Darah merah menetes dari tubuh Firdaus, membasahi papan dermaga. Hanum menjerit, sementara Al berusaha menahan tubuh lelaki itu yang mulai limbung. Di tengah kobaran amarah, perang politik dan bayangan maut, satu hal menjadi jelas, pertarungan ini baru saja dimulai.
“Pak Firdaus!” teriak Al, sigap menahan tubuh pria paruh baya itu agar tidak jatuh ke laut. Peluru menembus bagian bahu kiri, tapi derasnya darah membuat seakan seluruh tubuhnya koyak. Hanum terisak, berlutut di samping ayahnya, tangannya gemetar mencoba menghentikan darah dengan sobekan kain dari bajunya.
“Papa, bertahanlah!” isaknya.
Firdaus menggertakkan gigi, menahan sakit. “Jangan, khawatirkan aku. Selamatkan dirimu dulu, Hanum.”
Al menoleh cepat, matanya menyapu sekitar. Para penyerang masih ada, tapi goyah karena kedatangan pengawal Firdaus yang membawa senjata otomatis. Dentuman beberapa tembakan peringatan membuat para musuh perlahan mundur, menyeret rekannya yang roboh.
Pria bermata tajam yang tadi bertarung dengan Al meludah, tatapannya menyimpan dendam. “Ini belum selesai, Al-Faidzin. Kalian semua akan kami habisi.” Ia lalu melompat ke perahu motor bersama beberapa orang, kabur ditelan kabut laut.
Al tak membuang waktu. Ia meraih bahu Hanum, menatap tegas. “Kita harus keluar dari sini sekarang! Pengawal sudah bisa amankan situasi. Aku akan pastikan ayahmu sampai rumah sakit.”
Hanum menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun, mengangguk. Ia tahu, di balik dinginnya suara Al, ada ketegasan yang tak pernah goyah.
Firdaus langsung dilarikan ke rumah sakit swasta dengan pengawalan ketat. Di ruang UGD, dokter-dokter sibuk, suara alat monitor berdengung, bau antiseptik memenuhi udara. Hanum menggenggam tangan ayahnya, tubuhnya masih gemetar, sementara Al berdiri tak jauh, wajah kerasnya menahan emosi.
Ketika operasi dimulai, seorang asisten politik Firdaus mendekati Al. Lelaki itu berbisik, “Pak Firdaus sudah perintahkan satu hal sebelum pingsan, ia ingin semua media tahu tentang penculikan ini. Segera.”
Al mengerutkan kening. “Media? Bukankah itu berbahaya? Musuh akan tahu Hanum selamat.”
Asisten itu menatap serius. “Justru itu poinnya. Pak Firdaus ingin memutarbalikkan keadaan. Ia akan gunakan kasus ini untuk mendapatkan simpati publik, menekan lawan politik, sekaligus memperkuat posisinya. Semua akan berpikir, anaknya adalah korban, bukan alat politik.”
Al terdiam sejenak. Ia tahu langkah ini berani, bahkan nekat, tapi inilah permainan Firdaus, politik dan darah selalu berdampingan.
Beberapa jam kemudian, televisi nasional memunculkan breaking news. Di layar terpampang foto Hanum dengan tulisan besar.
'ANAK POLITISI BERKUASA, DICULIK, FIRDAUS LUKA TEMBAK'.
Seorang pembawa berita membacakan dengan nada tegang.
“Baru saja, putri dari salah satu tokoh politik berpengaruh, Hanum Nadzneen, dilaporkan diculik oleh kelompok bersenjata misterius. Sang ayah, Firdaus, juga mengalami luka tembak dalam upaya penyelamatan. Hingga kini, polisi dan aparat keamanan belum memberi pernyataan resmi.”
Berita itu disiarkan berulang-ulang, menguasai layar televisi, media sosial, hingga grup percakapan publik. Wajah Hanum mendadak jadi sorotan nasional.
Hanum yang masih di rumah sakit terkejut melihat wajahnya sendiri di layar. Ia menoleh ke arah Al. “Kenapa, kenapa Papa membiarkan ini keluar? Aku tidak ingin semua orang tahu.”
Al menatapnya lekat. “Ini cara ayahmu mencari perlindungan. Dengan sorotan media, lawan politik tak bisa bertindak sembarangan. Jika mereka bergerak, semua mata rakyat akan mengawasi.”
Hanum terdiam, hatinya campur aduk antara takut, marah, dan bingung, tapi ia tahu, ayahnya bukan sekadar melindungi, melainkan juga sedang memainkan bidak besar dalam catur politik.
Musuh yang tersenyum.
Sementara itu, di sebuah ruang rapat rahasia, pria bermata tajam yang gagal membunuh Al menyalakan rokok. Di sekelilingnya, beberapa tokoh berjas mahal duduk dengan wajah masam menatap layar televisi yang menayangkan berita tentang Hanum.
“Brengsek,” geram salah satu dari mereka. “Firdaus membalikkan keadaan. Kini publik ada di pihaknya.”
Pria bermata tajam menghembuskan asap perlahan, lalu tersenyum dingin. “Biarkan saja. Sorotan media tidak akan bertahan lama. Darah selalu lebih kuat dari kata-kata. Kalau mereka pikir permainan selesai, mereka salah. Kita akan menyerang di titik paling lemah, bukan Firdaus, tapi Hanum.”
