Jam dinding menunjukkan pukul 01.37 dini hari.
Harlia masih terjaga.
Bukan karena insomnia kronis. Bukan karena kopi. Tapi karena satu hal klasik yang selalu merusak ketenangan manusia modern, menunggu chat.
Ia berbaring miring, ponsel diletakkan tepat di depan wajah.
Layar gelap.
Tidak ada notifikasi.
“Ya Allah...,” gumamnya pelan. “Satu titik pun nggak ada.”
Ia menekan tombol layar. Mengecek WhatsApp.
Chat terakhir dari Topan: Hati-hati di jalan.
Itu… jam 6 sore.
“MASA IYA?” bisik Harlia. “Biasanya jam segini juga masih sempet gombal.”
Ia menatap layar lagi.
Sunyi.
“Masa aku yang harus chat duluan?” katanya lirih. “Gengsiku nggak setipis itu.”
Ia membalik badan.
Lima menit kemudian membalik lagi.
“Ah, lapar.”
Akhirnya Harlia menyerah.
Ia bangun, turun ke dapur sambil menyeret langkah seperti zombie habis patah hati.
Lampu dapur dinyalakan. Tangan tebalnya mengambil Mie instan rasa ayam bawang dari lemari persembunyian milik ibunya.
“Cuma kamu yang setia,” katanya pada bungkus mie. “Nggak pernah ghosting.”
Air direbus. Mie dimasukkan. Bumbu dituang dengan penuh perasaan. Sambil menunggu, Harlia membuka kulkas.
Sebuah kotak susu satu literan ditenggak langsung dari tempatnya.
“Kalau hidup pahit,” gumamnya, “gula harus ditambah.”
Mie instan akhirnya matang lengkap dengan topping telur, sosis, dumpling warna oranye. Harlia duduk di kursi dapur, makan dengan lahap tapi perasaan tidak lantas membaik.
Baru tiga suapan, ponselnya bergetar.
BERDERING.
Harlia hampir menjatuhkan mangkuk.
“TOPAN?!”
Ia langsung mengangkat.
“Halo, Pan?”
Sunyi sebentar.
Lalu—
“Halo, Harlia.”
Suara perempuan.
Harlia membeku.
“Arin?” suaranya bergetar.
“Iya,” jawab Arin tenang. “Maaf ganggu malam-malam.”
Jantung Harlia berdetak keras.
“Kenapa ponsel Topan di kamu?” tanya Harlia cepat.
“Karena… Topan lagi nggak bisa bicara,” kata Arin.
“Nggak bisa bicara kenapa?” napas Harlia mulai cepat.
Arin menarik napas.
“Topan lagi di rumah sakit.”
“MENDADAK?” suara Harlia meninggi.
“Iya.”
“Habis kenapa?!”
“Drop,” jawab Arin singkat. “Kecapekan.”
Mangkuk mie instan langsung ditinggalkan.
“Aku ke sana,” kata Harlia spontan.
“Sekarang?” Arin ragu.
“IYA.”
Telepon ditutup. Harlia berdiri panik.
“Ibu!” teriaknya sambil lari ke kamar orang tua.
Pintu diketuk keras.
“BU! BANGUN, BU!”
Ibu Harlia terbangun dengan rambut acak-acakan.
“APA SIH?!”
“Topan di rumah sakit!”
Ibu Harlia langsung duduk.
“HAH?”
“Aku mau ke sana!”
“SEKARANG?!”
Ibu Harlia melotot.
“Iya!”
“INI JAM BERAPA?!” bentaknya.
“DINI HARI, TAPI DARURAT!”
Ibu Harlia langsung geleng-geleng.
“Nggak bisa. Kamu cewek.”
“BU—”
“NGGAK.”
Harlia hampir menangis.
“Bu, aku mohon.”
Ibu Harlia menyilangkan tangan.
“Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan?”
“Aku naik taksi online!”
“Jam segini?”
“BU!”
