Drama #Humor #Baper

KALAH TANPA BERTANDING

08 January 2026

Harlia akhirnya ikut ke kondangan. Bukan karena mau. Bukan juga karena senang. Tapi karena dipaksa dengan cinta ibu yang sedikit mengancam.

Ia duduk di mobil dengan wajah datar, mengenakan kebaya warna biru muda yang sebenarnya cantik kalau tidak dipakai oleh orang yang jiwanya sedang ingin menghilang.

“Har,” kata ibu Harlia sambil merapikan sanggulnya, “nanti kalau ada yang nanya, senyumin aja.”

Harlia menoleh.

“Kalau senyum tapi nangis gimana, Bu?”

“Itu namanya multitasking,” jawab ibunya mantap.

Ayah Harlia menyetir sambil menghela napas panjang.

“Yang penting jangan ribut.”

Ibu Harlia menoleh cepat.

“Ibu nggak ribut. Ibu cuma klarifikasi.”

Harlia menutup mata. 'Ya Allah, ini bakal panjang.'

Rumah Bibi Lastri sudah ramai. Tenda besar terpasang. Musik dangdut mengalun. Ibu-ibu berjejer seperti panitia interogasi. Begitu keluarga Harlia masuk, radar langsung aktif.

“EH ITU HARLIA, YA?”

“HARLIA YANG GEMBUL ITU?”

Harlia ingin menguap dan pingsan bersamaan. Bibi Lastri mendekat dengan senyum lebar yang terlalu bersemangat.

“Ya Allah, Harliii!” katanya sambil memegang lengan Harlia. “Tambah subur ya sekarang?”

Ibu Harlia tersenyum kaku.

“Alhamdulillah, sehat.”

Bibi Lastri tertawa.

“Iya sih, sehat… tapi kapan nyusul?”

Ibu-ibu lain langsung mendekat seperti zombi kelaparan gosip.

“Kapan nikah, Har?”

“Udah ada calon belum?”

“Jangan pilih-pilih, nanti keburu tua.”

Harlia tersenyum tipis.

“Doain aja.”

“Doa udah lama,” sahut salah satu ibu. “Yang gerak siapa?”

Tawa pecah. Harlia menunduk.

“Kamu ini, ya,” lanjut ibu lain, “padahal mukanya putih, cuma badannya aja….”

Ia berhenti, lalu tertawa.

“Ya gitu deh.”

Ibu Harlia masih diam. Tapi urat di pelipisnya sudah mulai berdenyut.

“Sekarang cowok tuh cari yang ringkas,” sahut ibu lain. “Yang lari dikit nggak ngos-ngosan.”

“Bener,” tambah yang lain.

“Harlia ini kayaknya cocok jadi teman makan, bukan temen hidup.”

Tawa lagi.

Ayah Harlia menelan ludah. Harlia merasa dadanya sesak. Dan saat itulah.... Ibu Harlia maju satu langkah.

“Ooh,” katanya pelan, terlalu pelan untuk jadi aman. “Ngomongin ringkas?”

Semua ibu-ibu menoleh.

Ibu Harlia tersenyum.

“Kalau bisa cerita kalian diringkas juga sini. Noh! Kenapa menantunya Bibi Lastri kelihatannya kayak kakek-kakek?”

SUNYI.

Bibi Lastri terbelalak.

“Hah?”

Ibu Harlia menunjuk seorang pria beruban yang sedang duduk di atas pelaminan sambil mengipas-ngipas minum es

“Itu menantumu, kan?” lanjut ibu Harlia. “Umurnya berapa? Enam puluh?”

Pria itu tersedak es. Seolah merasa sedang dibicarakan.

“Dia tuh mapan!” bela Bibi Lastri.

“Oh mapan,” sahut ibu Harlia cepat. “Pantes jalannya pelan-pelan, kalau perlu dipapah biar nggak ngos-ngosan.”

Beberapa tamu menutup mulut, menahan tawa. Ibu Harlia lanjut, tidak bisa dihentikan.

“Ngomongin lari-larian,” katanya menoleh ke ibu lain, “anakmu yang kemarin nikah itu kan udah cerai sebulan lalu?”

Ibu itu pucat.

“Eh—”

“Katanya cowoknya atlet?” lanjut ibu Harlia. “Larinya cepet. Pantesan cepet pula ninggalin istri, ya?”

“BU—!”

Ayah Harlia menarik lengan istrinya.

Terlambat. Ibu Harlia beralih ke yang lain.

“Yang bilang Harlia cocok jadi teman makan,” katanya manis, “anakmu sekarang kerja apa, ya? Masih jualan online di story Whatsapp, kan? Hari ini ready bolu kukus. Padahal dulu sebelum nikah story nya jalan-jalan mulu.”

RIUH.

“Dan kamu,” lanjut ibu Harlia ke ibu yang pertama nyeletuk, “anakmu ringkas sih, tapi hutangnya segudang.”

Harlia menutup wajahnya. Ini bukan kondangan. Ini sidang terbuka.

