Drama #Humor #Baper

RED FLAG RASA FRESH

08 January 2026

Harlia berjalan cepat keluar gedung kantor. Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima.

“Gawat,” gumamnya sambil mengecek ponsel. Tidak ada pesan baru dari Topan, tapi janji makan siang itu seperti bom waktu yang terus berdetak di kepalanya.

Ia merapikan tas, menarik napas, lalu mempercepat langkah. Dan tepat saat ia berbelok di dekat loading dock—

BRAKK.

“Aduh!”

“Eh—maaf, maaf!”

Dua suara bertabrakan bersamaan. Harlia oleng, hampir jatuh, tapi seseorang sigap menahan lengannya.

“Hati-hati,” kata suara itu.

Harlia mendongak.

Jordi.

Kemeja kotak-kotak. Celana hitam. Sepatu agak berdebu. Wajahnya tampak lebih segar dibanding pertemuan terakhir—atau mungkin karena Harlia sedang tidak fokus pada dunia.

“Kamu?” Harlia terkejut. “Mas Jordi?”

Jordi tersenyum lebar. “Masih hidup ternyata.”

Harlia terkekeh. “Mas juga.”

“Mau ke mana buru-buru banget?” tanya Jordi.

“Makan siang,” jawab Harlia cepat. “Eh, maksudnya—ada urusan.”

Jordi mengangguk. “Aku juga. Abis nurunin barang.”

Ia mengangkat kantong plastik kecil di tangannya.

“Oh,” Harlia menunjuk. “Bekal?”

“Iya,” kata Jordi santai. “Dari rumah.”

Ia membuka sedikit kantong itu, lalu mengeluarkan sebuah apel merah mengkilap.

“Ini,” katanya sambil menyodorkan apel itu ke Harlia.

Harlia refleks menggeleng. “Eh, jangan—itu kan bekal Mas.”

“Ambil aja,” kata Jordi ringan. “Kamu keliatan belum makan.”

Harlia ragu. “Nggak enak.”

“Daripada kebuang,” jawab Jordi cepat. “Ibu aku selalu bilang, berbagi itu bikin kenyang lebih lama.”

Harlia tertawa kecil.

“Apa-apaan sih,” katanya sambil menerima apel itu. “Makasih.”

“Jangan lupa dicuci,” kata Jordi serius.

“Iya,” sahut Harlia sambil tersenyum.

Sejenak mereka diam. Diam yang aneh—bukan sunyi penuh tekanan, tapi sunyi yang seperti antrean lampu merah: tahu sebentar lagi jalan, cuma belum tahu ke arah mana.

Harlia memutar apel di tangannya, menatap kulitnya yang mengkilap. Dalam hati ia berpikir, Kenapa apel ini terasa lebih berat dari chat Topan? Padahal apel cuma apel. Tidak menjanjikan apa-apa. Tidak minta ditunggu. Tidak pakai kata “nanti” yang bisa berarti apa saja.

Ia melirik Jordi sekilas. Cowok itu berdiri santai, satu tangan di saku, satu lagi memegang kantong plastik bekas bekal yang sekarang isinya tinggal kenangan. Aneh, pikir Harlia, orang ini nggak nanya apa-apa, tapi rasanya kepalaku malah lebih sepi. Biasanya, kalau cowok diam, Harlia sibuk menebak: marah? bosan? salah aku apa? Tapi dengan Jordi, diamnya seperti kursi kosong—boleh diduduki, tapi nggak maksa.

Di sisi lain, Jordi sedang berpikir keras tapi dengan topik yang sangat tidak heroik: Kenapa aku ngasih apel terakhir ya? Bukan menyesal, sih. Lebih ke heran. Biasanya dia pelit sama bekal, hasil didikan ibu yang traumatis sama harga buah. Tapi melihat Harlia barusan—lari-lari, wajah tegang, mata kayak orang baru kehilangan sinyal Wi-Fi—tangannya refleks bergerak sendiri.

Jordi melirik Harlia. Cewek itu kelihatan… normal. Tapi bukan normal yang datar. Normal yang seperti orang habis nangis tapi udah capek buat pura-pura kuat. Ini cewek aneh, pikir Jordi. Jatuh bisa ketawa. Sedih bisa bercanda. Pegang apel kayak lagi pegang keputusan hidup.

Harlia akhirnya buka suara duluan. “Mas Jordi sering ke sini?”

“Lumayan,” jawab Jordi. “Kalau nggak ke sini, ke gudang. Hidup aku muter di situ-situ aja.”

Harlia mengangguk. Kedengerannya sederhana, batinnya. Dan anehnya… menenangkan. Tidak ada kata “target”, tidak ada “tiga miliar”, tidak ada tekanan waktu seperti bom dengan timer merah.

“Har,” panggil Jordi tiba-tiba.

“Hm?”

“Kamu tadi kelihatan buru-buru. Penting?”

Harlia terdiam sepersekian detik. Dalam kepalanya, wajah Topan lewat seperti iklan pop-up yang ingin ditutup tapi muncul lagi. Janji makan siang. Nada chat yang dingin. Semua ribut.

“Penting,” jawabnya akhirnya. “Tapi… aku nggak yakin penting buat aku atau buat orang lain.”

