bold text
Beberapa hari sebelum Festival Keong Mas digelar, Taman Mini Indonesia Indah berubah menjadi semesta kecil yang penuh hiruk-pikuk. Dari pintu gerbang hingga ujung danau Arsipel, semua orang bergerak cepat seperti semut-semut yang tahu persis apa yang harus dikerjakan.
Rani berdiri di tengah-tengah keramaian itu, memegang clip board yang bahkan tidak pernah ia gunakan. Bukan karena ia tidak tahu cara membaca tugas, tapi karena pikirannya terlalu sesak oleh hal lain.
Bagas. Bagas yang masih belum muncul. Bagas yang nomor teleponnya masih tidak aktif. Bagas yang keberadaannya seperti disedot angin.
Ia menatap Anjungan Jawa Tengah dari kejauhan, tempat favorit almarhum ayahnya dulu membawanya menonton pentas rakyat. Tempat yang sama terasa aneh, tempat itu sering jadi spot Bagas saat ia butuh tenang, tapi hari ini, tempat itu kosong. Lagi. Seperti dua hari terakhir dan dua hari sebelumnya. Seperti beberapa minggu yang rasanya panjang sekali.
Rani menarik napas panjang. Ia mencoba tersenyum meski hujan kecil menggenang di matanya.
“Ayo, Ran! Sini bantu angkat dekor lampionnya!” panggil salah satu relawan, Tio, yang sudah keempat kalinya bolak-balik mengangkat kotak.
“Oh! Iya, iya!” Rani buru-buru menghampiri.
Ia meraih kotak besar berisi lampion warna emas yang akan digantung di sekitar Plaza Keong Mas. Kotaknya lebih berat dari yang ia kira atau mungkin ia hanya terlalu capek.
“Ini taruh di belakang panggung, ya,” ujar Tio.
Rani mengangguk, lalu mengangkat kotak itu sambil berjalan pelan. Tiap langkahnya terasa berat, tapi bukan karena kotaknya. Lebih karena kepalanya terus berputar, memikirkan hal yang sama sekali tak bisa ia kendalikan.
'Bagas kamu di mana sih?' Pikir Rani.
Festival Keong Mas tahun ini jauh lebih besar dari biasanya. TMII berkolaborasi dengan tiga komunitas budaya, dua label musik tradisional dan belasan UMKM yang menjual produk seni. Bahkan panggungnya saja dua kali lipat lebih tinggi dari tahun sebelumnya.
Suara drill, palu dan orang-orang berteriak memberi instruksi bercampur jadi satu. Relawan mondar-mandir membawa properti. Beberapa kru produksi menggulung kabel. Penari-penari mengecek ukuran panggung. Anak-anak sanggar menari kecil sebagai pemanasan.
Semua orang sibuk. Semua orang hadir, kecuali satu.
Rani mengedarkan pandangannya lagi untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. Mungkin Bagas muncul tiba-tiba. Mungkin ia hanya telat. Mungkin ia muncul dengan senyum malu-malu sambil bilang, “Maaf ya, ada urusan keluarga.” Namun, tidak ada siapa pun yang mirip Bagas.
Tidak ada sosok berjaket denim lusuh. Tidak ada rambut yang agak berantakan. Tidak ada mata yang selalu tampak sabar dan teduh.
Yang ada hanya langit biru dan terik matahari.
Setelah menaruh kotak lampion, Rani ikut membantu tim dekor yang sedang kewalahan. Ia memotong pita, menempelkan ornamen, menyortir kain batik yang akan dipasang di lorong-lorong menuju Plaza Keong Mas.
“Awas lemnya, Ran! Itu kuat banget. Kena kulit bisa sakit!” ujar relawan lain.
Rani mengangguk tanpa mendengarkan. Tangannya bergerak otomatis, seperti robot. Setiap pekerjaan ia lakukan dengan baik. Namun, hatinya terasa kosong, seperti sedang bekerja di dalam kabut.
Sesekali ia berhenti hanya untuk menatap keramaian dan berharap ada suara yang ia kenal. Namun, suara itu tidak muncul.
Siang berganti sore. Matahari mulai melunak dan menjatuhkan cahaya keemasan di seluruh area TMII. Relawan semakin banyak berdatangan. Vendor panggung mulai datang membawa peralatan tambahan.
Rani sempat duduk di dekat Danau Arsipel, berharap angin sore bisa meredakan pikirannya.
