Dinikahi Paman Mantan - Kekasih Om Agam - Bab 7

Penulis Nuvola
15 September 2025

Lily membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Agam yang masih terlelap. Untuk beberapa detik Lily terkejut, dia belum terbiasa dengan kehidupan pernikahannya yang baru saja dimulai ini. Detak jantung Lily selalu berdetak lebih cepat ketika melihat wajah Agam.

Kini Lily memperhatikan wajah suaminya itu yang masih terlelap. Tangannya tanpa sadar terulur ingin menyentuh wajah Agam. Namun, sebelum tangan itu benar-benar menyentuh, tiba-tiba Agam bergerak membuat Lily langsung memejamkan matanya kembali.

Lily merasakan pergerakan kasur di sampingnya pertanda Agam turun dari kasur. Tak lama terdengar suara pintu yang tertutup membuat Lily segera membuka matanya. Suara gemericik air terdengar membuat Lily menatap jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.

“Pagi sekali dia mandinya,” gumam Lily yang kemudian memilih kembali menarik selimut untuk tidur. Tapi karena sudah terbangun dia tak lagi bisa tidur, membuat Lily hanya menatap langit-langit kamar. Hingga suara pintu kamar mandi dibuka membuat Lily menoleh ke arah kamar mandi.

Terlihat Agam yang keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Lily mengerjap-ngerjapkan matanya hingga beberapa detik kemudian dia tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.

“Ih berdosa sekali mataku ini,” gumam Lily tanpa sadar hingga terdengar di teling Agam.

Tanpa Lily sadari Agam mengulum senyumnya sebelum dia masuk ke walk-in closet.

Karena tidak bisa tidur Lily memilih memainkan ponselnya. Dia fokus dengan ponsel itu hingga suara Agam membuatnya menoleh.

“Kamu segera ganti baju, kita pindah ke rumah kita sekarang.”

“Sepagi ini?” tanya Lily yang mendapatkan anggukan kepala dari Agam.

“Aku tak ingin mereka mengganggumu lagi, semalam aku juga sudah berpamitan kepada Ibu.”

“Tapi aku tidak mau mandi, dingin,” ucap Lily.

“Iya.”

Jawaban singkat dari Agam membuat Lily bangkit dari tempat tidur, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Agam menunggu Lily dengan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Beberapa menit kemudian terlihat Lily yang sudah siap memakai dres putih dengan pita kecil di pundaknya. “Pakai jaket,” ucap Agam saat melihat penampilan Lily.

“Tidak mau, lagian kita juga naik mobil tidak akan kedinginan,” tolak Lily.

“Kamu tidak mau mendengarkan kata suami? Lupa sama perjanjian yang kita buat?”

“Perjanjian?”

“Pihak kedua harus menuruti perkataan pihak pertama karena pihak pertama adalah suami!”

Menyebalkan! Batin Lily.

“Sepertinya hanya Om yang diuntungkan dalam perjanjian itu,” gerutu Lily.

“Tapi jika aku selingkuh maka kamu yang akan diuntungkan karena semua hartaku akan jatuh ke tangan kamu.”

“Yasudah Om buruan deh selingkuh sebelum aku punya perasaan,” ucap Lily tanpa sadar sambil mengenakan baju rajut dengan kombinasi warna hijau dan putih.

“Apa kamu tidak mau menjalani pernikahan yang normal denganku?”

“Bukan tidak mau, aku hanya tidak ingin mendengar keluarga Om yang menghinaku karena aku tidak bisa memberikan keturunan,” jelas Lily dengan jujur.

Agam menatap intens Lily yang tengah sibuk merapikan rambutnya. “Bukan tidak bisa hamil tapi peluang untuk hamil lebih kecil dari wanita yang lain, bukan?”

“Tapi menurutku itu sama saja.”

“Kita tidak tahu jika kita tidak mencobanya.”

Lily langsung menatap ke arah Agam ketika mendengar ucapan Agam itu. Alis Lily terangkat, dia berpikir sejenak tentang kata-kata Agam itu. Lily melangkah ke arah Agam dia berhenti tepat di depan Agam.

