Drama #Humor #Baper

GALON TAK SEBERAT HIDUP

08 January 2026

Ruang tamu rumah Harlia malam itu berubah fungsi.

Biasanya dipakai nonton sinetron. Kadang jadi arena debat harga cabai. Sekarang… jadi ruang sidang keluarga.

Harlia duduk di sofa, punggungnya tegak tapi jiwanya setengah melayang. Topan duduk di sebelahnya, masih dengan gaya sok santai, kaki disilangkan, jam mahal mengilap, tapi keringat dingin mengalir pelan di pelipis.

Ayah Harlia duduk berhadapan dengan mereka, wajah teduh, tangan terlipat di atas paha. Ibu Harlia di sampingnya, tangan menyilang, alis naik sebelah, mode julid siaga satu.

Ayah Harlia membuka suara lebih dulu.

“Topan,” katanya tenang, “dalam hidup, niat baik itu penting. Tapi niat saja tidak cukup.”

Topan mengangguk cepat.

“Betul, Pak.”

“Nikah itu bukan cuma soal cinta,” lanjut ayah Harlia. “Tapi kesiapan. Mental, tanggung jawab, dan kejujuran.”

Topan menegakkan punggung.

“Saya paham, Pak. Saya serius sama Harlia.”

Ibu Harlia mendengus.

“Serius tapi jemputnya di depan gang, ya?”

Topan tersenyum kaku.

“Itu… strategi, Bu.”

“Strategi biar dikira ojek online?” sahut ibu Harlia cepat.

Harlia menunduk.

“Bu…”

Ayah Harlia mengangkat tangan.

“Ibu, sebentar.”

Ibu Harlia manyun, tapi diam.

Ayah Harlia menatap Topan lagi.

“Saya lihat kamu pintar bicara. Itu bagus. Tapi saya mau tanya satu hal yang sangat sederhana.”

Topan menelan ludah.

“Silakan, Pak.”

Ayah Harlia tersenyum tipis.

“Kalau nanti hidup tidak semewah sekarang, kamu masih mau bertahan?”

Topan terdiam sesaat.

Lalu berkata mantap, “Kalau hidup tidak mewah, saya akan bikin mewah, Pak. Pelan-pelan pasti bisa.”

Ibu Harlia tertawa pendek.

“Omongan lagi.”

Topan menoleh ke arah ibu Harlia.

“Bu, saya tahu kesannya saya ini banyak gaya. Tapi saya tidak main-main.”

“Tiga miliar bukan main-main,” potong ibu Harlia tajam.

Suasana hening.

Harlia menggigit bibir.

Topan menarik napas panjang.

“Soal mahar itu… saya memang belum pegang sekarang.”

“NAH,” sahut ibu Harlia cepat. “Itu dia.”

“Tapi,” lanjut Topan, “saya sedang mengupayakan.”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Mengupayakan atau mengkhayalkan?”

Ayah Harlia melirik istrinya.

“Bu…”

Topan mengangguk sopan.

“Saya paham keraguan Ibu. Tapi saya mohon waktu.”

Ayah Harlia mengangguk pelan.

“Waktu itu ada batasnya, Nak.”

Topan berdiri.

“Saya mengerti.”

Ia menoleh ke Harlia.

“Harlia,” katanya lembut, “doain saya, ya.”

Harlia mengangguk, matanya berkaca-kaca.

“Iya.”

Topan pamit.

Begitu pintu tertutup, ibu Harlia langsung bersuara.

“AYAH TERLALU LEMBUT!”

Ayah Harlia tersenyum sabar.

“Dan Ibu terlalu tajam.”

Harlia menghela napas.

“Bu, Yah… aku capek.”

Ibu Harlia menatap anaknya, suaranya melunak sedikit.

“Ibu cuma nggak mau kamu sakit lagi, Har.”

Ayah Harlia menepuk pundak Harlia.

“Percaya itu penting, tapi jangan buta.”

Harlia mengangguk pelan.

Keesokan harinya....

Di kantor.

Pagi itu, Harlia datang dengan mata masih sedikit sembap, tapi senyum dipaksakan seperti biasa. Baru duduk, salah satu staf perempuan bersuara nyaring.

“Har, galon kosong tuh!”

Harlia menoleh.

“Iya, ya?”

“Ganti dong!” kata staf itu sambil senyum miring. “Kamu kan… kuat.”

Beberapa orang tertawa.

“Badan segitu masa angkat galon aja nggak bisa?” celetuk yang lain.

Harlia tersenyum kaku.

“Iya… bentar.”