“BU, SUDAH,” bisik ayah Harlia panik.

Tapi ibu Harlia seperti menemukan panggilan hidupnya.

“Anak saya,” katanya lantang, “memang belum nikah. Tapi dia nggak nyusahin orang. Kerja halal. Nggak numpang hidup. Dan yang paling penting—”

Ia menatap mereka satu per satu.

“—nggak suka ngukur harga diri orang dari status nikah!”

Hening.

Lalu, tepuk tangan kecil dari terdengar dari pojok tenda.

Seseorang berbisik, “Ada-ada aja Bu Harlia.”

Ibu Harlia mengangkat dagu.

“Kalau mau bercanda, lihat dulu cerminnya.”

Harlia menarik tangan ibunya.

“Bu… ayo pulang!”

Ibu Harlia masih berdiri tegak.

“Sebentar.”

Ayah Harlia ikut menarik.

“BU.”

“Ini sebentar lagi,” katanya.

“TADI JUGA SEBENTAR,” desah ayah Harlia.

Akhirnya, dengan susah payah, ibu Harlia digiring keluar. Bibi Lastri masih terdiam dan yang lainnya terdiam setelah aib mereka dikuliti habis-habisan oleh ibu Harlia.

Di mobil, Harlia menghela napas panjang.

“Ibu kebangetan,” katanya lirih.

Ibu Harlia menyilangkan tangan.

“Mereka duluan.”

Ayah Harlia menggeleng.

“Kita ke kondangan, bukan perang.”

“Ya kalau diserang,” sahut ibu Harlia, “masa nggak balas?”

Harlia menatap ibunya.

“Bu…”

“Hm?”

“Makasih,” kata Harlia pelan.

Ibu Harlia menoleh.

“Kenapa?”

“Udah belain aku.”

Ibu Harlia mendengus.

“Siapa lagi kalau bukan ibumu?”

Ayah Harlia tersenyum tipis. Mobil melaju meninggalkan rumah Bibi Lastri. Harlia menyandarkan kepala ke jendela.

Capek, malu, tapi entah kenapa sedikit lega. Ternyata meski dunia terasa kejam, ia tahu di rumahnya sendiri, ia masih punya benteng paling galak di dunia.

Sore harinya...

Harlia berdiri di depan cermin kamar dengan tas selempang di tangan. Bukan tas mahal. Bukan tas branded. Tapi tas yang cukup untuk menyimpan dompet, ponsel, dan beban batin.

“Ibu, aku keluar sebentar ya,” teriak Harlia dari kamar.

Dari ruang tengah terdengar suara ibu Harlia, tajam dan penuh pengalaman hidup.

“Ke mana?”

“Ngafe sama Rina.”

Sunyi sebentar.

Lalu ibu Harlia muncul di depan pintu kamar dengan tangan menyilang.

“Ngafe beneran?” tanyanya curiga.

“Iya.”

“Bukan ngafe ditinggal terus ngilang lagi kayak kemarin?”

Harlia menghela napas.

“Bukan, Bu.”

Ibu Harlia menatapnya tajam.

“Ibu kasih izin satu.”

“Satu apa?”

“Satu kali kamu bohong, ibu sita HP kamu dan nomor Topan ibu blok sendiri.”

Harlia terbelalak.

“Bu!”

“Jangan BU-BU,” potong ibunya. “Janji.”

Harlia mengangguk cepat.

“Janji.”

“Kalau pulang malam?”

“Aku kabarin.”

“Kalau ada apa-apa?”

“Aku kabarin.”

“Kalau kamu nangis?”

Harlia terdiam.

“Jawab!” desak ibunya.

“Aku kabarin.”

Ibu Harlia mengangguk puas.

“Pergi sana!”

Harlia keluar rumah sambil bergumam, “Ini izin atau interogasi, sih?”

Kafe tempat Harlia dan Rina bertemu tidak terlalu besar. Interior minimalis. Lampu kuning temaram. Musik pelan yang cocok untuk curhat atau putus cinta.

Rina sudah duduk di sudut, sibuk mengaduk minumannya. Begitu melihat Harlia, ia menyeringai.

“Mukamu masih ada sisa-sisa trauma kondangan.”

Harlia menjatuhkan diri ke kursi.

“Aku capek jadi topik nasional.”

Rina tertawa.

“Santai. Aku juga capek jadi figuran hidup kamu.”

Harlia mendesah, lalu langsung curhat tanpa aba-aba.

“Rin… aku kayaknya cemburu.”

Rina menyipitkan mata.

“Ke siapa?”

“Ke Arin.”

“Oh.”

“Oh, apa?”

“Oh… pantes.”

Harlia mendelik.

“Kok, pantes?”

Rina menyandarkan punggung.

“Ya iyalah. Dia cantik.”

“Rin.”

“Pinter.”

“Rin.”

“Badannya proporsional.”

“RINA!”

Rina tersenyum puas.

“Dan…”

“Jangan,” ancam Harlia.

“Selalu ada buat Topan.”

Harlia menghempaskan kepala ke meja.

