Ponsel itu memanggil lagi untuk kesepuluh kalinya. Topan menatap layar dengan rahang mengeras.
Tidak aktif.
“Har…,” gumamnya sambil mengusap rambut. “Angkat dong..!!”
Ia duduk di dalam mobil. Mesin menyala, tapi mobil tidak bergerak. Jam di dashboard menunjukkan pukul 22.47 waktu Indonesia bagian kesel.
Sudah terlalu malam untuk sekadar ngambek. Sudah terlalu sunyi untuk sekadar drama.
Topan mencoba lagi menelepon lagi. Tetapi tetap saja tidak aktif.
'NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG NGAMBEK.'
“Ini nggak lucu,” katanya sendiri.
Ia mengingat Harlia yang berlari keluar bioskop, wajahnya pucat, matanya merah. Waktu itu Topan sempat menyusul sampai pintu, tapi Harlia sudah hilang di antara kerumunan.
Salahnya lagi, ia justru bertemu dengan Arin yang jalan seorang diri. Topan malah menemani Arin membeli beberapa stoking sampai lupa kalau ia sedang mengejar Harlia keluar bioskop.
Topan menghela napas panjang.
“Oke,” katanya sambil memutar setir. “Kita ke rumah lo.”
Rumah Harlia sudah gelap sebagian, tapi lampu ruang tamu masih menyala. Topan melewati gang tempat ia tadi menjemput Harlia. Tempat yang penuh gibah beberapa jam lalu.
Ia turun dari mobil, lalu menekan bel rumah Harlia.
Ding-dong!
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Ibu Harlia berdiri di sana, mengenakan daster dan wajah yang langsung berubah saat melihat siapa yang datang.
“Oh, kamu?” alisnya terangkat tinggi. Wanita itu celingukan mencari sosok gemoy, yaitu putrinya. Bukankah seharusnya Topan bersama Harlia?
Topan tersenyum kaku.
“Selamat malam, Bu!”
“Ini jam berapa?” tanya ibu Harlia tajam.
“Maaf, Bu. Saya—”
“Mana Harlia?” potong ibu Harlia cepat.
Topan terdiam setengah detik. “Justru… saya mau nanya itu.”
Wajah ibu Harlia berubah.
“Maksudnya?!” bentaknya.
Ayah Harlia muncul dari ruang tengah, memegang ponsel. “Siapa, Bu?”
“Calon mantu kesayanganmu,” jawab ibu Harlia sinis.
Topan menunduk. “Om.”
Ayah Harlia mengangguk pelan. “Harlia mana, Pan?”
Topan menelan ludah.
“Harlia… belum pulang ya, Om?”
Hening.
Detik itu juga.
“Belum pulang?” ulang ibu Harlia.
“Iya, Bu.”
“Bukannya dari sore sama kamu?” suara ibu Harlia meninggi.
Topan mengangguk pelan.
“Kami… habis keluar.”
“KELUAR?” suara ibu Harlia naik satu oktaf. “KELUAR KE MANA?!!!”
“Bu,” ayah Harlia mengangkat tangan. “Tenang dulu.”
“TENANG GIMANA?” ibu Harlia menatap Topan tajam. “Anak saya keluar sama cowok, sekarang jam segini belum pulang, HP mati, terus saya disuruh tenang?!”
Topan berdiri tegak.
“Saya juga panik, Bu.”
“PANIK BARU SEKARANG?” bentak ibu Harlia. “Kamu ngapain aja?”
Topan tercekat.
“Kami… nonton.”
“NONTON?” ibu Harlia memegangi dadanya. “Astaghfirullah. Ini anak keluar malam, bioskop pula!”
Ayah Harlia mendesah. “Bu, fokus.” Ia menatap Topan. “Terakhir kamu lihat Harlia di mana?”
“Di mall, Om,” jawab Topan cepat. “Dia keluar duluan.”
“Kamu nggak ngejar?” tanya ayah Harlia.
“Saya kejar,” jawab Topan. “Tapi… hilang.”
“Hilang?” ibu Harlia tertawa kecil, miring. “Enak ya ngomongnya. Hilang.”
“Bu, saya beneran nyari,” kata Topan cepat. “Saya telepon, saya chat—”
“HP-nya mati!” potong ibu Harlia. “Kamu tau nggak rasanya jadi orang tua?”
Topan terdiam.
Ayah Harlia mulai mengetik cepat di ponselnya. “Saya hubungi Rina.”
Ia menelepon.
“Rina?”
“…..”
“Apa ada kabar dari Harlia?”
“…..”
“Oh, belum. Oke.”
Telepon ditutup. Ayah Harlia menghela napas. “Teman-temannya juga nggak tau.”
Ibu Harlia menatap Topan.
“Kamu tau nggak anak saya itu gampang kepikiran?”
Topan mengangguk.
“Tau, Bu.”
“Tau?” ibu Harlia mendekat. “TAU TAPI MASIH DIBAWA KELUAR SAMPAI MALAM?”
Topan refleks mundur setengah langkah.