Ia berdiri. Langkahnya pelan menuju dispenser. Galon kosong itu tampak seperti musuh lama.

Dalam hati, Harlia berkata, “Santai. Ini cuma galon. Bukan hidup.”

Ia jongkok, memegang galon. Baru mau mengangkat—

“Biar saya.”

Suara itu datang dari belakang.

Harlia menoleh.

Jordi.

Dengan kaos sederhana, celana kerja, dan senyum hangat yang terlalu kontras dengan suasana kantor.

“Mas Jordi?”

Harlia kaget.

Jordi mengangguk.

“Kebetulan nganter barang.”

Tanpa banyak bicara, Jordi mengangkat galon itu dengan satu tangan, seolah tidak ada berat sama sekali.

Ruangan mendadak sunyi. Staf-staf yang tadi tertawa langsung diam.

Jordi memasang galon, memutar tutupnya, lalu menepuk dispenser pelan.

“Sudah.”

Harlia melongo.

“Makasih… Mas Jordi.”

Jordi tersenyum.

“Sama-sama.”

Salah satu staf nyeletuk, “Wah, sigap banget, Mas.”

Jordi menoleh santai.

“Biasa. Di rumah juga sering.”

Lalu, dengan suara cukup keras, Jordi menambahkan, “Lagian… yang gemuk bukan berarti harus selalu disuruh angkat berat.”

Harlia menelan ludah. Dadanya tiba-tiba terasa hangat.

Jordi menoleh ke Harlia.

“Kamu nggak apa-apa?”

Harlia mengangguk.

“Iya.”

Jordi tersenyum lagi.

“Kalau butuh bantuan, bilang aja. Nggak usah nunggu ditertawakan.”

Ia lalu pamit, melangkah pergi dengan santai.

Sementara itu, Harlia berdiri terpaku.

Untuk pertama kalinya, ia merasa dilihat, bukan dinilai.

Beberapa staf pura-pura sibuk. Tidak ada lagi tawa.

Harlia duduk kembali ke mejanya. Dadanya bergetar. Air mata menggenang, tapi kali ini bukan karena sakit. Melainkan karena terharu.

Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Ya Allah… ternyata begini ya rasanya… dihargai.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum Harlia tidak dipaksakan.

Harlia masih senyum-senyum sendiri.

Bukan senyum lebar seperti iklan pasta gigi. Lebih ke senyum kecil yang muncul tiba-tiba, lalu cepat disembunyikan. Tangannya masih sibuk di keyboard, tapi pikirannya muter ke kejadian tadi pagi.

Jordi. Galon. Kalimat sederhana itu.

“Yang gemuk bukan berarti harus selalu disuruh angkat berat.”

Harlia menghembuskan napas kecil sambil tersenyum lagi.

“Astagfirullah,” gumamnya. “Kenapa aku jadi lebay gini, sih?”

Ia menepuk pipinya pelan, mencoba kembali fokus. Namun hidup seperti biasa, tidak pernah memberi waktu untuk menikmati perasaan hangat terlalu lama.

“CIYE CIYE CIYE!”

Harlia hampir loncat dari kursi.

“Astagaaa!” serunya sambil memegangi dada.

Rina berdiri di samping mejanya dengan senyum penuh niat jahat.

“Ya ampun, Har,” kata Rina. “Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Lagi jatuh cinta sama dispenser?”

Harlia cemberut.

“Kamu tuh nggak ada kode etik masuk ruang pribadi orang.”

Rina duduk di kursi sebelahnya.

“Ada. Namanya gosip darurat.”

Harlia langsung tegang.

“Gosip apa?”

Rina mencondongkan badan.

“Kemarin.”

Harlia menelan ludah.

“Aku lihat,” lanjut Rina pelan tapi kejam, “Topan.”

Harlia membeku.

“Dan Arin,” sambung Rina tanpa jeda. “Di mall.”

Waktu seperti berhenti.

Suara keyboard. Printer. Telepon.

Semua mendadak jauh.

“Di mall?” ulang Harlia, suaranya lebih pelan dari biasanya.

Rina mengangguk.

“Berdua. Jalan bareng.”

Harlia tertawa kecil. Terlalu kecil untuk terdengar normal.

“Oh,” katanya. “Paling… kebetulan.”

Rina menatapnya lama.

“Har…”

“Mungkin urusan mahar,” potong Harlia cepat. “Kan Arin katanya mau bantu.”

Rina menghela napas.

“Kamu dengerin diri kamu sendiri nggak, sih?”

Harlia menegakkan punggung.

“Kenapa?”

“Kenapa setiap ada hal yang nyakitin kamu, kamu selalu punya alasan buat belain dia?”

