Harlia berdiri di depan gang rumahnya dengan tas kecil di tangan dan hati yang tidak kecil sama sekali.
Ia sudah berdandan lebih lama dari biasanya. Bukan karena ingin terlihat cantik. Karena ia sebenarnya sudah lama menyerah pada 'apa itu cantik?'. Kini, ia hanya ingin terlihat layak. Layak diajak keluar. Layak berdampingan. Layak tidak jadi bahan omongan.
Topan memang tidak menjemput sampai depan pintu.
“Depan gang aja, ya?” pesan Topan tadi pagi. “Biar cepet.”
Harlia mengangguk waktu itu, meski di dadanya ada rasa aneh yang tidak sempat ia beri nama.
Mobil Topan akhirnya datang.
Mengkilap. Hitam. Mewah.
Harlia melangkah maju, tersenyum kecil. Dan tepat di saat ia membuka pintu....
“Eh… itu siapa?”
Suara itu datang dari teras rumah tetangga. Santai. Terlalu santai untuk ukuran suara orang yang sedang tidak ingin ikut campur.
Langkah Harlia tersendat sepersekian detik.
“Iya ya,” sahut suara lain, nadanya dibuat lirih tapi tetap berhasil sampai ke telinga yang tidak mengundang. “Kok jemputnya di luar?”
“Paling taksi online.”
“Taksi online kok pakai mobil mahal?”
“Ya... siapa tahu nyewa.”
Tawa kecil pun menyusul. Tawa orang-orang yang tidak merasa sedang menghakimi, padahal baru saja melakukannya.
Harlia menelan ludah. Rasanya seperti menelan sesuatu yang bukan makanan. Menelan omongan orang kenyang kagak seret iya.
Dengan stok kesabaran unlimited, ia menarik napas pelan. Walaupun dalam hati ia ingin menoleh dan menjelaskan bahwa mobil mahal tidak selalu berarti hidup mahal, kadang cuma berarti cicilan panjang.
Tapi ia memilih membuka pintu mobil daripada membuka pintu gibah buat tetangganya.
Ia duduk dengan gerakan rapi, seperti orang yang tidak baru saja jadi bahan diskusi sore hari.
Topan meliriknya sambil menyalakan mesin. “Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa,” jawab Harlia, terlalu cepat untuk ukuran orang yang benar-benar tidak apa-apa.
Mobil melaju.
Di kaca spion, beberapa pasang mata masih tertinggal di teras — berdiri santai, seperti sedang menunggu episode berikutnya dari sinetron yang tidak pernah mereka daftarkan.
Sampai belokan jalan menutup semuanya, termasuk penonton-penonton gratis itu.
“Orang-orang itu,” Topan mendengus, “hobi amat ngurusin hidup orang.”
Harlia tersenyum kecil. “Mungkin karena hidupku menarik.”
Topan tertawa. “Iya, martabak rasa premium.”
Harlia ikut tertawa.
Padahal di kepalanya, kalimat itu diulang tetangga-tetangga dengan versi lebih kejam.
'Mana mungkin Harlia si martabak Har punya cowok?!'
Mall siang itu ramai dengan jenis keramaian yang rapi: orang-orang berjalan cepat tapi tetap sempat melirik etalase, seolah punya urusan penting sekaligus takut ketinggalan diskon. Lampu-lampu putih terang memantul di lantai yang terlalu mengkilap sampai Harlia merasa sepatunya lebih rajin bersinar daripada masa depannya. Di kaca-kaca toko, bayangan mereka berjalan berdampingan, seperti dua karakter dari genre berbeda yang tanpa sengaja masuk ke frame yang sama.
Harlia melihat pantulan itu. Ia dan Topan.
Oke. Tarik napas, Harlia. Ini bukan lomba penampilan. Ini cuma jalan di mall. Cuma. Jalan. Di. Mall. Bersama pria yang tampak seperti poster iklan kehidupan ideal.
Topan tinggi, bahunya lurus, kemejanya jatuh rapi seperti baru keluar dari katalog. Auranya mahal — bukan karena merek, tapi karena ia tampak seperti pria yang tidak pernah panik saat ATM menolak. Di sebelahnya, Harlia bulat, melangkah sedikit tergesa karena kebiasaannya adalah selalu merasa tertinggal, entah oleh waktu, tren, atau promo flash sale. Tas kecilnya menggantung di bahu seperti tas boneka yang salah alamat, tampak makin mini setiap kali dibandingkan dengan postur Topan yang seperti tiang bendera nasional.
Tidak serasi.
Ia tidak perlu orang lain mengatakan itu. Cermin mall sudah cukup jujur, bahkan lebih jujur daripada ibu-ibu arisan yang sudah minum kopi tiga gelas. Pantulan itu seperti berkata, “Tenang, ini bukan pasangan. Ini kontras visual.”
Mereka berjalan melewati sekelompok remaja yang tertawa terlalu keras untuk sesuatu yang mungkin hanya typo di chat grup. Salah satu dari mereka melirik sekilas.
“Heh,” bisik salah satu, cukup lirih tapi terdengar, “Kayak angka sepuluh, ya?”
“Iya,” sahut temannya. “Kayak handsome and the bear.”
Harlia bereaksi keras di dalam hati. "Oke, jangan panik. Mereka bukan menertawakan kamu. Mereka mungkin menertawakan hidup mereka sendiri. Atau temannya yang baru putus. Atau video kucing. Jangan selalu merasa jadi pusat alam semesta, Harlia. Kamu bukan matahari. Kamu cuma… planet yang sedang lewat," batinnya.