“Memangnya Om nafsu denganku? Semalam kita tidur bersama saja Om sama sekali tidak tergoda denganku, sepertinya Om benar-benar gay.”

Seketika Agam melotot mendengar ucapan Lily yang kembali mempertanyakan kejantananya. Lily yang menyadari kemarahan di wajah Agam langsung terbirit berlari keluar dari kamar.

“Om, bawakan koperku!” teriak Lily yang meninggalkan Agam dengan wajah yang merah menahan amarahnya.

Lily berlari sambil mengulum tawanya, entah mengapa dia merasa sangat senang bisa menggoda Agam. Dia sekarang seperti menemukan kesenangan baru. Dia berhenti di depan lift, dia melihat Agam yang jauh di belakangnya tengah menyeret koper pink.

Melihat itu Lily kembali tertawa, Agam dengan tubuh atletis membawa koper pink begitu lucu dimata Lily. Ting! Pintu lift terbuka, namun saat itu senyum Lily memudar.

Rafael berada di dalam lift dengan wajah yang penuh dengan memar dan bagian kepala yang tertutup perban. Lily melangkah mundur saat Rafael melangkah mendekat ke arahnya.

“Lily, aku minta maaf,” ucap Rafael yang ingin meraih tangan Lily. Tapi, Agam segera menghalau tangan Rafael. Melihat kehadiran Agam, maka Lily langsung mundur dan berdiri di belakang tubuh Agam seolah dia mencoba meminta perlindungan kepada Agam.

“Aku membiarkanmu lolos bukan berarti aku memaafkanmu! Jangan pernah berada di dekat istriku lagi!” tegas Agam memberi peringatan.

“Aku benar-benar mencintaimu, Lily. Aku hanya ingin mendapatkanmu kembali,” ucap Rafael terus terang.

Agam melangkah mendekat ke arah Rafael. Namun baru satu langkah, Lily menahan tangan Agam. “Lebih baik kita segera pergi daripada mendengarkan omong kosong disini,” ucap Lily yang mendongak menatap Agam.

Agam mengangguk lalu dia segera menggandeng tangan Lily untuk masuk ke dalam lift. Tatapan Rafael tak lepas dari Lily dan Agam yang masuk ke dalam lift. Agam pun menatap tajam ke arah Rafael.

“Makasih Om,” ucap Lily setelah pintu lift tertutup membuat Agam menoleh.

Pandangan mata mereka bertemu membuat keduanya membisu. Hingga pintu lift terbuka keduanya masih saling menatap dalam kebisuan.

“Heem.”

Suara seseorang membuat Agam dan Lily tersadar. Seorang pria dengan memakai kemeja berdiri di depan lift.

“Kenapa kau kesini pagi-pagi buta gini?” tanya Agam.

Lily menatap Agam dan pria itu saling bergantian, lalu Lily pun berjinjit untuk membisikan sesuatu kepada Agam.

“Jadi, dia kekasih Om?”

Satu sentilan mendarat di dahi Lily membuat Lily mengadu sakit. “Sakit Om!” protes Lily.

“Bawa koper Nyonya, kita bicara di rumah,” ucap Agam dengan ketus lalu menarik tangan Lily agar mengikutinya.

“Om, kekasih Om kok ditinggal?” tanya Lily.

“Mulutmu memang harus diberi pelajaran,” ucap Agam dengan nada yang ditekan lalu tanpa basa basi langsung melumat bibir Kirana.

Kirana memukul dada Agam agar melepaskan ciumannya, posisi mereka kini berada dihalaman depan samping mobil Agam. Ada beberapa penjaga disana yang langsung mengalihkan pandangannya. Mereka tahu jika mereka tak menjaga mata maka mereka akan kehilangan mata itu.

“Om!” seru Lily yang berhasil mendorong tubuh Agam hingga ciuman mereka terlepas. “Ingat tempat!” protes Lily yang kemudian membuka mobil dan langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan Agam yang tengah membersihkan bibirnya yang berdarah akibat gigitan dari Lily.

Smirk terlihat di wajah Agam saat matanya melihat sosok Rafael yang mengepalkan tangannya. Agam melangkah ke sisi mobil dengan penuh kemenangan.