Drama #Humor #Baper

KANTOR RASA SINETRON

08 January 2026

Pagi-Pagi Sudah Panas

Pagi itu kantor masih bau AC semalaman.

Jam dinding baru menunjuk pukul 07.12, tapi suasana sudah terasa ganjil seperti ada yang salah di udara. Dan sumber keganjilan itu berdiri santai di dekat meja pantry.

Arin.

Rambutnya rapi. Make-up tipis tapi segar. Baju kerjanya licin disetrika, sepatu mengilap, senyum dilempar ke siapa saja yang lewat.

“Pagi, Kak,” sapa Arin ceria pada staf keuangan.

“Eh pagi, Rin. Tumben pagi banget?” balas si staf.

Arin terkekeh kecil.

“Kebiasaan bangun pagi.”

Di sudut ruangan, Rina yang baru meletakkan tas langsung menoleh. Matanya menyipit.

Bangun pagi? Atau belum tidur sama sekali?

Rina menyandarkan tubuh ke meja Harlia yang masih kosong.

“Rajin amat dia,” gumam Rina pelan tapi cukup terdengar oleh telinga-telinga yang memang hobi gosip.

Beberapa staf saling pandang.

Arin tetap pura-pura tidak dengar. Ia malah menuang kopi, lalu berkata riang, “Ada yang mau kopi? Aku bikinin sekalian.”

“Wah baik banget,” sahut seseorang.

Rina mendengus.

“Baik? Atau cari panggung?”

Belum sempat komentar itu ditimpali, pintu kantor terbuka.

Harlia datang.

Tampak amat sangat kontras dengan Arin.

Rambut Harlia diikat asal. Mata sembap. Lingkar hitam di bawah matanya tebal seperti spidol. Kemeja kerjanya kusut di bagian perut, rok agak miring, dan langkahnya lemas.

Ia seperti habis ditabrak kenyataan, digilas emosi, lalu dijemur semalaman.

Rina langsung berdiri.

“Har…”

Harlia menoleh, berusaha tersenyum.

“Pagi.”

Senyum itu gagal total. Rina menelan ludah. Astaga…

Di sisi lain, Arin menoleh juga. Tatapan Arin sekilas saja, tapi cukup untuk membandingkan. Dan perbandingan itu kejam.

Arin mendekat dengan langkah ringan.

“Har, kamu nggak apa-apa?”

Nada suaranya lembut. Terlalu lembut.

Harlia mengangguk kecil.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu pucat,” lanjut Arin. “Semalam begadang?”

Rina yang berdiri di samping Harlia mengepalkan tangan. Berani-beraninya.

“Iya,” jawab Harlia pelan. “Topan gimana?“

Beberapa staf langsung pasang telinga.

“Oh, udah lumayan?” Arin mengangguk penuh empati. “Aku semalaman di rumah sakit.”

Kalimat itu seperti petasan dilempar ke tengah ruangan. Rina langsung menoleh tajam.

“KAMU?”

Arin mengangguk.

“Iya. Jagain Topan.”

Sunyi sejenak.

Lalu Rina tertawa pendek.

“Wah. Lo pacarnya atau perawat?”

Beberapa staf terkejut.

Arin tersenyum tipis.

“Teman, kok.”

Rina menyilangkan tangan.

“Teman tapi jagain semalaman?”

Harlia menunduk. Dadanya terasa panas. Ia duduk pelan di kursinya. Rina ikut duduk, tapi badannya condong ke arah Harlia.

“Kamu kenapa mukamu kayak abis perang?” bisik Rina.

Harlia menarik napas panjang.

“Topan sakit. Jadi, aku ke sana. Ternyata Arin juga di sana.”

Rina melotot.

“Terus?”

Harlia ragu, lalu berkata lirih, “Mereka… kelihatan dekat.”

Rina mendesis.

“SEMI MESRA?”

Harlia mengangguk kecil.

Rina berdiri dengan kecepatan roket.

“Cukup!”

Harlia refleks menarik lengannya.

“Rin—”

“Enggak,” potong Rina. “Gue udah muak.”