Ayah Harlia muncul sambil mengucek mata.
“Ada apa?”
“Anakmu mau ke rumah sakit jam segini karena cowoknya,” kata ibu Harlia ketus.
Ayah Harlia berpikir.
“Sakit apa?”
“Belum tahu.”
Ayah Harlia menatap Harlia.
“Kamu yakin?”
Harlia mengangguk keras.
“Yakin.”
Ibu Harlia mendengus.
“Nanti nyesel.”
“Aku lebih nyesel kalau nggak ke sana,” jawab Harlia nekat.
Akhirnya....
“PAKE JAKET!” bentak ibu Harlia. “KABARIN KALAU UDAH SAMPAI!” “JANGAN LAMA-LAMA!”
Harlia sudah lari ke depan sebelum ibu selesai bicara. Perjalanan ke rumah sakit seperti balapan Formula 1 versi panik. Harlia duduk gelisah di kursi belakang.
“Pak, cepetan ya,” katanya.
“Iya, Mbak,” jawab sopir, ikut tegang.
Rumah sakit terlihat terang benderang. Harlia turun, hampir terpeleset.
“Mas Topan?” tanyanya ke perawat.
“Ruang observasi,” jawab perawat.
Harlia berlari kecil. Dan di situlah, ia berhenti mendadak. Di depan ruang observasi....
Topan duduk di ranjang rumah sakit. Infus terpasang. Dan....
Arin duduk sangat dekat. Terlalu dekat.
Dunia Harlia seperti direm mendadak. Kakinya gemetar. Dadanya sesak. Ia berdiri terpaku, melihat Arin menyeka kening Topan.
“Minum pelan-pelan,” kata Arin lembut.
Topan mengangguk.
Harlia menelan ludah.
Ia merasa seperti orang asing yang salah masuk ruangan.
Arin akhirnya melihat ke arah pintu. Matanya bertemu mata Harlia. Arin tersenyum kecil.
“Oh,” katanya pelan. “Kamu udah datang?”
Topan menoleh.
“Harlia?”
Harlia memaksa tersenyum.
“Iya.”
Langkahnya pelan mendekat.
“Kenapa nggak bilang?” tanyanya. Topan menggaruk kepala. “Aku niatnya mau bilang nanti.”
“Nanti kapan?” tanya Harlia dengan suara bergetar.
Arin berdiri.
“Aku yang nelpon Harlia.”
Harlia mengangguk.
“Makasih.”
Sunyi dan canggung.
Harlia berdiri di sisi ranjang. Melihat infus, melihat Topan, melihat Arin yang seperti… terlalu pas berada di situ.
“Aku tunggu di luar,” kata Arin tiba-tiba. Ia melirik Topan. “Panggil aku kalau perlu.”
Topan mengangguk.
“Makasih, Rin.”
Kata itu. Tajam dan berat di telinga dan hati Harlia. "Rin" pendek, akrab, dan ah... sudahlah.
Arin pergi. Tinggal Harlia dan Topan.
“Pan…” Harlia berbisik.
“Iya?”
“Kamu… lebih sering ditemani dia, ya?”
Topan terdiam.
Jawaban itu tidak keluar. Dan di rumah sakit yang terlalu terang itu, Harlia sadar kalau rasa sakit tidak selalu datang dari hal besar, kadang cukup dari satu pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
Adegan Arin memegang tangan Topan. Topan menoleh ke Arin dan tersenyum.
Bukan senyum lelah. Tapi senyum yang… nyaman.
Suasana ruang observasi kembali sunyi setelah Arin menutup pintu pelan dari luar. Lampu putih rumah sakit terlalu terang untuk perasaan Harlia yang sedang meredup.
Topan bersandar di ranjang, selang infus menggantung seperti pengingat bahwa tubuh manusia ada batasnya, tidak peduli seberapa besar ambisinya.
Harlia berdiri canggung di samping ranjang. Tangannya saling meremas.
