bold text
Angin sore TMII selalu punya cara menenangkan hati yang retak. Rani berjalan perlahan melewati pepohonan, aroma tanah dan suara burung-burung yang bertengger di dahan pohon mahoni. Meski festival Keong Mas tinggal beberapa hari lagi, suasana hari itu tak begitu ramai, relawan sedang rapat kecil di anjungan lain, dan pengunjung sudah mulai berkurang.
Namun, langkah Rani tetap bergetar.
Ia tidak langsung menuju relawan lainnya. Kakinya secara otomatis membawa dirinya ke tempat yang paling ia rindukan sejak beberapa minggu terakhir, halaman depan Teater Keong Mas.
Bangunan emas itu berdiri megah seolah sedang memandang balik pada Rani. Kubahnya memantulkan cahaya matahari yang hampir tenggelam. Bagi sebagian orang, gedung itu hanyalah destinasi wisata. Baginya, gedung itu rumah kedua, rumah yang membesarkan jiwanya sejak kecil.
Ia berjalan mendekat, menghentikan langkah tepat di bawah bayangan besar bangunan itu.
Lalu duduk.
Perlahan, tanpa suara, ia menurunkan tasnya ke pangkuan. Tampak kecil sekali dibanding bangunan megah nan ikonik yang menjulang di hadapannya.
Untuk beberapa menit, Rani tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk, memandangi Keong Mas sambil mengatur napas.
“Bagas,” gumamnya, hampir tak terdengar.
Ia menunduk, mengusap pipinya yang kini dingin. Tidak ada pesan lanjutan. Tidak ada tanda kehadiran Bagas di sekitar sini. Tidak ada langkah kaki yang tiba-tiba menghampiri. Tidak ada suara memanggil namanya.
Ia memang menerima pesan itu, tapi Bagas tetap belum muncul.
Belum juga menemuinya.
Belum memberi penjelasan apa pun dan itu menyesakkan.
Suara langkah kaki pelan mendekat. Rani menoleh dan mendapati dua relawan muda sedang membawa papan penanda acara.
“Kak Rani!” seru salah satu dari mereka begitu melihatnya.
Mereka segera datang menghampiri.
“Kami dengar kabarnya Kak Rani lagi kena masalah di kantor. Kamu gapapa?” tanya salah satu.
Rani tersenyum kecil, tidak ingin membuat mereka khawatir. “Aku baik-baik aja kok. Cuma perlu udara segar sedikit aja.”
“TMII memang tempat terbaik buat napas lagi,” ujar relawan lainnya. “Mau kita temenin?”
Rani menggeleng lembut. “Kalian lanjut saja. Aku cuma mau sebentar di sini.”
Mereka saling pandang, kemudian tersenyum.
“Kami percaya Kak Rani kuat.” “Kak Rani itu inspirasi banyak dari kita.”
Keduanya berlalu dengan semangat membawa peralatan, meninggalkan Rani yang kini kembali sendirian. Namun, kata-kata mereka menggema hangat di dadanya.
Setelah kepergian mereka, Rani kembali memandang Keong Mas.
Ia menarik napas panjang.
“Bagas pasti bangga lihat kamu,” ujarnya lirih pada dirinya sendiri dan untuk pertama kalinya sepanjang hari, sudut bibirnya terangkat, meski sangat tipis.
Rani menatap tangga besar Teater Keong Mas. Di tangga itu, ia pernah duduk bersama Bagas sambil memakan es potong rasa kelapa. Di bawah pohon besar di sisi kiri gedung, mereka sempat bertengkar kecil soal editan video dan di depan pagar besi itu, Bagas pernah memegang tangannya ketika ia hampir jatuh.
Semua terasa begitu hidup. Begitu dekat.
Kepalanya dipenuhi kenangan itu, membuatnya tersenyum, lalu menahan sesak.
“Aku sampai seperti ini karena aku cuma ingin mempertahankan TMII,” gumamnya, seperti menegaskan pada semesta bahwa pilihannya bukanlah sekadar emosi sesaat.
Ia memeluk tasnya lebih erat, menatap kembali bangunan emas itu. Dalam hening, kenangan masa kecilnya tiba-tiba menyeruak.
Ia masih kecil saat Ayah pertama kali mengajaknya ke TMII. Saat itu tahun baru dan Teater Keong Mas menggelar pertunjukan spesial. Rani ingat dengan jelas bagaimana Ayah mengangkatnya agar ia bisa melihat patung-patung besar di depan bangunan.