“Saya nggak nyangka begini, Bu.”
“Memang nggak pernah nyangka,” jawab ibu Harlia pedas. “Makanya kejadian.”
Ayah Harlia berdiri. “Oke. Kita bagi tugas.” Ia menatap Topan. “Kamu ingat semua tempat yang mungkin dia datangi?”
Topan mengangguk cepat. “Iya, Om.”
“Baiklah, kamu kemudikan mobil saya. Kita cari!” perintah ayah Harlia.
Ibu Harlia langsung menyela.
“Saya ikut!”
Ayah Harlia menggeleng.
“Bu, ini sudah malam.”
“SAYA IBUNYA,” bentak ibu Harlia. “KALAU ANAK SAYA KENAPA-NAPA—”
Kalimat itu terhenti. Sunyi mendadak. Topan menunduk.
“Bu… maaf.”
Ibu Harlia menatapnya lama. Lalu, dengan suara lebih pelan tapi jauh lebih tajam, ia berkata, “Kalau sampai anak saya kenapa-kenapa, kamu bukan cuma gagal jadi calon suami.”
Topan mengangguk.
“Saya tanggung jawab.”
Ayah Harlia mengambil kunci. “Kita mulai dari mall.”
Di luar rumah, malam terasa lebih gelap dari biasanya. Mobil ayah Harlia yang dikemudikan oleh Topan meluncur perlahan, lalu melaju. Ibu Harlia duduk di kursi penumpang depan, mulutnya komat-kamit antara doa dan omelan. Sementara ayahnya fokus melihat ke sisi kiri siapa tau nemu Harlia.
“Anak itu,” gumamnya. “Pasti kepikiran. Dari kecil kalau kepikiran suka diem.”
Topan menggenggam setir kuat-kuat. Dalam kepalanya, satu kalimat Harlia terus berputar: Kalau bersamamu aku terus merasa ingin lari….
“Har,” bisiknya. “Jangan macam-macam.”
Mobil melaju menuju mall. Lampu jalan memanjang seperti garis tak berujung. Satu rumah yang ribut karena cinta, dua orang tua yang panik, satu pria yang mulai takut kehilangan, dan satu pertanyaan besar yang menggantung di udara malam: ke mana perginya Harlia?
Sementara itu.....
Harlia pulang ke rumah lewat tengah malam dengan langkah gontai. Bukan karena mabuk. Bukan karena patah hati lagi. Tapi karena lapar akut tingkat nasional.
Ia berdiri di depan rumah, menepuk-nepuk tas, lalu menghela napas lega ketika menemukan kunci cadangan di bawah keset. Tempat sakral yang sejak zaman penjajahan tidak pernah berubah.
“Kebiasan leluhur nggak berubah,” gumamnya.
Rumah gelap. Sepi. Tidak ada suara TV. Tidak ada omelan ibu. Tidak ada batuk ayah.
“Pada ke mana, sih?” gumam Harlia sambil membuka pintu.
Ia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Tidak ganti baju. Tidak cuci tangan. Langsung ke dapur. Karena dalam hidup, ada fase di mana makan lebih penting daripada eksistensi diri.
Begitu lampu dapur menyala, mata Harlia berbinar.
Nasi di magic com masih ada. Lauk sisa siang tadi masih utuh. Telur balado, tumis tempe, dan kerupuk udang tampak menggoda iman.
“Ya Allah,” bisiknya haru. “Ini mukjizat.”
Ia mengambil piring terbesar. Lalu mengambil nasi. Porsi kuli lewat, benar-benar tidak secukupnya, tidak wajar, dan tidak manusiawi.
“Lapar aku hari ini tuh bukan lapar biasa,” gumamnya sambil menyendok lagi. “Ini lapar emosional.”
Ia duduk di lantai dapur karena kursi terlalu jauh dan hidupnya sudah terlalu berat untuk sekadar menggeret kursi.
Harlia mulai makan dengan sangat lahap. Lauk habis setengah. Ia bangkit, membuka kulkas. Susu kotak besar dibuka dan ditenggak langsung dari kotaknya.
“Glukosa, protein, lemak… masuk semua,” katanya sambil meneguk panjang.
Satu kotak habis, ia mengambil lagi.
“Biar seimbang,” katanya logis.
Setelah piring kosong dan perut menonjol seperti sedang hamil trimester akhir. Harlia bersandar ke lemari dapur.
“Kenapa ya… habis makan tuh pengen tidur,” gumamnya.
Ia merebahkan diri. Di lantai dapur. Dengan perut penuh. Dengan susu di tangan.
Dan… ia tertidur.
Pukul 03.17 dini hari.
Pintu rumah terbuka keras.
“Har!” suara ibu Harlia nyaring.
“HARLIA!”
Ayah Harlia masuk tergesa-gesa. Topan di belakang mereka dengan wajah tegang.
“Lampunya nyalain!” kata ibu Harlia.
Ayah Harlia segera menyalakan lampu. Namun kosong. Padahal pintu depan sudah tidak terkunci, artinya Harlia sudah pulang.
