Bab 24 : Melodi Cinta Keong Mas
Pertunjukan akhirnya dimulai.
Orkestra kecil yang dipilih Bagas duduk melingkar seperti setengah bulan, angklung, suling, rebab dan alat musik modern berdampingan tanpa saling menenggelamkan. Penata lampu menyorotkan warna keemasan yang memantul seperti sisik-sisik halus cangkang Keong Mas di panggung utama. Penonton berdesakan, antusias, bukan hanya karena festival tahunan ini, tapi karena promosi gencar yang sempat viral di media sosial telah membangkitkan nama TMII kembali.
Di antara kerumunan itu, Rani duduk di kursi paling belakang, menyandarkan tubuhnya sambil memeluk lengan sendiri. Dadanya terasa sesak, sebagian karena kelelahan selama berminggu-minggu berjuang, sebagian lagi karena emosi yang tidak bisa dia redam sejak Bagas muncul di balik panggung tadi dan saat melodi pertama bergema, semuanya riuh.
Suling Bagas meluncur lembut, seperti embusan angin yang membawa kenangan dari masa jauh. Cahaya panggung menyorot tubuhnya yang duduk bersila, jemarinya lincah bergerak tanpa ragu. Musiknya tidak hanya terdengar, tetapi terasa. Menyentuh.
Rani menahan napas.
Sebuah memori kecil muncul. Bagas pernah berkata sambil tertawa kecil, “Kalau nanti aku tampil, Ran, dengarkan, ya. Jangan cuma lihat.”
Dulu Rani hanya mengiyakan tanpa pikir panjang.
Sekarang, kalimat itu menusuk jantungnya.
Melodi pertama mengalun seperti kisah yang dibisikkan ke udara. Lembut, hangat. Namun, penuh luka. Bagas memainkan nada-nada tradisi dengan sentuhan modern yang membuat para penonton muda mencondongkan tubuh ke depan, terpikat. Rebab memanggil dengan lirih, angklung merespons dalam nada optimis dan drum elektrik menambah denyut waktu yang membuat musik itu terasa kontemporer.
Rani terisak pelan tanpa bisa menahannya.
Inilah Bagas.
Bagas yang bekerja lembur tanpa mengeluh. Bagas yang diam-diam selalu menolong relawan lain saat mereka kekurangan tenaga. Bagas yang pernah membawakan es degan untuk Rani tanpa diminta karena melihat wajahnya merah kepanasan setelah syuting. Bagas yang mendengarkan isi hati orang lain lebih banyak daripada berbicara. Bagas yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri dulu.
Bagas yang tanpa sadar, telah mengisi ruang kosong di hati Rani dan sekarang, di tengah festival yang gemerlap dan ribuan mata memandangi panggung, perasaan itu muncul sangat jelas. Sejelas pantulan cahaya di air kolam Keong Mas.
Rani mencintainya. Cinta yang tidak dramatis, tidak diumumkan, tidak meledak-ledak. Namun, cinta yang pelan seperti melodi suling yang ditarik panjang mengalir, mengisi celah-celah yang hilang di hidupnya.
Bagas menarik nada lebih tinggi, membuat suasana panggung berubah. Layar LED menampilkan visual Indonesia dari Sabang sampai Merauke, buah kerja diam-diam Rani beberapa hari terakhir untuk konsep asli. Rani terperangah. Ia tidak tahu bahwa tim relawan benar-benar menggunakan filenya.
“Ran, lihat deh, itu kan footage kamu!” salah satu relawan berbisik dari baris depan sambil menoleh ke arahnya.
Rani hanya tersenyum samar, air mata membuat pandangannya buram.
Di layar tampil rumah adat kecil di Sumatra, potongan tari Saman, lalu berganti ke anak-anak Bali yang menari di bawah langit jingga. Lalu Javanese gamelan berpadu dengan elektronik halus. Semua itu seperti film kecil yang bercerita tentang negeri penuh warna, tentang Indonesia yang Rani coba selamatkan lewat videonya.
Musik Bagas menjadi nyawa visual itu dan di tengah gemuruh musik, Rani merasa seluruh hidupnya bergerak pelan seperti bayangan-bayangan dalam film lama. Ia kembali teringat masa kecilnya, saat ayahnya selalu mengajaknya berkeliling TMII setiap libur sekolah. Waktu itu, ayahnya memegang tangannya kuat-kuat saat mereka menonton pertunjukan di Teater Keong Mas.
"Kita harus jaga budaya kita, Ran. Kalau bukan kita, siapa lagi?"
Ayahnya selalu berkata begitu dan kini, ucapan itu menggaung bersama musik Bagas.
Rani meraba dada kirinya, merasakan detak yang begitu cepat.
Setiap nada yang Bagas mainkan seperti berbicara langsung kepadanya. "Kamu tidak sendirian, Ran. Kamu tidak salah. Kamu berjuang untuk sesuatu yang benar."
