Drama #Humor #Baper

NAWAR IKAN DAPAT MANTU

08 January 2026

Hari Minggu pagi seharusnya damai.

Setidaknya itu yang ada di kepala Harlia sebelum ia menyetir mobil sambil mengantar ibunya ke pasar tradisional. Matahari belum tinggi, jalanan masih lengang, dan Harlia berharap semua akan berjalan cepat: belanja, pulang, lalu tidur lagi.

Harapan itu runtuh tepat ketika mereka memasuki area pasar.

“Berhenti! Berhenti di sini!” seru ibunya sambil menunjuk sembarang arah.

“Mah, itu bukan parkiran,” kata Harlia panik.

“Ah, bentar doang!” jawab ibunya sudah membuka pintu.

Harlia mendesah. “Ya Allah, baru masuk udah diuji.”

Pasar pagi itu ramai, berisik, dan penuh aroma yang bercampur antara ikan segar, bawang, dan gorengan minyak jelantah. Harlia berjalan setengah langkah di belakang ibunya, berharap orang-orang tidak terlalu memperhatikannya.

Sayangnya, ibunya terlalu menarik perhatian. Mereka berhenti di lapak ikan.

“Berapa ini, Bang?” tanya ibu Harlia sambil menunjuk ikan tongkol.

“Empat puluh lima ribu sekilo, Bu,” jawab penjual ramah.

Ibu Harlia langsung memasang wajah tidak setuju.

“Hah? Empat puluh lima? Mahal amat! Tiga puluh ribu ya.”

Harlia tersedak ludah.

“Mah,” bisik Harlia, “itu… terlalu jauh.”

Penjual ikan berkedip. “Bu, itu harga beli aja nggak nutup.”

“Ah, kamu bohong,” sahut ibu Harlia cepat. “Saya belanja di sini dari zaman kamu masih ingusan.”

Harlia menutup wajahnya dengan kedua tangan, berharap dunia ikut gelap dan pasar mendadak tutup karena kiamat kecil. Di balik telapak tangannya, ia bisa merasakan panas malu menjalar sampai ke ubun-ubun. Ingin pura-pura pingsan seperti di sinetron, tapi takut malah ditawar juga biaya pingsannya.

Di kepalanya, bayangan masa depan berkelebat: Topan duduk di ruang tamu, mendengar langsung ibunya menawar mahar tiga miliar jadi “ya udah deh, sejuta dulu”. Harlia menggigil.

Ia mengintip sedikit di sela jari. Penjual ikan masih berdiri, wajahnya antara pasrah dan ingin resign dari kehidupan. Ibunya tetap tegak, seperti jenderal perang diskon.

“Mah,” bisik Harlia lagi, lirih dan penuh doa, “tolong… aku masih pengen nikah.”

Tapi ibunya justru mencondongkan badan ke arah ikan, siap menyerang dengan argumen lanjutan. Harlia menarik napas panjang. Kalau cinta butuh perjuangan, rupanya latihan pertamanya adalah bertahan hidup di pasar bersama ibu sendiri.

“Tiga puluh ribu!” ulang ibunya mantap.

Penjual menghela napas. “Nggak bisa, Bu.”

“Ya udah, saya pergi!” kata ibu Harlia sambil menarik tangan Harlia.

Belum sempat melangkah jauh—

“Eh, Bu!” panggil penjual. “Empat puluh dua deh.”

Ibu Harlia berhenti, menoleh perlahan.

“Dua puluh delapan,” katanya dingin.

Harlia nyaris pingsan.

“Mah.”

“Diam,” bisik ibunya.

Penjual menggeleng keras. “Bu, saya jual ikan, bukan sedekah.”

“Ya saya juga beli ikan, bukan beli emas!” balas ibu Harlia.

Orang-orang mulai melirik. Orang-orang yang melirik mulai membentuk lingkaran tak kasatmata—lingkaran penonton gratis dengan ekspresi beragam.