“Harlia?” panggil ayahnya.
Tidak ada jawaban.
Topan menelan ludah ketika berdiri di ambang pintu dapur.
“Om… Tante…”
Ibu Harlia berjalan cepat ke dapur menyusul Topan. Lalu berhenti mendadak.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Ayah Harlia juga cepat menyusul.
Di lantai dapur—Harlia tergeletak. Terlentang dengan piring kosong di sampingnya. Kotak susu remuk di dekat tangan. Perut mengembung seperti ikan buntal.
“YA ALLAH!” jerit ibu Harlia. “HARLIA!”
Topan langsung berjongkok. “Har!”
Ia menggoyang bahu Harlia. Tetapi tidak bergerak.
“NAPASNYA ADA NGGAK?!” teriak ibu Harlia panik.
Ayah Harlia menempelkan tangan ke dada Harlia.
“Ada… tapi pelan.”
“PINGSAN??!!” ibu Harlia hampir histeris. “INI PASTI KARENA KAMU!” tunjuk nya pada Topan.
Topan panik.
“Kita bawa ke rumah sakit!”
“PANGGIL TAKSI!” teriak ibu Harlia.
“PAKAI MOBIL!” seru ayah Harlia.
Topan mengangguk.
“Saya angkat,” kata Topan.
Ia mencoba mengangkat tubuh Harlia. Sayangnya sama sekali tidak bergerak.
“Berat,” katanya terengah.
Ayah Harlia membantu. Mereka menghitung agar kompak.
“Satu… dua… tiga!”
Tidak terangkat.
“Ya Allah,” ayah Harlia ngos-ngosan. “Ini kok kayak ngangkat kulkas?”
Ibu Harlia panik sambil mondar-mandir.
“Ini gimana?! Anak saya harus dibawa ke rumah sakit!”
Topan mencoba lagi.
“Saya gym kok,” katanya optimis.
Gagal lagi.
“Ini bukan berat badan,” gumam Topan. “Ini kayak melawan gravitasi.”
Ayah Harlia terengah.
“Panggil… bantuan!”
“RT!” teriak ibu Harlia.
Ayah Harlia menggeleng.
“Jam segini?”
Ibu Harlia menepuk tangan.
“DAMKAR!”
Topan menoleh.
“Hah?”
“DAMKAR BISA ANGKAT APA AJA! Kerbau masuk parit juga, kan?” ibu Harlia yakin.
Ayah Harlia ragu.
“Bu…”
“TELPON!” bentak ibu Harlia.
Akhirnya… damkar dipanggil.
Sepuluh menit kemudian. Suara sirine meraung. Tetangga keluar rumah satu per satu.
“Ada kebakaran?”
“Rumah siapa?”
“Itu rumah Harlia!”
Petugas damkar masuk dengan sigap.
“Di mana korban?” tanya salah satu petugas serius.
Ibu Harlia menunjuk dapur.
“Itu, Pak!”
Petugas segera masuk ke dapur dan mendekat. Mereka terkejut melihat Harlia tergeletak.
“Pingsan?” tanya petugas.
“Iya!” jawab ibu Harlia.
Petugas menyiapkan tandu. Saat salah satu petugas hendak mengangkat kaki Harlia. Namun, tiba-tiba Harlia mendadak membuka mata.
“Hah?” katanya bingung. “Ini kenapa rame?”
Semua membeku. Topan, ayah Harlia, Ibu Harlia, petugas damkar semua kicep.
“Kenapa ada abang-abang merah?” tanya Harlia polos.
Ibu Harlia mendekat cepat.
“KAMU NGAPAIN TIDUR DI LANTAI DAPUR?!”
Harlia menguap.
“Abis makan… kenyang… terus ngantuk.”
Petugas damkar saling pandang.
“Jadi… bukan pingsan?” tanya petugas.
Harlia menggeleng.
“Enggak.”
“Terus kenapa susunya habis dua?” tanya ibunya.
Harlia berpikir.
“Haus.”
Tetangga tertawa kecil. Ibu Harlia memegangi dada.
“Ya Allah… hampir mati ibu.”
Topan terduduk lemas.
“Saya kira kenapa-kenapa…”
Harlia menoleh.
“Kok, semua panik?”
Ayah Harlia menghela napas panjang.
“Karena kamu hilang.”
Harlia terdiam.
Petugas damkar berdehem.
“Kalau gitu… kami pamit.”
Ibu Harlia langsung tersenyum kaku.
“Maaf ya, Pak.”
Petugas tertawa kecil.
“Gapapa, Bu. Baru kali ini kami dipanggil karena… kekenyangan.”
Tetangga bubar sambil cekikikan. Harlia duduk di lantai, menggaruk kepala.
“Oh,” katanya pelan. “Maaf.”
Semua orang menatapnya. Dan malam itu berakhir dengan satu kesimpulan pahit-manis. Harlia tidak pingsan karena patah hati, dia hanya terlalu lapar dan terlalu kenyang sekaligus. Komedi hidup memang tidak pernah setengah-setengah.