bold text
Lima menit sebelumnya, Rani masih berdiri di sisi panggung dengan jantung yang seakan jatuh ke dasar perut. Pengeras suara mengumumkan persiapan terakhir, kru produksi mondar-mandir dengan wajah tegang dan relawan sudah bersiap di posisi mereka masing-masing.
Namun, satu hal kekosongan tetap terasa menusuk seperti duri di dada Rani.
Bagas tidak. Bagas tidak datang, hingga sampai detik ini.
Koordinator produksi pun sudah bersiap mengumumkan akan ada pergantian tokoh utama. Naskah cadangan sudah di tangan. Penggantinya juga sudah berdiri di dekat panggung, meski tampak gugup setengah mati.
Rani berdiri di belakang lampu stage, memeluk lengannya sendiri, menatap langit senja yang semakin pekat.
“Bagas,” suaranya hampir tak terdengar. “Dimana kamu? Apa kamu tahu, semua orang saat ini sedang membutuhkan kamu?”
Saat itulah, di tengah kerumunan suara, lampu yang menyilaukan dan detik-detik terakhir sebelum pertunjukan besar dimulai, Rani mendengar derap langkah kaki.
Pelan. Lalu semakin jelas. Semakin dekat.
Lalu ia menoleh dan seolah dunia mendadak berhenti seketika.
Bagas berdiri di sana. Tepat di balik tirai belakang panggung. Dengan napas sedikit terengah, wajah lelah, rambut yang agak berantakan dan senyum kecil yang entah kenapa membuat dada Rani langsung meluruh penuh kelegaan di hatinya.
Seolah semuanya di TMII tiba-tiba memudar, menyisakan hanya dia.
“Ba-Bagas?” suara Rani patah.
Bagas melangkah pelan mendekat ke arah Rani, membawa tas selempang yang sudah ia pakai sejak pertama kali Rani mengenalnya. Pakaian yang ia kenakan tampak sedikit kusut, seolah ia tergesa-gesa sejak pagi.
Namun, yang paling menusuk ketika nelihat mata Bagas. Penuh letih, tapi juga penuh tekad yang tersirat.
Rani hampir kehilangan kekuatan di kakinya. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, menahan tangis yang tiba-tiba muncul tanpa ampun.
Bagas tersenyum kecil. “Kamu kira aku nggak bakal datang ya?”
Rani menggeleng cepat, air mata langsung mengalir. “Aku, aku takut kamu nggak balik lagi, Gas”
Bagas mendekat beberapa langkah hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter.
“Ayahku bilang,” Bagas mulai dengan suara serak, “Indonesia sedang butuh kamu, Gas. Jadi aku datang ke sini dengan segera.”
Kalimat itu memotong hati Rani seperti air hangat yang tiba-tiba mengalir pada luka yang lama.
Ayah Bagas, yang saat ini sedang sakit keras, masih sempat berkata begitu pada anaknya? Yang mungkin dia adalah anak kesayangan yang paling diandalkan di dalam keluarganya.
Rani menahan napas, dadanya yang terasa sesak dipenuhi haru dan rasa bersalah pada Bagas.
“Kamu gimana? Sehat? Bagaimana kondisi Ayahmu sekarang kesehatannya? Kamu baik-baik aja?” Rani bertanya tergagap, suaranya gemetar. “Aku nggak tahu harus nyari kamu ke mana lagi.”
Bagas menunduk sebentar, mengusap tengkuknya. “Maaf. Maaf ya! Banyak hal terjadi. Aku harus temani ayah, aku terlalu fokus sama itu sampai aku lupa bawa charger, lupa semuanya. Handphone pun mati total.”
Rani terdiam, tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain terus memandangi wajah Bagas seperti ia takut sosok itu akan menghilang lagi dari hadapannya.
Bagas menatap Rani dengan sorot yang lembut. Namun, juga melelahkan. “Aku nggak bilang karena aku takut ngerepotin kamu, Ran dan aku takut kamu nantinya malah jadi khawatir.”
Rani mengusap air matanya kasar. “Aku tetap khawatir! Kamu hilang tanpa kabar berhari-hari! Semua orang nyari kamu! Aku, aku.”
Kalimat terakhir tidak ia lanjutkan. Nafasnya tercekat.
