Drama

PT Aruna Creativa Mencium Arah Berbeda

08 January 2026

Bab 19 : PT Aruna Creativa Mencium Arah Berbeda

Suasana kantor PT Aruna Creativa berubah tegang seperti kabel listrik yang terkelupas. Ruang kreatif yang biasanya penuh suara ketikan dan candaan kini terasa seperti ruang sidang. Semua orang berbicara dengan nada rendah, seolah takut memicu ledakan dan semua ledakan itu mengarah pada satu orang.

Rani.

Pagi itu, ketika ia tiba di kantor dengan mata sembap karena lembur di TMII, ia langsung melihat tiga orang dari tim internal, dua dari tim produksi, satu dari tim IT, berdiri dekat meja kerjanya.

Mereka menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Bukan marah, bukan ramah, melainkan waspada.

“Rani,” ujar Produser, Bu Mira, dengan suara datar. “Kita perlu ngobrol. Sekarang.”

Rani langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Napasnya menegang di dada.

Ia mengikuti mereka menuju ruang meeting kecil, ruangan yang biasanya dipakai untuk briefing cepat. Namun, pagi itu ruangan itu dipenuhi aura tekanan.

Begitu pintu ditutup, Bu Mira mengarahkan tablet kepadanya.

“Ini apa?”

Di layar tablet, Rani melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sedetik, folder video yang ia unggah ke server internal malam sebelumnya, tapi bukan versi yang ia kirim ke atasannya.

Folder versi RAW yang berisi potongan footage budaya, narasi asli. Yang jelas tidak sesuai konsep lucu ala TikTok yang disuruh kantor.

“Ada dua folder naskah,” tambah Bu Mira. “Dua konsep berbeda. Dua timeline editing. Kamu bisa jelaskan?”

Rani menelan ludah. Panas menjalari tengkuknya.

Oke. Ini buruk. Ini benar-benar buruk.

Ia sebenarnya sudah berusaha menyembunyikan file asli dengan aman, tidak mengunggahnya ke server, hanya menyimpannya di hard disk eksternal, tapi ternyata folder cadangan yang ia buat untuk kerja cepat malam itu tersinkron otomatis oleh server internal kantor.

“Kamu membuat dua versi video?” tanya Bu Mira lagi, kali ini lebih tajam.

“Bukan begitu, Bu,” suara Rani hampir pecah. “Itu, itu hanya draft awal. Bahan riset.”

“Rani,” potongnya, “kami ingin melihat semua file mentah yang kamu punya. Semuanya.”

Seketika ruangan terasa jauh lebih panas dari sebelumnya.

Rani mencoba mengontrol napasnya. Ia tahu apa yang dipertaruhkan, kariernya, profesionalismenya, reputasinya dan paling menakutkan adalah karyanya yang ia perjuangkan mati-matian.

Ia menatap Pak Gilbert dari IT yang berdiri dengan tangan terlipat.

“Kami periksa,” katanya lembut tapi tegas, “sinkronisasi otomatis mencatat file bernama ‘Draft B Final.mov’. Itu tidak ada di folder resmi yang kamu berikan ke kantor. Itu versi berbeda, kan?”

Rani merasakan tubuhnya melemah.

Draft B. Naskah rahasianya. Versi yang ia simpan untuk dirinya sendiri. Versi yang terinspirasi Bagas.

Ia tidak berniat memberikannya ke kantor. Belum. Setidaknya belum sampai festival digelar.

“Ini bukan untuk ditayangkan,” ujar Rani dengan suara kecil. “Ini hanya catatan pribadi.”

“Catatan pribadi tidak boleh berada di server kantor,” sahut Bu Mira cepat. “Dan ini mencurigakan. Kamu menyembunyikan file mentah. Itu melanggar SOP.”

Rani menunduk. Ia mengatupkan kedua tangannya erat-erat. Jemarinya dingin.

“Hard disknya,” ujar Bu Mira akhirnya, “tolong berikan sekarang. Kami akan memeriksanya dulu sebelum kamu melanjutkan editing.”

Rani tercengang. Hatinya mencelos.

“Bu, tidak bisa,” katanya spontan. “Ada, ada data pribadi di situ.”

“Proyek kantor lebih penting.”

“Tidak semua datanya untuk kantor!” Rani mencoba bertahan. “Ada rekaman yang bukan untuk publik.”

“Justru itu kenapa harus kami periksa,” kata Bu Mira dingin.

