Ada suara kecil di dalam diriku yang berkata, “Berhenti dulu. Kamu sudah cukup jauh.”
Tapi ada suara lain, lebih pelan, lebih sabar, yang menjawab, “Kalau berhenti di sini, kamu akan selamanya hidup dengan setengah kebenaran.”
Aku duduk di ruang kerja Ayah dengan map cokelat terbuka di depanku. Kertas-kertas itu tidak bergerak. Hanya aku yang bergetar. Inisial itu masih ada di sana.
RA Dua huruf sederhana, tapi rasanya seperti pintu besi yang menahan sesuatu di baliknya. Aku mengusap wajahku.
“Baik,” kataku pelan pada diri sendiri. “Ini bukan mimpi buruk. Ini hidup.” Aku berdiri.
Aku berjalan ke lemari arsip kayu kecil di sudut ruangan. Ayah menyimpan semua hal yang “tidak untuk dilihat semua orang” di sini. Aku tahu karena dulu pernah memergokinya menaruh amplop tebal di sana, dan aku masih ingat cara ia menoleh cepat seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan kue.
Aku membuka laci pertama. Surat-surat kantor. Laci kedua. Tagihan lama. Laci ketiga. Aku berhenti. Di sana ada tumpukan map tanpa label, disusun rapi seperti barisan kalimat yang tidak ingin dibaca dunia.
Tanganku ragu sepersekian detik. Lalu bergerak juga. Aku mengambil map paling bawah. Entah kenapa, hatiku tahu jawaban jarang berdiri di paling atas.
Aku membukanya. Bukan catatan medis. Bukan foto. Bukan apa pun yang dramatis. Hanya lembar-lembar fotokopi Kartu Keluarga lama, akta kelahiran, akta kematian.
Aku menghela napas lega sesaat. Mungkin bukan ini. Sampai mataku berhenti pada satu lembar yang berbeda dari yang lain.
Formulir. Tanggalnya: dua puluh tahun lalu. Judulnya: “PERUBAHAN DATA KELUARGA — PERLINDUNGAN IDENTITAS” Aku menarik kursi dan duduk perlahan. Di kolom pertama tertulis: Nama pemohon: Ananto (nama ayahku) Di kolom berikutnya: Alasan permohonan: perlindungan terhadap anggota keluarga yang mengalami tindakan kekerasan…
Tenggorokanku mengering. Aku lanjut membaca. Ada bagian “data pihak terkait”. Di bagian “nama korban” hanya tertulis garis panjang. Kosong.
Tapi di bawahnya ada kolom: Nama pihak laki-laki (inisial): R.A. Aku meremas ujung kertas. Bukan karena kaget, tapi karena inisial itu sekarang terasa lebih nyata daripada sekadar huruf-huruf di pojok dokumen medis tadi.
Di bawahnya ada kalimat kecil dengan tulisan tangan Ayah, huruf miringnya yang khas. “identitas lengkap hanya dicantumkan pada lampiran C, simpan terpisah.” Lampiran C. Aku menoleh ke dalam map. Tidak ada lampiran C. Aku mencari di map lain. Laci lain. Tumpukan lain. Tidak ada. Aku tertawa pelan.
“Ayah, kamu terlalu rapi,” gumamku. Kalau ada lampiran C, itu pasti disimpan di tempat lain yang tidak mudah ditemukan.
Aku menyapu pandangan ke seluruh ruangan. Buku-buku tua. Rak besar. Album foto lama. Aku berdiri dan mulai menarik satu per satu benda, bukan dengan panik, tapi dengan kehati-hatian orang yang tahu bahwa setiap lembar kertas bisa jadi memori yang rapuh.
Di antara rak buku, ada Alkitab tua milik Ayah. Sampulnya sudah lusuh, sudutnya robek sedikit. Aku hampir melewatinya. Hampir. Sampai aku teringat satu kebiasaan Ayah: ia sering menyelipkan apa pun di antara halaman buku, karena katanya “kertas mencari kertas”.
Aku membuka perlahan. Di tengah halaman, terdapat amplop bening kecil. Tidak besar. Tidak berat. Aku menghirup napas pelan, menariknya keluar.
Tulisan kecil di depannya: Lampiran C
Aku duduk kembali. Tangan kiriku memegang amplop. Tangan kananku melepaskan penutupnya. Ada selembar kertas dilipat tiga. Aku buka. Nama itu muncul tanpa peringatan. Tanpa usaha untuk bersembunyi. Rahmat Adirianto
Aku terpaku. Huruf-huruf itu berdiri tenang, tidak melakukan apa pun, tapi keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat napasku goyah. Aku membaca ulang nama itu. Rahmat Adirianto. RA
Inisial yang sama. Bukan Rian. Bukan orang asing. Aku mengenal nama itu. Aku mengulangnya dalam hati, mencoba menghubungkannya dengan wajah. Rahmat Adirianto.
Seseorang yang sering disebut Ibu ketika membicarakan masa lalu Ayah. Seseorang yang beberapa kali mengirim karangan bunga saat ada acara keluarga. Seseorang yang dulu sering dipanggil “Om Rahmat.” Darahku seperti turun beberapa derajat. Om Rahmat. Sahabat lama Ayah. Rekan bisnisnya.