Ia pura-pura sibuk menatap papan diskon besar bertuliskan SALE UP TO 70%. Diskon besar, tapi kenapa harga aslinya juga besar, ya. Ini bukan diskon, ini jebakan visual.
Topan menoleh sedikit ke arahnya.
“Kamu capek?”
“Enggak,” jawab Harlia. “Aku cuma… lagi menyesuaikan diri sama atmosfer mall. Kayaknya oksigennya beda.”
Topan terkekeh kecil.
Dan ya, tentu saja dia tertawa sopan. Pria ini bahkan tertawanya efisien.
Mereka terus berjalan. Dua siluet yang tidak simetris, tapi langkahnya mulai selaras. Harlia menyadari sesuatu yang agak mengganggu: ia tidak lagi terlalu sibuk memperhatikan pantulan kaca.
Ia melirik Topan dari samping. Topan sedang memperhatikan peta lantai mall dengan serius, seperti pria yang benar-benar berniat ke toko tujuan, bukan hanya ikut jalan.
Harlia menunduk. Tangannya refleks meraih lengan Topan.
Topan menoleh. “Kenapa?”
“Nggak apa-apa,” jawab Harlia.
Mereka kembali berjalan dan melewati dua orang ibu-ibu.
“Sekarang cowok-cowok aneh, ya?” kata salah satunya. “Seleranya beda.”
“Yang penting kaya kali,” jawab yang lain.
Topan berhenti mendadak. Harlia hampir menabraknya.
“Dengerin aku,” kata Topan sambil menatapnya. “Kamu jangan dengerin omongan orang.”
Harlia mengangguk.
“Serius,” lanjut Topan. “Mereka nggak hidupin kamu.”
Harlia tersenyum kecil.
“Tapi mereka bikin aku minder.”
Topan menghela napas, lalu menggenggam tangan Harlia.
“Fokus ke kita,” katanya. “Ke kebahagiaan kamu.”
Harlia menatap tangan mereka yang saling menggenggam. Hangat. Tapi tidak cukup untuk mematikan dingin di dadanya.
Setelah semua terpaksa mereda. Topan dan Harlia masuk ke bioskop. Ruang gelap, kursi yang empuk, dan seharusnya aman.
Mereka duduk sesuai kursi yang dipilih. Masih ada beberapa iklan yang diputar sebelum film dimulai. Namun, kejadian tidak mengenakkan kembali terjadi.
Dua remaja di belakang mereka berceloteh.
“Eh, kursinya sempit, ya?”
“Iya, apalagi kalau duduk sebelah orang gede.”
Kedua remaja itu tergelak tawa dan Harlia cukup peka bahwa yang ditertawakan adalah dirinya.
Harlia menegang.
Ia mencoba mengatur posisi duduk. Entah apa yang ia pikirkan, Harlia menarik bahu, menahan napas, merasa tubuhnya bisa mengecil dengan niat baik.
Topan menoleh.
“Kenapa?”
“Kayaknya aku terlalu makan banyak,” jawab Harlia cepat.
Film akhirnya dimulai. Layar menyala disertai suara soundsystem yang kencang. Pada adegan lucu, penonton tertawa.
Akan tetapi, ada hal yang tidak lucu sama sekali, yaitu menjadikan kelebihan lemak seseorang menjadi bahan guyonan. Tepat di belakang kursi Harlia dan Topan duduk. Muda mudi tengah menjadikan Harlia guyonan.
“Eh,” celetuknya, “kalau dia berdiri nutupin layar nggak, ya?”
Tawa tertahan.
Harlia merasa panas. Itu pasti ngomongin dirinya. Dadanya pun kini terasa sesak dan napas menjadi pendek.
Topan menoleh, hendak bicara, tapi Harlia sudah berdiri.
“Aku ke toilet,” katanya cepat.
Harlia melangkah keluar. Begitu pintu bioskop tertutup, air matanya jatuh.
Bukan satu. Tapi banyak.
Harlia berjalan cepat, lalu berlari kecil menjauh dari pintu. Ia berhenti di sudut lorong, membungkuk, menangis tanpa suara.
“Kenapa sih aku terus yang jadi bahan guyonan?” gumamnya. “Aku juga nggak mau punya badan segede iniVy.”
Bayangan tetangga, ibu-ibu, remaja, Arin, kalender, mahar semuanya bertumpuk di pikirannya.
Ia merasa minder. Sangat insecure.
Kemudian, ponselnya bergetar.
Topan.
Harlia tidak mengangkat telepon itu. Ia hanya menatap layar sambil menangis.
“Maaf,” bisiknya. “Aku capek.”
Harlia melangkah keluar mall sendirian.
Udara sore terasa berat. Ia duduk di bangku luar, memeluk tas kecilnya. Di dalam dada Harlia, satu kesadaran tumbuh pelan tapi kejam, yaitu terkadang cinta tidak cukup untuk melindungi seseorang dari dunia yang terus-menerus mengingatkannya bahwa ia dianggap tidak pantas untuk bahagia.
Bab ini berakhir dengan Harlia yang menatap jalan raya, menunggu air mata kering sendiri, dan bertanya dalam hati.
'Kalau bersamamu aku terus merasa ingin lari, apakah ini cinta… atau hanya ketakutan yang kupeluk terlalu lama?'