“Pan…” suaranya kecil. “Aku—”
Topan mendahului.
“Kamu kenapa mikir sejauh itu, sih?”
Nada suaranya lelah. Bukan marah, tapi cukup untuk menusuk.
Harlia terdiam.
“Maksud aku,” lanjut Topan, “aku lagi di rumah sakit, Har. Kondisiku nggak baik. Tapi yang kamu pikirin malah… Arin.”
Kalimat itu jatuh pelan, tapi berat.
Harlia menunduk.
“Aku nggak bermaksud—”
“Aku tahu kamu overthinking,” potong Topan. “Tapi masa iya di kondisi aku kayak gini, kamu masih mikir hal itu?”
Kata hal itu terasa seperti tuduhan. Harlia menggigit bibir. Dadanya sesak.
“Aku cuma takut kehilangan,” katanya lirih.
Topan menghela napas panjang.
“Aku sakit bukan buat drama. Aku jatuh sakit karena kecapekan.”
Harlia mengangkat kepala.
“Kecapekan?”
Topan menatap langit-langit.
“Iya. Kerja siang malam. Proyek kejar-kejaran. Kepala nggak pernah berhenti mikir.”
Harlia menelan ludah.
“Kenapa…?”
Topan meliriknya.
“Menurut kamu?”
Harlia tahu jawabannya.
“Karena… mahar?” tanyanya pelan.
Topan tersenyum kecil. Senyum pahit.
“Tiga miliar itu bukan angka lucu, Har.”
Jantung Harlia mencelos.
“Setiap hari aku mikir, gimana caranya dapetin angka itu. Nego sana-sini. Ambil kerjaan tambahan. Kurang tidur. Kurang makan.”
Harlia meremas bajunya sendiri.
“Dan sekarang kamu pikir aku main-main sama Arin?” lanjut Topan, suaranya melemah.
Harlia langsung menggeleng cepat.
“Nggak! Aku nggak mikir kamu main-main.”
“Terus?”
Harlia terdiam lama. Lalu suaranya pecah.
“Aku cuma… ngerasa insecure.”
Topan menatapnya.
“Di antara semua ini,” lanjut Harlia, “aku ngerasa aku beban. Kamu kerja sampai tumbang demi aku. Tapi di sisi lain… kamu punya Arin yang selalu ngerti, selalu ada, selalu bisa bantu.”
Topan terdiam.
“Dan aku?” Harlia tertawa kecil, getir. “Aku cuma bisa cemburu. Overthinking. Nangis sendiri.”
Sunyi.
Bunyi monitor jantung berdetak pelan.
Topan akhirnya berkata, “Arin temanku.”
Harlia mengangguk.
“Aku tahu.”
“Dia bantu aku secara profesional.”
“Aku tahu.”
“Dia nggak ada apa-apa sama aku.”
Harlia mengangguk lagi.
“Aku tahu.”
“Tapi kenapa wajahmu kayak orang kalah perang?”
Harlia tersenyum tipis.
“Karena perasaan nggak bisa diatur kayak logika.”
Topan terdiam lama. Lalu berkata pelan, “Aku minta maaf kalau bikin kamu ngerasa gitu.”
Harlia cepat menggeleng.
“Aku yang minta maaf.”
Ia mendekat.
“Maaf aku egois. Maaf aku mikir yang nggak-nggak padahal kamu lagi sakit.”
Topan memejamkan mata sebentar.
“Aku cuma capek, Har.”
Kalimat sederhana itu terasa sangat berat. Harlia memberanikan diri duduk di kursi samping ranjang.
“Biar aku rawat kamu,” katanya cepat. “Aku bisa nemenin. Beliin makan. Jagain—”
Topan langsung menggeleng.
“Nggak.”
“Hah?”
“Kamu pulang aja.”
Harlia menatapnya kaget.
“Kenapa?”
“Aku nggak mau kamu ikut sakit,” jawab Topan. “Kamu juga kelihatan capek.”
