Drama #Humor #Baper

DIA SOLUSI AKU POLUSI

08 January 2026

Sore itu, langit kota berwarna jingga pucat. Bukan jingga romantis yang bikin orang pengen foto. Tetapi lebih ke jingga capek, seperti hati Harlia yang sudah kebanyakan mikir sejak pagi.

Topan duduk di bangku taman kota, kaki selonjor, satu tangan memegang es krim cone. Harlia duduk di sampingnya, memegang es krim rasa cokelat, tapi belum dicicipi sejak lima menit lalu.

“Capek?” tanya Topan sambil menjilat es krimnya.

Harlia mengangguk pelan.

“Lumayan.”

Taman itu ramai. Ada anak kecil berlarian. Ada pasangan selfie. Ada pedagang balon yang kelihatannya lebih bahagia dari siapa pun di situ.

Harlia menatap es krimnya. Mencair seperti perasaannya.

“Pan,” katanya pelan.

“Hm?”

Harlia ragu sebentar.

“Kamu… sering cerita ke Arin?”

Topan tidak langsung menjawab.

Harlia menahan napas.

“Sering,” jawab Topan akhirnya, ringan. Terlalu ringan.

Harlia berkedip.

“Sering? Seberapa sering?”

Topan tertawa kecil.

“Ya… sering. Hampir tiap hari.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tapi berat.

“Hampir tiap hari?” ulang Harlia, suaranya nyaris tidak keluar.

Topan mengangguk.

“Iya. Dia enak diajak ngobrol.”

“Oh.”

Harlia tersenyum, atau setidaknya mencoba tersenyum.

“Dia tuh,” lanjut Topan tanpa sadar, “kalau aku cerita apa pun, selalu punya solusi.”

Harlia menatap lurus ke depan.

Topan melanjutkan, “Pinter. Cepat nangkep. Nggak baper.”

Harlia menggigit bibir bagian dalam.

“Kadang aku mikir,” kata Topan lagi, “kalau nggak ada Arin, urusan mahar ini mungkin lebih ribet.”

Harlia merasa tenggorokannya kering.

“Dia keren sih,” tambah Topan santai.

Itu dia. Satu pujian kecil yang rasanya seperti tusukan pelan tapi tepat. Harlia menunduk, menatap es krimnya yang kini hampir habis, bukan karena dimakan, tapi karena mencair.

Ia menjilat sedikit. Tidak terasa manis. Tidak terasa apa-apa.

“Har?” Topan melirik. “Kok es krimnya nggak dimakan?”

Harlia mengangkat bahu.

“Nggak nafsu.”

Topan mengernyit.

“Kamu kenapa?”

Harlia menggeleng cepat.

“Nggak apa-apa.”

Topan menatapnya beberapa detik.

“Kamu lagi bad mood, ya?”

“Enggak.”

“Bohong.”

Harlia tersenyum kecil.

“Dikit.”

Topan menghela napas.

“Pulang aja, yuk.”

Harlia mengangguk cepat.

“Iya.”

Di perjalanan pulang, tidak banyak kata. Topan menyetel musik. Di mobil, Harlia duduk dalam posisi silent quitting relationship.

Mulutnya diem. Matanya lurus. Auranya bilang, “Aku di sini, tapi batin ku udah resign.”

Topan nyetir santai. Terlalu santai untuk seseorang yang barusan tanpa dosa memuji Arin pinter, memuji Arin asik diajak ngobrol, memuji Arin vibes-nya enak.

Lengkap. Kayak review Google Maps bintang lima.

Sementara Harlia? Tanpa direview, tidak disebut, tidak dianggap fitur yang ada. Padahal Harlia duduk di sebelahnya, hidup, bernapas, dan lagi nahan overthinking kayak nahan bersin pas meeting.

Dalam kepala Harlia terus menerus mengeluarkan pernyataan, “Oh… jadi dia solutif, sedangkan aku polusi.”

Topan melirik dikit.

“Kamu kenapa, sih?”

“Enggak apa-apa.”

Jawaban klasik manusia ngambek yang artinya tolong peduli tapi jangan kelihatan ia yang minta.

Topan mikir bentar. Lalu, “Ya udah, pulang aja.”

Harlia hampir ketawa. Bukan karena lucu. Tapi karena absurd. Ini tuh kayak lo lagi tenggelam, bilang “nggak apa-apa” sambil dadah-dadah dikit, terus orangnya beneran pergi sambil bilang, “Oh, nggak apa-apa.”

Topan nggak salah secara teknis. Tapi salah secara emosional. Dia ngira bad mood itu kayak baterai low yang solusinya cukup dicas di rumah. Padahal ini bukan soal capek. Ini soal ego Harlia baru ditabrak truk bernama “Arin itu enak banget loh orangnya.”

Harlia ngangguk karena gengsi. Namun, di dalam hati, “Aku pengen pulang ke pelukan kamu, bukan ke kasur aku.”

Sayangnya, mobil terus berjalan menuju rumahnya. Hujan turun dengan cepat Topan menyalakan wiper.

Wiper bersih, kaca bening, situasi pun clear.

Tapi, perasaan Harlia?

Blur, motion sickness, error 404: not found.

Harlia pengen teriak di dalam hati, “Gue bukan cemburu. Gue cuma pengen jadi prioritas, bukan figuran di antara kalian!!!!”