Ibu-ibu sebelah pura-pura memilih ikan sambil kupingnya kerja lembur. Dalam hati mereka: Wah, ini tawar-menawar aliran keras.

Bapak-bapak di belakang Harlia menghitung cepat: Empat puluh lima jadi dua puluh delapan? Itu bukan diskon, itu amputasi harga.

Seorang pedagang sayur menahan senyum, merasa acara pagi ini lebih seru daripada sinetron jam tujuh. Belum ada yang nangis, tapi auranya sudah tegang.

Ada juga yang kagum diam-diam. Gila… mental baja. Bisa nawar segitu tanpa kedip.

Yang lain menghela napas simpati ke penjual ikan. Bang, semoga ikhlas.

Sementara itu, Harlia berdiri di tengah pasar seperti anak yang orang tuanya sedang viral—ingin menghilang, tapi tahu besok pasti masih dibahas di grup WA komplek.

Harlia tersenyum kaku ke kanan-kiri. “Hehehe… ibu-ibu ya.”

Penjual menghela napas panjang. “Udah deh, Bu. Silakan cari lapak lain.”

Ibu Harlia mendengus. “Ayo, Har! Dia nggak niat jualan.”

Harlia buru-buru mengeluarkan dompet.

“Bang, maaf,” katanya cepat. “Empat puluh lima ya. Sekilo.”

Ibu Harlia membelalak. “HARLIA!”

Penjual langsung cerah. “Siap, Mbak.”

“Ngapain kamu?” bentak ibunya.

“Mah, kasihan orangnya,” jawab Harlia sambil menyerahkan uang. “Dan kita juga butuh ikan.”

Ibu Harlia mengomel sepanjang mereka berjalan menjauh.

“Kamu tuh ya, boros! Nggak bisa nawar! Ibu kalah! KALAH!”

“Mama bukan kalah,” jawab Harlia sabar. “Mama hampir diusir.”

“Itu karena dia keras kepala!”

“Mamah nawar nggak manusiawi.”

“Justru itu seninya!”

Harlia menghela napas panjang.

Di mobil, omelan belum berhenti.

“Ibu tuh kesel,” kata ibunya sambil menyilangkan tangan. “Udah hampir dapet murah.”

“Murah di dunia lain, Mah,” gumam Harlia.

“Apa?”

“Nggak apa-apa.”

Mobil melaju. Suasana hening sebentar.

Lalu—

DUARR!

Mobil oleng.

Harlia refleks mengerem.

“Ya Allah!” seru ibunya. “Kenapa ini?!”

Harlia menepi panik. “Kayaknya… ban pecah.”

Ibunya menepuk dashboard. “Astaghfirullah! Pasti karena ikan mahal itu!”

“Mah, jangan nyalahin ikan," jawab Harlia.

Harlia turun dari mobil, menatap ban yang kempes total.

“Ya Tuhan,” gumamnya. “Aku nggak bisa ganti ban.”

Ibunya ikut turun. “Ya sudah, dorong aja!”

“Mah, ini mobil, bukan gerobak bakso.”

Ibunya mendengus. “Zaman ibu muda—”

“Zaman Mama muda belum ada mobil ini.”

Ibunya terdiam.

Lalu tiba-tiba—

“Perlu bantuan?”

Harlia menoleh.

Seorang pria berdiri tak jauh dari mereka.

Jordi.

Dengan kaus polos, celana jeans, dan senyum santai seolah ban pecah itu hal sepele.

“Mas?” Harlia terkejut. “Mas Jordi?”

“Iya,” jawab Jordi. “Takdir kita kuat ya.”

Ibunya menyipitkan mata. “Siapa ini?”

“Teman,” jawab Harlia cepat. “Yang… pernah nolong.”

Jordi tersenyum sopan. “Bu.”

Ibunya menatap dari ujung rambut sampai sepatu. “Kamu mekanik?”