Harlia tersenyum.

“Karena aku percaya.”

Rina mendengus.

“Atau karena kamu takut kehilangan satu-satunya cowok yang bilang mau nikahin kamu?”

Kalimat itu seperti tamparan pelan.

Harlia terdiam.

Dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik, “Kalau dia peduli, kenapa kemarin dia nggak nyari kamu? Kenapa kamu yang selalu nunggu kabar?”

Namun Harlia mematikan suara itu.

“Rin,” katanya akhirnya, “aku nggak mau mikir yang aneh-aneh.”

Rina menggeleng.

“Aku cuma nggak mau kamu jatuh dari ketinggian yang sama.”

Harlia tertawa kecil, pahit.

“Tenang. Aku udah sering jatuh. Badan begini, jatuhnya empuk.”

Rina tidak ikut tertawa. Ia menatap Harlia dengan mata yang serius.

“Aku emang sering bercanda. Tapi kalau orang lain yang bikin kamu ngerasa minder, itu nggak lucu lagi.”

Harlia menunduk.

“Waspada, Har,” lanjut Rina lembut. “Jangan percaya sama orang cuma karena dia pintar ngomong.”

Harlia mengangguk pelan.

“Iya.”

Namun di dalam dadanya, ada rasa kecewa yang mulai mengendap. Bukan marah. Bukan cemburu berisik. Tapi rasa pahit karena sadar, saat ia menghilang, ternyata Topan tidak benar-benar mencarinya.

“Eh,” Rina mendadak duduk tegak. “Itu Arin.”

Harlia refleks mengangkat kepala.

Arin berjalan mendekat dengan langkah ringan, rambut rapi, wajah segar seperti tidak pernah punya beban hidup.

“Pagi,” sapa Arin ceria.

“Pagi,” jawab Rina cepat.

“Pagi,” sahut Harlia, senyumnya otomatis.

Arin menatap mereka berdua.

“Lagi bahas apa? Serius banget.”

“Kerjaan,” kata Rina cepat.

Harlia mengangguk.

“Iya.”

Arin tertawa kecil.

“Kirain bahas drama Korea.”

Rina tersenyum tipis.

“Drama Korea masih lebih jujur dari realita.”

Arin terkekeh, lalu menoleh ke Harlia.

“Harlia,” katanya, nada suaranya lembut tapi tajam, “aku denger kamu kemarin bikin heboh, ya?”

Harlia mengerutkan kening.

“Hah?”

“Kabur-kaburan,” lanjut Arin santai. “Sampai bikin orang rumah kamu panik.”

Rina menoleh cepat.

“Maksudnya?”

Arin mengibaskan tangan.

“Ah, cerita aja. Katanya Topan sampe dicariin orang tua kamu.”

Harlia merasa wajahnya panas.

“Oh,” katanya pelan. “Itu… nggak sengaja.”

Arin mengangguk, lalu tersenyum tipis.

“Iya sih. Tapi lain kali jangan gitu, ya.”

Arin mencondongkan badan sedikit.

“Kasihan orang-orang yang repot karena kamu.”

Kalimat itu jatuh perlahan. Tapi menghantam tepat di dada.

Rina membuka mulut.

“Eh, lo!!”

Harlia mengangkat tangan kecil, menghentikannya.

“Maaf,” kata Harlia sambil tersenyum. “Aku nggak bermaksud bikin repot.”

Arin tersenyum lebar.

“Aku tahu. Cuma… ya… jangan terlalu impulsif.” Ia melirik jam tangannya. “Aku duluan, ya.”

Arin pergi. Suasana di antara Harlia dan Rina membeku. Rina menatap punggung Arin dengan kesal.

“Sok suci.”

Harlia menunduk. Rina menepuk pundaknya.

“Har…”

Harlia tersenyum, tapi matanya basah.

“Rin,” katanya pelan, “kenapa ya… aku selalu ngerasa jadi masalah buat orang?”

Rina terdiam.

“Kenapa keberadaan ku kayak… nyusahin?”

Rina menarik kursinya lebih dekat.

“Kamu bukan masalah. Kamu cuma sering ketemu orang yang salah.”

Harlia menghela napas panjang. Di benaknya, terlintas dua wajah.

Topan dengan janji dan kata-kata tinggi. Jordi dengan satu tindakan sederhana.

Dan untuk pertama kalinya, Harlia bertanya pada dirinya sendiri, “yang mana yang benar-benar peduli, dan yang mana yang hanya pandai bicara?”

Pertanyaan itu menggantung menyakitkan dan belum ada jawabannya.