Drama

Kericuhan Internal

08 January 2026

bold text

Suasana ruang lobi kantor PT Aruna Creativa terlihat lebih tegang dari biasanya. Orang-orang berjalan lebih cepat, sebagian berbisik sambil memegang tablet atau laptop, seakan sedang membicarakan sesuatu yang tidak seharusnya terdengar oleh telinga sembarangan. Namun, Rani bisa merasakan bisik-bisik itu tentang dirinya.

Ia menghela napas panjang, menyeimbangkan emosi yang sejak pagi menyesakkan dada. Sejak menerima pesan singkat dari sekretaris direksi yang memintanya datang segera, ia sudah tahu arah angin tidak menguntungkan.

Pintu ruang direksi itu tinggi dan berat, seperti portal menuju ruang interogasi. Ketika Rani mengetuk, suara berat Pak Bram. Direktur Operasional, mengizinkannya masuk.

"Silakan duduk, Rani." Nada bapak itu formal. Bukan nada atasan yang biasanya memanggil seseorang untuk menjelaskan hasil kerja. Bukan pula nada bos yang sekadar ingin memastikan timeline proyek tetap aman. Nada ini jauh lebih menyeramkan.

Di ruangan itu sudah ada beberapa orang. Bu Ratri dari divisi hukum, Mas Reval dari tim kreatif dan Pak Bram sendiri. Berkas-berkas video terbuka di layar besar di belakang mereka.

Rani diam. Tangan yang ia letakkan di pangkuan bergetar, meski ia menahan sekuat tenaga agar tak terlihat.

Pak Bram memulai dengan tegas, "Kami menerima laporan dari tim produksi bahwa kamu memotong, mengganti dan menyimpan file video di luar alur persetujuan perusahaan. Ada dua versi video yang beredar, versi yang kamu setorkan dan versi yang kamu sembunyikan."

Jantung Rani mencelos.

"Versi yang aku sembunyikan?" ulangnya pelan.

"Jangan berpura-pura tidak tahu," sahut Bu Ratri dingin. "Kami bisa melihat metadata, Rani. Kamu membuat file duplikat. Kamu ubah judulnya. Lalu kamu masukkan ke dalam folder pribadi."

Rani menelan ludah, mencoba menahan ketegangan yang sudah membuat bahunya kaku sejak semalam.

"File itu bukan untuk kepentingan pribadi. Itu versi asli. Versi yang seharusnya tayang."

"Seharusnya menurut siapa?" potong Pak Bram.

Rani tidak langsung menjawab. Ia menatap layar besar tempat cuplikan video diputar. Versi tayang yang disetujui kantor terlihat serba cerah, lucu, banyak gimmick TikTok, animasi yang berlebihan dan narasi yang terlalu dibuat-buat. Semua hal itu membuat TMII terlihat seperti wahana hiburan semata, bukan pusat kebudayaan.

Sementara versi asli, versi yang Rani perjuangkan, penuh dengan nilai budaya, adegan detail para pengrajin, penari dan kurator yang menyampaikan makna. Ada sentuhan yang lebih dalam. Ada jiwa.

Pak Bram melanjutkan, suaranya tak bisa disangkal lebih tajam dari biasanya. “Kami meminta file mentahnya sejak kemarin. Kamu tidak memberikan apa yang kami minta. Kamu menunda. Bahkan kamu berbohong soal lokasi penyimpanan file.”

"Saya tidak berbohong," Rani akhirnya berkata. Suaranya pelan tapi mantap. "Saya hanya butuh waktu memastikan versi asli tidak dihapus."

"Versi asli tidak penting," kata Bu Ratri. "Yang kami butuhkan adalah versi yang sudah disetujui klien."

"Itu bukan versi yang menghargai TMII," sahut Rani spontan, tanpa menunggu giliran bicara. "Mereka bukan karikatur budaya. Mereka bukan sekadar backdrop lucu-lucuan."

Hening mencekam memenuhi ruangan.

Mas Reval, yang biasanya paling santai, bahkan terlihat menunduk tak berani ikut campur.

Pak Bram menyandarkan tubuh sambil menghela napas berat. "Rani. Ini perusahaan. Kita bekerja berdasarkan permintaan klien. Kalau TMII mau konten edukasi, mereka akan bilang, tapi mereka minta konten viral. Kamu tidak bisa berjalan sendiri seperti ini."

Rani merasa dadanya panas. Ada rasa ingin menjelaskan lebih banyak, tapi juga ada rasa sesak melihat bagaimana kantor memaknai pekerjaan mereka, sekadar mengejar angka impresi.