Jordi mengangguk pelan, seolah itu jawaban paling masuk akal di dunia. “Biasanya yang bikin capek memang yang gitu.”

Harlia tertawa kecil. “Mas ini kenapa kayak buku motivasi versi warung kopi sih?”

Jordi terkekeh. “Pengalaman. Gagal itu guru yang cerewet.”

Sunyi lagi.

Tapi kali ini, sunyinya lebih hangat.

Harlia menggenggam apel itu sedikit lebih erat. Aneh, pikirnya. Aku lagi menuju percakapan yang menentukan hidupku, tapi lima menit sama orang ini rasanya… aman.

“Makasih apelnya," ucap Harlia.

“Sama-sama,” jawab Jordi. “Semoga nggak asem.”

Harlia tersenyum. “Kalau asem, aku anggap pengingat hidup.”

Jordi mengangkat alis. “Dalam banget.”

“Lagi latihan,” kata Harlia.

“Eh, kaki kamu kenapa?” tanya Jordi menunjuk perban di pergelangan kaki Harlia.

“Ah,” Harlia mengibaskan tangan. “Kesandung… takdir.”

Jordi tertawa. “Takdir sering nyandungin orang baik.”

Harlia terdiam sejenak.

“Mas Jordi baik ya,” katanya refleks.

Jordi terkekeh. “Kalau baik, nggak jadi sopir truk.”

“Loh,” Harlia protes. “Baik sama pekerjaan itu juga baik.”

Jordi menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih,” katanya.

Dan tepat di saat itu—

“Harlia!”

Suara itu datang dari belakang.

Harlia menoleh.

Topan.

Dengan kacamata hitam, jam besar di pergelangan tangan, dan mobil mewah terparkir tak jauh dari situ. Ia melangkah mendekat, matanya langsung mengarah ke Jordi.

“Ayo,” kata Topan sambil meraih bahu Harlia. “Aku udah nunggu.”

Harlia terkejut.

“Oh—Topan,” katanya gugup. “Ini Mas Jordi.”

Topan menatap Jordi dari ujung rambut sampai ujung sepatu.

“Temen kantor?” tanya Topan singkat.

“Ng—nggak,” jawab Harlia. “Mas Jordi yang bantu aku waktu—”

“Ya udah,” potong Topan cepat. “Makasih ya, Mas.”

Nada suaranya sopan. Bahasanya ramah. Tapi tubuhnya…

Tangannya melingkar di pinggang Harlia. Memperlakukan Harlia seperti obyek itu miliknya. Jelas terlihat dan terlalu dekat.

Jordi mengangkat alis sedikit.

“Oh,” katanya pelan. “Oke.”

Ia menoleh ke Harlia. “Hati-hati, ya.”

Harlia mengangguk. “Iya, Mas. Makasih apelnya.”

Topan menoleh cepat ke apel di tangan Harlia.

“Apel?” tanyanya.

“Eh—” Harlia gugup. “Iya, dikasih Mas Jordi.”

Topan tersenyum tipis, lalu menatap Jordi lagi.

“Harlia alergi apel,” kata Topan ringan tapi tegas.

Harlia tersentak. “Hah? Aku nggak—”

“Kamu nggak perlu nerima pemberian dari cowok lain,” jawab Topan datar.

Harlia menelan ludah. Jantungnya berdebar.

“Topan…” katanya ragu. “Kamu posesif?”

Topan menoleh, tersenyum miring. “Aku protektif.”

Harlia terdiam.

Perutnya terasa hangat. Bukan karena apel. Tapi karena perasaan itu.

Dipilih.

Dimiliki.

“Aku cuma nggak suka kamu terlalu dekat sama cowok lain,” lanjut Topan. “Kamu itu… punya aku.”

Kalimat itu jatuh pelan.Tapi menghantam keras.

“Eh,” Topan menekan pinggang Harlia sedikit. “Iya kan?”

Harlia terdiam.

Jordi memandang Harlia sejenak.

“Oh,” katanya singkat. “Kalau gitu, maaf.”

“Gak apa-apa,” jawab Topan cepat. “Aku yang urus.”

Ia menarik Harlia perlahan. “Ayo.”

Jordi mundur selangkah.

“Oke,” katanya. “Kalau begitu… saya jalan dulu.”

Harlia membuka mulut. “Mas—”

Tapi Topan sudah melangkah. Di dalam mobil, Harlia masih memegang apel itu.

Topan melirik. “Buang aja.”

“Kenapa?” tanya Harlia pelan.

Harlia menatapnya.

“Aku suka,” katanya jujur. “Kamu gitu.”

Topan tersenyum, puas.

“Aku tau,” katanya.

Mobil melaju. Di kaca spion, Jordi berdiri diam, menatap mobil itu pergi. Di tangan Harlia, apel itu masih utuh. Dan di dadanya, perasaan yang kembali tumbuh tanpa izin.

Bahwa mungkin….di antara semua keraguan, Topan benar-benar menginginkannya. Atau setidaknya, ingin terlihat seperti itu.

Bab ini berakhir dengan satu adegan sunyi.

Harlia menatap ke depan, tersenyum kecil, sementara apel di tangannya perlahan memar, seperti perasaan yang terlalu cepat dipercayai.