Tapi, yang keluar cuma napas panjang. Di dalam hati, Harlia bertanya, “Kenapa cerita ke aku susah, tapi ke Arin gampang?”

Sesampainya di rumah, Harlia baru masuk halaman sudah mendengar suara ibu.

“Baju kebaya yang hijau di mana, Yah?”

Ayah Harlia muncul dari dalam rumah.

“Yang di lemari atas.”

Harlia masuk pelan. Ibu Harlia menoleh.

“Loh, kamu sudah pulang?”

“Iya, Bu.”

Ibu Harlia tampak sibuk menyiapkan pakaian. Di kasur terbentang kebaya, tas, dan sepatu.

“Kita kondangan ke rumah Bibi Lastri besok,” kata ibu Harlia cepat.

Harlia langsung menggeleng.

“Aku nggak ikut.”

Ibu Harlia berhenti.

“Kenapa?”

“Males,” jawab Harlia jujur. “Pasti ditanyain kapan nikah.”

Ibu Harlia mendecak.

“Biarin! Ibu yang jawab.”

“Aku capek, Bu.”

Ibu Harlia mendekat.

“Denger ya. Kalau ada yang nyeletuk, ibu pasang badan.”

Harlia menelan ludah.

“Biar ibu yang ribut,” lanjut ibunya berapi-api. “Biar mereka tau anak ibu bukan barang diskonan!”

Harlia tersenyum pahit.

“Bu…,” katanya pelan.

“Kenapa?”

“Kalau Ibu terus-terusan bela aku… aku jadi ngerasa aku ini beban.”

Ibu Harlia terdiam. Ayah Harlia yang sejak tadi mendengar, mendekat.

“Har,” kata ayahnya lembut, “dibela itu bukan karena kamu lemah.”

Harlia menunduk.

“Tapi aku capek bikin kalian repot.”

Ibu Harlia mendesah, duduk di tepi kasur.

“Kamu itu anak kami.”

Harlia menatap ibunya.

“Justru itu…”

Air matanya jatuh.

“Aku pengin kalian nggak perlu ribut gara-gara aku.”

Ibu Harlia terdiam lama. Lalu berkata pelan, “Kamu kira ibu seneng ribut?”

Harlia terisak kecil.

“Ibu cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian,” lanjut ibunya.

Harlia mengusap mata.

“Tapi aku ngerasa sendirian, Bu.”

Ruangan sunyi. Ayah Harlia menghela napas panjang. Kadang, kata-kata baik pun bisa terasa berat kalau hati sudah terlalu penuh.

Malam itu, Harlia berbaring menatap langit-langit kamar. Dengan sisa tenaga emosional level baterai 3%, Harlia meraih ponselnya.

Bukan untuk scroll. Bukan untuk stalking.

Untuk satu hal sakral, mengecek apakah ada pesan dari Topan. Tetapi, tidak ada. Tidak ada notif. Tidak ada chat masuk. Tidak ada apa-apa kecuali last seen yang terlalu tenang untuk seseorang yang barusan bikin orang lain overthinking semalaman.

Harlia menatap layar ponsel itu seperti berharap dia bisa berubah sendiri karena dikasih tatapan intens.

Lalu jarinya, mengkhianatinya. Geser sedikit ke atas. Klik story.

Dan di situlah semesta berkata: "Oh, kamu mau nyesek? Nih, full HD."

Story Topan muncul. Foto laptop terbuka di meja kerja, tampilan file yang terlihat penting, camilan kecil yang tampak mahal tapi menyedihkan, dan dua cangkir kopi yang berdiri berdampingan dengan rapi, seperti pasangan harmonis dalam iklan peralatan dapur.

Caption-nya lebih kejam dari semua itu: “Lembur bersama rekan yang selalu punya solusi.”

Harlia menatap dua cangkir itu lama-lama, berusaha meyakinkan dirinya bahwa mungkin Topan memang minum dua kopi sekaligus demi produktivitas, meskipun itu terdengar seperti kebiasaan orang yang ingin masuk IG explore, bukan orang yang ingin jujur.

Ia menjatuhkan ponselnya ke kasur dan menatap langit-langit lagi. Dada Harlia terasa penuh oleh campuran emosi yang tidak bisa ia beri nama dengan rapi: cemburu, capek, sedikit marah, dan sedikit malu karena merasa semua itu.

Ia tidak marah pada Arin, tidak juga sepenuhnya pada Topan. Ia lebih marah pada dirinya sendiri karena begitu mudah terguncang oleh dua cangkir kopi dan satu kalimat caption. Seolah harga dirinya bisa diaduk seperti gula di minuman hangat.

Dan di situlah Harlia menyadari hal yang paling menyedihkan malam itu bukan soal Topan lembur dengan siapa? Bukan soal kopi itu untuk siapa? Tapi soal betapa cepatnya ia merasa tergantikan. Betapa mudahnya ia berpikir bahwa kehadirannya bisa digeser hanya oleh seseorang yang “selalu punya solusi”.

Sementara dirinya hanya punya perasaan. Ia membalikkan badan menghadap tembok dan memeluk bantal seperti memeluk satu-satunya hal yang tidak menuntutnya untuk jadi lebih pintar, lebih tenang, atau lebih layak. Dan malam itu, Harlia tidak sedang ingin menang, tidak ingin dimengerti, tidak ingin dramatis. Ia hanya ingin dipilih, tanpa harus bersaing dengan siapa pun, bahkan dengan dirinya sendiri.