Rina melangkah cepat ke arah Arin yang sedang duduk sambil membuka laptop.

“RIN,” panggil Rina keras.

Semua kepala langsung menoleh.

Arin mengangkat wajah.

“Iya?”

“Gue mau ngomong sama lo.”

Arin mengernyit.

“Ngomong apa?”

“SOAL LO DAN TOPAN.”

Ruangan langsung riuh.

“Eh eh—”

“Ada apa?”

“Kenapa ribut?”

Arin berdiri perlahan.

“Aku nggak ngerti maksud kamu.”

“Oh nggak ngerti?” Rina tertawa sinis. “Datang pagi-pagi, sok ramah, jaga cowok orang semalaman, terus bilang nggak ngerti?”

Beberapa staf menutup mulut.

Harlia berdiri panik.

“Rina, stop—”

Arin menatap Rina tajam.

“Aku nggak sok apa-apa.”

“Serius?” Rina menunjuk Harlia. “Liatin dia! Muka kayak orang habis digilas tank! Dan lo berdiri di sini fresh kayak iklan skincare!”

Arin mendengus.

“Itu bukan urusan ku.”

Rina tertawa keras.

“Bukan urusan lo? Lo tau nggak semalaman dia nangis?”

Arin terdiam sejenak.

“Mana kutau. Siapa suruh dia nangis.”

“Dasar—”

“RINA!” bentak Harlia.

Semua terdiam. Harlia gemetar.

“Tolong. Jangan bertikai karena ku.”

Arin menghela napas.

“Aku nggak punya niat jahat.”

Rina mendekat.

“Kalau nggak punya niat jahat, jaga jarak.”

Arin menaikkan alis.

“Kamu siapa nyuruh-nyuruh aku?”

“SAHABATNYA!”

Suara Rina menggema.

“Dan Lo tau nggak rasanya?” lanjut Rina. “Datang ke hidup orang pas dia lagi rapuh, sok jadi penolong, tapi sebenernya bikin tambah hancur?”

Arin membalas tajam.

“Aku nggak pernah maksa Topan atau siapa pun.”

“Justru itu masalahnya!” bentak Rina. “Lo sengaja selalu ada. Selalu ngerti. Selalu siap. Itu jauh lebih bahaya!”

Beberapa staf mulai berbisik keras.

“Ini kantor apa sinetron?”

“Seru juga.”

“Wah ribut nih.”

Arin menatap Harlia.

“Aku minta maaf kalau kamu ngerasa nggak nyaman, Har.”

Nada itu datar.

Rina tertawa pahit.

“Cih! Maaf paling dingin sedunia.”

Arin menatap Rina lagi.

“Kamu keterlaluan.”

Rina mendekat satu langkah.

“Lo yang keterlaluan.”

“RINA!” suara Harlia pecah.

Arin dan Rina saling tatap. Udara tegang. Dan detik berikutnya, Rina menunjuk Arin dengan jari gemetar.

“Jangan sok suci.”

Arin membalas, “Jangan sok korban.”

“HEI!”

Tiba-tiba dua security muncul dari pintu.

“Ada apa ini?” tanya salah satunya.

Rina masih panas.

“Dia—”

“Cukup,” potong security. “Kalian berdua, tenang.”

Arin merapikan bajunya.

“Saya baik-baik saja.”

Rina mendengus.

“Iya, Lo emang selalu baik-baik aja.”

Security menatap tajam.

“Ini kantor. Kalau ribut lagi, saya laporkan ke HR.”

Ruangan perlahan sunyi. Rina menoleh ke Harlia. Harlia berdiri dengan mata berkaca-kaca.

“Rin… cukup.”

Rina menghela napas kasar.

“Maaf.”

Arin mengambil tas kecilnya.

“Aku ke toilet.”

Ia pergi dengan langkah cepat. Begitu Arin menghilang, Harlia langsung duduk. Tangannya gemetar. Rina ikut duduk di sampingnya.

“Gue kebablasan.”

Harlia tersenyum pahit.

“Tapi makasih.”

Rina menatapnya serius.