“AKU MAU PULANG.”

Rina tertawa terbahak.

“Eh jangan! Aku belum selesai.”

“Kamu sahabat atau musuh terselubung?”

“Aku realistis.”

Harlia mengangkat kepala.

“Topan tuh cerita apa-apa ke dia. Bahkan soal mahar.”

Rina mengernyit.

“Lah, kamu pacarnya atau penontonnya?”

“Itu dia masalahnya!”

Rina menghela napas.

“Har… aku mau jujur, ya.”

Harlia mengangguk lemas.

“Kalau cowok curhatnya lebih nyaman ke cewek lain dibanding calon istrinya—”

Belum sempat Rina menyelesaikan kalimat

“Tuh kan?!”

Suara itu datang dari samping. Harlia dan Rina menoleh bersamaan.

ARIN.

Gadis itu berdiri santai. Rambut terurai rapi. Senyum tipis penuh percaya diri.

Harlia refleks duduk tegak.

“Kamu…?”

Arin menarik kursi.

“Boleh gabung?”

Rina langsung pasang wajah jutek.

“Enggak!”

Arin duduk juga.

“Telat, aku sudah duduk.”

Rina mendecak.

“Dasar nggak tahu malu.”

Arin terkekeh kecil.

“Aku kebal sama komentar.”

Harlia menelan ludah.

“Kamu ngapain di sini?”

Arin mengangkat bahu.

“Ngopi. Dunia nggak sempit, kan?”

Rina menyilangkan tangan.

“Kamu nguping.”

“Dikit,” aku Arin enteng. “Namaku disebut-sebut soalnya.”

Harlia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Arin memesan minum, lalu menoleh ke Harlia. “Kamu cemburu?”

Harlia hampir tersedak.

“Hah?”

Rina langsung menyela.

“Kamu apaan sih?”

Arin tersenyum makin lebar.

“Santai. Aku cuma jujur,” katanya lalu menatap Harlia lurus. “Topan memang sering cerita ke aku.”

Harlia mengeratkan genggaman tangannya.

“Soal kerja, soal mahar, soal tekanan orang tua kamu,” lanjut Arin ringan.

Rina mengangkat alis.

“Kok kamu tahu semua?”

Arin menyesap minumannya.

“Karena aku selalu ada.”

Harlia merasa dadanya terbakar.

“Aku sering nemenin dia mikir,” lanjut Arin, seolah sengaja. “Kadang sampai malam.”

Rina tertawa sinis.

“Wah. Multitasking, ya? Jadi konsultan, jadi sandaran emosional.”

Arin tidak tersinggung.

“Aku cuma bantu.”

Harlia akhirnya bicara, suaranya bergetar.

“Kenapa kamu cerita ini ke aku?”

Arin memiringkan kepala.

“Biar kamu tahu posisimu.”

SUNYI.

Rina berdiri mendadak.

“Oke. Cukup.”

Arin menoleh.

“Kenapa?”

“Karena kamu kelewatan,” jawab Rina dingin. “Ini bukan tempat pamer kedekatan.”

Arin tersenyum tipis.

“Aku nggak pamer. Aku transparan.”

Rina tertawa pendek.

“Transparan apanya? Kamu sengaja bikin dia panas.”

Arin mengangkat bahu.

“Kalau panas, salahkan perasaannya.”

Rina menepuk meja.

“DENGER YA!”

Beberapa pengunjung menoleh.

“Kamu mungkin cantik,” lanjut Rina tajam, “pinter, dan merasa paling dibutuhkan. Tapi kamu nggak punya hak ngerendahin orang lain demi ego kamu.”

Arin tersenyum miring.

“Aku nggak ngerendahin.”

“Kamu nyolok luka orang sambil senyum,” balas Rina cepat. “Itu lebih jahat.”

Harlia menunduk, air matanya menetes.

Rina menoleh ke Arin.

“Sekarang pergi!”

Arin tertawa kecil.

“Kalau aku nggak mau?”

Rina mendekat.

“Aku yang bakal minta barista usir kamu.”

Arin berdiri, menatap Harlia sekali lagi.

“Har,” katanya lembut tapi menyakitkan, “aku cuma mau kamu siap. Dunia nggak seindah yang kamu bayangin.”

Lalu ia pergi. Begitu Arin menghilang, Harlia menangis. Rina langsung duduk di sampingnya.

“Maaf. Aku harusnya nggak bercanda soal cemburu tadi.”

Harlia menggeleng.

“Bukan salah kamu.”

Rina mengusap punggungnya.

“Denger ya. Kamu bukan kalah.”

Harlia terisak.

“Tapi aku ngerasa insecure banget.”

Rina menatapnya serius.

“Insecure buat apa? Insecure itu buat orang yang perlu nginjek orang lain buat ngerasa penting.”

Harlia menarik napas panjang. Di luar kafe, malam terasa makin dingin. Dan di dalam hati Harlia, api cemburu belum padam, malah berubah jadi pertanyaan besar tentang siapa yang benar-benar berdiri di sisinya.