Ia membuka ponsel. Tidak ada kabar baru dari kantor, syukurlah. Tidak ada balasan dari Bagas, tentu saja. Tidak ada pesan baru dari siapa pun.
Ia menahan napas.
“Kenapa aku segininya, ya?” tanyanya pada dirinya sendiri. “Kenapa aku takut Bagas nggak balik?”
Ia tahu jawaban itu. Ia tidak ingin mengatakannya keras-keras, tapi ia tahu.
Bagas mengubah banyak hal. Bagas membuatnya berani. Bagas membuatnya ingat siapa dirinya. Bagas membuatnya ingin membuat karya yang jujur dan Bagas membuatnya jatuh pada sesuatu yang ia tidak tahu namanya. Ketika seseorang yang begitu berpengaruh itu tiba-tiba menghilang, rasa takutnya jadi berlipat ganda.
“Jangan bilang aku suka dia,” gumamnya lirih, tapi kenyataan tidak peduli apakah seseorang siap mengakui atau tidak. Perasaan tetap tumbuh, tetap muncul, tetap minta perhatian.
“Ran! Sini, bantu pasang kain ini!” teriak seorang koordinator relawan.
Rani segera bangkit. Ia menghapus sisa emosi dari wajahnya dan kembali bekerja. Sore itu, ia membantu memasang kain batik raksasa sepanjang tujuh meter yang menjadi latar pintu masuk area festival.
Saat memasang kain itu, Rani secara refleks membayangkan Bagas berdiri di sampingnya, seperti dulu ketika mereka menyiapkan latihan untuk anak-anak sanggar.
Biasanya Bagas akan bercanda, “Awas kainnya kebalik, nanti motifnya kayak senyum miring.” Atau, “Kalau mau rapi, jangan cepat-cepat. Pelan, tapi pasti.” Atau sesederhana, “Minum dulu, Ran.”
Dan tiba-tiba, ruang kosong di sampingnya terasa begitu jelas. Begitu sepi. Begitu menyakitkan.
Menjelang malam, banyak relawan keluar untuk makan. Namun, Rani tetap tinggal, memastikan semua dekor sudah rapi. Ia memeriksa ulang lampion-lampion dan memotret beberapa sudut dengan ponselnya sebagai dokumentasi untuk video.
“Hasilnya bagus,” gumamnya sendiri, tapi hatinya tetap berat.
Saat ia hendak menutup aplikasi kamera, pandangannya tiba-tiba terpaku pada satu foto, sebuah foto rekaman melodi Bagas. Tangan Rani bergetar pelan saat membuka potret itu.
Ada Bagas di bawah senja, memainkan melodi sederhana sambil tersenyum tipis.
“Baliklah,” bisik Rani. “Festival ini nggak sama tanpa kamu ada, Gas.”
Angin malam berembus, menggelitik rambutnya, tapi tidak ada jawaban selain suara serangga.
Ketika Rani hendak pulang, ia melewati area belakang Anjungan Jawa Timur. Sekilas, ia melihat seseorang duduk sendirian di bawah pohon.
Degup jantungnya melonjak tinggi. Rani mencoba memastikan sosok tersebut.
“Bagas?” panggilnya setengah berbisik.
Orang itu menoleh. Namun, bukan Bagas, melainkan relawan lain yang sedang istirahat sambil memainkan ponsel.
“Oh maaf,” Rani tersenyum kaku dan berjalan cepat sebelum orang itu curiga.
Hatinya jatuh lagi. Kali ini lebih dalam.
Di pintu keluar, Rani berhenti dan menatap kembali TMII dari kejauhan. Cahaya lampion yang sudah dipasang tampak berpendar lembut, seperti kunang-kunang raksasa.
Tempat ini seharusnya penuh dengan kenangan manis, tapi tanpa Bagas, semua terasa memiliki ruang kosong yang tidak bisa diisi siapa pun.
Rani memeluk lengannya sendiri dengan menahan dingin yang terasa menembus kulit.
“Jangan bilang kamu nggak balik, Gas,” ucapnya dengan suara gemetar. “Jangan gitu, dong.”
Suara itu tertelan malam dan festival semakin dekat.
Sementara Rani semakin takut.
Takut Bagas benar-benar tidak akan kembali menemuinya atau sekedar kembali membuatnya tertawa seperti waktu lalu.