“Har… gue takut kamu hancur pelan-pelan.”

Harlia menunduk.

Di kejauhan, staf-staf masih berbisik. Dan pagi itu, kantor bukan lagi tempat kerja, melainkan arena emosi yang baru saja meledak, meninggalkan puing-puing perasaan yang belum tahu akan dibersihkan bagaimana.

Harlia duduk sendirian di sisi gedung kantor. Bukan di bangku taman. Bukan di kafe. Bukan di pantry yang ramai gosip.

Tapi di pinggir gedung, dekat tempat parkir belakang, di bawah pohon kecil yang entah kenapa selalu kelihatan kasihan karena daunnya jarang, batangnya kurus, tapi tetap berdiri. Seperti Harlia.

Di tangannya ada plastik kecil berisi cilok. Masih hangat. Masih beruap. Ia menusuk satu dengan tusuk sate, meniup pelan, lalu memasukkannya ke mulut.

Kenyal. Gurih. Pedas sausnya nyegrak. Sedikit membantu menahan sesak di dada.

“Hidup gue kenyal juga, ya,” gumamnya pelan. “Ditekan-tekan tapi nggak putus.”

Ia terkekeh kecil, lalu terdiam lagi.

Di kejauhan terdengar suara klakson, motor lewat, dan tawa orang-orang kantor yang entah bagaimana bisa tetap normal setelah pagi yang seperti medan perang.

Harlia menatap lantai. Pagi ini ia jadi tontonan. Sahabatnya ribut demi dia. Namanya jadi bisik-bisik.

Dan anehnya… yang paling capek bukan badannya. Tapi harga dirinya.

“Boleh duduk?”

Harlia mendongak.

Seorang pria berdiri di depannya, memakai kaos oblong warna putih, celana jeans, dan sepatu kerja yang ujungnya sudah tak lagi hitam pekat.

Jordi.

Harlia berkedip.

“Mas Jordi?”

Jordi tersenyum kecil.

“Iya. Kebetulan nganter barang ke lantai atas.”

Tanpa menunggu jawaban, Jordi duduk di tepi pembatas beton, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Harlia kembali ke ciloknya.

“Mau?”

Jordi menggeleng.

“Nanti kenyang kebahagiaan.”

Harlia tertawa kecil.

“Jawaban apa itu.”

Jordi merogoh tas bekalnya, lalu mengeluarkan sebuah apel merah. Ia mengulurkannya begitu saja.

“Ini.”

Harlia refleks menerimanya.

“Lagi-lagi apel.”

Jordi mengangkat bahu.

“Katanya apel bisa nenangin.”

Harlia memutar apel itu di tangannya.

“Kamu tau nggak… apel ini udah jadi simbol hidup aku akhir-akhir ini.”

“Oh, ya?”

“Iya. Datang dari orang yang nggak banyak tanya.”

Jordi tersenyum tipis.

“Kadang orang nggak perlu ditanya. Udah kelihatan.”

Harlia melirik.

“Kelihatan apanya?”

Jordi menatap lurus ke depan.

“Kelihatan capek.”

Harlia terdiam.

Entah kenapa… tidak terasa menghakimi. Tidak terasa mengasihani. Hanya jujur.

“Kamu kenapa ke sini sendirian?” tanya Jordi ringan.

Harlia mengangkat bahu.

“Lagi pengin diem.”

“Berisik di dalam?”

“Banget.”

Jordi tertawa kecil.

“Ya udah. Diem aja.”

Mereka terdiam beberapa detik. Aneh. Tidak canggung. Harlia menggigit cilok lagi.

“Mas Jordi sering nongkrong sendirian juga?”

“Sering.”

“Kenapa?”

Jordi berpikir sebentar.

“Biar bisa denger diri sendiri.”

Harlia mengangguk pelan.

“Aku kayaknya juga harus gitu, deh ”

Jordi menoleh.

“Denger diri sendiri atau diem dari orang lain?”

Harlia tersenyum miring.

“Dua-duanya.”

Jordi tertawa pelan.

“Aneh ya,” lanjut Harlia. “Aku bisa cerita ke kamu padahal kita nggak deket.”