Rani terdiam. Ia tahu diskusinya mulai berubah menjadi interogasi. Kantor benar-benar mencium arah berbeda. Mereka yakin Rani menyembunyikan konsep video yang tidak sesuai permintaan dan mereka tidak salah. Karena memang itu yang ia lakukan, tapi jika ia menyerahkan hard disk itu, semua bisa hilang. Semua kerja kerasnya. Semua memori bersama Bagas. Semua footage sakral, melodi, narasi, rekaman senja. Semua jujur. Semua yang ia lindungi.

Ia menggigit bibir bawahnya.

“Kami tunggu di meja kamu,” ujar Bu Mira lalu bangkit. “Beserta seluruh file mentah dan draft.”

Rani tidak bergerak. Tidak berkata apa pun. Mereka keluar dari ruangan. Meninggalkan Rani yang duduk membeku.

Begitu pintu tertutup, napas Rani pecah. Ia mencengkeram kepalanya.

“Ya Tuhan, gimana ini?” Ia mencoba bernapas, tapi dadanya begitu sesak.

Menyerahkan hard disk berarti menyerahkan segala yang ia perjuangkan selama berminggu-minggu. Memberi kantor akses berarti, naskah rahasianya dibuang, versi asli dihapus dan materinya diubah menjadi konten receh sesuai permintaan kantor

Jika ia menolak?

Bisa saja ia diskors. Bisa saja ia dipecat. Bisa saja proyeknya dicabut. Kariernya terancam.

Ia merasa seolah berdiri di tepi jurang.

Rani keluar dari ruang meeting perlahan. Seluruh kantor menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Beberapa rekan kerja mencoba memberi senyum simpati. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang hanya menatap penuh rasa iba.

Ia sampai di mejanya dan duduk perlahan.

Hard disk kecil warna hitam itu tergeletak di sudut meja. Kecil. Ringan, tapi isinya bisa menghancurkan segalanya.

Rani memegangnya. Tangannya bergetar.

Dalam hati, ia berperang. Serahkan dan selamatkan pekerjaan, atau simpan dan selamatkan integritas? Selamatkan karier atau selamatkan karya?

Ia tidak pernah membayangkan akan ada di posisi ini.

“Ran.”

Rani menoleh. Tania teman sekantor yang selama ini mendukungnya, menghampiri.

“Kamu nggak apa-apa?”

Rani tidak bisa menjawab. Ia hanya menggeleng pelan.

Tania melihat hard disk di tangan Rani dan langsung mengerti.

“Mereka minta file aslinya, ya?”

Rani mengangguk.

Tania menggigit bibir. “Hati-hati, Ran. Aku tahu kamu jaga karya kamu, tapi kalau kamu melawan, risikonya besar banget.”

Rani menatap meja kosong. “Aku cuma nggak mau video ini berubah jadi joget-joget.”

“Aku tahu.” Suti menyentuh bahunya, “tapi kamu sendirian lawan satu divisi kreatif.”

Rani menutup mata. “Aku capek melawan, tapi aku juga capek kalau harus menyerah.”

Tidak ada jawaban. Tania hanya memeluknya singkat, lalu kembali ke meja.

Rani memandangi layar komputernya. Folder Draft-B masih ada di sana. Ia membuka file itu, video setengah jadi dengan footage budaya, suara angin sore, potongan melodi Bagas yang lembut. Ada narasi personal yang membuat dadanya hangat sekaligus sakit.

Ia menonton beberapa detik. Lalu menutup mulutnya sendiri.

Ia tidak bisa menyerahkan ini.

Ia tidak bisa membiarkan kantor menghancurkan ini.

Ia tidak bisa.


Ketika Bu Mira dan tim kembali mendekat, Rani berdiri. Hard disk masih dalam genggamannya.

“Rani,” kata Bu Mira. “Hard disknya.”

Rani merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Ia menatap hard disk itu seolah sedang menatap masa depannya sendiri.

Ia menarik napas dan untuk pertama kalinya sejak ia masuk kantor itu. Rani berkata dengan suara yang tegas namun bergetar. “Bu, saya nggak bisa menyerahkan file ini.”

Semua orang membeku. Waktu seperti berhenti. Udara mendadak dingin.

Bu Mira menatapnya tajam. “Apa maksud kamu?”

Rani menegakkan bahu. “Ada beberapa footage yang bukan untuk kantor dan saya tidak izinkan dihapus, diubah atau diakses.”

“Rani, kamu melanggar SOP.”

“Saya tahu,” jawabnya pelan, “tapi ini tanggung jawab saya.”

Hening panjang menyambut jawabannya.

Rani sadar. Ia baru saja melangkah ke garis peperangan dan tidak ada jalan kembali.