“Aku nggak apa-apa.”
Topan tersenyum kecil.
“Itu kalimat paling nggak jujur.”
Harlia cemberut.
“Aku mau di sini.”
“Har,” Topan menatapnya serius. “Kalau kamu jatuh sakit juga, aku makin kepikiran.”
Harlia terdiam.
“Aku butuh kamu sehat,” lanjut Topan. “Bukan di sini jagain aku sambil nangis.”
Harlia tertawa kecil.
“Aku nggak nangis.”
Topan mengangkat alis.
“Mata kamu kayak abis ikut lomba renang.”
Harlia mengusap matanya refleks.
“Pulang, ya,” kata Topan lembut.
Harlia ingin membantah. Tapi akhirnya mengangguk.
“Kalau aku pulang,” katanya lirih, “kamu janji jaga diri.”
Topan tersenyum.
“Janji.”
“Kurangin kerja.”
“Aku usahain.”
“Jangan sok kuat.”
“lya, kadang terpaksa.”
Harlia berdiri pelan. Sebelum pergi, ia menatap Topan sekali lagi.
“Pan…”
“Iya?”
“Kalau capek… bilang.”
Topan mengangguk.
Harlia melangkah keluar. Di lorong, ia berpapasan dengan Arin. Arin tersenyum sopan.
“Hati-hati pulang.”
Harlia membalas senyum tipis.
“Kamu jaga dia, ya.”
Arin mengangguk.
“Pasti.”
Jawaban itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, dada Harlia justru makin sesak.
Subuh menyambutnya dengan udara dingin. Harlia membuka pintu rumah pelan. Lampu ruang tamu menyala. Ibunya duduk di sofa. Dengan wajah yang terlalu sadar untuk orang yang katanya tidur.
“Kamu pulang juga,” kata ibu Harlia.
Harlia terkejut.
“Ibu belum tidur?”
Ibu mendengus.
“Mana bisa tidur kalau anaknya keluar jam dua pagi.”
Harlia melepas sepatu.
“Maaf, Bu.”
Ibu menatapnya dari ujung rambut sampai kaki.
“Matamu bengkak.”
Harlia tersenyum kecut.
“Kurang tidur.”
“Kurang bahagia,” sahut ibunya cepat.
Harlia terdiam.
Ibu berdiri.
“Duduk.”
Harlia menurut.
“Topan sakit?” tanya ibunya.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Kecapekan.”
Ibu menghela napas panjang.
“Kamu nangis di sana?”
Harlia menggeleng pelan.
“Jangan bohong sama ibu.”
Harlia akhirnya mengangguk kecil. Ibunya lalu duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa, Har?”
Harlia menunduk.
“Aku ngerasa… bukan prioritas.”
Ibu terdiam sebentar. Lalu berkata, “Kalau kamu nggak jadi prioritas, ngapain dia kerja sampai tumbang?”
Harlia mengusap hidung.
“Tapi rasanya tetep sakit, Bu.”
Ibu mengangguk.
“Iya. Perasaan itu emang bandel.” Lalu ia mendengus. “Makanya dari dulu ibu bilang, cinta itu jangan ditaruh semua di satu keranjang.”
Harlia tertawa kecil.
“Pulang subuh begini,” lanjut ibunya, “bau rumah sakit, bau nangis, bau mie instan.”
Harlia nyengir.
“Kok ibu tahu aku makan mie?”
“Perempuan galau itu selalu ke dapur,” jawab ibu santai.
Harlia akhirnya tertawa kecil, tertawa yang bercampur air mata. Ibu menepuk punggungnya.
“Istirahat lah. Dunia nggak runtuh hari ini.”
Harlia mengangguk.
Di kamarnya, sebelum tidur, satu hal masih menggantung di kepalanya, kalau perjuangan ini membuat semua orang terluka, apakah cinta memang seharusnya diperjuangkan sejauh itu?
Dan subuh pun menelan pertanyaan itu tanpa jawaban.