Jordi mengangkat bahu lagi.

“Mungkin karena aku nggak punya kepentingan apa-apa.”

Kalimat itu jatuh lembut. Dan entah kenapa itu menenangkan.

Tiba-tiba langkah sepatu terdengar. Hak tinggi yang berirama.

Klik. Klik.

Harlia belum menoleh, tapi ia tahu.

“Astaga…,“ seru orang yang baru datang itu.

Jordi ikut menoleh.

Arin.

Arin berhenti begitu melihat pemandangan itu. Harlia duduk sambil makan cilok, Jordi di sampingnya, apel di tangan Harlia.

Alis Arin terangkat.

“Wah,” katanya sinis. “Cepet juga ya move on.”

Harlia menghela napas.

“Aku lagi nggak pengin ribut.”

Arin tersenyum miring.

“Lucu. Padahal kamu selalu keliatan kayak korban.”

Jordi menoleh pelan ke arah Arin.

“Mbak kenal?”

“Rekan kerja,” jawab Arin cepat. “Dan dia ini,” Arin menunjuk Harlia, “jago banget main peran. Tersangka tapi cosplay jadi korban.”

Harlia menegang.

“Aku nggak main peran apa-apa,” katanya pelan.

Arin menyilangkan tangan.

“Iya, iya. Nangis dikit, duduk sendirian, dapet simpati.”

Jordi menarik napas dalam. Ia tidak berdiri. Tidak meninggikan suara. Tapi ketika bicara, suaranya tenang.

“Mbak,” katanya pelan, “orang yang pura-pura jadi korban biasanya pengin ditonton.”

Arin menoleh tajam.

“Kalau dia duduk sendirian makan cilok,” lanjut Jordi, “kayaknya bukan pengin ditonton. Tapi pengin bernafas.”

Harlia menatap Jordi.

Arin terkekeh sinis.

“Kamu siapa ikut campur?”

Jordi tersenyum kecil.

“Bukan siapa-siapa.”

“Ya udah, jangan sok bijak.”

Jordi mengangguk.

“Saya nggak sok bijak.”

Ia menatap Arin lurus.

“Saya cuma tau satu hal.”

Arin menyipitkan mata.

“Apa?”

“Orang yang lagi marah biasanya bukan marah ke orang di depannya,” kata Jordi pelan. “Tapi ke kejadian yang belum bisa dia terima.”

Sunyi.

Arin terdiam beberapa detik. Wajahnya menegang.

“Aku nggak marah,” bantahnya cepat.

Jordi mengangguk lagi.

“Semoga.”

Arin menatap Harlia tajam.

“Jangan merasa paling menderita,” katanya sebelum berbalik. “Hidup orang lain juga berat.”

Lalu ia pergi dengan langkah cepat. Harlia menghembuskan napas panjang.

“Maaf,” katanya pada Jordi. “Kamu jadi kena.”

Jordi menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

Harlia menatapnya.

“Kenapa kamu bela aku?”

Jordi berpikir sebentar.

“Karena kamu diem,” jawabnya. “Dan orang yang diem sering disangka lemah.”

Harlia tersenyum kecil.

“Aku memang lemah,” katanya jujur.

Jordi menoleh.

“Lemah itu kalau menyerah.”

Harlia memutar apel di tangannya.

“Aku capek.”

Jordi tersenyum lembut.

“Capek itu tanda kamu masih jalan.”

Harlia menatapnya lama. Untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa longgar.

“Mas Jordi,” katanya pelan.

“Iya?”

“Makasih.”

Jordi berdiri.

“Sama-sama.”

Ia melangkah pergi, lalu berhenti sebentar.

“Oh ya,” katanya tanpa menoleh, “apel itu dimakan ya. Jangan cuma dipajang.”

Harlia tertawa kecil. Saat Jordi menghilang di balik gedung, Harlia menggigit apel itu.

Manis. Sederhana.

Dan entah kenapa di tengah ributnya dunia, ia merasa tidak sendirian untuk pertama kalinya tanpa harus dimiliki siapa pun.