bold text
Hari festival budaya akhirnya digelar.
Sejak pagi, TMII sudah berubah menjadi lautan manusia. Spanduk warna-warni berkibar di sepanjang jalan utama, suara musik tradisional mengalun dari berbagai anjungan dan aroma makanan khas dari puluhan tenda kuliner memenuhi udara. Begitu banyak orang datang hari itu, keluarga, wisatawan, pelajar, komunitas seni, hingga influencer yang ingin membuat liputan.
Festival Keong Mas benar-benar kembali menjadi pusat perhatian Indonesia, sama seperti masa kejayaannya dulu.
Namun, di tengah keramaian itu, Rani justru merasa dadanya kosong.
Karena ada satu hal yang tidak berubah sejak kemarin.
Bagas masih belum muncul.
Padahal hari ini, ia seharusnya menjadi tokoh utama dalam pertunjukan besar yang menjadi inti festival. Ia seharusnya memimpin narasi budaya, memandu pengunjung dalam perjalanan visual dan musikal yang mereka rencanakan berbulan-bulan. Bahkan, beberapa bagian penampilan akan sulit dijalankan tanpa dirinya. Bagas adalah pusat dari segalanya, tapi sampai tiga jam sebelum acara dimulai. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada kehadiran.
Rani berjalan cepat melewati kerumunan, mencoba menemukan relawan-relawan senior.
“Bagas ke mana? Kalian sudah dapat kabar?” tanya seorang relawan sambil memegang clip on mic.
“Nggak tahu! Hapenya masih nggak aktif!” jawab yang lain.
“Dia tiba-tiba menghilang gitu aja?” seru seorang panitia produksi, panik. “Gila, dia tuh, pemeran utama! Mana mungkin festival bisa jalan tanpa dia?!”
Rani hanya bisa mengepalkan tangan, menahan kekhawatiran yang makin menusuk.
Ia berusaha tampak tenang, tapi wajahnya tidak bisa menyembunyikan betapa ia sebenarnya sedang gemetar.
'Ayolah, Bagas, kamu janji bakal balik.'
Waktu menunjukkan pukul 14.00. Acara pembukaan tinggal dua jam lagi. Area Teater Keong Mas sudah penuh dipenuhi tim produksi, kru lighting dan relawan yang sibuk memindahkan properti panggung.
Suara pemimpin teknis menggema melalui walkie-talkie.
“Pastikan panel lampu sudah dicek! Bagian gamelan, standby!” “FOH aman! Penonton mulai masuk satu jam lagi!”
Namun, satu kalimat selalu menyelinap di setiap sudut pembicaraan. "Bagas mana?”
Rani berdiri di sisi panggung luar, memandangi kesibukan itu. Ia merasa seperti berada di dua dunia, dunia luar yang penuh warna dan kegembiraan dan dunia dalam dirinya yang gelap, penuh kecemasan.
Relawan senior, Mas Fajar, menghampirinya dengan napas tersengal. “Rani, kamu udah dapat kabar?”
Rani menggeleng lemah. “Belum, Mas.”
Mas Fajar menatap langit dengan frustrasi. “Kalau dalam tiga puluh menit masih belum ada kabar, kita harus cari pengganti. Festival nggak bisa delay.”
“Tapi Bagas itu pusat acara,” gumam Rani.
“Iya,” sahut Mas Fajar, suaranya lebih pelan. “Makanya kita terjebak.”
Rani memejamkan mata. Dalam kepalanya, Bagas selalu terlihat ceria, penuh ide, penuh energi. Tidak pernah ia membayangkan Bagas akan membuat orang lain kebingungan seperti ini, tapi keadaan Bagas, ayahnya yang sakit dan perjalanan pulangnya yang mendadak. Semua itu membuat Rani tak bisa marah.
Ia hanya takut.
Takut Bagas tidak akan kembali. Takut sesuatu terjadi padanya. Takut semua yang mereka bangun bersama hilang begitu saja.
Pukul 14.30.
Seorang panitia mendekati Rani. “Mbak Rani, kamu sudah hubungi Bagas belum? Kira-kira Bagas bakal datang gak?”
“Aku nggak tahu,” suara Rani hampir pecah.
“Acara tinggal satu setengah jam. Kami butuh keputusan.”
“Kasih waktu lagi sedikit,” katanya memohon. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Panitia itu menghela napas dan pergi.
Rani menggigit bibir. Ia menatap Teater Keong Mas yang kini tampak megah dengan dekorasi festival, lampu-lampu panggung dan ornamen bercahaya. Semua itu indah, tapi baginya terasa menekan.
Kalau Bagas nggak datang, bagaimana festival bisa berjalan sempurna?
Ia memandang sekeliling, berharap menemukan secercah tanda, secercah kehadiran yang ia rindukan.
Tidak ada.
