeline, memasukkannya tepat sebelum narasi berubah menjadi lebih mendalam.

Ia memutarnya dan untuk pertama kalinya sejak Bagas menghilang, Rani merasa seakan laki-laki itu masih ada di dekatnya, menemani, mendukung, meski hanya lewat layar.

Ia menahan tangis, memaksa dirinya tetap fokus.


Jam berganti tanpa ia sadari.

Kopi dingin berganti teh panas, lalu teh itu kembali dingin. Rani tidak keluar kamar. Tidak makan selain sekotak roti yang entah sejak kapan ia beli. Laptopnya hampir overheating, tapi ia terus bekerja. Setiap elemen visual, suara dan ritme ia bangun ulang dengan hati-hati.

Ini bukan sekadar revisi video.

Ini pernyataannya.

Ini identitasnya.

Ini jawaban dari semua keraguannya selama berminggu-minggu.


Ketika matahari siang mulai menyelinap lewat gorden, Rani akhirnya berhenti. Bukan karena lelah, tapi karena ia harus memutar seluruh video itu dari awal untuk melihat hasil akhirnya.

Ia menekan tombol play.

Narasi lembut mengalir. Visual budaya bergerak penuh emosi. Musik tradisional mengiringi tanpa mendominasi. Transisi halus. Ritme puitis dan momen Bagas begitu hangat, begitu jujur.

Ketika video berakhir, Rani terdiam lama.

Dadanya terasa penuh, matanya kembali panas.

“Ini yang aku pengenin,” bisiknya. “Ini videoku.”

Ia menatap timeline yang kini rapi dan bersinar seperti kubik-kubik warna yang merayakan dirinya.


Beberapa jam kemudian, saat hari mulai gelap, teman-teman kantor yang mengetahui tekanan yang ia terima mengiriminya pesan semangat.

“Lo bisa, Ran. Mau bantu apa?”

“Kalau mau venting, telpon gue. Sini.”

“Jangan nyerah. Lo kreatif banget, sumpah.”

Rani tersenyum kecil. Sementara mereka tidak bisa banyak bantu secara teknis karena kerjaan masing-masing menumpuk, kalimat-kalimat itu tetap jadi pegangan baginya. Ia tidak merasa sendirian.

Ia menatap layar ponselnya, jempolnya berhenti di satu nama yang sudah berhari-hari tidak aktif. Bagas.

Ingin rasanya mengirim pesan panjang, curhat, meminta sedikit saja dukungan darinya yang selalu membuatnya kuat. Namun, mengirim pesan ke nomor yang sudah mati rasanya seperti berbicara pada tembok.

Tetap saja ia mencoba menelpon.

Nada tunggu. Kemudian mati seperti biasa.

Rani memejamkan mata.

"Bagas, aku harap ayahmu baik-baik saja."

"Aku harap kamu baik-baik saja." Hatinya mencubit pelan.

Andai saja ia tahu di mana Bagas tinggal, ia pasti sudah datang dengan membawa makanan, menguatkan atau sekadar mendengarkan, tapi ia hanya bisa berharap.

Rani kembali ke laptop.

Ia menambahkan credit kecil di bagian akhir video, tanpa nama, tanpa label khusus, hanya satu kalimat kecil yang hanya dirinya dan mungkin Bagas yang akan mengerti. "Terima kasih untuk seseorang yang mengingatkanku apa arti pulang."

Ia membaca kalimat itu berkali-kali, lalu menutup mata dengan napas yang dalam.

Hatinya sakit, tapi tekadnya kokoh.


Malam semakin larut.

Rani mengexport videonya dalam kualitas terbaik. Proses itu memakan waktu lama, tapi ia menunggu tanpa bergerak. Begitu selesai, ia mengunggah file itu ke folder kantor dan mengirimkan email ke atasannya.

Singkat. Tegas.

Subjek bertuliskan 'Revisi Final Versi Saya'. Dengan isi, "ini versi final dari saya. Budaya adalah inti dari proyek ini, dan saya memilih mempertahankannya. Saya siap berdiskusi, tapi tidak akan membuat versi lucu seperti permintaan sebelumnya."

Ia membaca ulang sekali lagi. Dengan satu tarikan napas yang panjang, ia tekan tombol Kirim.

Email meluncur dan seketika beban besar di pundaknya seolah runtuh.

Ia merasa takut. Ia merasa lega. Ia merasa hidup.

Rani merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit.

Dunia mungkin akan kacau besok. Kantor mungkin akan marah. Posisi kerjanya mungkin terancam dan Bagas, entah kapan bisa ia temui lagi, tapi malam ini, ia tahu satu hal. Ia akhirnya memilih menjadi dirinya sendiri.

Mata Rani perlahan terpejam, sementara senyum kecil muncul di bibirnya.

Dalam gelap kamar, ia berbisik pelan. "Semoga kamu lihat ini, Bagas. Semoga kamu bangga.”

Lalu ia tertidur untuk pertama kalinya tanpa sesak, tanpa gelisah dan tanpa rasa hilang arah.

Tekadnya sudah bulat dan besok, apa pun yang terjadi ia siap.