“Lihat itu, Rani,” kata Ayah sambil menunjuk kubah besar yang berkilau. “Itu rumah bagi banyak cerita Indonesia. Kalau kamu besar nanti, jaga cerita ini ya.”
Rani kecil hanya mengangguk, tak terlalu paham, tapi sangat terpukau.
Lalu Ibunya datang sambil membawa jagung susu keju. Mereka bertiga duduk di tangga yang sama seperti tempat Rani duduk hari ini. Ibunya bercerita mengenai legenda Keong Mas dan bagaimana cerita-cerita rakyat adalah bagian dari jati diri bangsa.
“Budaya itu bukan untuk ditertawakan,” kata Ibunya waktu itu, "tapi untuk dihayati.”
Kata-kata itu menempel di hati kecil Rani dan tumbuh bersama dirinya.
Kini, ketika ia duduk sendirian di hadapan bangunan yang sama, kenangan itu terasa seperti pelukan hangat yang datang dari masa lalu.
Senja semakin turun. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menciptakan siluet kuning keemasan yang mempercantik wajah TMII. Dari kejauhan, terdengar tawa relawan yang sedang mendirikan tenda, suara musik latihan dari panggung mini, dan aroma sate dari pedagang yang sudah membuka lapak di dekat danau.
Namun, Rani tetap diam. Ia menatap langit.
“Kalau Ayah sama Ibu lihat aku hari ini, apa mereka bakal bangga?”
Angin seolah menjawab dengan lembut. Rani menunduk, menghela napas panjang.
Ia memikirkan Bagas lagi. Kenapa Bagas hilang? Kenapa ia berjanji pulang tapi tak muncul juga? Apa yang sebenarnya terjadi?
Rani mengusap matanya pelan. “Aku kangen dia.”
Perkataannya tenggelam di antara gemerisik dedaunan. Ia tidak ingin menangis, tapi matanya sudah memerah.
Ia benar-benar merasa Bagas seharusnya ada di sampingnya saat ini untuk menghibur, menguatkan atau sekadar duduk diam bersama.
Bagas selalu tahu cara membuat kekacauan menjadi lebih ringan, cara membuat beban terasa setengahnya.
Kini, semua itu hanya tinggal bayang-bayang.
“Kenapa kamu nggak muncul? Padahal kamu bilang pulang,” suaranya retak.
Ia menggigit bibir, menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.
“Oke, Ran. Kuat. Kamu kuat,” katanya pada diri sendiri sambil menarik napas dalam.
Waktu berlalu. Senja berubah menjadi biru gelap, kemudian semakin pekat. Lampu-lampu kuning di halaman Keong Mas memantulkan warna keemasan pada wajah Rani.
Beberapa relawan selesai memindahkan dekorasi dan sebagian mendekatinya lagi.
“Kak Rani, beneran gapapa sendirian?” “Kalo mau, kita buatkan kopi.”
Rani tersenyum lembut. “Makasih ya, tapi aku cuma mau duduk sebentar lagi.”
“Kakak itu kayak penjaga Keong Mas,” celetuk salah satu sambil tertawa kecil.
Rani ikut tertawa tipis, tapi tulus. Setelah relawan-relawan itu pergi, ia kembali menengok bangunan emas itu.
“Terima kasih ya,” katanya pelan. “Sudah jadi tempat pulangku waktu aku hilang arah.”
Ia merapatkan tangan ke dada.
“Aku akan tetap perjuangkan cerita kamu, TMII. Meskipun kantor nggak percaya, aku masih percaya.”
Baru kali itu ucapan itu terasa sangat mantap.
Di dalam dirinya, meski ia sedang terluka, ada semacam bara kecil, keinginan untuk tetap berdiri, tetap memperjuangkan hal yang benar.
Ia menoleh ke arah pintu teater.
Hatinya berdesir. Di sana seolah ada bayangan seseorang berdiri di ambang cahaya.
Tinggi. Diam. Seperti sedang menatapnya.
Rani mengerjap. Namun, saat ia berdiri dan fokus memperhatikan bayangan itu sudah hilang atau mungkin itu hanya imajinasinya. Ia terlalu lelah. Terlalu berharap Bagas muncul menemuinya.
Rani menunduk lagi dan duduk perlahan, tapi hatinya tetap berdebar.
“Mungkin besok dia datang?” gumamnya atau mungkin malam ini?
Ia tidak tahu.
Namun, satu hal pasti TMII, Keong Mas dan semua kenangan masa kecilnya kembali mengisi ruang hatinya yang sempat hancur dan untuk pertama kalinya sejak skorsing itu, ia merasa sedikit lebih hidup.