Drama #Humor #Baper

PROSES MULU KAPAN NIKAHNYA?

08 January 2026

Restoran itu terlalu terang untuk suasana hati Harlia.

Lampu-lampu kuning menggantung manis, musik jazz pelan mengalun, dan pelayan berlalu-lalang dengan senyum profesional. Semua tampak seperti tempat yang seharusnya menyenangkan—tempat orang-orang membicarakan rencana liburan atau menu diet, bukan masa depan yang terasa seperti kontrak bisnis.

Harlia duduk tegak, kedua tangannya bertumpu di pangkuan. Ia sudah mengganti ekspresi panda dengan bedak tebal, tapi lelahnya tetap terlihat di balik mata.

Topan duduk di seberangnya, santai seperti biasa. Kemeja licin, jam mahal, dan aura percaya diri yang selalu datang lebih dulu sebelum ucapannya.

“Pesan apa?” tanya Topan sambil membuka menu tanpa benar-benar membaca.

“Apa aja,” jawab Harlia pelan.

Topan tertawa kecil. “Kamu selalu gitu. Hidup aja ‘apa aja’.”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi Harlia menangkapnya seperti sindiran kecil. Ia tersenyum, refleks, seperti kebiasaan lama yang sulit dilepas.

Mereka memesan. Makanan datang. Garpu beradu dengan piring, tapi tidak ada yang langsung makan.

Harlia menatap es batu di gelasnya. Ia menghitungnya satu per satu, seperti mencari alasan untuk tidak langsung bicara.

Topan akhirnya membuka suara.

“Jadi,” katanya sambil menyandarkan punggung, “kita ngomong serius ya.”

Harlia mengangguk.

“Aku mau tau,” lanjut Topan, “kamu masih mau lanjut atau enggak.”

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi dada Harlia mengencang. Kata lanjut menggantung seperti pintu yang setengah terbuka.

“Aku mau,” jawab Harlia cepat. Terlalu cepat. “Aku dari awal mau.”

Topan mengangguk pelan. “Bagus.”

Ia menyeruput minumannya, lalu melanjutkan dengan nada lebih rendah.

“Aku juga mau halalin kamu.”

Kalimat itu biasanya membuat Harlia melayang. Tapi kali ini, ia hanya merasakan hangat sebentar, lalu dingin.

“Cuma,” tambah Topan.

Dan di situlah dunia Harlia selalu mulai retak.

“Maharnya… ya kamu tau sendiri.”

Harlia mengangguk. “Tiga miliar.”

“Angka yang… ya,” Topan tertawa kecil, “menantang.”

Harlia ikut tertawa kecil, meski rasanya seperti menertawakan dirinya sendiri.

“Aku lagi usaha,” lanjut Topan. “Serius.”

Harlia mencondongkan badan sedikit. “Usaha gimana?”

Topan berhenti sejenak, seperti memilih kata. Garpu di tangannya menggantung di udara seperti ikut mikir. Alisnya berkerut tipis, ekspresi yang biasanya muncul kalau ia sedang menghitung—bukan perasaan, tapi kemungkinan.

Harlia menunggu. Dalam kepalanya, jeda itu berubah jadi ruang sidang. Kata usaha duduk di kursi terdakwa, sementara tiga miliar berdiri sebagai jaksa galak yang tak pernah kehabisan argumen.

“Aku lagi muter,” kata Topan akhirnya. “Cari peluang.”

“Peluang apa?” tanya Harlia pelan, suaranya setenang mungkin, meski jantungnya sudah pakai sepatu lari.

Topan menghela napas kecil. “Bisnis. Investasi. Kerja sama.”

Harlia mengangguk. Ia paham istilah-istilah itu. Ia hanya tidak paham kenapa semuanya terdengar seperti jawaban aman di wawancara kerja, bukan rencana hidup.

“Dan?” dorongnya lembut.

Topan tersenyum, senyum versi tenang, aku pegang kendali. “Ya… proses.”

Ah. Kata pamungkas itu. Proses. Kata serba guna yang bisa berarti sedang dikerjakan, belum dimulai, atau bahkan belum jelas mau ke mana.

Harlia menatap piringnya. Makanannya masih utuh, seperti dirinya yang belum tersentuh kepastian. Ia tertawa kecil, refleks.

“Lucu ya,” katanya. “Aku ini mau dinikahi, tapi rasanya kayak lagi nunggu hasil seleksi tahap dua.”

Topan ikut tertawa. “Kamu kebanyakan mikir.”

“Mungkin,” jawab Harlia. “Soalnya yang aku pegang cuma mikir. Bukan angka.”

Topan terdiam lagi. Kali ini lebih singkat. Tapi Harlia sudah tahu—diam versi ini bukan karena kehabisan kata, tapi karena semua kata terasa terlalu mahal.