Lampu panggung bergerak mengikuti irama. Cahaya emas berubah menjadi biru malam, lalu ungu lembut ketika musik memasuki bagian yang lebih dalam. Pada segmen ini, Bagas memejamkan mata, bibirnya bergerak tipis seolah dia sedang berdoa.
Rani tahu, bagian ini pasti untuk ayah Bagas.
Ia semakin menangis, tapi tangis itu bukan sekadar kesedihan. Ada bangga, haru, lega dan cinta.
Cinta yang tumbuh dari kedekatan, kerja sama, canda singkat, diam yang nyaman dan perjuangan yang sama. Cinta yang tidak pernah ia bayangkan datang dari seseorang yang awalnya hanya relawan yang terlalu kalem.
Sementara itu, di panggung, Bagas membuka mata.
Dari jauh, pandangan Bagas menyapu penonton.
Ia tidak mencari sorakan. Tidak mencari pengakuan. Ia mencari seseorang dan pada momen itu, walaupun mereka berada di tengah ratusan orang, mata Bagas dan mata Rani bertemu.
Hanya sepersekian detik. Sangat cepat. Namun, cukup untuk membuat Rani terkejut dan memalingkan wajah.
Jantungnya berdebar keras sekali, seperti gamelan yang dipukul tepat di telinganya.
Bagas tersenyum kecil ketika melihat ekspresi gugup itu. Lalu ia kembali fokus pada alat musiknya.
Pertunjukan memasuki bagian puncak. Penari-penari muncul di belakangnya, membawa kain-kain panjang warna merah, emas dan hijau, menari dengan gerakan lembut yang menggambarkan perjalanan Keong Mas menyelamatkan sang putri dari kutukan. Musiknya bertambah megah, masuk unsur orkestra yang lebih tebal.
Penonton terpesona.
Beberapa merekam dengan ponsel. Beberapa lagi berdiri perlahan, ikut tergerak tanpa sadar.
Rani hanya bisa memandang lurus ke panggung. Ia merasa seperti sedang menyaksikan bukan hanya pertunjukan budaya, tetapi pengakuan diam dari seseorang yang ia kagumi.
Ketika melodi terakhir berakhir dengan sentuhan lembut rebab, lampu panggung padam perlahan. Hanya sorot kecil mengarah ke Bagas.
Ia menunduk, menghela napas, lalu berdiri.
Gemuruh tepuk tangan meledak. Rani ikut berdiri, walaupun lututnya terasa goyah.
Suasana seperti badai hangat. Penonton berteriak memanggil nama Bagas. Relawan lain saling berpelukan. Bahkan beberapa orang meneteskan air mata karena pertunjukan tadi begitu menyentuh.
Namun, di tengah semua itu, Rani hanya memikirkan satu hal. Bagas datang untuk ini. Untuk pertunjukan. Untuk budaya. Untuk TMII. Untuk semua orang dan mungkin untuk dirinya juga?
Rani menutup mulutnya, menahan tangisan yang hampir pecah lagi.
Musik ambient diputar lembut dari speaker. Lampu-lampu tempat duduk menyala kembali. Relawan-relawan berlarian menuju belakang panggung untuk mempersiapkan segmen berikutnya, tapi Rani tetap berdiri di tempatnya. Tidak bergerak. Tidak mampu.
Ia merasa seperti seluruh hidupnya telah diputar kembali dan diarahkan pada satu titik. Bagas. Pria yang bahkan tidak tahu bahwa ia telah menyelamatkan hati Rani dari keruntuhan kantor, dari keraguan diri dan dari rasa kehilangan masa kecilnya.
Rani menatap panggung sekali lagi.
Bagas sudah tidak ada di sana. Ia mungkin sedang di belakang panggung, diselimuti ucapan selamat dari relawan, panitia, tamu-tamu kehormatan.
Rani menarik napas panjang. Ia tahu ia harus menemuinya. Ia tahu ia harus mengucapkan sesuatu, apa pun, meski hanya sekadar, “terima kasih sudah datang.”
Namun, kakinya gemetar. Ini pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa sedalam ini. Pertunjukan itu bukan hanya melodi budaya. Bukan hanya festival tahunan. Bukan hanya penampilan Bagas.
Pertunjukan itu menjadi sebuah pengakuan diam untuk Rani. Bahwa ia mencintai seseorang yang mungkin tidak akan pernah bisa ia miliki atau mungkin, justru seseorang yang selama ini juga menyimpan perasaan yang sama.
Rani menutup mata sejenak dan membiarkan air matanya jatuh terakhir kalinya sebelum ia bergerak.
“Bagas,” bisiknya nyaris tanpa suara. “Sampai kapan pun, aku nggak akan lupa hari ini.”
Ia menghapus air mata, menarik napas lebih dalam lagi, dan mengambil langkah pertama menuju belakang panggung.
Tidak peduli apakah ia siap atau tidak. Tidak peduli apakah Bagas akan menjelaskan sesuatu atau tidak. Yang penting, ia akan menyampaikan apa yang selama ini dipendamnya.
Pertunjukan sudah usai.
Namun, bagi Rani inilah awal dari segalanya.