Semua orang terdiam, lalu perlahan tersenyum. Mereka tahu, target yang sama tetap jadi kunci.
Malam itu, di kamar rumah sakit tempat Hanum beristirahat, Al berjaga di dekat pintu. Lampu redup, suara monitor jantung Firdaus terdengar stabil dari ruang sebelah. Hanum memandang keluar jendela, matanya kosong.
“Al,” suaranya lirih.
Al menoleh. “Ya?”
“Semua orang tahu sekarang. Aku merasa seperti bukan diriku lagi. Mereka melihatku bukan sebagai Hanum, tapi sebagai anak seorang politisi. Seakan hidupku bukan milikku.”
Al mendekat, menunduk agar sejajar dengan tatapannya. “Aku mengerti, rapi percayalah, apa pun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi.”
Hanum menatap mata Al. Ada ketegasan, ada ketulusan, tapi juga bayangan gelap yang menakutkan. Perlahan ia mengangguk, meski hatinya tetap gelisah.
Dua hari kemudian, Firdaus sadar dari operasi. Meski lemah, ia langsung meminta pertemuan tertutup dengan beberapa orang kepercayaannya. Al dan Hanum ikut hadir.
Firdaus duduk dengan lengan digips, tatapannya tajam. “Mereka ingin aku menyerah, tapi sekarang, rakyat ada di pihak kita. Aku akan gunakan kesempatan ini untuk menggulung mereka.”
Salah satu penasihatnya mengangguk. “Dengan berita ini, simpati publik membanjir. Bahkan pihak kepolisian ditekan untuk bergerak lebih cepat.”
Firdaus tersenyum tipis. “Bagus. Biarkan mereka pikir aku korban. Sementara itu, kita mulai memukul balik secara pelan, tapi pasti. Politik di atas meja, darah di bawah meja.”
Hanum menelan ludah, merasakan kengerian di balik kata-kata ayahnya. Sedangkan Al hanya mengangguk singkat. Ia tahu, Firdaus sedang menyalakan perang besar.
Tak berhenti di televisi, Firdaus mengatur agar media sosial penuh dengan tagar.
SaveHanum
LawanTerorPolitik
Ribuan orang menulis dukungan, seakan Hanum menjadi simbol perlawanan. Hanum merasa makin terhimpit. Namun, Firdaus berkata tegas, “Kau harus kuat. Sekarang kau bukan hanya anakku, tapi wajah dari perjuangan ini.”
Hanum ingin protes, tapi tatapan ayahnya membuatnya diam. Ia sadar, ia tak lagi sekadar seorang gadis biasa. Ia adalah bidak paling berharga dalam papan permainan yang penuh darah.
Malam ketiga, Al menerima pesan rahasia di ponselnya. Sebuah foto dikirim, foto Hanum di rumah sakit, diambil dari jendela luar. Ada tulisan singkat.
'Kau bisa menyelamatkannya sekali, tapi tidak selamanya.'
Al langsung bangkit, rahangnya menegang. Ia keluar kamar, memanggil dua anak buahnya. “Perketat penjagaan. Satu orang saja mendekat tanpa izin, tembak.”
Hanum yang mengikuti dari belakang melihat ekspresi keras Al. “Apa ada yang terjadi?” tanyanya cemas.
Al menatapnya, lalu berusaha tenang. “Tidak ada. Aku hanya pastikan semuanya aman,” tapi Hanum tahu, Al sedang menyembunyikan sesuatu dan itu membuat rasa takutnya semakin dalam.
Beberapa hari kemudian, Firdaus memanggil Al ke sebuah ruang rapat kecil di lantai rumah sakit yang dijaga ketat.
“Aku sudah siapkan langkah berikutnya,” ujar Firdaus pelan. “Kita tahu siapa dalang penculikan ini. Lawan politik yang selama ini mengincar kursiku. Mereka pikir bisa menekanku dengan Hanum, tapi sekarang, aku akan jatuhkan mereka lewat dua cara, bukti korupsi dan darah.”
Al mendengarkan, lalu berkata, “Siapa pun mereka, aku akan pastikan tidak ada lagi yang mendekati Hanum.”
Firdaus menatapnya lama, lalu mengangguk. “Itulah kenapa aku mempercayakan Hanum padamu. Kau bukan hanya pelindung, Al. Kau adalah pedangku.”
Malam itu, setelah semua pertemuan usai, Hanum kembali ke kamarnya. Ia lelah, tubuhnya masih trauma. Al berjaga di kursi dekat pintu, pistolnya di pangkuan.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki pelan di koridor. Al berdiri, menajamkan telinga. Suara itu berhenti tepat di depan pintu Hanum.
Al mengangkat pistol, memberi isyarat ke Hanum agar diam.
Perlahan, gagang pintu kamar berputar.
Seseorang mencoba masuk.
Al langsung mengokang pistol, matanya menyala penuh amarah.
Namun, saat pintu terbuka sedikit, cahaya lampu lorong menampakkan sosok, bukan orang asing, melainkan seseorang yang selama ini mereka kira sekutu.
Hanum terperanjat, menutup mulutnya.
Al menatap tajam, hampir tak percaya. “Kau?”
Malam itu pecah menjadi rahasia baru yang lebih berbahaya dari peluru.
Siapakah sosok yang muncul di balik pintu? Apakah ia pengkhianat dari lingkaran Firdaus atau justru seseorang yang datang dengan misi terselubung?