Dan di antara sendok, piring, dan lampu restoran yang terlalu terang itu, Harlia tiba-tiba sadar: menunggu bisa melelahkan bukan karena lamanya, tapi karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang ditunggu.

“Aku nggak sendirian,” kata Topan akhirnya.

Harlia mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Topan mengusap dagunya. “Ada beberapa opsi.”

“Opsi?” ulang Harlia.

“Iya,” kata Topan ringan. “Bantuan, pinjaman, kerja sama.”

Harlia menelan ludah. “Kerja sama, kerja sama, dengan siapa?”

Topan tersenyum kecil. “Arin.”

Nama itu jatuh tanpa aba-aba. Bukan dilempar. Tidak ditegaskan, hanya disebut, tapi cukup untuk membuat dunia Harlia berhenti sebentar.

“Arin?” ulang Harlia, nyaris berbisik.

“Iya,” jawab Topan santai. “Dia punya akses, kenalan, ide. Pintar.”

Pintar.

Kata itu berputar di kepala Harlia, bertabrakan dengan wajah Arin di toilet, dengan tatapan simpatik yang terasa terlalu tahu.

“Oh,” kata Harlia.

Topan tidak menangkap perubahan itu. Atau mungkin memilih tidak.

“Dia bilang bisa bantu cari skema,” lanjut Topan. “Supaya angka itu bisa ketutup.”

Harlia tersenyum. Senyum tipis. Senyum orang yang sedang menahan runtuh.

“Pantesan,” katanya pelan.

“Pantesan apa?” tanya Topan.

“Pantesan Arin tau banyak,” jawab Harlia. “Tentang aku. Tentang kamu. Tentang… semuanya.”

Topan mengangkat bahu. “Aku cerita aja.”

“Cerita apa?” Harlia bertanya, masih dengan senyum yang dipaksa. “Tentang aku yang mahal?”

Topan terkekeh. “Jangan sensitif.”

Kata itu menusuk. Bukan karena keras, tapi karena sering.

“Aku nggak sensitif,” jawab Harlia. “Aku cuma…”

Ia terdiam. Kalimatnya tidak menemukan ujung.

“Kamu cemburu?” tanya Topan, nada suaranya setengah menggoda.

Harlia menatapnya. Cemburu? Iya. Tapi bukan hanya itu.

“Sedikit,” jawab Harlia jujur.

Topan tersenyum puas. “Lucu.”

Lucu? Harlia mengangguk. Iya, pria itu bilang lucu.  Padahal hatinya seperti diremas pelan-pelan.

Mereka makan, atau setidaknya berpura-pura. Topan bercerita soal peluang, soal waktu, soal kesabaran. Harlia mendengarkan, tapi pikirannya melayang ke hal-hal kecil yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.

Cara Topan menyebut nama Arin tanpa ragu.

Cara Arin menyentil soal mahar.

Cara semua orang seolah sepakat bahwa urusan hidup Harlia bisa dibicarakan tanpa Harlia.

Saat mereka berpisah, Topan mencium kening Harlia singkat.

“Tunggu aku,” katanya. “Percaya padaku, ya?"

Harlia mengangguk. Ia selalu begitu. Apa saja apa adanya.

Di rumah, Harlia masuk ke kamar tanpa menyapa siapa pun. Ia duduk di tepi ranjang, sepatu masih terpasang, tas tergeletak sembarang.

Ia menatap kalender di dinding. Lingkaran merah di tanggal tertentu tampak seperti mata yang mengawasinya. Waktu yang diberikan orang tua. Ia menghitung hari dengan jari.

Sedikit.

Terlalu sedikit untuk harapan sebesar itu. Pandangan Harlia beralih ke meja belajar. Di sana, apel merah itu tergeletak.

Masih utuh.

Mengkilap.

Sedikit memar di satu sisi.

Ia mengambil apel itu, memutarnya perlahan.

“Harusnya aku makan kamu,” gumamnya.

Tapi ia tidak menggigit. Ia hanya meletakkannya kembali, tepat di tengah meja, seperti penanda.

Penanda bahwa ada kebaikan kecil yang datang tanpa syarat. Tanpa angka. Tanpa perhitungan.

Harlia berbaring, menatap langit-langit. Di dadanya, perasaan campur aduk berdesakan cinta, takut, cemburu, harap, dan lelah.

Ia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak membayangkan pernikahan.

Ia hanya membayangkan apel it yang tidak pernah diminta, tidak pernah dijanjikan, dan tidak pernah menyebut nama siapa pun selain dirinya sendiri.

Bab ini berakhir dalam sunyi.

Dengan kalender yang terus berjalan.

Dengan nama Arin yang tertinggal di udara.

Dan dengan sebuah apel yang perlahan menguning, seperti hati Harlia yang mulai lelah menunggu matang.