Orang dewasa yang dulu selalu menepuk kepalaku sambil tertawa dan bilang, “Anak manis harus banyak senyum.” Aku merasakan mual yang tidak ada hubungannya dengan fisik. Aku memegang meja agar tidak goyah. Aku membaca catatan kecil di bawah nama itu.
Tulisan tangan Ayah lagi, “Orang ini tidak pernah akan kutelepas dari mataku. Tapi aku memilih diam demi adikku.” Aku menutup mulut dengan tangan. Bukan karena ingin menjerit. Karena tiba-tiba ingin tetap bisa bernapas. Om Rahmat. Laki-laki 35 tahun pada waktu itu. Orang dekat keluarga. Sahabat Ayah. Aku merangkai kalimat yang bahkan tidak ingin kupikirkan, dua puluh tahun lalu
Sisca kehamilan yang tidak diinginkan kekerasan nama laki-laki disembunyikan
Ayah menandatangani persetujuan tindakan medis Om Rahmat yang tiba-tiba hilang dari lingkar keluarga setelah itu Aku menggenggam kertas itu. Bukan untuk merobeknya. Untuk memastikan itu nyata.
“Ayah…” bisikku. “Apa yang harus kulakukan dengan semua ini?”
Suara langkah terdengar di koridor. Aku cepat-cepat memasukkan kertas ke dalam map, bukan karena ingin menyembunyikannya dari siapa pun, tapi karena aku belum siap bicara. Pintu diketuk.
“Ani?”
Suara itu. Tenang. Hening. Masih mampu membuat sesuatu bergerak di dalam dadaku.
Sisca. Aku menghela napas. “Masuk.”
Pintu terbuka. Ia berdiri di ambang pintu, menatapku dengan sorot mata orang yang sudah terlalu sering kehilangan, tapi tetap datang.
“Kamu di sini lagi,” katanya pelan.
“Aku di sini lagi,” jawabku.
Ia melangkah masuk. Pandangan matanya sedikit menyapu meja, rak, map. Tidak mencari. Hanya memperhatikan.
“Kamu kelihatan… berbeda,” katanya akhirnya.
“Apa maksudnya?” tanyaku.
“Kamu tidak lagi terlihat seperti orang yang dikejar rahasia,” katanya.
“Kamu terlihat seperti orang yang mulai mengejar kebenaran.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku menemukan nama,” kataku pelan.
Ia berhenti. Tubuhnya menegang halus. Tidak terlihat orang luar, tapi terasa olehku.
“Nama siapa?” suaranya turun.
Aku menatapnya. Aku tidak memutar kalimat.
“R.A.,” kataku.
“Rahmat Adirianto.”
Beberapa detik, waktu tidak bergerak. Sisca memejamkan mata. Lalu membukanya lagi. Dan perlahan, sangat perlahan, ia duduk di kursi seberangku. Ia tidak menyangkal.
Tidak bertanya “siapa itu?”
Tidak mencari alasan.
Ia hanya bertanya pelan, “Kamu sudah baca apa saja?”
Aku menunjuk map medis yang kini tertutup rapi. “Cukup untuk tahu,” jawabku, “bahwa dua puluh tahun lalu tidak hanya tentang seseorang pergi. Tetapi tentang sesuatu yang terjadi padamu.”
Matanya berair, tapi tidak ada air mata yang jatuh. Aku melanjutkan, “Dan cukup untuk tahu… bahwa Ayah memilih diam, bukan karena dia lemah, tapi karena dia mencintai kamu dengan cara yang mungkin aku belum sepenuhnya mengerti.”
Sisca tersenyum tipis. Itu senyum yang bukan berarti bahagia, tapi berarti seseorang akhirnya berhenti lari.
“Aku tidak akan bertanya detailnya hari ini,” kataku. “Aku hanya ingin kamu tahu… aku tahu namanya.” Ia menatapku.
“Apa kamu benci aku?” tanyanya pelan. Aku menggeleng.
“Tidak,” jawabku jujur.
“Aku hanya sedang belajar membenci orang yang tepat.”
Kami sama-sama terdiam. Di antara kami berdua, udara kini terasa berbeda: lebih berat, tapi juga lebih jujur. Aku menatap kertas yang sekarang sudah kusimpan kembali. Nama itu tetap ada di kepalaku.
Rahmat Adirianto. Laki-laki yang selama ini lewat di cerita masa kecilku sebagai sekadar “teman Ayah”, ternyata berdiri di poros cerita yang mengubah hidup banyak orang: Ayah, Sisca, dan mungkin… aku.
Di luar, angin bertiup lebih kencang, seolah ingin menghapus debu dari kaca jendela. Aku tahu satu hal, mulai sekarang, rahasia ini tidak lagi berputar-putar di sekitarku. Aku sudah memegang salah satu ujungnya. Dan aku juga tahu, di ujung lain rahasia itu, seseorang yang masih hidup… menunggu untuk dipertemukan dengan kebenaran yang sudah ia tinggalkan dua puluh tahun lalu.