Pukul 15.00.
Satu jam lagi menuju pembukaan.
Seluruh panitia mulai panik.
Seorang koreografer berkata tegang, “tari pembuka bisa jalan, musik bisa jalan, tapi narasi utama itu Bagas! Dia tokohnya!”
“Teks narasi kita nggak bisa dibawakan sembarang orang,” tambah yang lain. “Itu ditulis khusus buat dia, sesuai suara dan gaya penyampaiannya.”
Ada usulan untuk mengganti, tetapi relawan lain langsung menentang.
“Bagas itu ikon relawan TMII!” “Dia cuma cocok satu orang!” “Kalo diganti, rasa festivalnya hilang!”
Perdebatan terjadi di mana-mana.
Rani ikut berdiri di tengah kerumunan itu. Suaranya lirih, “Kasih waktu sedikit lagi.”
Namun, panitia produksi hanya menatapnya dengan tatapan kasihan.
“Kita nggak punya waktu, Mbak. Festival nasional. Semua mata tertuju ke sini.”
Rani akhirnya mundur ke area belakang panggung. Ia berdiri di pojok, memeluk tubuhnya sendiri. Jantungnya berdegup keras.
Ia menatap layar ponselnya untuk entah ke berapa kalinya.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan.
Notifikasi kosong terasa seperti hantaman.
“Baga, kamu di mana sih,” bisiknya.
Tenggorokannya panas.
Ia ingin menangis, tetapi air matanya enggan keluar, seolah kelelahan.
Ia menahan wajahnya dengan kedua tangan. Pikiran buruk mulai muncul satu per satu.
Bagaimana kalau Bagas tidak sempat kembali atau ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi dan ia tidak memberitahu siapa pun?
Rani menggeleng cepat, menolak pikiran-pikiran itu.
“Tidak. Dia janji balik,” bisiknya lagi, seperti mantra yang ia ulang untuk menenangkan dirinya.
Relawan lain datang menghampiri.
“Kak Rani,” ujar mereka pelan. “Kami tahu kamu dekat sama Bagas. Kamu yakin banget dia bakal muncul?”
Rani menelan ludah. “Aku, aku ingin percaya.”
“Mau kita bantu cari ke pintu masuk?” tawar mereka.
Rani mengangguk. “Tolong, siapa tahu dia datang, tapi belum sempat masuk.”
Beberapa relawan berlari ke arah gerbang. Rani tetap menunggu di sisi panggung luar, menggenggam ponselnya erat.
Pukul 15.20.
Hanya satu jam sebelum pembukaan. Koordinator produksi kembali dengan wajah pucat.
“Rani.” Suaranya pelan, tapi tegas.
Rani menegakkan tubuhnya.
“Kami butuh keputusan final. Kalau Bagas tidak muncul dalam lima belas menit, kami resmi ganti tokoh utama.”
Rani merasakan dunia berputar.
Mengganti Bagas? Menghapus peran yang telah ia bangun selama berbulan-bulan? Mengabaikan seluruh dedikasi Bagas, yang bahkan mempelajari teknik vokal dan musik tambahan demi tampil sempurna?
“Tidak,” lirih Rani, tapi panitia hanya menatapnya dengan ekspresi yang mengatakan kita tidak punya pilihan lain.
Rani ingin berteriak, tetapi mulutnya kelu. Ia hanya menatap jambangan besar di ujung panggung, berharap Bagas tiba-tiba muncul dari baliknya.
Tidak ada apa-apa.
Koordinator produksi menghela napas. “Maaf, Ran. Ini untuk keselamatan acara.”
Ia pergi, meninggalkan Rani yang kini berdiri mematung.
Pukul 15.28.
Rani menatap jam di ponselnya. Detik berjalan seperti tamparan.
Ia berjalan perlahan ke sisi teater, ke tempat pertama kali ia mendengar suara melodi Bagas. Tempat pertama kali mereka bercanda. Tempat Bagas pernah mengatakan. "Kalau kamu nggak perjuangin budaya, siapa lagi?”
Kini ucapan itu terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya.
Rani menunduk.
“Bagas, kalau kamu nggak datang, aku harus bagaimana?”
Tiba-tiba suara pengeras terdengar dari kejauhan.
“Panitia, semua menuju posisi masing-masing. Pembukaan dimulai lima puluh lima menit lagi.”
Rani terduduk di bangku. Tangannya lemas. Apakah festival Keong Mas harus berjalan tanpa Bagas?
Ia memejamkan mata.
Mencari sisa-sisa harapan yang mulai rapuh.
Lalu di tengah keramaian, di antara suara gamelan yang sedang pemanasan, jantung Rani berdetak lebih cepat.
Ia seperti mendengar sesuatu atau seseorang. Namun, ia belum berani membuka mata.
Belum.
Tidak sekarang.