"Saya tidak membangkang," Rani berkata getir. "Saya hanya," ia menarik napas panjang, suaranya mulai bergetar, "tidak mau menghina budaya saya sendiri."

Tangan Pak Bram menghentak meja. "Tidak ada yang menghina budaya di sini! Kita hanya menjalankan apa yang diminta!"

Di titik itulah sesuatu di dalam diri Rani pecah.

Ia berdiri cepat, kursinya terdorong sedikit ke belakang. Air matanya berusaha ia tahan. Namun, emosinya tak bisa lagi dikunci.

"Indonesia bukan cuma lucu-lucuan!" teriaknya. "TMII bukan sekadar latar TikTok! Mereka punya sejarah! Mereka punya cerita! Mereka punya nilai yang tidak bisa dipadatkan jadi video tiga puluh detik dengan transisi trend!"

Mata semua orang langsung membelalak.

"Nona Rani, tolong jaga nada bicaramu," tegas Bu Ratri, rapi Rani sudah tak bisa menghentikan dirinya.

"Kalau perusahaan ini cuma peduli soal viewers tanpa peduli arti, untuk apa kita sebut diri kita Aruna Creativa? Kreativa dari mana kalau kreativitas kami dipotong, dipelintir, dibonsai jadi tren receh?"

Suasana jadi jauh lebih panas.

Pak Bram berdiri, wajahnya merah menahan amarah. “Cukup. Kamu melewati batas.”

Rani memejamkan mata. Detik itu juga ia tahu konsekuensinya datang.

“Mulai hari ini,” lanjut Pak Bram, “kamu kami skors selama dua minggu. Seluruh akses server ditutup. Seluruh project dialihkan ke tim lain.”

Dunia berhenti berputar sesaat.

Skors. Dengan kata lain mereka ingin Rani diam. Menjauh. Tidak mengganggu arah perusahaan.

Jantung Rani sakit, tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Ia menarik napas panjang, menunduk kecil sebagai pertanda ia mendengar keputusan itu.

"Baik."

Ia mengambil ponselnya, mengalungkan tas ke bahu, lalu berjalan ke pintu tanpa melihat siapa pun di ruangan.

Begitu pintu tertutup, barulah napasnya pecah, tapi ia tidak menangis di sana. Ia menahan semuanya sambil berjalan cepat ke meja kerjanya.

Di meja, orang-orang hanya melirik tanpa berani mengajak bicara.

Tania, teman satu timnya berdiri dengan mata berkaca-kaca. “Rani… aku.”

“Gak apa-apa,” jawab Rani pelan. “Simpan energi kamu. Jangan ikut keseret.”

Tania menggigit bibir, menahan emosi sendiri.

Rani mengemasi barang-barangnya, beberapa notes, flashdisk, figurin kecil hadiah dari Bagas dan tumbler putih favoritnya. Tangannya sempat berhenti ketika melihat figura itu, kenangan saat Bagas mengajaknya berkeliling TMII untuk pertama kalinya.

Ia menutup kotak dengan perlahan.

Begitu ia melangkah ke lift, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga, tapi tanpa suara. Tak ada yang tahu bahwa hatinya sakit bukan hanya karena skorsing, tetapi juga karena ketidakhadiran Bagas selama berhari-hari.

Ketika pintu lift tertutup, ia merasa seperti dipisahkan paksa dari dunia yang ia perjuangkan.

Setibanya di lobi, langkahnya berat. Dunia luar terasa terlalu terang untuk seseorang yang baru saja kehilangan seluruh pondasi profesinya.

Namun, saat ia mendorong pintu kaca utama, angin sore menyapu wajahnya. Mengeringkan air mata yang tersisa.

Rani berhenti di bawah cahaya senja. Sinar jingga menari di sela gedung-gedung tinggi. Walau sakit, walau air matanya belum tuntas, ia tahu satu hal. Ia tidak menyesal. Ia tidak menyesal membela nilai yang ia percayai. Tidak menyesal mempertahankan versi asli video itu. Tidak menyesal telah berbicara lantang meski semua orang menentangnya.

Karena jika ia menyerah hari ini, maka tidak ada lagi yang memperjuangkan cerita sesungguhnya.

Ia berjalan meninggalkan gedung Aruna Creativa, tas kecil di tangan, angin sore menyibak rambutnya. Setiap langkah terasa berat, tetapi juga terasa benar.