“Bukan, Bu,” jawab Jordi jujur. “Tapi sering ganti ban.”

Ibunya mengangguk puas. “Berarti bisa.”

Jordi tertawa kecil. “Bisa dicoba.”

Ia langsung berjongkok, membuka bagasi, mengambil dongkrak.

Harlia menonton kagum.

Ibunya mendekat. “Kamu sudah menikah?”

Harlia tersedak. “MAMA!”

“Belum, Bu,” jawab Jordi santai.

Ibunya mengangguk-angguk. “Kerja apa?”

“Sopir truk box.”

“Oh.” Nada ibunya turun setengah oktaf.

Harlia menutup mata bukan untuk berdoa, tapi untuk menahan diri agar tidak ikut rebahan di aspal. Di balik kelopak matanya, ia bisa membayangkan jelas ekspresi ibunya barusan—ekspresi “oh” yang sama seperti saat mendengar harga ikan, harga mahar, dan harga kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi Mama.

Di kepalanya, alarm panik berbunyi. Ini dia. Momen ketika status pekerjaan disebut, lalu suasana turun seperti sinyal di lift tua. Ia ingin menjelaskan, ingin membela, ingin bilang bahwa sopir truk box bukan berarti hidup Jordi juga “box”—sempit dan bisa ditumpuk seenaknya. Tapi mulutnya terkunci. Pengalaman mengajarinya: kalau Mama sudah mode menilai, interupsi hanya memperpanjang durasi sidang.

Ia menghela napas pelan. Sedikit malu, sedikit kesal, dan anehnya… sedikit lega. Karena Jordi tetap jongkok, tetap fokus ke baut ban, tetap santai seolah nilai manusia tidak ditentukan oleh satu kata pekerjaan. Tidak ada perubahan sikap. Tidak ada kikuk. Tidak ada pembelaan berlebihan.

“Ya Allah,” batinnya, “kenapa justru orang yang baru aku kenal beberapa kali ini rasanya lebih aman?”

Ia membuka mata perlahan. Melihat Jordi yang bersiul kecil sambil memutar dongkrak, melihat ibunya yang masih mengamati dengan dahi berkerut, dan menyadari satu hal pahit-manis: hidupnya memang komedi romantis yang kejam—tertawanya sering datang bersamaan dengan deg-degan.

Dan di tengah ban pecah, aspal panas, serta wawancara mendadak ala calon mertua tidak resmi, Harlia cuma bisa tersenyum tipis.

“Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini cuma ban. Bukan hidup. Semoga.”

Sementara itu, setelah jeda sepersekian detik.

Jordi yang tetap tenang berkata, “Kerja halal, Bu.”

Ibunya tersenyum tipis. “Yang penting rajin.”

“Mah…” Harlia malu setengah mati.

Tak lama, ban berhasil diganti.

“Udah,” kata Jordi sambil berdiri. “Aman.”

Harlia tersenyum lebar. “Makasih banyak, Mas.”

“Sama-sama,” jawab Jordi. “Lain kali jangan ngebut.”

Ibunya menimpali cepat. “Iya, dia tuh panikan.”

“MAMA!”

Jordi tertawa.

Harlia membuka dompet. “Mas, ini—”

Jordi mengangkat tangan. “Nggak usah.”

Ibunya langsung bereaksi. “Loh, harus! Biar nggak ngutang budi!”

Jordi tersenyum. “Kalau gitu… Bu doain aja.”

Ibunya terdiam. Lalu mengangguk mantap. “Doa ibu mahal.”

Harlia menahan tawa. Lalu mereka berpisah.

Di mobil, ibunya mendesah.

“Lumayan juga itu anak.”

Harlia melirik. “Hah?”

“Sigap,” lanjut ibunya. “Nggak banyak omong.”

Harlia tersenyum kecil.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tertawa lepas, bukan karena ikan, bukan karena ban pecah, tapi karena hidup memang suka bercanda dengan cara paling absurd.