Bagas memandangnya lama. Tatapan itu membuat udara di sekitar mereka berubah lebih hangat.
“Aku tahu,” ujarnya pelan seraya menundukkan kepalanya. Dia seperti sedang merasakan yang Rani rasakan di dalam hatinya.
Kru produksi tiba-tiba berteriak dari jauh.
“Hei, bukannya itu Bagas?!” "Itu Bagas bukan sih?!" "Iya, benar. Itu Bagas!"
Sekejap, belasan relawan langsung berlari mendekat.
“Bagas!! Astaga, kamu datang juga akhirnya!” “Kami kira kamu nggak muncul, Gas!” “Festival hampir ganti pemerannya, tahu nggak?!” “Gila! Kamu bikin deg-degan aja deh, Gas!”
Bagas hanya tertawa kecil sambil meminta maaf pada semua orang yang telah dia buat khawatir selama beberapa dirinya tak ada kabar.
Rani memilih untuk melangkah mundur sedikit, memberi ruang bagi yang lain untuk memeluk atau menepuk bahu pada Bagas demi melepas rasa rindu mereka, tapi matanya tidak lepas dari Bagas sama sekali, seolah dia takut jika ia berkedip, orang itu akan lenyap lagi.
Mas Fajar langsung mengusap wajahnya dramatis. “Astaga, hampir jantungan, Gas. Kami sudah mau pakai tokoh pengganti tadinya.”
Bagas tertawa. “Jangan dong, Mas. Nanti anak-anak sanggar protes.”
Semua tertawa, membuat suasana tegang langsung cair dalam hitungan detik.
Lalu Bagas menoleh lagi pada Rani. Tatapannya seakan berbicara lebih banyak dari kata-kata.
Setelah kekacauan kecil itu, kru memanggil Bagas untuk segera ke ruang persiapan.
“Gas, kamu harus bersiap. Pertunjukan dimulai sepuluh menit lagi!” “Make-up cepat! Kostum siap!” “Aku bantu cek sound kamu!”
Bagas mengangguk dan mengikuti mereka. "Okey, siap!"
Namun, saat ia hendak bergerak, tangan Rani tiba-tiba meraih pergelangan tangannya secara refleks, tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
Bagas berhenti. Relawan yang lain berpura-pura sibuk, seolah mereka semua tengah memberi ruang pribadi kecil untuk Bagas dan Rani.
Rani menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. “Jangan hilang lagi, ya, Gas!”
Bagas menatapnya lama. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
“Aku cuma sebentar kok, aku pasti balik lagi, Ran,” jawabnya lembut. “Kali ini beneran.”
“Janji ya, Gas?”
Bagas mengangguk, mata menatap Rani dengan ketulusan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
“Janji.”
Lalu ia menambahkan, dengan suara yang lebih pelan, “Kamu adalah alasan aku segera balik, Ran.”
Rani nyaris tidak bisa bernapas.
Namun, sebelum ia sempat membalas, kru produksi sudah berteriak dari ujung lorong. “Bagas! Ayo cepat! Lima menit lagi!”
Bagas tersenyum sebelum akhirnya berlari kecil masuk ke balik panggung.
Rani berdiri mematung.
Tangannya yang tadi menggenggam Bagas masih panas. Hatinya seperti meledak. Antara lega, bahagia dan terharu yang membuat semuanya bercampur menjadi satu.
Ia memejamkan mata.
Bagas datang. Ia benar-benar datang.
Ia menepati janjinya. Ia muncul di saat paling genting.
Ia datang karena festival, tapi juga karena Rani.
Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan air mata bahagia yang akhirnya keluar.
“Terima kasih ya, Tuhan,” bisiknya.
Suara gong besar terdengar dipukul dari panggung utama, tanda pertunjukan akan segera dimulai.
Keramaian memuncak, lampu-lampu dinyalakan dan musik tradisional pelan mulai dimainkan.
Rani membuka mata. Ia siap.
Festival Keong Mas akan dimulai dalam hitungan menit dan Bagas. Ia ada di sini. Ia kembali.
Tepat saat dunia butuh dirinya dan tepat di saat Rani paling takut kehilangan seseorang yang entah sejak kapan mengisi kehidupan di hatinya.